Skip to main content

ICC Jakarta menyelenggarakan Majelis Aza Imam Husain as malam kesembilan pada Rabu, 24 Juni 2026, dengan menghadirkan Ustaz Muhsin Labib sebagai penceramah. Dalam ceramahnya, beliau mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa bersyukur kepada Allah swt dalam segala situasi dan hal yang dihadapi dalam kehidupan keseharian. Ustaz Muhsin Labib menekankan bahwa di antara segala bentuk ungkapan terima kasih, syukur al-iman merupakan tingkatan tertinggi karena tidak dibatasi oleh perkara-perkara duniawi maupun pemenuhan keinginan personal semata. Iman yang sejati berfungsi membatasi perilaku, kehendak, serta kecenderungan hewani dalam diri manusia yang selalu memburu kesenangan, kenyamanan, keamanan, kemudahan, dan segala pesona duniawi. Beliau menyampaikan bahwa tanpa adanya pondasi iman atas apa yang diyakini, manusia tidak akan pernah menemukan konsistensi dalam hidupnya. Salah satu indikasi utama dari keimanan adalah adanya istiqamah atau keteguhan yang tidak goyah oleh terjangan berbagai macam situasi, kondisi, maupun problema yang menderu kehidupan. Segala keteladanan tentang konsistensi iman ini telah dipentaskan secara sempurna oleh Imam Husain as bersama keluarga dan para pengikut setia beliau.

Lebih lanjut, Ustaz Muhsin Labib menjelaskan bahwa karena dorongan iman itulah para pengikut ahlul bait as rela mengayunkan langkah, meninggalkan segala aktivitas harian, serta memusatkan perhatian dan komunikasi batin guna menjalin hubungan cinta yang transenden dengan sebuah peristiwa sejarah yang bagi kebanyakan orang dianggap tidak mendatangkan keuntungan materi. Jamaah yang hadir dalam majelis tersebut digambarkan sebagai orang-orang yang meraih penghargaan dan medali spiritual atas hal-hal yang tidak kasatmata bagi khalayak luas, di mana kebenaran tersebut selama berabad-abad berusaha disensor, dipendam, dan ditutupi oleh dinasti demi dinasti melalui berbagai modus konspirasi serta persekongkolan sistematis. Beliau mengisahkan kembali perjalanan kafilah Imam Husain as sejak meninggalkan Madinah menuju Makkah hingga akhirnya tiba di tanah berpasir yang gersang. Ketika tiba di lokasi tersebut, kuda yang ditunggangi oleh Imam Husain as tiba-tiba berhenti secara misterius hingga beliau harus berganti ke kuda kedua dan ketiga yang juga enggan melangkah maju. Imam Husain as kemudian mempertanyakan nama wilayah gersang tersebut kepada penduduk setempat, yang berturut-turut menyebutkan nama-nama umum seperti Syatiul Furat karena letaknya yang dekat dengan Sungai Efrat, lalu Al-Ghadiriyah sebagai nama purbanya, serta Nainawa, hingga akhirnya disebutlah nama Karbala yang bermakna tanah kesengsaraan dan malapetaka.

Dalam meninjau peristiwa tersebut, Ustaz Muhsin Labib mengajak jamaah untuk memandang tragedi Karbala sebagai sebuah peristiwa kemanusiaan dan antropologis yang rasional, bukan sekadar sebuah legenda supranatural yang jauh dari jangkauan akal manusia. Beliau mengingatkan bahwa jika kausalitas sejarah digunting dan dipisahkan dari dimensi kemanusiaannya, sosok Imam Husain as hanya akan menjadi dongeng masa lalu yang dinikmati sebagai tontonan emosional semata. Namun, dengan melihatnya sebagai upaya riil dalam mengimplementasikan nilai-nilai agama dan menghidupkan kembali ajaran Rasulullah saw, maka spirit perjuangan beliau akan tetap menyala dan berpendar melintasi zaman, sehingga slogan bahwa setiap hari adalah Asyura dan setiap tempat adalah Karbala menemukan pembuktian faktualnya. Sejadah keteladanan ini lahir karena Imam Husain as sejak kecil hidup seatap dengan kakek beliau, menghirup semerbak wahyu, serta mendekap kemilau risalah dan curahan ilmu secara langsung, sehingga kehadiran ajaran Rasulullah saw di Karbala menjadi bukti bahwa agama ini tidak sekadar meninggalkan teks-teks abstrak yang rentan menjadi bahan perebutan klaim atau sengketa interpretasi. Oleh karena itu, perkumpulan dalam majelis suci ini bukan sekadar untuk meratapi sosok yang telah mencapai garis akhir kesyahidan, melainkan sebuah ikhtiar bagi umat untuk berdiri dalam antrean panjang penantian demi mendapatkan giliran menjadi bagian dari cahaya cinta ilahi.

