Dalam khutbah Jumat yang berlangsung di Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta, Jumat, 9 Oktober 2026, Syaikh Mohammad Sharifani melanjutkan pembahasan mengenai dosa dan pengaruhnya terhadap kehidupan manusia. Pada kesempatan tersebut, beliau menjelaskan sejumlah jalan yang dapat ditempuh untuk menghindarkan diri dari perbuatan dosa, di antaranya melalui ibadah, mengingat hukuman Allah swt, bertobat, serta mengganti perbuatan buruk dengan amal kebaikan.
Mengawali khutbahnya, Syaikh Mohammad Sharifani mengingatkan bahwa selama beberapa bulan terakhir, pembahasan dalam forum salat Jumat telah berfokus pada persoalan dosa. Berbagai hal telah diuraikan, mulai dari faktor-faktor yang mendorong manusia terjerumus ke dalam dosa, dampak yang ditimbulkannya dalam kehidupan, hingga cara-cara yang dapat dilakukan agar seseorang terhindar dari perbuatan tersebut.
Dalam beberapa pertemuan sebelumnya, beliau telah menjelaskan sejumlah jalan untuk menjauhkan diri dari dosa. Melanjutkan pembahasan itu, Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan bahwa salah satu cara penting untuk menjaga diri dari perbuatan dosa adalah dengan memperbanyak ibadah. Melalui ibadah, manusia dapat membangun kedekatan dengan Allah swt sekaligus menjauhkan dirinya dari berbagai perbuatan yang dilarang.
Beliau menjelaskan bahwa Allah swt telah menurunkan syariat dan ajaran-Nya kepada manusia melalui berbagai perintah, termasuk perintah untuk melaksanakan salat, puasa, haji, dan ibadah-ibadah lainnya. Setiap ibadah memiliki tata cara yang telah ditentukan dan dijelaskan oleh Allah swt melalui firman-firman-Nya ataupun melalui Rasulullah saw.
Syaikh Mohammad Sharifani menggambarkan ibadah sebagai sebuah paket khusus yang telah dipersiapkan oleh Allah swt untuk manusia. Apabila paket tersebut dijalankan sebagaimana yang diperintahkan, manusia akan memperoleh berbagai manfaat dan kebaikan dalam kehidupannya. Meskipun demikian, manusia tidak selalu mengetahui seluruh hikmah, pengaruh, dan manfaat yang terkandung di balik setiap ibadah.
Menurut beliau, semua itu merupakan bagian dari ilmu Allah swt yang diajarkan kepada manusia. Dalam hal ini, beliau mengutip firman Allah swt:
Wa ‘allamaka mā lam takun ta’lam.
“Dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum engkau ketahui.” (QS. An-Nisa [4]: 113)
Melalui ayat tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa manusia mengetahui berbagai hal karena Allah swt mengajarkannya. Demikian pula dengan seluruh ketentuan ibadah, mulai dari salat, puasa, haji, hingga berbagai aturan yang menyertainya. Apabila semua perintah tersebut dilaksanakan dengan baik, terdapat hikmah dan manfaat besar yang dapat diperoleh manusia, meskipun tidak seluruhnya diketahui atau dipahami.
Salah satu manfaat penting dari ibadah, sebagaimana ditegaskan beliau, adalah kemampuannya untuk menggugurkan dosa sekaligus menjauhkan manusia dari perbuatan dosa. Hal ini dapat dilihat dari ayat-ayat Al-Qur’an yang menghubungkan perintah beribadah dengan tujuan mencapai ketakwaan.
Ketika Allah swt memerintahkan manusia untuk berpuasa, misalnya, perintah tersebut dihubungkan dengan harapan agar manusia menjadi orang-orang yang bertakwa. Beliau mengingatkan firman Allah swt:
Yā ayyuhallażīna āmanū kutiba ‘alaikumuṣ-ṣiyāmu kamā kutiba ‘alallażīna min qablikum la’allakum tattaqūn.
