ICC Jakarta menyelenggarakan Majelis Aza Imam Husain as malam kedelapan pada Selasa, 23 Juni 2026, dengan menghadirkan Ustaz Husein Shahab sebagai penceramah. Dalam kesempatan tersebut, beliau mengusung tema tentang keabadian semangat Karbala yang terus menggelora di hati kaum mukminin meski peristiwa tersebut telah berlalu lebih dari 1.400 tahun silam. Ustaz Husein Shahab mengawali penjelasannya dengan mengutip sabda Imam Jafar Shadiq as:
“Sesungguhnya dalam pembunuhan Imam Husain terdapat gelora panas di dalam hati orang-orang mukmin yang tidak akan pernah padam selama-lamanya.”
Beliau mengajak jamaah untuk bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk mendengarkan dan bersimpati pada tragedi Karbala. Penceramah memaparkan bahwa pascatragedi tahun 61 Hijriah, penguasa zalim mengerahkan segala upaya untuk mengubur sejarah tersebut. Secara geografis, Karbala diisolasi secara ketat karena berjarak sekitar 100 kilometer dari Kufah, yang pada masa itu membutuhkan waktu perjalanan kaki hingga berhari-hari. Yazid berupaya memutarbalikkan fakta dengan menarasikan Imam Husain as sebagai pemberontak atau Khawarij. Propaganda ini sangat masif, hingga ketika rombongan tawanan Sayidah Zainab as dan Imam Ali Zainal Abidin as tiba di Syam, penduduk setempat menduga mereka adalah tawanan nonmuslim dari Turki, Dailam, atau Romawi, sampai akhirnya Imam Ali Zainal Abidin as menegaskan bahwa mereka adalah keturunan Rasulullah saw.
Lebih lanjut, Ustaz Husein Shahab menceritakan betapa mencekamnya situasi pasca-Karbala akibat kekejaman para penguasa Bani Umayyah. Di Madinah, keluarga ahlul bait as diisolasi secara ketat hingga Sayidah Zainab as terpaksa hijrah untuk menghindari tekanan tersebut. Penguasa menempatkan tokoh-tokoh bengis seperti Hajjaj bin Yusuf dan Muslim bin Uqbah—yang oleh sejarah dijuluki Mujrim bin Uqbah karena kekejamannya. Ustaz Husein Shahab menuturkan bahwa Mujrim bin Uqbah membantai sekitar 10.000 penduduk Madinah dan membiarkan tentaranya menodai ribuan wanita di kota suci tersebut. Kekejaman serupa dilakukan oleh Bisir bin Arta’ah yang memburu para pengikut Imam Ali as hingga ke Mesir, bahkan tega membunuh dua bayi tak berdosa milik Ubaidillah bin Abbas. Di tengah teror pembantaian tersebut, sangat sedikit orang yang berani menyebarkan keutamaan ahlul bait as. Berita dan hadis tentang mereka terhambat penulisannya, sehingga strategi perlawanan pada masa itu banyak disuarakan melalui untaian syair dari para penyair ahlul bait as dan bait-bait doa dari Imam Ali Zainal Abidin as. Meskipun penguasa berusaha menutupi kebenaran, Allah swt berkehendak lain, sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur’an:
Yurīdūna liyuṭfi’ū nūrallāhi bi’afwāhihim wallāhu mutimmu nūrihī
“Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya.” (QS. As-Saff [61]: 8)
Menarik benang merah dari sejarah Karbala ke situasi dunia saat ini, Ustaz Husein Shahab menjelaskan bahwa semangat perlawanan ahlul bait as terejawantahkan ke dalam tiga pilar perlawanan modern: militer, diplomasi, dan media. Pada pilar militer, beliau menyoroti keberanian poros perlawanan Islam yang sukses meruntuhkan rasa rendah diri umat muslim di hadapan arogansi Amerika Serikat dan Zionisme. Beliau memberikan contoh bagaimana para pemimpin dunia sangat tunduk pada tekanan finansial Amerika, namun di sisi lain, kekuatan militer perlawanan mampu menghancurkan markas-markas bernilai triliunan dolar. Menurut beliau, kekuatan yang mampu mengubah peta dunia ini lahir dari spirit Karbala dan kecintaan kepada Imam Husain as.