Ustaz Muhsin Labib memberikan kritik tajam terhadap fenomena peringatan yang hanya berhenti pada pengulangan ratapan dan kidung kesedihan tanpa adanya transformasi perilaku. Beliau menegaskan bahwa apabila setelah menangis dan mengenakan pakaian hitam, manusia kembali menjalani kehidupan dengan perilaku egois, hilangnya tanggung jawab, memicu konflik rumah tangga, melakukan penipuan dalam kerja sama bisnis, atau merusak rasa aman di lingkungannya, maka tidak ada bedanya antara mereka dengan orang-orang yang sama sekali tidak mengenal Imam Husain as. Segala teriakan, pembacaan maqtal, ceramah, pakaian duka, hingga pukulan tangan ke dada harus mampu terimplementasi menjadi sebuah sistem perilaku yang solid di dunia nyata, sebagai modal kuat untuk berhak mendapatkan syafaat beliau di hari akhir. Penceramah juga mengajak jamaah merefleksikan momen akhir bulan Muharram yang sering dikaitkan dengan perayaan hijrah sebagai awal kebangkitan Islam. Beliau melontarkan pertanyaan kritis mengenai sejak kapan sebuah peristiwa pengungsian atau evakuasi darurat akibat tekanan, intimidasi, dan ancaman sistematis dirayakan sebagai hari kemenangan utama, padahal momentum pengutusan Nabi saw sebagai pembawa risalah, hari kelahiran, maupun hari wafat beliau jauh lebih layak mendapatkan perhatian utama. Menurut beliau, kebangkitan Islam yang sesungguhnya terjadi saat Kota Makkah berhasil dibebaskan dari cengkeraman oligarki Quraisy dan berhala-berhala kemanusiaan melalui peristiwa Fathu Makkah, namun sejarah yang bias ini bertahan berabad-abad karena selalu ditulis dari kacamata penguasa.

Keberhasilan pengikut ahlul bait as dalam mempertahankan karunia iman di tengah masifnya upaya pengaburan sejarah dipandang sebagai sebuah komitmen kontrak spiritual yang menuntut konsekuensi teramat berat. Ustaz Muhsin Labib menegaskan bahwa seluruh derita dan malapetaka yang dialami oleh Imam Husain as beserta keluarga dan sahabatnya dapat diringkas dalam satu kata, yaitu risiko yang harus dibayar dengan harga yang sangat mahal. Beliau mensoroti betapa ironisnya situasi saat itu, di mana mayoritas umat Islam memilih menutup pintu, jendela, telinga, mata, dan nurani mereka ketika cucu Rasulullah saw dikepung, padahal Nabi saw telah berulang kali mewanti-wanti umat untuk menjaga keluarga beliau sebagai otoritas transenden penjamin keselamatan. Merujuk pada perintah untuk berpegang teguh pada tali Allah swt dalam ayat Al-Qur’an, beliau menerangkan bahwa tanpa adanya kepatuhan pada otoritas tunggal yang final, agama hanya akan berubah menjadi kotak saran dan lahan perdebatan tiada akhir yang gagal menjelma menjadi sebuah sistem hukum mengikat untuk membentuk sebuah umat yang padu. Meskipun kesempurnaan agama telah dijamin oleh Allah swt melalui wahyu-Nya yang suci dan benderang, kebenaran tersebut sering kali diukur oleh masyarakat luar berdasarkan fakta perilaku pemeluknya di lapangan, bukan melalui klaim lisan atau narasi ceramah semata.

Tragedi pembantaian di Karbala terjadi bukan hanya karena kekejaman figur-figur seperti Yazid, Ubaidillah bin Ziyad, atau Umar bin Sa’ad, melainkan karena adanya prasyarat berupa sikap diam dari mayoritas umat yang sebenarnya mengetahui kebenaran namun memilih tidak bertindak. Oleh karena itu, kehadiran jamaah dalam majelis duka ini merupakan bentuk maklumat spiritual untuk melepaskan diri dari dosa pembiaran tersebut, sekaligus membuktikan bahwa seruan dan ratapan kemazluman Imam Husain as telah didengar dan disambut dengan baik. Perjuangan di Karbala juga menampilkan spektrum peran yang sangat luas dan universal, di mana batas-batas identitas duniawi dihancurkan. Beliau mencontohkan kehadiran sebuah keluarga berlatar belakang agama Kristen serta keterlibatan kaum pinggiran dan budak yang tidak memiliki posisi mentereng dalam konstelasi politik Makkah atau Madinah. Kisah tentang anak muda dari Turki bernama Aslam, serta sepasang budak yang baru menikah dan memilih menghabiskan bulan madu mereka menuju kesyahidan di surga, membuktikan bahwa spirit Karbala merangkul siapa saja tanpa memandang asal-usul atau status sosial. Kehadiran tokoh-tokoh sepuh seperti Jun maula Abi Dzar serta Anas bin Kahil yang menolak pensiun dari medan jihad demi menemani putra Imam Ali as menunjukkan bahwa heroisme Karbala sangat dekat dengan realitas kehidupan masyarakat kelas bawah yang kerap menghadapi problem pelik namun tetap memiliki keteguhan jiwa.

