Skip to main content

Momen milad Imam Ali bin Abi Thalib (AS) tahun ini membawa kesan yang lebih mendalam karena beriringan dengan peringatan enam tahun syahidnya Jenderal Qassem Soleimani yang jatuh pada 3 Januari 2026. Di hadapan keluarga para syuhada, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei mengajak kita menengok kembali bagaimana keteladanan abadi sang Imam (AS) menemukan wujud nyatanya pada sosok pejuang di era kontemporer.

Sosok Syahid Soleimani menjadi cermin hidup dari nilai-nilai tersebut. Lahir dari keluarga petani sederhana di pedesaan Kerman, perjalanan hidupnya ditempa oleh kerja keras sejak usia muda sebelum akhirnya bergabung dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) pasca-Revolusi 1979. Bakat kepemimpinannya mulai bersinar di medan “Pertahanan Suci” (Perang Irak-Iran), di mana ia memimpin Divisi 41 Tsarallah dengan taktik yang berani dan kedekatan emosional yang luar biasa dengan pasukannya.

Karier militernya mencapai puncak saat ia dipercaya memimpin Pasukan Quds. Di sinilah Soleimani menjelma menjadi arsitek utama perlawanan regional; mulai dari mendukung gerakan Hizbullah dan Hamas, membendung dominasi Taliban di Afghanistan, hingga keberhasilan monumentalnya memobilisasi kekuatan untuk menghancurkan ISIS di Irak dan Suriah. Pengabdian panjang ini jugalah yang menjadikannya satu-satunya komandan yang dianugerahi Medali Zulfiqar—penghargaan militer tertinggi Iran—langsung dari tangan Pemimpin Besar Revolusi Islam.

Melalui potret pengabdian Soleimani yang memadukan iman, ketulusan, dan aksi nyata ini, Ayatullah Khamenei menegaskan bahwa keadilan dan ketakwaan Imam Ali (AS) bukanlah sekadar narasi sejarah yang beku. Keduanya adalah “puncak” kepemimpinan yang wajib menjadi kompas dalam mengelola negara hari ini.

Namun, beliau juga mengingatkan bahwa keteguhan dalam aksi nyata tersebut kini menghadapi tantangan besar berupa “perang lunak”. Di tengah tekanan global, beliau menyoroti palagan fitnah, rumor, dan manipulasi yang sengaja dirancang untuk merongrong persatuan bangsa dari dalam. Bagi beliau, strategi ini adalah pengulangan sejarah; sebuah taktik usang yang dahulu digunakan untuk melemahkan pemerintahan Imam Ali (AS) ketika musuh tak lagi sanggup memenangkan pertempuran militer di medan laga. Berikut adalah naskah lengkap pernyataan beliau:

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan dan nabi kita, Abu al-Qasim al-Mustafa Muhammad SAW, beserta keluarganya yang mulia dan suci, terkhusus bagi Baqiyatullah di muka bumi (Imam Mahdi as).

Hari ini adalah peringatan sebuah kelahiran yang unik; unik baik dari sisi tempat kelahirannya maupun sosok yang dilahirkan. Tempat kelahirannya adalah Ka’bah. Dalam sejarah, siapa lagi yang kita kenal lahir di dalam rumah Allah, di dalam Ka’bah? Sosok yang dilahirkan adalah Ali al-Murtadha (AS), yang akan saya bahas lebih lanjut nanti. Oleh karena itu, jika melihat sosok manusia agung ini, tanggal 13 Rajab adalah hari yang luar biasa dan tiada duanya.

Begitu pula, hari ini merupakan peringatan bagi syahid kita yang tercinta dan terhormat, Syahid Soleimani. Alhamdulillah, sudah banyak yang dikatakan dan ditulis tentang Syahid Soleimani. Jika saya harus merangkum sosok syahid terkasih ini—yang hidup dan perjuangannya saya amati dari dekat—saya akan katakan bahwa Soleimani adalah sosok yang memegang teguh tiga prinsip: iman, ketulusan (ikhlas), dan aksi nyata.