Pada pilar diplomasi, Ustaz Husein Shahab menekankan pentingnya memiliki sikap tegas berpihak pada yang dizalimi, sesuai dengan wasiat Imam Ali as kepada kedua putranya:
“Jadilah kalian berdua musuh bagi orang yang zalim dan penolong bagi orang yang dizalimi.”
Sikap diplomasi yang tak kenal kompromi terhadap kezaliman ini ditunjukkan dalam ketegasan poros perlawanan menolak genosida di Gaza dan Lebanon. Beliau mengingatkan jamaah pada keteguhan sikap Imam Husain as yang menolak berbaiat kepada Yazid dengan seruan:
“Orang seumpamaku tidak akan pernah membaiat orang seumpama Yazid.”
“Jauh sekali dari kami kehinaan.”
Ustaz Husein Shahab kemudian menguraikan betapa kematian di jalan Allah adalah sebuah kemuliaan, sebagaimana ditunjukkan oleh Qasim, putra Imam Hasan as yang masih belia di Padang Karbala. Ketika ditanya oleh Imam Husain as mengenai pandangannya tentang kematian setelah melihat banyak saudaranya yang gugur, Qasim dengan penuh keteguhan menjawab:
“Kematian bagiku lebih manis daripada madu.”
Beliau menjelaskan bahwa melalui pengorbanan suci tersebut, garis keturunan Rasulullah saw tetap dijaga oleh Allah swt melalui dua tokoh yang selamat dari pembantaian, yaitu Imam Ali Zainal Abidin as dan Hasan Mutsanna. Penjagaan ilahiah ini merupakan wujud nyata dari firman Allah swt:
Innā a‘ṭainākal-kauṡar. Faṣalli lirabbika wanḥar. Inna syāni’aka huwal-abtar.
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu (Nabi Muhammad) nikmat yang banyak. Maka, laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus (dari rahmat Allah).” (QS. Al-Kautsar [108]: 1-3)
Sebagai persiapan untuk terus melanjutkan perlawanan, Ustaz Husein Shahab mengingatkan kewajiban umat Islam untuk memperkuat diri sesuai anjuran Al-Qur’an:
Wa a‘iddū lahum mastaṭa‘tum min quwwatin wa mir ribāṭil-khaili turhibūna bihī ‘aduwwallāhi wa ‘aduwwakum
“Persiapkanlah untuk (menghadapi) mereka apa saja yang kamu sanggupi berupa kekuatan dan kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu…” (QS. Al-Anfal [8]: 60)
Dalam menafsirkan kesiapan ini, beliau menyebutkan bahwa kebangkitan umat sangat dipengaruhi oleh dua kutub kekuatan utama, yaitu teladan Imam Husain as dan harapan pada kepemimpinan Imam Mahdi as. Beliau sangat mengapresiasi maraknya peringatan Muharram di Indonesia yang terus bertambah jumlahnya, karena majelis-majelis inilah yang menjadi wadah konsolidasi kecintaan umat. Di penghujung ceramahnya, Ustaz Husein Shahab menyoroti kelemahan umat Islam pada pilar ketiga, yakni media. Beliau mengingatkan bahaya ketergantungan kaum muslimin pada teknologi dan platform media sosial dari negara-negara Barat yang pada hakikatnya dimanfaatkan sebagai alat pantau dan propaganda. Penceramah mengkritik fenomena tingginya angka konsumsi media di Indonesia tanpa diimbangi kemampuan memproduksi narasi yang mandiri, serta kebijakan ekonomi digital yang merugikan. Oleh karena itu, beliau mendesak umat agar menjadikan peringatan Imam Husain as sebagai sumber inspirasi untuk bangkit dan mengambil peran aktif di medan tempur media demi menyuarakan kebenaran ahlul bait as.



