Skip to main content

Dalam Majlis Doa, Solidaritas, dan Kesetiaan pada Para Pejuang Perlawanan yang digelar ICC Jakarta pada Minggu, 14 Juni 2026, Ustaz Husein Shahab menyampaikan pentingnya keberpihakan kepada keadilan dan kepada orang-orang yang dizalimi. Dalam pemaparannya, beliau mengutip pesan terakhir Imam Ali as kepada Imam Hasan as dan Imam Husain as: kūnā lidz-zālimi khasmā wa lil-maẓlūmi ‘awnā, yang berarti, “Jadilah kalian berdua orang yang melawan kezaliman dan membela orang-orang yang tertindas.” Menurut beliau, dari kalimat itu terdapat beberapa poin penting yang sangat relevan dengan kondisi umat hari ini.

Ustaz Husein Shahab menjelaskan bahwa poin pertama adalah keharusan untuk mengetahui siapa yang zalim dan siapa yang dizalimi. Pengetahuan, menurut beliau, menjadi dasar sikap moral dan politik. Karena itu, umat harus terus memperbarui informasi tentang keadaan dunia Islam agar dapat melihat dengan jernih siapa yang melakukan kezaliman dan siapa yang menjadi korban. Beliau mencontohkan Israel, Amerika, Iran, Lebanon, Yaman, dan berbagai wilayah lain yang mengalami konflik dan penindasan, seraya menegaskan bahwa tanpa pengetahuan yang benar, banyak orang akhirnya memilih diam.

Poin kedua yang disampaikan beliau adalah bahwa seorang mukmin tidak boleh diam. Ustaz Husein Shahab menegaskan bahwa keberpihakan adalah sebuah keharusan, bukan pilihan tambahan. Beliau mengkritik kecenderungan silent majority, yakni mayoritas yang diam ketika kezaliman berlangsung. Menurut beliau, banyak orang baik justru menjadi korban karena mayoritas memilih bungkam. Hal itu, katanya, sedang terjadi di dunia ketika penderitaan rakyat Palestina, Gaza, Lebanon, dan wilayah-wilayah tertindas lain masih belum direspons sebagaimana mestinya, bahkan oleh banyak orang di dunia Arab sendiri.

Beliau mencontohkan situasi di Lebanon, khususnya Gaza dan Beirut, sebagai tragedi kemanusiaan yang terus berlangsung. Menurut Ustaz Husein Shahab, dalam beberapa bulan terakhir ribuan orang Lebanon dibunuh dan ribuan lainnya terluka, namun suara dunia masih sangat lemah. Di Indonesia, menurut beliau, hampir tidak ada pembahasan serius tentang kezaliman Israel di Lebanon, tentang Hizbullah yang dizalimi, atau tentang Dahiyah Beirut dan Lebanon Selatan yang terus menjadi sasaran serangan. Karena itu, beliau menegaskan bahwa kaum Muslimin, khususnya pengikut Imam Ali as, tidak boleh mengambil sikap diam seperti mayoritas yang bungkam.

Dalam penjelasannya, beliau juga menyoroti betapa kuatnya pengaruh media dalam membentuk persepsi publik. Ustaz Husein Shahab menyebut bahwa umat hari ini hidup di tengah “penjajahan media” yang terus menyuapi publik dengan informasi negatif dan narasi yang berusaha menetralkan bahkan menutupi genosida yang dilakukan Israel dan Amerika Serikat. Menurut beliau, di tengah situasi seperti itu, keberpihakan harus tetap dijaga. Karena itu, beliau menilai bahwa acara malam itu, yang menunjukkan dukungan kepada Hizbullah dan kelompok muqawamah di Lebanon, merupakan bentuk keberpihakan yang penting dan tidak boleh dianggap kecil.