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 183)
Syaikh Mohammad Sharifani menekankan bahwa tujuan puasa tidak terlepas dari pembentukan ketakwaan dalam diri manusia. Ibadah yang diperintahkan Allah swt memiliki pengaruh terhadap perilaku seseorang sehingga dapat membantunya menjaga diri dari dosa.
Demikian pula dengan ibadah salat. Allah swt menjelaskan bahwa salat mempunyai pengaruh dalam mencegah manusia dari perbuatan keji dan mungkar, sebagaimana firman-Nya:
Innaṣ-ṣalāta tanhā ‘anil-faḥsyā’i wal-munkar.
“Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut [29]: 45)
Untuk memperjelas manfaat salat, beliau mengingatkan sebuah hadis Rasulullah saw yang menggambarkan salat seperti sungai yang mengalir deras. Apabila seseorang mandi di sungai tersebut berulang kali setiap hari, kotoran yang melekat pada tubuhnya akan hilang hingga tidak tersisa. Demikian pula salat yang dilaksanakan secara terus-menerus dapat membersihkan manusia dari dosa-dosanya.
Dalam penjelasan berikutnya, Syaikh Mohammad Sharifani mengutip perkataan Amirul Mukminin Imam Ali as dalam Nahjul Balaghah mengenai kedudukan ibadah di hadapan nikmat Allah swt. Beliau menjelaskan bahwa seandainya manusia diberikan umur sepanjang umur Nabi Nuh as, bahkan seandainya seseorang hidup sejak awal penciptaan hingga akhir penciptaan dan menggunakan seluruh waktunya untuk beribadah, semua itu tetap belum cukup untuk mensyukuri nikmat Allah swt dan menunaikan seluruh kewajiban kepada-Nya.
Karena itu, ibadah yang disyariatkan Allah swt merupakan jalan bagi manusia untuk melaksanakan ketaatan kepada-Nya, meskipun manusia tidak akan pernah mampu membalas seluruh nikmat yang telah diberikan. Syaikh Mohammad Sharifani juga mengingatkan ungkapan singkat Imam Ali as yang menyampaikan bahwa cukuplah ibadah menjadi kesibukan bagi manusia.
Beliau menjelaskan bahwa apabila kehidupan seseorang senantiasa dihiasi dengan ibadah, berbagai manfaat akan menyertainya. Salah satu manfaat tersebut adalah terjaganya diri dari perbuatan dosa. Dengan menyibukkan diri dalam ketaatan kepada Allah swt, manusia memiliki jalan untuk menghindari berbagai perbuatan yang dapat menjauhkannya dari keridaan-Nya.
Melanjutkan pembahasan mengenai cara menghindari dosa, Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan jalan ketujuh, yaitu mengingat berbagai hukuman yang mungkin ditimpakan kepada manusia akibat kesalahan dan dosa yang dilakukan. Beliau mengajak jemaah memperhatikan berbagai ketidaknyamanan, kesulitan, dan penderitaan yang dapat dijumpai dalam kehidupan karena sebagian di antaranya mungkin merupakan teguran atau hukuman dari Allah swt.
Untuk menggambarkan hal tersebut, beliau mengingatkan salah satu permohonan yang terdapat pada bagian awal Doa Abu Hamzah Ats-Tsumali, yaitu Ilāhī lā tu’addibnī bi’uqūbatik, yang berarti permohonan kepada Allah agar tidak menghukum hamba-Nya dengan siksaan-Nya.
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, apabila berbagai bentuk penderitaan, kesulitan, dan hukuman diperhatikan berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an serta riwayat-riwayat, hukuman tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian.
Kelompok pertama adalah hukuman yang berkaitan dengan ketentuan hukum dan dilaksanakan melalui proses peradilan. Dalam penjelasannya, beliau menyebutkan sejumlah bentuk hukuman yang dikenal dalam hukum Islam, seperti kisas atau pembayaran diat dalam perkara pembunuhan, hukuman rajam atau seratus kali cambukan dalam ketentuan tertentu mengenai zina, hukuman potong tangan dalam perkara pencurian, serta hukuman had terhadap orang yang meminum khamar.