Beliau adalah orang yang beriman; artinya ia meyakini apa yang ia kerjakan. Ia percaya dengan sepenuh hati pada tujuan yang ia perjuangkan; ia percaya pada Allah dan pertolongan-Nya. Beliau adalah sosok yang tulus; ia tidak bekerja demi ketenaran, pujian, atau rasa hormat dari manusia. Ia bekerja dengan ikhlas semata-mata karena Allah SWT dan demi tujuan suci tersebut. Dan beliau adalah orang yang mengedepankan aksi nyata. Ada orang-orang yang sangat hebat, mereka sangat paham teori, namun apa yang terlihat dari mereka bukanlah tindakan. Jalan yang mereka susun di dalam pikiran dan lisan tidak terwujud dalam perbuatan.

Syahid Soleimani berbeda; beliau adalah orang lapangan. Di mana pun ia merasa kehadirannya dibutuhkan, ia pasti ada di sana. Baik itu dalam menjaga dan membimbing gerakan revolusioner di Kerman, menghadapi penjajah yang kejam dan opresif di wilayah tersebut, memimpin Pasukan Quds, membela tempat-tempat suci, hingga melawan ISIS. Beliau beraksi di berbagai bidang: militer, politik, hingga pendidikan. Karyanya bukan sekadar kerja militer. Kita mengenalnya sebagai tentara, namun dalam isu-isu politik yang paling sensitif dan penting di kawasan, Syahid Soleimani adalah agen yang efektif, berguna, dan dalam beberapa kasus, perannya tak tertandingi. Beliau juga beraksi dalam hal pendidikan; bawahannya, para pemuda yang bergabung dengannya, dan mereka yang berjuang bersamanya, belajar langsung darinya. Beliau mendidik mereka. Beliau adalah manusia yang komprehensif dan utuh di zaman kita ini.

Beberapa hari yang lalu, mereka yang masih berutang darah kepadanya bicara sembarangan dan omong kosong tentang Syahid Soleimani. Namun, Syahid Soleimani telah membantah kata-kata mereka melalui bukti nyata sepanjang hidupnya yang penuh berkah. Dan alhamdulillah, meski musuh mencoba membutakan kenyataan, makamnya justru tampak semakin suci dan dihormati setiap tahunnya. Tahun ini, seperti yang saya lihat di televisi, kerumunan besar orang dari tempat yang jauh, bahkan dari negara lain, berbondong-bondong datang berziarah ke makamnya. Itulah sosok seorang mukmin yang tulus dan penuh aksi.

Hari ini, selain Syahid Soleimani, para syuhada tercinta lainnya juga hadir bersama kita dalam perkumpulan ini; keluarga dari beberapa syuhada ini ada di sini. Baik mereka yang gugur di medan militer, bidang sains, maupun rakyat kita yang bergabung dalam barisan syuhada dalam perang dua belas hari ini. Bagi mereka yang kami kenal dekat, kami bersaksi bahwa hidup mereka sepenuhnya adalah jihad; pikiran mereka hanyalah tentang jihad. Mereka tidak ragu atau berhenti bekerja di jalan Allah; kesyahidan adalah kerinduan mereka. Baik syuhada militer maupun ilmuwan—beberapa ilmuwan yang saya kenal dekat—sangat mencintai dan menantikan kesyahidan. Pertemuan ini adalah penghormatan untuk membayar jasa para syuhada ini, yang namanya akan kekal dalam sejarah, dan kita harus menggunakan nama-nama berkah mereka sebagai penyemangat untuk melangkah maju.

