Skip to main content

Pada malam ketiga Majelis Duka Imam Husain as di ICC Jakarta, Kamis, 18 Juni 2026, Ustaz Rusli Malik menyampaikan bahwa setiap kali memasuki malam-malam duka seperti ini, kaum beriman patut bersyukur kepada Allah swt karena masih diberi kesempatan untuk belajar dari peristiwa-peristiwa yang menyimpan pelajaran, madrasah, dan rahasia kehidupan. Menurut beliau, manusia hidup lalu akan mati, dan semua orang mengetahui bahwa setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Karena itu, bila hidup berakhir dengan kematian dan seluruh usaha material tidak dibawa ke alam berikutnya, hal itu pada pandangan sepintas bisa tampak sia-sia dan absurd. Namun, Ustaz Rusli Malik menegaskan bahwa Al-Qur’an mengingatkan manusia bahwa kehidupan tidak berhenti di dunia, melainkan berlanjut ke kehidupan setelahnya, dan kehidupan di dunia ini justru merupakan ujian besar.

Beliau kemudian menjelaskan bahwa Al-Qur’an menggambarkan hidup manusia sebagai ruang ujian antara kebaikan dan keburukan, antara yang hak dan yang batil, antara surga dan neraka. Dalam pandangannya, matriks kehidupan dalam Al-Qur’an selalu bergerak pada dua kutub itu: syarr dan khair, sayyi’at dan hasanat, kebatilan dan kebenaran, zhulumat dan nur. Karena itu, setiap saat manusia berada dalam posisi memilih, walaupun pilihan itu tidak sederhana. Menurut Ustaz Rusli Malik, memilih kebaikan atau kejahatan bukan seperti memilih makanan di atas meja, sebab setiap pilihan membawa konsekuensi, dan dalam banyak kasus konsekuensinya bisa amat berat dan fatal. Dari sinilah beliau menilai bahwa agama bukan semata ritual, melainkan cara Allah swt menginjeksikan keberanian ke dalam diri manusia agar mampu mengambil pilihan-pilihan sulit dalam hidup.

Dalam penjelasannya, beliau membawa hadirin kepada kisah Nabi Adam as dan dua putranya, Kabil dan Habil. Menurut Ustaz Rusli Malik, sejak awal sejarah manusia sudah tampak adanya dualitas: satu pihak mewakili kejahatan, pihak lain mewakili kebaikan. Beliau menyinggung bahwa ayat tentang membunuh satu jiwa seakan sama dengan membunuh seluruh manusia berakar dari peristiwa Kabil dan Habil, kemudian ditegaskan dalam Al-Qur’an sebagai pelajaran bagi seluruh umat manusia. Dari situ, beliau menjelaskan bahwa nyawa adalah unsur yang sangat dijaga dalam Islam. Bahkan, menurut beliau, maqashid syariah yang paling utama adalah menyelamatkan nyawa manusia. Karena itu, berbagai ketentuan ibadah dalam Islam selalu kembali pada semangat menjaga kehidupan.

Ustaz Rusli Malik memberi contoh ibadah puasa. Puasa Ramadan memang wajib, tetapi bagi orang sakit atau musafir Allah swt memberi keringanan untuk tidak berpuasa dan menggantinya di hari lain. Bahkan bagi orang yang sudah tidak mampu berpuasa, cukup membayar fidyah. Menurut beliau, semua itu menunjukkan bahwa semangat syariat adalah menyelamatkan nyawa dan memuliakan manusia. Dari sini, beliau menegaskan bahwa Islam tidak memandang manusia secara parsial dan terpisah-pisah, tetapi melihat bahwa dalam satu jiwa tersimpan nilai seluruh kemanusiaan. Karena itu, seseorang yang mengaku beragama namun tidak menghargai nyawa manusia pada hakikatnya memiliki jarak besar antara pengakuan dan realitas hidupnya.

Beliau lalu menyinggung sabda Nabi Muhammad saw bahwa seorang Muslim adalah orang yang membuat orang lain selamat dari lisan dan tangannya, dan seorang mukmin adalah orang yang membuat orang lain aman dari lisannya dan tangannya. Menurut Ustaz Rusli Malik, hadis-hadis itu sudah dikenal sejak generasi awal, jauh sebelum peristiwa Karbala pada tahun 61 Hijriah. Dari sana, beliau mengajak hadirin bertanya: di mana posisi kata-kata dan ajaran itu ketika tragedi Karbala terjadi? Baginya, jawabannya terletak pada keberanian manusia untuk memilih, dan keberanian itu menjadi inti dari keimanan yang sesungguhnya.