Beliau menjelaskan bahwa hukuman-hukuman tersebut memiliki fungsi untuk memberikan efek jera dan mencegah masyarakat melakukan perbuatan dosa serupa. Sebagai contoh, ketika suatu masyarakat mengetahui adanya hukuman berat terhadap pencurian, seseorang yang berniat mencuri akan berpikir berkali-kali sebelum melakukannya. Demikian pula dengan hukuman terhadap zina dan perbuatan-perbuatan lain yang telah memiliki ketentuan hukum.
Menurut beliau, keberadaan sanksi dalam aturan-aturan tersebut dimaksudkan agar manusia mempertimbangkan akibat dari perbuatannya. Hukuman yang ditetapkan dalam ketentuan hukum tersebut menjadi salah satu bentuk pencegahan agar perbuatan dosa tidak mudah dilakukan di tengah masyarakat.
Kelompok kedua adalah hukuman yang tidak berkaitan langsung dengan proses peradilan atau pelaksanaan ketentuan hukum. Hukuman ini berupa azab, penderitaan, atau kesulitan yang Allah swt timpakan kepada manusia ketika masih menjalani kehidupan di dunia akibat kesalahan dan dosa yang telah dilakukan.
Untuk menjelaskan bentuk hukuman tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani menceritakan peristiwa yang berkaitan dengan Daud bin Ali, seseorang yang telah membunuh salah seorang sahabat setia Imam Ja’far Shadiq as secara zalim. Mengetahui perbuatan tersebut, Imam Shadiq as mendatangi Daud bin Ali dan menyampaikan bahwa beliau akan mendoakan keburukan baginya.
Menurut kisah yang disampaikan dalam khutbah tersebut, tidak sampai 24 jam setelah peristiwa itu, Daud bin Ali meninggal dunia. Syaikh Mohammad Sharifani mengemukakan kisah tersebut sebagai gambaran mengenai akibat yang dapat menimpa seseorang karena perbuatan zalim yang dilakukannya.
Beliau kemudian mengajak jemaah memperhatikan sejumlah ayat Al-Qur’an yang menerangkan adanya hukuman terhadap manusia akibat perbuatan mereka. Salah satunya adalah firman Allah swt:
Fa-anzalnā ‘alallażīna ẓalamū rijzam minas-samā’i bimā kānū yafsuqūn.
“Maka Kami turunkan malapetaka dari langit kepada orang-orang yang zalim itu, karena mereka (selalu) berbuat fasik.” (QS. Al-Baqarah [2]: 59)
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa ayat tersebut menunjukkan adanya hukuman yang diturunkan Allah swt kepada suatu kaum ketika mereka masih hidup di dunia akibat perbuatan dosa yang mereka lakukan.
Beliau juga mengutip ayat lain yang menerangkan bahwa Allah swt dapat menimpakan akibat dari sebagian dosa manusia kepada mereka.
Annamā yurīdullāhu an yuṣībahum biba’ḍi żunūbihim.
“Sesungguhnya Allah berkehendak menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa mereka.” (QS. Al-Maidah [5]: 49)
Dalam ayat lainnya, Allah swt menjelaskan bahwa terdapat kaum-kaum terdahulu yang dibinasakan akibat dosa-dosa mereka.
Fa-ahlaknāhum biżunūbihim.
“Kemudian Kami binasakan mereka karena dosa-dosa mereka sendiri.” (QS. Al-An’am [6]: 6)
Syaikh Mohammad Sharifani juga menyebutkan firman Allah swt yang menggambarkan keadaan rumah-rumah suatu kaum setelah mereka mengalami kebinasaan akibat kezaliman.
Fa tilka buyūtuhum khāwiyatan bimā ẓalamū.