Namun, ada dua atau tiga poin singkat yang ingin saya sampaikan hari ini. Pertama, ulasan singkat tentang Amirul Mukminin (AS). Kedua, tentang faktor berpengaruh dalam konfrontasi antara kebenaran (haq) dan kebatilan yang harus kalian sadari, baik yang terjadi pada masa Amirul Mukminin (AS) maupun saat ini. Dan terakhir, pandangan mengenai peristiwa baru-baru ini dalam seminggu terakhir serta pergerakan rakyat kita.

Mengenai Amirul Mukminin (AS), ucapan dan tulisan dalam sejarah, sastra, maupun hadis begitu melimpah dan luar biasa. Saya rasa tidak ada sosok lain yang begitu banyak dibicarakan dan dipuji sehebat beliau. Bahkan di kalangan non-Muslim dan non-Syiah sekalipun, para sarjana besar telah menulis buku tentangnya. Contohnya, syarah Nahjul Balaghah karya Ibnu Abi al-Hadid yang merupakan kitab setebal berpuluh-puluh jilid. Begitu banyak pula ulasan atas ucapan-ucapan beliau, ulasan atas surat beliau kepada Malik al-Ashtar, serta biografi beliau dalam lembaran sejarah, sehingga—seperti yang telah saya sampaikan—tidak ada satu pun tokoh dalam literatur yang dapat menandinginya.

Maka, dari seluruh keistimewaan Amirul Mukminin (AS) yang pernah disebutkan, saya memilih dua karakteristik utama—di mana beliau berada pada puncak tertinggi dari keduanya dan sangat kita butuhkan saat ini—untuk dibahas secara singkat: Pertama, Amirul Mukminin berada di puncak “keadilan”; kedua, beliau berada di puncak “ketakwaan”. Keadilan dan ketakwaan.

Hari ini, Republik Islam membutuhkan keadilan dan ketakwaan. Dibandingkan masa lalu, Republik Islam memang telah mengalami kemajuan dalam kedua aspek ini, namun kita masih jauh dari apa yang diharapkan. Kita harus meneladani Amirul Mukminin (AS) dan terus bergerak menuju puncak tersebut.

Bagaimana Amirul Mukminin (AS) menerapkan keadilan hingga mencapai titik tertingginya? Beliau menerapkannya dengan berbagai cara. Terkadang dengan tangan yang penuh kelembutan, melalui pelayanan kepada kaum lemah, anak yatim, dan keluarga yang kehilangan pelindung. Terkadang beliau menegakkan keadilan dengan Zulfiqar—yakni di sisi yang berlawanan—dengan pedang bermata dua yang tajam, yang sepanjang sejarah tidak ada pedang yang dipuji sehebat Zulfiqar. Terkadang pula beliau menggunakan lisan yang fasih dan penuh hikmah; ungkapan-ungkapan yang melampaui standar sastra Arab, seperti yang tertuang dalam Nahjul Balaghah.

Beliau mengekspresikan keadilan melalui surat-surat kepada para penguasa dan gubernurnya, yang menjadi pelajaran tentang keadilan. Jika kita perhatikan, surat Amirul Mukminin (AS) kepada Malik al-Ashtar (2), yang merupakan dekrit pemerintahan beliau—yang sering salah disebut sebagai perjanjian; itu bukan perjanjian, melainkan perintah, sebuah perintah pemerintahan—penuh dengan konsep-konsep yang sebagian besar merujuk pada keadilan, yang membentuk masyarakat menjadi masyarakat yang adil. Jadi, keadilan beliau tegakkan baik dengan kasih sayang, dengan ketegasan ilahi dan prinsip agama, maupun dengan penjelasan serta hikmah yang gamblang. Sumber dari “jihad penjelasan” (jihad al-tabyin) ini adalah Amirul Mukminin (AS).

