Dalam Majlis Doa, Solidaritas, dan Kesetiaan pada Para Pejuang Perlawanan yang digelar ICC Jakarta pada Minggu, 14 Juni 2026, Ustaz Muhsin Labib menyampaikan pemaparan yang menyoroti hubungan antara dukungan terhadap poros perlawanan dan tanggung jawab sosial yang dihadapi umat di negeri masing-masing. Dalam penjelasannya, beliau mengajak hadirin merenungkan kegelisahan yang kerap muncul di tengah masyarakat ketika menyaksikan penderitaan bangsa-bangsa yang dizalimi, sementara di saat yang sama mereka juga bergulat dengan berbagai persoalan hidup sehari-hari.
Ustaz Muhsin Labib mengatakan bahwa banyak orang sebenarnya tergerak dan tersentuh ketika membaca berita di ponsel tentang kekejaman yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Lebanon, Gaza, Iran, dan sejumlah negara lain. Namun, menurut beliau, setelah ponsel ditutup dan perhatian kembali tertuju pada kenyataan di rumah sendiri, muncul pula persoalan ekonomi, kebutuhan keluarga, harga bahan bakar, dan berbagai beban hidup lainnya. Dari situ, beliau mengajukan pertanyaan penting tentang bagaimana seseorang tetap dapat menjaga semangat solidaritas terhadap perjuangan Republik Islam Iran, Hizbullah, Hamas, dan seluruh faksi perlawanan, meskipun dirinya sendiri hidup dalam keadaan yang tidak mudah.
Beliau menjelaskan bahwa dukungan terhadap perjuangan tidak harus selalu dalam bentuk dukungan aktif. Menurut Ustaz Muhsin Labib, ada pula dukungan pasif, yang bentuknya bisa berupa bantuan militer, bantuan ekonomi, atau bantuan politik, tetapi ada juga bentuk dukungan pasif lain, yaitu tidak ikut menopang musuh. Karena itu, beliau menilai bahwa dalam kenyataannya Iran menghadapi hampir seluruh dunia, menghadapi sanksi, embargo, dan isolasi politik, sementara pada saat yang sama tetap bertahan. Dari situ, beliau mengajak hadirin untuk memandang persoalan ini secara lebih seimbang, yakni dengan menyadari bahwa manusia menghadapi dua medan sekaligus: persoalan pribadi sebagai warga yang hidup dalam negara dengan banyak masalah, dan pada saat yang sama menyaksikan kejahatan sistematis yang berlangsung secara terintegrasi di berbagai tempat.
Dalam kaitan itu, beliau menegaskan bahwa Hizbullah memiliki posisi yang berbeda dari Iran. Iran, menurut beliau, adalah negara yang memiliki kedaulatan dan sistem pertahanan, sedangkan Hizbullah adalah organisasi politik sekaligus organisasi sosial yang menghadapi musuh nyata, tekanan politik, isolasi, dan provokasi sektarian, sebagaimana telah dijelaskan pembicara sebelumnya. Karena itu, Ustaz Muhsin Labib menyoroti pentingnya memadukan kepedulian terhadap sesama umat manusia, sesama umat Islam, dan sesama yang dizalimi dengan kondisi nyata yang dihadapi masing-masing individu dan bangsa.
Beliau juga mengkritik narasi yang kerap muncul di tengah masyarakat, yakni ajakan untuk tidak memikirkan persoalan yang jauh dan hanya memikirkan urusan yang dekat. Menurut Ustaz Muhsin Labib, umat perlu membangun paradigma yang tidak saling menafikan, yakni mampu menyeimbangkan dukungan kepada muqawamah, Hizbullah, Republik Islam Iran, Hamas, dan seluruh faksi perlawanan, sembari tetap sadar atas keterbatasan pribadi dan sosial yang dimiliki. Namun, beliau menegaskan bahwa setidaknya setiap kata, setiap tulisan, setiap narasi, dan setiap yel-yel yang disuarakan memiliki efek vibrasi yang besar. Karena itu, menurut beliau, apa yang dilakukan dalam forum itu tidak boleh dianggap kecil atau tidak berarti.
Dalam penjelasannya, beliau mengutip makna Al-Qur’an bahwa amal dan perkataan yang baik akan naik kepada Allah swt. Menurut Ustaz Muhsin Labib, tidak ada suara yang sia-sia. Karena itu, beliau menegaskan agar umat tidak meremehkan apa yang mereka lakukan dalam bentuk solidaritas, meskipun tampak sederhana. Beliau mengaitkan hal ini dengan fakta bahwa bangsa Indonesia, sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, berdasarkan survei menunjukkan dukungan yang sangat besar kepada perjuangan Iran menghadapi Israel, termasuk poros perlawanan secara keseluruhan. Menurut beliau, hal itu menunjukkan bahwa yang berkumpul dalam forum tersebut bukan kelompok kecil, melainkan representasi aspirasi mayoritas rakyat Indonesia, termasuk sebagian non-Muslim. Bagi beliau, persoalan ini sudah tidak lagi dapat direduksi menjadi sekadar urusan Muslim dan non-Muslim, melainkan telah menjadi soal kemanusiaan.
