Skip to main content

ICC Jakarta menyelenggarakan Majelis Aza Imam Husain as pada Senin, 22 Juni 2026, dengan menghadirkan Ustaz Abdullah Beik sebagai penceramah. Dalam kesempatan tersebut, beliau mengusung tema seputar kedudukan Sayidah Zainab as yang menjadi ikon khusus di Padang Karbala dalam kafilah Imam Husain as serta keteladanannya bagi umat Islam. Ustaz Abdullah Beik memulai penjelasannya dengan merujuk pada sebuah hadis dari Imam Jafar Shadiq as yang menyatakan bahwa seluruh ahlul bait as adalah bahtera keselamatan, namun bahtera Imam Husain as adalah yang paling luas dan paling cepat mengantarkan pesertanya pada tujuan. Beliau menjelaskan bahwa makna dari kelapangan dan kecepatan bahtera tersebut terletak pada kebangkitan Imam Husain as di Padang Karbala yang jauh lebih komprehensif. Salah satu faktor utama yang menjadikan kebangkitan tersebut sangat utuh adalah keterlibatan Sayidah Zainab as. Kehadiran beliau memberikan corak tersendiri, di mana perjuangan Imam Husain as ditopang langsung oleh peran besar seorang wanita, sebuah hal yang jarang ditemui dalam sejarah perjuangan tokoh-tokoh suci sebelumnya maupun sesudahnya.

Lebih lanjut, Ustaz Abdullah Beik memaparkan bahwa untuk memahami kebangkitan Imam Husain as secara utuh, pembelajar sejarah tidak boleh hanya terpaku pada peristiwa Asyura di tanggal 10 Muharram tahun 61 Hijriah semata. Beliau menuturkan bahwa rangkaian kebangkitan tersebut sejatinya telah dimulai sejak Imam Husain as menolak paksaan baiat kepada Yazid di Madinah. Perjalanan kemudian berlanjut menuju Makkah, di mana Imam Husain as memanfaatkan momentum musim haji untuk menyampaikan latar belakang kebangkitannya kepada kaum muslimin yang datang dari berbagai penjuru, hingga akhirnya beliau bertolak ke Karbala. Menariknya, penceramah menekankan bahwa kebangkitan ini sama sekali tidak terhenti pasca kesyahidan Imam Husain as. Babak baru dari perjuangan ini justru baru dimulai dan dipimpin langsung oleh Sayidah Zainab as. Putri Imam Ali as inilah yang kemudian mengambil alih tongkat estafet perjuangan dengan menyampaikan pesan-pesan yang belum sempat tersampaikan di masa hidup saudaranya, termasuk saat beliau berani berdialog dan berhadapan langsung dengan Ubaidillah ibni Ziyad di Kufah serta Yazid di Damaskus.

Menyambung kisah tersebut, Ustaz Abdullah Beik menguraikan alasan filosofis di balik keputusan Imam Husain as yang membawa Sayidah Zainab as beserta kaum wanita dalam kafilahnya. Beliau menceritakan bahwa ketika ditanya mengenai hal itu, Imam Husain as memberikan jawaban kepada khalayak bahwa Allah swt menghendaki mereka menjadi tawanan. Namun, Ustaz Abdullah Beik menegaskan bahwa penawanan tersebut bukanlah sekadar menunjukkan hilangnya nilai kemanusiaan para penguasa zalim, melainkan memiliki tujuan yang jauh lebih besar. Melalui penawanan itulah, kaum wanita dari ahlul bait as, khususnya Sayidah Zainab as, menjadi corong utama yang menyuarakan kemazluman keluarga Rasulullah saw, sekaligus meluruskan berbagai pesan penting yang disalahpahami oleh masyarakat dan penguasa saat itu. Untuk mengemban tugas yang teramat berat ini, Ustaz Abdullah Beik menjelaskan bahwa dibutuhkan sosok istimewa dengan sifat-sifat mulia, yang pertama dan utama adalah kesabaran serta keteguhan hati. Terlebih lagi, pada saat itu Imam Ali Zainal Abidin as sedang dalam kondisi sakit sehingga peran kepemimpinan harus digantikan sementara oleh Sayidah Zainab as.