Adapun mengenai ketakwaan; bagaimana beliau mempraktikkannya? Terkadang beliau bertakwa di dalam mihrab ibadah; dengan ibadah yang bahkan membuat para malaikat merasa iri. Shalatnya, doa-doanya, dan munajatnya kepada Allah membuat para malaikat takjub. Di sisi lain, beliau mempraktikkan ketakwaan melalui kesabaran dan diam demi menjaga persatuan umat Islam. Ini adalah salah satu contoh penting dari ketakwaan beliau. Ketika hak yang merupakan miliknya dirampas, Amirul Mukminin (AS) sebenarnya mampu mengambil kembali hak tersebut dengan pedang, namun hal itu akan memicu perpecahan di antara kaum Muslim. Demi menghindari perpecahan, beliau memilih bersabar, diam, dan tetap bekerja sama.

Terkadang dikatakan bahwa Amirul Mukminin (AS) duduk di rumah selama 25 tahun; tidak, beliau tidak sekadar duduk di rumah. Beliau tetap berada di tengah gelanggang, memberikan perintah, arahan, dan bimbingan bagi para khalifah pada masa itu serta bagi rakyat. Melalui kesabaran dan diam itulah beliau menunjukkan ketakwaannya. Inilah ketakwaan: ketika seseorang melihat haknya dirampas, namun ia tetap diam demi kemaslahatan yang lebih besar. Sering kali kita tidak sanggup untuk diam; jika hak kita diambil, kita merasa seolah dunia telah runtuh. Kita sering tidak sadar, namun manusia agung itu selalu waspada.

Di beberapa tempat, ketakwaan beliau mewujud dalam keberanian melindungi dengan dadanya sendiri di tengah peristiwa genting, seperti pada malam Laylatul Mabit; itu adalah bentuk ketakwaan. Beliau rela tidur di tempat tidur Nabi SAW meskipun secara nalar ia pasti akan kehilangan nyawanya malam itu. Beliau menunjukkan ketakwaan di Uhud dengan tetap berdiri tegak; di Hunayn beliau bertahan; di Khaybar beliau menaklukkan musuh. Beliau adalah pemimpin di sebagian besar ekspedisi Nabi SAW; ini pun adalah bentuk ketakwaan. Ketakwaan tidak hanya ada di mihrab ibadah; di medan perang pun, ketakwaanlah yang menopang, melindungi, dan memajukan seseorang. Oleh karena itu, beliau selalu pasang badan menghadapi musuh.

Inilah dua karakteristik tersebut: keadilan dan ketakwaan Amirul Mukminin (AS). Saat ini, di negara kita dan di masyarakat kita, kita membutuhkan keduanya. Baik ketakwaan individu masyarakat, maupun—terutama—ketakwaan para pejabat negara; kita butuh hal ini terwujud sepenuhnya. Alhamdulillah, sebagian besar masyarakat kita telah bertindak dengan penuh ketakwaan dalam berbagai hal, namun ini harus menjadi gerakan yang luas. Imam yang namanya begitu rindu kita kenang, yang namanya kita sebut-sebut dan kita puji ini, adalah sosok yang seperti ini: teladan dalam keadilan dan teladan dalam ketakwaan.

Selama sekitar seribu tahun ini, kaum Syiah tidak memiliki kesempatan untuk menerapkan keadilan Amirul Mukminin (AS) di tengah masyarakat karena mereka tidak memegang pemerintahan. Namun hari ini, alasan tersebut sudah tidak ada lagi; tidak ada lagi uzur. Saat ini, pemerintahan yang berdiri adalah pemerintahan Islam, pemerintahan Alawi, pemerintahan Wali (3). Hari ini kita harus sungguh-sungguh menegakkan keadilan. Keadilan adalah karakteristik paling mendasar dan utama dalam menjalankan masyarakat yang harus kalian perjuangkan.