Ustaz Muhsin Labib kemudian menjelaskan bahwa meskipun kepedulian terhadap perjuangan di luar negeri sangat penting, umat juga tidak dapat menafikan realitas sosial dan ekonomi yang mereka hadapi sendiri. Dari situ, beliau mengajak hadirin memahami bahwa manusia tunduk pada dua jenis hukum. Yang pertama adalah hukum takwini, yaitu hukum determinatif yang berlaku atas semua makhluk, seperti hukum gravitasi, termodinamika, dan hukum-hukum fisika. Hukum ini, menurut beliau, tidak dapat ditolak siapa pun dan berlaku secara umum dalam tatanan ciptaan. Yang kedua adalah hukum tasyri‘i, yaitu hukum moral dan normatif yang berkaitan dengan kehambaan manusia. Hukum ini berlaku bagi makhluk yang memiliki akal dan ikhtiar, sehingga manusia dapat memilih untuk melaksanakan atau menolak.
Beliau kemudian menjelaskan bahwa hukum moral itu memiliki dua lapisan. Pertama adalah hukum yang bersifat personal, yang berkaitan dengan syariat seperti sah dan batal, suci dan najis, halal dan haram. Kedua adalah hukum yang bersifat impersonal, karena manusia tidak hidup sendiri, melainkan berhubungan dengan orang lain, kelompok lain, dan masyarakat luas. Dalam lapisan ini, menurut beliau, terdapat prinsip-prinsip yang mempertemukan manusia. Yang paling tinggi, katanya, adalah kesadaran bahwa manusia dipertemukan oleh satu Tuhan. Dari sana, manusia yang berbeda identitas, agama, etnis, negara, dan afiliasi politik tetap dapat menemukan titik temu dalam nilai ketuhanan dan kemanusiaan.
Menurut Ustaz Muhsin Labib, Al-Qur’an menegaskan bahwa ketika titik temu manusia adalah kebertuhanan, maka mereka berada pada satu poros yang sama. Beliau juga menyinggung bahwa dunia kini dihadapkan pada fenomena anti-agama, ketika sebagian orang dengan mudah mengaku agnostik atau deis demi terlihat keren di media sosial, padahal tidak memahami apa-apa. Dalam pandangannya, ada pula pihak-pihak yang menjual filsafat dan ateisme untuk kepentingan tertentu, sementara yang lain mengatasnamakan agama untuk melegitimasi penguasaan dan perampasan hak. Karena itu, beliau menilai bahwa umat perlu waspada terhadap manipulasi ideologis yang menjadikan logis dan tidak logis ditentukan oleh hegemoni dan imperialisme.
Di lapisan berikutnya, beliau menegaskan bahwa manusia dipertemukan oleh kesamaan dalam beragama. Karena itu, menurut beliau, umat beragama harus bersama-sama melawan fenomena anti-agama dan berbagai bentuk penyimpangan yang mengatasnamakan kebebasan. Setelah itu, beliau mengajak hadirin melihat lapisan yang lebih khusus lagi, yakni kesamaan sebagai sesama Muslim. Pada titik ini, menurut beliau, umat dipertemukan oleh prinsip keumatan. Namun, beliau juga menekankan bahwa identitas bangsa, suku, kota, komunitas, dan kelompok sosial tetap tidak boleh dinafikan, sebagaimana ditegaskan Al-Qur’an ketika Allah swt menciptakan manusia dari laki-laki dan perempuan serta menjadikannya berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal.
Beliau mengingatkan hadis yang sering didengar, bahwa seseorang tidak sempurna imannya jika ia tidur kenyang sementara tetangganya lapar. Menurut Ustaz Muhsin Labib, jika manusia tidak peduli terhadap orang lain, maka ia sebenarnya juga tidak peduli terhadap dirinya sendiri, sebab suatu saat ia akan menghadapi situasi yang sama. Dalam konteks Iran, beliau menilai bahwa negara itu menghadapi blokade, sanksi, dan tekanan yang luar biasa, tetapi tetap bertahan. Menurut beliau, hal itu menunjukkan adanya kekuatan yang melampaui penjelasan material semata. Karena itu, beliau menilai bahwa yang paling tepat dilakukan umat adalah memberikan dukungan sesuai kemampuan masing-masing.
Pada bagian akhir pemaparannya, Ustaz Muhsin Labib menegaskan bahwa dukungan itu dapat diwujudkan melalui edukasi, pencerahan, dan kehadiran dalam forum-forum seperti ini. Beliau mendorong hadirin untuk tidak hanya mendengar, tetapi juga menginternalisasi pesan yang disampaikan dan mengambil peran, terutama melalui media sosial, dengan menyebarkan informasi yang benar dan menangkal komentar atau narasi yang keliru. Namun demikian, beliau mengingatkan bahwa semua itu harus dilakukan dengan kompetensi dan tanggung jawab, bukan sekadar kemarahan. Menurut beliau, Iran dan Hizbullah bukan hanya mewakili sebuah negara atau kelompok, melainkan mewakili umat manusia yang menuntut keadilan.
Dalam penutupnya, Ustaz Muhsin Labib mengaitkan pesan solidaritas itu dengan gagasan Bung Karno tentang nasionalisme dan internasionalisme. Menurut beliau, tidak mungkin sebuah bangsa berdiri sendiri tanpa menghormati dan mendukung bangsa lain. Karena itu, beliau menilai bahwa bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar juga harus prihatin terhadap penderitaan bangsa-bangsa lain, tanpa melupakan tanggung jawab nasional di dalam keluarga dan negeri sendiri. Beliau menegaskan bahwa umat Islam terikat oleh satu kesadaran yang lebih luas, dan forum tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab moral untuk tetap berpihak kepada yang dizalimi. Di akhir pemaparannya, beliau mengajak hadirin untuk memberikan dukungan dengan apa pun yang dimiliki, baik uang, harta, maupun pikiran, seraya mengingatkan agar tidak banyak mengeluh, karena penderitaan yang lebih berat justru dialami oleh mereka yang sedang berjuang di medan perlawanan.



