Skip to main content

ICC Jakarta menyelenggarakan ibadah salat Jumat pada 13 Februari 2026 dengan menghadirkan Syaikh Mohammad Sharifani sebagai penceramah dan Ustaz Hafidh Alkaf sebagai penerjemah. Dalam khutbahnya, Syaikh Mohammad Sharifani melanjutkan rangkaian pembahasan mengenai kunci-kunci keberhasilan dan kebahagiaan dalam hidup. Kali ini, beliau menyoroti firman Allah SWT, wadz-kurullaaha la’allakum tuflihuun, yang memerintahkan hamba-Nya untuk senantiasa mengingat Allah SWT agar memperoleh keberhasilan. Beliau menekankan bahwa perintah mengingat Allah ini pada hakikatnya mencakup kewajiban untuk senantiasa mengingat nikmat-nikmat-Nya.

Syaikh Mohammad Sharifani memaparkan bahwa setidaknya terdapat empat tugas utama manusia saat berhadapan dengan nikmat Allah SWT. Tugas pertama adalah menyadari bahwa mengingat nikmat akan menuntun seseorang untuk selalu ingat kepada Sang Pemberi Nikmat. Kesadaran ini secara otomatis akan memperbaiki perilaku hamba sehingga ia menjadi pribadi yang saleh. Sejalan dengan itu, beliau mengutip Surah Adh-Dhuha ayat 11: wa ammâ bini‘mati rabbika fa ḫaddits, yang artinya: “Terhadap nikmat Tuhanmu, nyatakanlah (dengan bersyukur).” Beliau menjelaskan bahwa saat mendapatkan karunia, seorang mukmin diperintahkan untuk membicarakan dan menyampaikan nikmat tersebut melalui lisannya sebagai bentuk syukur.

Tugas kedua yang dipaparkan adalah kewajiban menghilangkan penghalang turunnya rahmat melalui istigfar. Beliau mengibaratkan nikmat Allah seperti awan yang menaungi manusia; terkadang awan tersebut ada namun tidak menurunkan hujan karena adanya penghalang tertentu. Dalam kehidupan manusia, dosa dan jauhnya jarak dengan Allah SWT merupakan penghalang utama turunnya rahmat. Oleh karena itu, beristigfar dan memohon ampun adalah jalan untuk menyingkirkan hambatan tersebut. Beliau merujuk pada Surah Nuh ayat 10-12 yang mengisahkan seruan Nabi Nuh AS kepada umatnya: fa qultustaghfirû rabbakum innahû kâna ghaffârâ (Lalu, aku berkata kepada mereka, “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun), yursilis-samâ’a ‘alaikum midrârâ (Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu), wa yumdidkum bi’amwâliw wa banîna wa yaj‘al lakum jannâtiw wa yaj‘al lakum an-hârâ (memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu).

Beliau juga memperkuat argumen ini dengan Surah Hud ayat 52: wa yâ qaumistaghfirû rabbakum tsumma tûbû ilaihi yursilis-samâ’a ‘alaikum midrâraw wa yazidkum quwwatan ilâ quwwatikum wa lâ tatawallau mujrimîn, yang artinya: “Wahai kaumku, mohonlah ampunan kepada Tuhanmu kemudian bertobatlah kepada-Nya! Niscaya Dia akan menurunkan untukmu hujan yang sangat deras, menambahkan kekuatan melebihi kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling menjadi orang-orang yang berdosa.” Melalui ayat ini, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan tiga dampak luar biasa dari istigfar: Allah akan memberikan kenyamanan nikmat, menambah jumlahnya, serta memperluas cakupan nikmat tersebut bagi hamba-Nya.

Tugas ketiga adalah membagikan nikmat tersebut kepada orang lain melalui konsep bazl atau pemberian tanpa pamrih. Beliau menegaskan bahwa terkadang Allah memilih seseorang hanya sebagai perantara (wasilah) sampainya nikmat kepada orang lain. Bazl berbeda dengan pemberian biasa karena dilakukan tanpa mengharapkan balasan atau pujian. Mengutip riwayat dari Rasulullah SAW, beliau menjelaskan bahwa Allah memiliki hamba-hamba khusus yang sengaja dipilih untuk menyalurkan nikmat-Nya. Nikmat ini tidak selalu berupa harta, melainkan bisa berbentuk kehormatan (air muka), kemampuan berbahasa, atau pengaruh sosial yang digunakan untuk menolong sesama. Beliau mengingatkan bahwa berbagi akan menjadikan nikmat itu langgeng, sementara keengganan untuk berbagi dapat menyebabkan Allah mencabut nikmat tersebut.

Tugas keempat adalah memanfaatkan nikmat di jalan yang benar dan tidak menyalahgunakannya untuk kemaksiatan. Syaikh Mohammad Sharifani mengutip penegasan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib AS bahwa standar minimal bagi seseorang saat menerima nikmat adalah tidak menggunakannya untuk mendurhakai Allah SWT. Baik itu berupa kekayaan, ilmu, maupun kemuliaan jabatan, semuanya harus dikelola dan diperlakukan dengan baik sesuai dengan tujuan yang diridai-Nya.

Pada khutbah kedua, Syaikh Mohammad Sharifani mengajak jamaah untuk memanfaatkan hari-hari terakhir di bulan Sya’ban sebagai persiapan memasuki bulan suci Ramadan. Beliau mengumumkan bahwa ICC Jakarta akan menyelenggarakan program harian selama Ramadan, dimulai pukul 5 sore dengan tilawah satu juz Al-Qur’an yang dilanjutkan dengan kajian tafsir Surah Al-Fath. Pemilihan surah ini selaras dengan seruan pemimpin revolusi Islam, Ayatullah Al-Imam Khamenei. Rangkaian kegiatan tersebut akan diikuti dengan salat berjamaah, buka puasa bersama, serta pembacaan Doa Iftitah dan Doa Abu Hamzah al-Tsumali pada malam harinya sebagai bentuk syukur atas anugerah bulan yang penuh rahmat ini.

Menutup khutbahnya, beliau menyampaikan wasiat Imam Ridha AS kepada sahabatnya mengenai urgensi sisa waktu di bulan Sya’ban. Beliau menekankan pentingnya menuntaskan segala urusan yang belum selesai, meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat, serta memperbanyak tobat dan istigfar agar masuk ke bulan Ramadan dengan hati yang cerah dan ikhlas. Beliau mengingatkan untuk segera menunaikan amanat, menghapus rasa dendam terhadap sesama mukmin, serta mencabut akar dosa dari dalam diri. Beliau mendorong jamaah untuk senantiasa bertakwa dan bertawakal, baik secara tersembunyi maupun terang-terangan, serta memperbanyak doa: “Ya Allah, jika pada hari-hari yang lalu di bulan Sya’ban ini Engkau belum memaafkan dan mengampuni kami, ampuni kami di sisa-sisa bulan Sya’ban ini.” Sebab, melalui kemuliaan bulan ini, Allah SWT membebaskan banyak hamba-Nya dari api neraka.