Tentu ada faktor-faktor yang menghambat ketakwaan kita; terkadang kita merasa takut, terkadang kita meragukan prinsip sendiri, terkadang kita terlalu mempertimbangkan kawan, atau merasa segan terhadap musuh. Semua ini harus disingkirkan; hal-hal seperti itu tidak boleh ada. Kita harus bergerak menuju program yang membawa keadilan dan program yang menumbuhkan ketakwaan tanpa perlu terlalu banyak pertimbangan—terutama pertimbangan yang tidak perlu. Inilah poin mengenai Amirul Mukminin (AS).

Satu poin lagi tentang Amirul Mukminin (AS) yang perlu diperhatikan bahkan dalam masyarakat, pemerintahan, dan sistem Islam kita saat ini: Amirul Mukminin (AS) tidak pernah kalah dalam konflik militer mana pun; tidak satu pun. Beliau selalu menang dan unggul di mana saja, bahkan di Perang Uhud. Dalam Perang Uhud, saat yang lain melarikan diri, Amirul Mukminin (AS) tetap unggul. Keberanian dan keteguhan beliau, bersama satu atau dua orang lainnya di sekitar Rasulullah SAW, mampu menutupi kekacauan akibat mundurnya orang-orang yang lemah mentalnya. Artinya, Amirul Mukminin (AS) menang di semua medan laga—hal serupa terjadi di Hunayn dan tempat-tempat lainnya. Selama masa kekhalifahan beliau pun terjadi tiga peperangan, dan beliau menang di ketiganya; beliau juga menang di Siffin. Di Siffin, jalannya sejarah sebenarnya hanya tinggal selangkah lagi untuk berubah; jika saja Malik Ashtar bisa mencapai titik yang hampir ia raih, sejarah akan berubah, namun ia terpaksa kembali atas perintah Amirul Mukminin (AS).

Masalah yang ada di masa itu—dan masih ada hingga hari ini—adalah meskipun Amirul Mukminin (AS) tidak pernah kalah di medan militer, musuh sering kali mampu menghalangi beliau mencapai tujuannya dalam banyak kasus. Mereka menemukan cara yang hari ini kita sebut sebagai “perang lunak” (soft war). Sebagian orang berpikir bahwa insiden-insiden seperti fitnah, tipu daya, kejahatan, dan penyusupan ini adalah fenomena baru; padahal tidak, pelaku-pelaku yang sama juga bertanggung jawab di masa Amirul Mukminin (AS). Kerja besar berada di tangan manusia, namun Allah tidak akan mewujudkan sesuatu tanpa bantuan manusia: Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin (4).

Menghadapi keberanian, kekuatan, dan tekad baja Amirul Mukminin (AS), musuh tidak punya pilihan selain menggunakan tipu daya terhadap orang-orang di sekitar beliau. Hal ini terjadi di Perang Siffin melalui taktik mengangkat Al-Qur’an di ujung tombak; hal serupa berlanjut setelahnya, bahkan di masa Imam Hassan (AS). Inilah yang disebut perang lunak. Apa arti perang lunak? Artinya adalah membuat orang ragu terhadap jalan yang mereka tempuh; menciptakan keraguan melalui tipu daya, kebohongan, fitnah, godaan, dan argumen yang menyesatkan.

Perang ini masih berlangsung hingga hari ini. Tujuannya adalah untuk melunturkan motivasi masyarakat; untuk membuat orang-orang yang sebenarnya siap bekerja menjadi patah semangat, kecewa, dan hilang harapan. Musuh memasuki lapangan dengan alat-alat perang lunak tersebut. Di masa Amirul Mukminin (AS), mereka melakukannya dengan detail yang tercatat dalam sejarah. Ada orang-orang yang pergi ke kota dan desa untuk menyerang dan menindas warga, lalu menyebarkan rumor bahwa mereka datang atas perintah Ali (AS). Mereka membuat rakyat ragu.