“Maka itulah rumah-rumah mereka yang runtuh karena kezaliman mereka.” (QS. An-Naml [27]: 52)
Beliau menjelaskan bahwa rumah-rumah tersebut telah ditinggalkan oleh para penghuninya karena mereka mengalami kebinasaan. Keadaan itu menjadi gambaran mengenai akibat kezaliman yang dilakukan manusia.
Selain berbagai hukuman yang tampak dalam kehidupan lahiriah, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa dosa juga dapat menimbulkan pengaruh terhadap keadaan batin manusia. Salah satunya adalah ketika hati seseorang menjadi tertutup akibat dosa-dosa yang terus dilakukan.
Dalam hal ini, beliau mengutip firman Allah swt:
Kallā bal rāna ‘alā qulūbihim mā kānū yaksibūn.
“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.” (QS. Al-Mutaffifin [83]: 14)
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, ayat tersebut menggambarkan keadaan hati yang seolah-olah berkarat akibat perbuatan dosa. Ketika hati telah berada dalam keadaan demikian, seseorang dapat mengalami kesulitan untuk merasakan kekhusyukan dalam ibadah.
Beliau mencontohkan keadaan seseorang yang berusaha melaksanakan ibadah dengan khusyuk, tetapi tidak mampu memperoleh kekhusyukan yang diharapkan. Demikian pula ketika seseorang ingin menangis karena menyesali dosa-dosanya atau ketika mengenang musibah yang menimpa ahlul bait as, tetapi air matanya tidak juga mengalir.
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa keadaan seperti itu dapat berkaitan dengan hati yang telah tertutupi oleh pengaruh perbuatan dosa. Karena itulah, beliau mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan hati dan memperhatikan segala perbuatan yang dilakukan.
Lebih lanjut, beliau mengajak jemaah memperhatikan berbagai kesulitan yang mungkin dialami manusia selama hidup di dunia. Gempa bumi, musibah, kefakiran, kesempitan rezeki, dan berbagai penderitaan lainnya merupakan contoh keadaan yang dapat dijumpai dalam kehidupan. Menurut beliau, sebagian dari kesulitan tersebut mungkin berkaitan dengan kesalahan atau dosa yang dilakukan manusia.
Beliau menekankan bahwa berbagai ketidaknyamanan dalam kehidupan perlu menjadi bahan perhatian dan perenungan. Seseorang terkadang menghadapi kesulitan dalam memperoleh rezeki atau mengalami berbagai hambatan dalam kehidupannya, dan keadaan tersebut mungkin memiliki hubungan dengan perbuatan dosa yang telah dilakukan.
Syaikh Mohammad Sharifani kemudian mengingatkan adanya riwayat yang menerangkan tentang kada atau ketentuan-ketentuan Allah swt. Beliau menjelaskan bahwa di antara ketentuan Allah swt terdapat hal-hal yang berhubungan dengan kebahagiaan, kesenangan, kelapangan rezeki, serta berbagai kebaikan lain dalam kehidupan manusia.
Akan tetapi, menurut beliau, ketika seseorang melakukan dosa, ketentuan-ketentuan baik tersebut dapat dijauhkan darinya. Karena itu, setiap manusia perlu memperhatikan perbuatannya agar jangan sampai kesalahan dan dosa yang dilakukan menjadi sebab terhalangnya berbagai ketentuan baik yang telah Allah swt persiapkan baginya.
Setelah menjelaskan hukuman yang mungkin dialami manusia selama hidup di dunia, Syaikh Mohammad Sharifani melanjutkan pembahasan kepada kelompok ketiga, yaitu hukuman yang Allah swt berikan kepada manusia di akhirat.
Beliau mengingatkan bahwa hari kiamat merupakan hari yang sangat berat bagi manusia. Ketika seseorang harus menerima hukuman Allah swt pada hari tersebut, tidak ada tempat untuk kembali dan tidak ada kekuatan yang dapat menyelamatkannya dari hukuman yang telah ditetapkan.