Beliau juga mengajak hadirin melihat sejarah para nabi lain, seperti Nabi Nuh as, Nabi Hud as, Nabi Saleh as, dan Nabi Ibrahim as. Menurut Ustaz Rusli Malik, sejarah para nabi selalu memperlihatkan bahwa kehidupan adalah soal pilihan. Nabi Ibrahim as, misalnya, datang di tengah masyarakat Ur dan Babilonia untuk menyeru amar ma’ruf nahi mungkar, yaitu mengajak manusia melepaskan ego dan tidak terikat pada berhala-berhala. Akan tetapi, respons penguasa saat itu justru berlebihan sampai berujung pada upaya membakar Nabi Ibrahim as. Dari peristiwa-peristiwa seperti inilah, beliau menegaskan, setiap penyimpangan dari filosofi kebenaran selalu berakhir pada kejahatan.

Setelah itu, Ustaz Rusli Malik kembali kepada peristiwa Karbala. Beliau menjelaskan bahwa pada hari kedua Muharram tahun 61 Hijriah, Imam Husain as tiba di Karbala dan menghadapi pasukan yang dipimpin Al-Hurr bin Yazid al-Riyahi atas perintah Ubaidillah bin Ziyad. Tugas Al-Hurr, menurut beliau, adalah menggiring Imam Husain as agar tidak masuk ke Kufah dan tidak mencapai Sungai Furat. Namun, meski Imam Husain as sudah mengetahui bahwa beliau menjadi sasaran kejahatan yang amat besar, hati beliau tetap tenang dan sejernih embun pagi. Menurut Ustaz Rusli Malik, tidak ada amarah dan dendam dalam diri Imam Husain as, sebab di dalam diri beliau berhimpun seluruh kemanusiaan.

Dari sana beliau menegaskan bahwa perjuangan Imam Husain as bukanlah perjuangan sektarian. Menurut beliau, perjuangan Imam Husain as adalah perjuangan kemanusiaan. Siapa pun yang memasukkan dirinya ke dalam himpunan kemanusiaan tanpa menarik diri secara parsial, maka ia berada dalam jiwa Imam Husain as. Beliau mencontohkan bagaimana ketika pasukan Al-Hurr kehabisan air, Imam Husain as tanpa diminta justru memerintahkan para sahabat beliau untuk membagikan air persediaan kepada mereka. Bagi beliau, tindakan itu menunjukkan humanisme sejati yang tidak dibatasi sekat-sekat identitas. Imam Husain as tetap memberi air kepada orang-orang yang sedang menzaliminya, dan dari situ tampak bahwa kemanusiaan beliau bersifat universal.

Beliau kemudian melanjutkan dengan tragedi di Karbala ketika pasukan Umar bin Sa‘ad memperketat blokade air. Dalam kondisi padang pasir yang sangat panas dan kehausan yang luar biasa, korban pertama yang paling merasakan penderitaan adalah bayi Ali al-Asghar, yang baru sekitar enam bulan dan bahkan masih bergantung pada air susu ibunya. Ustaz Rusli Malik menjelaskan bahwa Imam Husain as mengangkat bayi itu dan memohon setetes air kepada pasukan lawan, setidaknya untuk bayi tersebut. Namun, balasan yang diterima justru panah bercabang tiga yang menembus bayi itu hingga gugur syahid. Sebelumnya, menurut beliau, Abu Fadhl al-Abbas juga telah berusaha menembus kepungan untuk mengambil air dari Furat, tetapi pasukan lawan menghalanginya. Dari semua itu, beliau mengajak hadirin melihat bahwa ketika Imam Husain as dizalimi, beliau justru tetap memperlihatkan kemanusiaan dan universalitas yang tidak disekat oleh permusuhan.

Setelah menegaskan bahwa tragedi Karbala adalah tragedi kemanusiaan, beliau mengaitkannya dengan realitas hari ini. Ustaz Rusli Malik mengatakan bahwa tidak ada alasan untuk menggiring opini seolah-olah perjuangan Imam Husain as hanya untuk kalangan Syiah atau hanya untuk umat Islam. Bagi beliau, perjuangan Imam Husain as adalah perjuangan bagi seluruh kemanusiaan. Karena itu, beliau menegaskan bahwa siapa pun yang ingin masuk ke dalam relung kemanusiaan harus membela manusia di mana pun mereka berada, tanpa membedakan agama, suku, bangsa, atau negara. Beliau mencontohkan Republik Islam Iran yang, menurut pandangannya, membela bangsa-bangsa seperti Venezuela dan Kuba bukan karena persoalan agama atau ideologi, melainkan karena alasan kemanusiaan.