Hari ini, hal yang persis sama sedang terjadi. Bangsa Iran telah menunjukkan bahwa di medan yang sulit, di saat kehadirannya dibutuhkan, mereka berdiri teguh. Ini adalah kerja nyata bangsa Iran, bukan hanya kelompok tertentu; mereka berdiri di mana mereka seharusnya berdiri. Di mana mereka harus membantu, mereka membantu; di mana mereka harus menyerukan slogan, mereka berslogan; di mana mereka harus mematahkan harapan musuh, mereka melakukannya. Motivasi inilah yang mencemaskan musuh; mereka mencoba melemahkan motivasi individu-individu dengan berbagai macam alasan.

Hari ini, salah satu alat perang lunak di antara musuh dan sebagian orang yang tidak layak atau lalai adalah dengan membungkam kontribusi, aset, dan kemampuan bangsa ini; mereka menyangkal potensi yang dimiliki bangsa ini. Bangsa ini adalah bangsa yang besar, ia mampu bekerja dan sedang melakukannya. Jika sebuah bangsa lalai akan asetnya, tidak melihat kemampuannya, dan tidak percaya pada kemajuannya, maka bangsa itu akan dipermalukan. Ketika sebuah bangsa dipermalukan, ia akan memandang dirinya rendah dan siap untuk menyerah kepada musuh. Inilah tipu muslihat yang tengah dikejar dan dijalankan oleh musuh.

Para pemuda berkemampuan unggul masa kini, para pemuda yang kompeten ini, mampu mengirimkan tiga satelit ke luar angkasa dalam satu hari (5); ini bukanlah hal sepele, ini adalah pencapaian yang sangat besar. Para pemuda unggulan saat ini, dalam waktu beberapa bulan saja, mampu menambah kapasitas listrik negara sebesar empat ribu megawatt dan memperkuat jaringan nasional. Para pemuda berbakat kita saat ini, di berbagai bidang sains—mulai dari kedirgantaraan, bioteknologi, kedokteran, nanoteknologi, hingga manufaktur rudal dan industri militer—telah memukau dunia, dan semua itu dilakukan di masa sanksi.

Ini adalah kekayaan yang tak tertandingi; kekayaan ini harus dilihat, dan kita memilikinya. Saya mungkin pernah menyampaikan hal ini sekali atau dua kali dalam pembicaraan saya sebelumnya (6); beberapa tahun yang lalu, seorang ilmuwan roket Zionis (7) sendiri yang mengumumkan dan mengatakan bahwa ketika mereka mengamati uji coba peluncuran rudal Iran tertentu, ia melepaskan topinya sebagai tanda hormat kepada sosok yang membuatnya. Ia menghormati sang pembuat karena mampu melakukan hal sehebat itu di tengah sanksi yang ketat.

Pencapaian besar tengah diukir di industri pertahanan dan dalam dunia medis saat ini; musuh mencoba menyembunyikan kenyataan ini, dan sayangnya, beberapa pihak di dalam negeri pun ikut menutup-nutupinya. Di dalam negeri, sangat disayangkan ada pihak yang menutupi kemajuan-kemajuan ini, pencapaian-pencapaian luar biasa ini, dan tidak mengabarkannya kepada rakyat. Hal-hal besar sedang dikerjakan di negara ini, dan bangsa ini sedang bergerak maju.

Faktor yang menyebabkan musuh—yang tadinya bernafsu—kini justru meminta gencatan senjata melawan bangsa Iran dalam perang militer, lalu mengirim pesan bahwa “kami tidak ingin memerangi kalian”—tentu saja musuh yang jahat ini adalah penipu dan pembohong; kita tidak mempercayai kata-katanya—faktor apakah itu? Itu adalah kekuatan bangsa Iran, itu adalah kemampuan para pemuda Iran. Saya mendengar laporan bahwa mereka yang meluncurkan satelit-satelit tersebut ke luar angkasa minggu lalu, para pemuda yang meluncurkan tiga satelit sekaligus dalam satu hari dan berhasil menempatkannya di orbit, rata-rata usia mereka baru 26 tahun! Anak muda usia 26 tahun; ini adalah aset yang luar biasa. Kekayaan sumber daya manusia bukanlah kekayaan yang main-main.