Ustaz Muhsin Labib kemudian menguraikan bait-bait logika yang diajarkan oleh Imam Husain as mengenai hakikat harta dan eksistensi tubuh manusia melalui untaian kalimat puitis yang bermakna bahwa jika dunia ini dinilai sangat berharga bagi pemiliknya, maka pahala di sisi Allah swt jauh lebih tinggi dan lebih indah. Apabila rezeki telah dibagi dan ditentukan takarannya oleh Allah swt, maka sifat pelit dan ketamakan manusia dalam mencari nafkah menjadi hal yang keliru. Begitu pula jika tubuh fisik manusia pada hakikatnya dirancang untuk menua, kedaluwarsa, dan mengalami disfungsi organ secara perlahan, maka memilih jalan kematian suci berupa syahid di jalan Allah swt demi membela kebenaran adalah sebuah pilihan yang jauh lebih mulia. Kehidupan manusia tanpa adanya dialektika duka dan suka akan menjadi absurd, karena keseimbangan jiwa justru terjaga ketika manusia mampu mempersiapkan diri menghadapi kedukaan di saat sedang bersuka ria, begitu pula sebaliknya. Penggunaan pakaian hitam dan pukulan dada dalam tradisi Asyura bukanlah sekadar ritual emosional cengeng, melainkan sebuah simbol perlawanan kultural yang terbukti mampu membuat mata dunia terbelalak dan menggetarkan kekuatan imperialis.

Ketangguhan spiritual dalam menghadapi duka Karbala juga dicontohkan secara luar biasa oleh kaum perempuan, khususnya Sayidah Zainab as. Beliau mengisahkan bagaimana Sayidah Zainab as dengan tegar menerima jasad bayi suci yang berselimut darah, lalu mengangkatnya ke atas sembari memanjatkan doa kepada Allah swt agar menerima persembahan yang kecil tersebut sebagai kurban di jalan-Nya. Jiwa yang kokoh seperti inilah yang menggerakkan jutaan manusia dari seluruh penjuru dunia untuk menghadiri prosesi Arbain, bukan untuk tujuan rekreasi, melainkan untuk ikut merasakan serpihan luka, menikmati kelelahan fisik, serta memastikan bahwa suara kemazluman tersebut mendapatkan sahutan yang nyata. Ustaz Muhsin Labib mengingatkan bahwa rasa syukur atas karunia iman ini harus diimplementasikan secara konkret melalui kontribusi nyata dan kepekaan sosial terhadap orang-orang yang berada di garis depan risiko perjuangan, bukan sekadar menjadi penonton pasif di tribun yang gemar menyalahkan atau bertepuk tangan. Di samping itu, beliau menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara prinsip keumatan global dan prinsip kebangsaan nasional, di mana kepedulian terhadap poros perlawanan di Iran, Lebanon, maupun Palestina tidak boleh menegasikan kecintaan dan tanggung jawab terhadap bangsa sendiri. Nasionalisme yang sejati bukanlah chauvinisme buta yang hanya mementingkan diri sendiri, melainkan sebuah kesadaran bahwa kemuliaan suatu bangsa diukur dari sejauh mana mereka rela berkorban demi menegakkan nilai-nilai kemanusiaan universal bagi bangsa lain yang tertindas.

Menutup pemaparannya, Ustaz Muhsin Labib menegaskan bahwa perlawanan global terhadap hegemoni imperialisme didasarkan pada kesamaan prinsip ketuhanan serta nilai kemanusiaan, sebagaimana termaktub dalam ayat Al-Qur’an bahwa umat Islam adalah umat yang satu. Beliau mengklarifikasi narasi-narasi dangkal yang sering kali menuduh konflik geopolitik Iran hanya seputar perebutan ladang minyak atau sentimen kesukuan Persia, padahal agresi dan embargo ketat yang dilancarkan musuh selama puluhan tahun murni bertujuan untuk menghancurkan sistem otoritas Islam yang mandiri dan tak tergoyahkan. Meskipun setiap bangsa pengikut ahlul bait as memiliki ciri khas budayanya masing-masing, esensi spirit Karbala tetap bersifat universal dan berlaku bagi siapa saja yang memiliki kesadaran akan nilai-nilai kemanusiaan. Tragedi Asyura dan majelis duka Imam Husain as harus dijadikan sebagai momentum emas untuk melakukan evaluasi diri, koreksi intelektual, serta pengisian ulang energi spiritual. Hal ini penting agar setiap individu mampu memaksimalkan potensi dan kapasitas moral yang dimilikinya demi memastikan namanya tercatat dengan indah dalam prasasti abadi perjuangan revolusioner Karbala.