Dalam mengupas kedalaman makna kesabaran, Ustaz Abdullah Beik mengingatkan jamaah pada ayat-ayat Al-Qur’an, khususnya di surah Al-Baqarah, yang menggandengkan kesabaran dan salat sebagai penolong utama manusia. Beliau menjelaskan bahwa sebagian ulama menafsirkan sabar sebagai puasa, sementara salat dapat dimaknai secara lahiriah maupun sebagai doa dan wujud keterhubungan manusia dengan Allah swt. Kesabaran ini sangat mutlak diperlukan karena ujian dalam kehidupan tidak selalu hadir dalam bentuk hal-hal yang tidak menyenangkan. Ustaz Abdullah Beik mengingatkan bahwa manusia juga senantiasa diuji dengan kebaikan, kesehatan, kesejahteraan, maupun ketenaran. Untuk menggambarkan tingginya level kesabaran Sayidah Zainab as, penceramah mengisahkan bagaimana sosok mulia tersebut tetap tegar meski harus menyaksikan sendiri saudaranya, anak-anaknya, keponakannya, hingga saudara-saudaranya seperti Abul Fadl Abbas gugur berdarah di medan laga. Ketegaran ini mendobrak pandangan umum dan membuktikan bahwa seorang perempuan mampu memiliki kesabaran dan ketahanan mental yang luar biasa saat dihadapkan pada penderitaan yang memilukan.

Tidak hanya bersabar secara menahan diri, Ustaz Abdullah Beik juga menyoroti keteguhan jiwa Sayidah Zainab as dalam memegang komitmen perjuangannya. Beliau mengaitkan hal ini dengan ayat yang dibaca oleh Imam Husain as di Padang Karbala saat melepas para sahabatnya maju ke medan tempur:

Minal mu’minīna rijālun ṣadaqū mā ‘āhadullāha ‘alaih, fa minhum man qaḍā naḥbahū wa minhum man yantaẓir, wa mā baddalū tabdīlā “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Lalu, di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu. Mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya).” (QS. Al-Ahzab [33]: 23)

Setelah membacakan ayat tersebut, Ustaz Abdullah Beik menjelaskan bahwa golongan yang menunggu dan tidak sedikit pun mengubah janjinya adalah mereka yang tetap hidup pasca tragedi Karbala, yang sosok utamanya adalah Sayidah Zainab as and Imam Ali Zainal Abidin as. Beliau kemudian merajut relevansi ayat ini dengan realitas kehidupan saat ini. Sebagai umat yang masih diberikan kesempatan hidup oleh Allah swt, manusia dituntut untuk meneladani Sayidah Zainab as dengan tetap berpegang teguh pada keimanan kepada Allah swt, ajaran Rasulullah saw, dan wilayah ahlul bait as. Di samping itu, beliau menegaskan keberanian Sayidah Zainab as dalam mewariskan ajaran tersebut adalah tugas yang juga dipikul oleh setiap orang tua saat ini kepada generasi anak cucunya. Untuk dapat menumbuhkan kesabaran, keteguhan, dan keberanian seperti itu, Ustaz Abdullah Beik menyeru para jamaah agar rela meninggalkan sejenak kesibukan aktivitasnya guna menghadiri majelis-majelis peringatan di malam-malam Muharram. Kehadiran di majelis semacam ini dinilai krusial untuk menggerakkan jiwa dan membumikan ajaran suci ahlul bait as dalam ibadah spiritual maupun kewajiban sosial sehari-hari.

Pada akhir penjelasannya, Ustaz Abdullah Beik menekankan sifat mulia lainnya dari Sayidah Zainab as yang tidak kalah penting, yaitu kedalaman ilmu dan makrifah. Beliau mencontohkan bagaimana Sayidah Zainab as mampu menjabarkan pemahaman takdir yang benar, hakikat kematian, hingga hubungan kepemimpinan ahlul bait as dengan Islam di hadapan para penguasa zalim. Penceramah secara khusus memberikan pesan kepada kaum ibu, yang intensitas perjumpaannya dengan anak-anak di rumah lebih tinggi, agar senantiasa membekali diri dengan ilmu untuk mendidik tunas-tunas muda. Sebagai teladan nyata, beliau membagikan sebuah riwayat tentang bagaimana Imam Ali as mendidik Sayidah Zainab as secara ketat mengenai batasan hijab dan pergaulan. Disebutkan bahwa ketika mengajak putri-putrinya berziarah ke makam Rasulullah saw, Imam Ali as sengaja memilih waktu yang sunyi dari peziarah lain dan mematikan lampu di sekitar pusara demi menjaga kehormatan putrinya dari pandangan pihak luar. Ustaz Abdullah Beik menutup uraiannya dengan harapan bahwa majelis-majelis keilmuan yang rutin dihadiri ini kelak dapat membuahkan kemampuan praktis bagi para orang tua dalam mendidik generasi penerus agar terus berpegang teguh pada jalan Islam yang autentik.