Lalu, si pembual Amerika itu (8) duduk dan berbicara tentang bangsa Iran, mengeluarkan caci maki, dan memberikan janji-janji manis; janji palsu yang penuh tipu daya. Tentu saja, untungnya hari ini bangsa Iran telah mengenali karakter Amerika; dulu mungkin ada masa di mana mereka tidak menyadarinya, namun hari ini kehormatan Amerika telah jatuh di mata dunia, semua orang tahu itu; bukan hanya Iran. Rakyat telah mengenali siapa musuh sebenarnya; ini adalah sebuah kesuksesan besar.

Kami telah bersusah payah memberikan argumen kepada rakyat, namun rakyat telah menyaksikannya sendiri dalam Perang Dua Belas Hari; mereka mengamatinya. Mereka yang dulu bersikeras bahwa solusi masalah negara hanyalah melalui negosiasi dengan Amerika, kini melihat apa yang terjadi. Di saat pemerintah Iran sedang berupaya melakukan negosiasi, pemerintah Amerika justru sibuk di balik layar menyiapkan rencana perang! Rakyat kini telah terjaga dan waspada.

Oleh karena itu, kita harus waspada terhadap perang lunak, waspada terhadap upaya musuh menebar keraguan dan rumor. Dana miliaran yang mereka habiskan untuk stasiun televisi, radio, maupun pusat informasi tertentu yang terus-menerus menyebarkan kebohongan terhadap Iran, tidaklah dilakukan tanpa maksud. Ada tujuan besar di baliknya; mereka ingin merongrong kekuatan internal negara. Mereka melihat bahwa selama Perang Dua Belas Hari, persatuan bangsa ini sungguh ajaib, maka mereka ingin memecah belah persatuan ini. Rakyat Iran harus waspada. Poin terpenting adalah menyadari permusuhan mereka serta menjaga persatuan dan kesepakatan internal; Bersikap tegas terhadap orang-orang kafir, dan berkasih sayang sesama mereka. (9)

Selanjutnya, izinkan saya menyampaikan beberapa patah kata mengenai aksi-aksi massa yang terjadi pekan lalu. Pertama-tama, sektor pasar (bazaar) dan bidang-bidang terkait merupakan salah satu elemen bangsa yang paling setia terhadap sistem Islam dan Revolusi Islam. Kami mengenal karakter dunia pasar dengan baik. Anda tidak bisa membenturkan Republik Islam dan sistem Islam dengan mengatasnamakan pasar.

Benar bahwa aksi-aksi tersebut mayoritas diikuti oleh kalangan pelaku pasar, dan apa yang mereka aspirasikan itu benar adanya. Saya menyimak hal ini melalui televisi, dan saya pun melihatnya dalam perhitungan serta analisis kerja saya. Ketika para pelaku pasar melihat kondisi moneter negara, devaluasi mata uang, serta ketidakstabilan nilai tukar mata uang domestik terhadap mata uang asing—yang mengakibatkan ekosistem bisnis menjadi tidak menentu—mereka akan berkata, “Saya tidak bisa berbisnis.” Dan itu adalah kebenaran.

Para pejabat negara mengakui hal ini, dan saya tahu bahwa Bapak Presiden yang terhormat beserta jajaran pejabat tinggi lainnya sedang berupaya keras menyelesaikan masalah ini. Namun, perlu saya sampaikan juga bahwa musuh turut bermain di sini. Kenaikan nilai tukar mata uang asing yang tidak masuk akal serta ketidakstabilan yang fluktuatif sehingga membuat pedagang kebingungan, bukanlah hal yang alami; ini adalah ulah musuh. Tentu saja, hal ini harus dihentikan dengan berbagai langkah taktis; dan mereka sedang berupaya—baik Presiden, para pimpinan lembaga tinggi lainnya, maupun pejabat terkait sedang berusaha memperbaikinya. Oleh karena itu, keberatan yang diajukan para pelaku pasar atas masalah ini adalah hal yang benar.