Beliau lalu menekankan pentingnya kedaulatan diri. Dalam pandangannya, perjuangan utama setiap orang adalah menjadi merdeka atas dirinya sendiri. Ustaz Rusli Malik mengutip kisah ibu Maryam yang bernazar agar anak dalam kandungannya menjadi muharrar, yakni anak yang merdeka, terbebas, dan berdaulat pada dirinya. Dari situlah, menurut beliau, cita-cita spiritual Al-Qur’an adalah membentuk manusia yang berdaulat atas dirinya sendiri. Karena itu, ketika seseorang menghadiri majelis seperti ini lalu menangis tetapi tidak memiliki kedaulatan dalam hidup sehari-hari, maka ia belum benar-benar menyerap semangat Karbala.

Beliau juga menyinggung perbedaan antara Al-Hurr dan penduduk Kufah. Menurut Ustaz Rusli Malik, Al-Hurr adalah bangsawan Irak dari Bani Tamim, seorang kesatria yang memiliki pengaruh besar dan tidak pernah lari dari medan perang. Namun, pada awalnya ia berdiri di sisi Yazid dan Ibnu Ziyad. Sementara itu, penduduk Kufah yang mengirim 12.000 surat kepada Imam Husain as dengan tanda tangan berdarah justru mengkhianati beliau ketika Ibnu Ziyad menekan mereka. Bagi Ustaz Rusli Malik, yang menentukan bukanlah verbalitas, bukan banyaknya air mata, dan bukan pula atribut lahiriah seperti baju hitam, melainkan kemampuan seseorang menegakkan kedaulatan dalam dirinya sendiri. Penduduk Kufah, menurut beliau, kehilangan nyali karena tidak berdaulat atas diri mereka sendiri.

Sebaliknya, Al-Hurr akhirnya menempuh jalan yang berbeda. Ketika melihat pasukan Imam Husain as dan menyadari bahwa ia telah berada di sisi yang salah, hatinya bergejolak antara surga dan neraka. Beliau mengisahkan bagaimana Al-Hurr datang kepada Imam Husain as dalam keadaan menyesal, mengakui bahwa dirinya telah menjadi sebab Imam Husain as dan rombongan beliau terhalang air, lalu memohon ampun dan bertobat. Imam Husain as menerima tobatnya dan menegaskan bahwa Al-Hurr benar-benar orang merdeka, sesuai makna namanya. Setelah itu Al-Hurr kembali ke pasukan Umar bin Sa‘ad dan berpidato singkat bahwa Sungai Furat seharusnya menjadi milik semua orang, termasuk orang Yahudi, Nasrani, dan Majusi, apalagi cucu Rasulullah saw beserta bayi dan perempuan yang bersama mereka. Akhirnya, ia berperang melawan pasukannya sendiri dan gugur sebagai syahid.

Di bagian akhir, Ustaz Rusli Malik menyampaikan bahwa kisah Al-Hurr memberi pelajaran besar. Seseorang yang hari ini merasa berada di pihak Imam Ali as belum tentu akan berakhir sebaik Al-Hurr, dan orang yang tampak di luar lingkaran pun bisa jadi justru memperoleh akhir yang lebih baik. Karena itu, beliau mengajak hadirin memasukkan seluruh manusia ke dalam relung kemanusiaan mereka dan membela siapa pun yang dizalimi. Beliau menegaskan bahwa acara-acara seperti majelis duka ini harus menjadi sarana untuk membuktikan bahwa para pengikut Imam Ali as adalah orang-orang yang berdaulat atas dirinya sendiri dan bertanggung jawab terhadap lingkungan mereka. Menurut beliau, negara kita tidak berada dalam keadaan terblokade seperti Iran atau Palestina, sehingga perjuangan kita semestinya lebih mudah, yakni menampilkan diri sebagai pengikut Imam Husain as yang benar-benar merdeka dalam jiwa, melawan kezaliman di luar diri dan hawa nafsu di dalam diri.