Untuk menggambarkan dahsyatnya hukuman di akhirat, beliau membacakan firman Allah swt:
Wa man jā’a bis-sayyi’ati fa kubbat wujūhuhum fin-nār, hal tujzauna illā mā kuntum ta’malūn.
“Dan barangsiapa membawa kejahatan, maka disungkurkanlah wajah mereka ke dalam neraka. Kamu tidak diberi balasan, melainkan (setimpal) dengan apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. An-Naml [27]: 90)
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa ayat tersebut menggambarkan keadaan orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa dosa dan kesalahan. Orang tersebut disungkurkan ke dalam api neraka dengan wajahnya terlebih dahulu. Hukuman yang diterimanya merupakan balasan atas perbuatan yang telah dilakukan ketika masih hidup di dunia.
Beliau kemudian mengemukakan ayat lain yang menggambarkan keadaan para pendosa ketika menyaksikan azab Allah swt. Dalam ayat tersebut digunakan kata mujrim, yaitu orang yang berdosa. Ketika seorang pendosa menyaksikan betapa berat azab yang akan diterimanya, beliau menjelaskan bahwa orang tersebut akan berusaha mencari jalan untuk menyelamatkan dirinya.
Allah swt berfirman:
Yawaddul-mujrimu law yaftadī min ‘ażābi yaumi’iżim bibanīh. Wa ṣāḥibatihī wa akhīh. Wa faṣīlatihillatī tu’wīh. Wa man fil-arḍi jamī’an ṡumma yunjīh.
“Pada hari itu, orang yang berdosa ingin sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab dengan anak-anaknya, dan istrinya juga saudaranya, dan keluarga yang melindunginya (di dunia), dan orang-orang di bumi seluruhnya, kemudian mengharapkan (tebusan) itu dapat menyelamatkannya.” (QS. Al-Ma’arij [70]: 11–14)
Dalam penjelasannya, Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan bahwa ketika seorang pendosa telah menyaksikan azab yang sedemikian dahsyat, orang tersebut ingin mengorbankan siapa pun demi keselamatan dirinya. Anak-anak, istri, saudara, keluarga, bahkan seluruh manusia di muka bumi akan rela dikorbankannya apabila pengorbanan itu dapat menyelamatkannya dari azab Allah swt.
Namun, beliau mengingatkan bahwa ketika hukuman Allah swt telah ditetapkan pada hari tersebut, tidak ada jalan untuk menyelamatkan diri dengan cara demikian. Karena itu, mengingat berbagai gambaran azab dan hukuman di akhirat dapat menjadi salah satu cara untuk mencegah manusia terjerumus ke dalam perbuatan dosa selama masih memiliki kesempatan hidup di dunia.
Melanjutkan pembahasan, Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan jalan kedelapan untuk menjauhkan diri dari dosa, yaitu melalui tobat. Beliau menjelaskan bahwa tobat merupakan salah satu jalan penting yang diberikan Allah swt kepada manusia untuk memperoleh pengampunan atas kesalahan dan dosa yang telah dilakukan.
Menurut beliau, pembahasan mengenai tobat sebenarnya sangat luas dan panjang. Namun, salah satu hal penting yang perlu dipahami adalah bahwa Allah swt telah membuka pintu tobat bagi hamba-hamba-Nya yang berdosa agar mereka tidak berputus asa atau berkecil hati karena kesalahan yang pernah dilakukan.
Syaikh Mohammad Sharifani mengingatkan bahwa melalui tobat, dosa seseorang dapat diampuni. Beliau mengutip hadis Rasulullah saw yang menyatakan:
At-tā’ibu minaż-żanbi kaman lā żanba lah.
“Orang yang bertobat dari dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa.”
Melalui hadis tersebut, beliau menjelaskan bahwa tobat mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan seorang mukmin. Orang yang telah melakukan kesalahan tetap memiliki kesempatan untuk kembali kepada Allah swt dan memperoleh pengampunan melalui tobat.
