Dalam Majlis Doa, Solidaritas, dan Kesetiaan pada Para Pejuang Perlawanan yang digelar ICC Jakarta pada Minggu, 14 Juni 2026, Ustaz Kholid Al-Walid dari Fakultas Ushuluddin, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menyampaikan pemaparan mengenai situasi Hizbullah dan perkembangan geopolitik yang melingkupi Lebanon. Dalam penjelasannya, beliau terlebih dahulu menyinggung jawaban Prof. Marandi ketika ditanya mengapa Iran memasukkan Lebanon sebagai bagian dari perjanjian penghentian perang antara Iran dan Amerika Serikat. Menurut beliau, jawaban itu menarik karena menunjukkan keseriusan Amerika dalam perjanjian tersebut. Sebab, salah satu hal paling mendasar yang tidak diinginkan Israel adalah dihentikannya serangan ke Lebanon. Jika Amerika benar-benar mampu menghentikan serangan Israel, maka hal itu menjadi tanda bahwa mereka serius. Namun bila tidak, menurut beliau, itu berarti Amerika sedang bermain-main atau sekadar melakukan time playing terhadap perjanjian itu.
Ustaz Kholid Al-Walid kemudian menjelaskan alasan Israel tidak mau menghentikan serangan ke Lebanon. Menurut sejumlah analis politik, Israel ingin menjadikan Lebanon Selatan sebagai bumper zone, yaitu wilayah penyangga agar tidak ada serangan berikutnya yang dapat masuk ke wilayah Israel. Beliau menegaskan bahwa secara strategis, jalur yang paling memungkinkan untuk menghancurkan Israel adalah melalui Lebanon Selatan. Dalam sejarah peperangan, menurut beliau, tidak ada rezim yang benar-benar runtuh tanpa serangan darat. Karena itu, serangan darat melalui Lebanon Selatan dipandang Israel sebagai ancaman yang sangat serius dan menjadi harga mati yang harus mereka pertahankan.
Beliau juga menyinggung bahwa pada 3 Juni lalu Hizbullah menghadapi dua jenis perang sekaligus, yakni hard war dan soft war. Hard war, menurut beliau, adalah perang yang terlihat secara langsung antara Hizbullah dan Israel, saling menghancurkan satu sama lain. Adapun soft war berlangsung di ranah politik, ketika Presiden Lebanon Joseph Aoun bersama Duta Besar Lebanon di Amerika, Nada Muawad, dan Duta Besar Israel di Amerika, jika tidak salah bernama Pelit, melakukan perjanjian di bawah pengawasan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat saat ini, Mario Rubio. Beliau menjelaskan bahwa perjanjian itu ditolak oleh Hizbullah karena isinya, antara lain, menguatkan tentara pemerintah Lebanon, melucuti senjata Hizbullah, dan menyerahkan wilayah bumper zone kepada Israel. Menurut beliau, perjanjian semacam itu jelas merugikan Hizbullah dan memperlihatkan arah politik yang ingin melemahkan kekuatan perlawanan di Lebanon.
Dalam paparan berikutnya, Ustaz Kholid Al-Walid mengatakan bahwa dua hari sebelum acara itu, Perdana Menteri Lebanon yang berasal dari kalangan Sunni, Nawaf Salam, mengunjungi Suriah dan berbicara dengan Ahmad Sarat atau Jolani. Menurut informasi dari berbagai analis politik, ada kesepakatan yang mengarah pada upaya melemahkan Hizbullah. Beliau menyebut salah satu kemungkinan yang dimainkan dalam skema tersebut adalah menggerakkan ISIS untuk ikut berperang melawan Hizbullah. Ketika Jolani kemudian terbang ke Amerika dan bertemu dengan Trump, beliau meyakini bahwa salah satu isi pembicaraan mereka adalah strategi untuk menghancurkan Hizbullah. Dengan demikian, menurut beliau, Hizbullah pada saat ini menghadapi dua perang sekaligus: perang langsung dengan Israel, dan perang strategis yang kemungkinan dijalankan melalui unsur-unsur radikalis dengan narasi sektarian, yakni tuduhan bahwa Hizbullah menghancurkan Suriah dan membantai Sunni.