Beliau kemudian menjelaskan bahwa sejarah sejak masa Rasulullah saw hingga para Imam as selalu berpihak kepada keadilan dan kepada orang-orang yang dizalimi. Menjelang datangnya bulan Muharam, Ustaz Husein Shahab menekankan kembali sikap Imam Husain as yang berdiri bersama kaum tertindas. Menurut beliau, tragedi yang menimpa Imam Husain as juga tidak bisa dilepaskan dari diamnya mayoritas terhadap kezaliman Yazid. Dari situ, beliau mengingatkan bahwa bila umat Islam hari ini tidak bersuara melawan hegemoni Amerika dan Israel, maka tragedi kemanusiaan yang lebih besar bisa saja terjadi di Timur Tengah dan di berbagai tempat lain.

Ustaz Husein Shahab menilai bahwa muqawamah adalah representasi keberpihakan kepada kebenaran. Namun, beliau juga mengingatkan bahwa pihak musuh sering menggambarkan muqawamah sebagai milisi bersenjata yang ingin menciptakan kekacauan di Timur Tengah dan dunia. Menurut beliau, gambaran semacam itu sangat menyesatkan, karena pada hakikatnya muqawamah adalah suara orang-orang kecil yang berpihak kepada kebenaran dan membela mereka yang dizalimi. Karena itu, beliau menegaskan bahwa penting bagi umat untuk memahami posisi Iran, Hizbullah, Al-Hashd Al-Sha‘bi di Irak, Ansarullah di Yaman, dan Hamas di Gaza sebagai bagian dari poros perlawanan yang sejak awal berada di garis terdepan melawan penindasan.

Beliau juga mengingatkan bahwa kelompok-kelompok muqawamah justru menjadi pihak yang paling dizalimi oleh Amerika dan Israel, sementara media kerap membalikkan fakta dengan menampilkan mereka seolah-olah sebagai sumber instabilitas. Dalam pandangan Ustaz Husein Shahab, umat Islam di Indonesia sering kali takut menyebut Hizbullah atau berbicara tentang muqawamah karena tekanan opini dan suasana politik yang tidak sehat. Padahal, menurut beliau, tidak ada alasan untuk takut selama yang diperjuangkan adalah kebenaran.

Dalam bagian akhir pemaparannya, beliau menegaskan bahwa para pengikut Imam Ali as harus memiliki keberpihakan yang jelas, karena itulah garis Imam Ali as, garis Imam Husain as, dan pada akhirnya garis Islam Muhammadi. Beliau kemudian menyinggung perjuangan Iran yang hingga kini tetap teguh memegang prinsip muqawamah dan tidak memberi sedikit pun ruang kompromi kepada Amerika dan Israel. Menurut beliau, dalam negosiasi yang sedang berjalan pun Iran tetap kokoh pada prinsipnya. Beliau mengutip sikap tegas Menteri Luar Negeri Iran yang menyatakan bahwa jika lawan menolak tuntutan Iran dan tetap ingin berperang, maka Iran siap melawan.

Ustaz Husein Shahab juga menyampaikan keyakinannya bahwa Hizbullah di bawah kepemimpinan Syekh Naim Qasim tetap kukuh menolak perjanjian yang mereka anggap sebagai bentuk pengkhianatan. Menurut beliau, sekalipun sebagian wilayah Lebanon Selatan saat ini diduduki Israel, posisi mereka tidak strategis dan setiap hari pasukan Israel berada dalam tekanan serangan drone Hizbullah. Karena itu, beliau meyakini bahwa mereka pada akhirnya akan dipaksa keluar. Di akhir pemaparannya, beliau menegaskan bahwa dukungan umat, termasuk melalui suara, tulisan, seminar, dan aksi, sangat penting untuk memberi semangat kepada para pejuang perlawanan. Menurut beliau, ketika para pejuang melihat dukungan besar dari kaum Muslimin di dunia, semangat mereka akan semakin kuat untuk melanjutkan perjuangan hingga kemenangan tiba.