Setelah menjelaskan tentang tobat, Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan jalan kesembilan, yaitu mengganti kesalahan dengan kebaikan atau mengganti perbuatan dosa dengan amal saleh. Beliau menyebutnya sebagai upaya mengganti sayyi’ah dengan hasanah.
Menurut beliau, terkadang amal kebaikan yang dilakukan seseorang tidak hanya mendatangkan pahala atau menggugurkan dosa. Lebih dari itu, terdapat keadaan ketika dosa-dosa yang sebelumnya telah tercatat sebagai keburukan dapat diganti oleh Allah swt menjadi kebaikan.
Dalam hal ini, beliau mengingatkan firman Allah swt:
Yubaddilullāhu sayyi’ātihim ḥasanāt.
“Allah mengganti kejahatan mereka dengan kebaikan.” (QS. Al-Furqan [25]: 70)
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa ayat tersebut memperlihatkan besarnya karunia Allah swt kepada hamba-hamba-Nya. Perbuatan yang sebelumnya tercatat sebagai dosa dapat diganti menjadi kebaikan melalui jalan yang telah Allah swt bukakan.
Beliau kemudian mengajak jemaah memperhatikan berbagai bentuk amal kebaikan yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut beliau, seseorang mungkin bertanya mengenai perbuatan apa saja yang dapat mendatangkan pahala, menggugurkan dosa, bahkan menjadi sebab penggantian keburukan dengan kebaikan.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani menyebutkan berbagai ibadah dan amal saleh yang dapat dilakukan, di antaranya melaksanakan salat malam, berpuasa sunah, menghadiri salat Jumat, serta memberikan makanan kepada orang lain.
Selain ibadah-ibadah tersebut, beliau menegaskan bahwa berbagai pekerjaan sederhana yang dilakukan untuk mendukung kegiatan keagamaan juga termasuk dalam amal kebaikan. Seseorang dapat datang ke masjid, musala, atau husainiyah untuk membantu membersihkan tempat ibadah dan menyiapkan keperluan kegiatan.
Bahkan, menurut beliau, pekerjaan yang tampaknya sangat ringan, seperti merapikan sandal-sandal di depan pintu masjid atau husainiyah, termasuk perbuatan baik yang dapat dilakukan. Demikian pula memberikan minuman kepada orang-orang yang menghadiri majelis, membantu keperluan para jemaah, menghadiri majelis-majelis ahlul bait as, serta ikut meramaikan berbagai kegiatan keagamaan.
Syaikh Mohammad Sharifani menekankan bahwa terdapat begitu banyak bentuk kebaikan yang mudah dilakukan manusia. Meskipun tampak sederhana, amal-amal tersebut memiliki pengaruh yang besar. Kebaikan yang dilakukan bukan hanya dapat dicatat sebagai pahala dan menjadi sebab gugurnya dosa, melainkan juga dapat menjadi jalan bagi Allah swt untuk mengganti keburukan yang pernah dilakukan seseorang dengan kebaikan di sisi-Nya.
Memasuki khutbah kedua, Syaikh Mohammad Sharifani menyinggung sejumlah peringatan dan kegiatan yang berdekatan dengan pekan tersebut. Salah satunya adalah Pekan Senyuman, yang menurut beliau mengingatkan manusia mengenai pentingnya hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Beliau menyampaikan rasa syukur karena masyarakat Indonesia dikenal sebagai bangsa yang ramah. Keramahan tersebut merupakan salah satu anugerah besar yang diberikan Allah swt kepada bangsa Indonesia. Melalui peringatan seperti Pekan Senyuman, beliau mengingatkan bahwa hal-hal yang tampak ringan dalam kehidupan tetap memiliki arti penting dan patut memperoleh perhatian.