Beliau juga menyoroti pernyataan terakhir Presiden Lebanon Joseph Aoun yang menyebut bahwa dalam waktu dekat akan terjadi konflik internal di Lebanon. Menurut Ustaz Kholid Al-Walid, hal itu menunjukkan bahwa Lebanon sedang menghadapi realitas politik yang sangat rumit, dan Hizbullah berada dalam tantangan yang amat berat. Dalam pandangannya, tekanan yang diarahkan kepada Hizbullah tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari dalam melalui manuver politik yang kompleks.
Ustaz Kholid Al-Walid kemudian mengutip pandangan seorang tokoh Iran muda, Dr. Hasan Ahmadian, yang sering ia ikuti pembahasannya di Aljazeera. Beliau menilai Hasan Ahmadian sebagai sosok yang sangat fasih berbahasa Arab, bahkan menurutnya lebih fasih daripada sebagian penutur Arab sendiri. Dalam salah satu diskusi, ketika seorang tokoh Lebanon mempertanyakan mengapa Iran ikut campur dalam urusan Lebanon, Dr. Hasan Ahmadian menjawab dengan ungkapan Arab yang menurut beliau sangat tajam. Ustaz Kholid Al-Walid menjelaskan bahwa ungkapan itu dipahami seperti kisah seorang pembeli kurma yang menerima kurma busuk sambil timbangannya dikurangi. Menurut beliau, perumpamaan itu menggambarkan betapa tidak tahu berterimakasihnya Lebanon terhadap Iran, padahal Iran selama ini telah banyak membantu, termasuk dalam upaya mengusir pendudukan Israel dari Lebanon setelah tahun 2000.
Beliau kemudian menegaskan bahwa pemerintahan Lebanon saat ini justru berusaha menghancurkan, tidak berterima kasih, bahkan menyerang Iran dan berpihak pada Amerika. Lebih jauh lagi, menurut beliau, pemerintah Lebanon turut berupaya melemahkan bahkan menghancurkan Hizbullah. Inilah, katanya, realitas yang sedang dihadapi saat ini. Karena itu, Ustaz Kholid Al-Walid menyebut bahwa Iran tidak akan membiarkan Hizbullah berperang sendirian. Menurut beliau, Dahieh, wilayah penting di Lebanon, telah menjadi garis merah bagi Iran. Jika dalam waktu dekat Israel menyerang wilayah itu, Iran akan membalas dengan serangan habis-habisan. Beliau meyakini bahwa Iran melihat Hizbullah sebagai pintu utama dalam menundukkan Israel, sehingga tidak akan membiarkan mereka sendirian menghadapi tekanan.
Di bagian akhir pemaparannya, beliau menyoroti perkembangan terbaru mengenai persenjataan Hizbullah. Menurut beliau, banyak pihak menduga Iran tidak lagi mampu menyuplai senjata ke Hizbullah karena pemerintah Lebanon menolak Iran dan Suriah kini terputus sebagai jalur penghubung. Namun, belakangan hal itu justru mengejutkan Amerika dan Israel. Ustaz Kholid Al-Walid menjelaskan bahwa Hizbullah berhasil memproduksi drone kamikaze FPV yang dilengkapi teknologi night vision sehingga dapat beroperasi pada malam hari. Selain itu, Hizbullah juga disebut telah memiliki drone fiber optik yang tidak dapat dideteksi oleh sistem pertahanan apa pun. Menurut beliau, kemunculan senjata-senjata baru ini mengejutkan Amerika dan Israel, terutama setelah mereka mengira Hizbullah telah melemah pascasyahidnya Sayyid Hasan Nasrullah dan serangan besar yang menimpa mereka sebelumnya.
Beliau menutup pemaparannya dengan keyakinan bahwa dengan dua kekuatan besar, yakni Hizbullah dan Iran, umat Islam akan menyaksikan janji kemenangan dalam waktu dekat. Menurut Ustaz Kholid Al-Walid, tahun 2027 akan menjadi tahun runtuhnya Israel.