Namun, poin yang krusial adalah adanya sekelompok orang yang terprovokasi—para kaki tangan musuh—yang menyusup di belakang para pedagang dan meneriakkan slogan-slogan anti-Islam, anti-Iran, serta anti-Republik Islam; inilah yang penting diwaspadai. Mengajukan protes adalah hal yang wajar, namun protes berbeda dengan kerusuhan. Kita berdialog dengan pemrotes, dan para pejabat harus mendengarkan mereka. Akan tetapi, berdialog dengan perusuh adalah hal yang sia-sia; perusuh harus ditindak tegas pada tempatnya.

Sangat tidak bisa diterima jika sekelompok orang, dengan berbagai kedok dan nama, datang dengan niat melakukan perusakan dan mengganggu keamanan negara, lalu mengeksploitasi aksi protes para pedagang yang setia dan revolusioner demi menciptakan kekacauan. Kita harus mengenali cara kerja musuh; mereka tidak akan tinggal diam dan akan memanfaatkan setiap celah. Mereka melihat peluang di sini dan mencoba memanfaatkannya. Tentu saja, para pejabat kita telah dan akan terus bersiaga di lapangan.

Hal yang terpenting adalah bangsa ini secara keseluruhan; hal yang terpenting adalah nilai-nilai yang membuat Soleimani menjadi sosok Soleimani: iman, ketulusan (ikhlas), dan aksi nyata. Penting bagi kita untuk tidak acuh terhadap perang lunak musuh; penting untuk tidak mempedulikan desas-desus yang mereka tebar. Ketika seseorang merasakan bahwa musuh sedang menekan dan ingin memaksakan kehendak pada negara, pejabat, pemerintah, maupun rakyat, ia harus berdiri dengan kekuatan penuh melawan musuh dan pasang badan. Kita tidak akan mundur selangkah pun di hadapan musuh. Kita akan membuat musuh bertekuk lutut dengan bersandar kepada Allah SWT, serta dengan kepercayaan penuh pada dukungan rakyat. Insya Allah, dengan taufik ilahi, kita akan meraih kesuksesan.

Kami berharap semoga Allah SWT mengumpulkan para syuhada tercinta bersama orang-orang yang mereka cintai; menjaga para pemuda kita; melimpahkan berkah milad Amirul Mukminin (AS) kepada Anda sekalian; serta memberikan kesabaran, penghiburan, ketenangan, dan kedamaian bagi hati keluarga para syuhada. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Catatan Kaki:
(1) Merujuk pada pernyataan Donald Trump (Presiden AS) setelah bertemu dengan Benjamin Netanyahu (Perdana Menteri Israel), yang mengulangi pernyataan sebelumnya mengenai Syahid Soleimani sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kematian tentara Amerika.
(2) Nahjul Balaghah, Surat ke-53.
(3) Pemerintahan Wilayah (Provincial Government).
(4) Surah Al-Anfal, penggalan ayat 62; “…Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin.”
(5) Merujuk pada peluncuran tiga satelit Iran, “Paya”, “Zafar 2”, dan “Kowsar” ke luar angkasa pada tanggal 7 Januari 1404 (Kalender Solar Hijri).
(6) Termasuk pernyataan yang disampaikan dalam pertemuan dengan anggota Basij yang berpartisipasi dalam konferensi “Layanan Basij” (12/07/1397).
(7) Uzi Rubin (Mantan direktur program rudal Israel).
(8) Donald Trump (Presiden Amerika Serikat).
(9) Surah Al-Fath, penggalan ayat 29; “…mereka bersikap tegas terhadap orang-orang kafir, namun berkasih sayang sesama mereka…”

Leave a Reply