Pada kesempatan yang sama, Syaikh Mohammad Sharifani juga menyinggung peringatan syahadah Sayid Hasan Nasrallah yang dikenal dengan sebutan Sayyidul Muqawamah. Beliau mengingatkan pentingnya mengenang orang-orang yang menurut beliau telah berjasa dalam perjuangan untuk Islam.
Beliau juga mengajak jemaah untuk senantiasa mendoakan para pejuang yang disebutnya sedang memperjuangkan kebenaran dalam menghadapi kebatilan. Dalam kaitan tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani mengajak jemaah membaca seratus selawat setiap hari dengan niat mendoakan kemenangan kubu muqawamah dalam perjuangan yang mereka jalankan.
Selanjutnya, beliau menyampaikan bahwa dalam beberapa pekan mendatang kemungkinan tidak dapat hadir secara langsung di ICC Jakarta. Meskipun demikian, berbagai kegiatan rutin, termasuk salat Jumat, pelajaran-pelajaran, dan program-program lainnya, diharapkan tetap berlangsung.
Di antara berbagai kegiatan yang telah direncanakan, Syaikh Mohammad Sharifani memberikan perhatian khusus pada peringatan syahadah Sayidah Fatimah az-Zahra sa dalam rangkaian Ayyam Fatimiyah. Beliau menekankan bahwa peringatan tersebut merupakan salah satu kegiatan penting yang perlu dipersiapkan dan disemarakkan oleh para pecinta Rasulullah saw dan ahlul bait as.
Dalam penjelasannya, Syaikh Mohammad Sharifani mengingatkan kedudukan agung Sayidah Fatimah az-Zahra sa di sisi Rasulullah saw. Beliau menyebutkan sejumlah ungkapan Rasulullah saw yang menggambarkan besarnya kecintaan dan penghormatan beliau kepada putrinya.
Salah satu ungkapan tersebut adalah fidāhā abūhā, yang bermakna bahwa ayahnya menjadi tebusan bagi Sayidah Fatimah az-Zahra sa. Beliau juga mengingatkan sebutan Ummu Abīhā, yang menggambarkan Sayidah Fatimah az-Zahra sa sebagai ibu bagi ayahnya.
Selain itu, Syaikh Mohammad Sharifani menyebut ungkapan rūḥī allatī baina janbayya, yang menggambarkan Sayidah Fatimah az-Zahra sa sebagai jiwa Rasulullah saw. Beliau juga mengingatkan berbagai riwayat yang menerangkan bahwa kegembiraan Sayidah Fatimah az-Zahra sa merupakan kegembiraan Rasulullah saw, sedangkan kemarahan beliau merupakan kemarahan Rasulullah saw.
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, berbagai ungkapan dan riwayat tersebut seharusnya menjadi penggerak bagi umat untuk memberikan perhatian besar terhadap setiap peringatan yang berkaitan dengan Sayidah Fatimah az-Zahra sa, termasuk peringatan syahadah beliau dalam Ayyam Fatimiyah.
Syaikh Mohammad Sharifani kemudian menyampaikan rencana penyelenggaraan dua program untuk memperingati syahadah Sayidah Fatimah az-Zahra sa. Program pertama akan dikhususkan bagi kaum perempuan. Beliau berharap seluruh perempuan pecinta Rasulullah saw dan ahlul bait as dapat hadir serta turut menyemarakkan kegiatan tersebut.
Adapun program kedua akan diselenggarakan secara umum agar seluruh jemaah dapat ikut memperingati dan menyemarakkan syahadah Sayidah Fatimah az-Zahra sa.
Mengakhiri penyampaiannya, Syaikh Mohammad Sharifani berharap agar kegiatan peringatan syahadah Sayidah Fatimah az-Zahra sa tidak hanya dilaksanakan di ICC Jakarta, tetapi juga dapat diselenggarakan di berbagai tempat. Beliau mengharapkan partisipasi yang luas dari para pecinta Rasulullah saw dan ahlul bait as untuk menghadiri serta menyemarakkan kegiatan-kegiatan tersebut.



