Skip to main content

Dalam Webinar Internasional Haji dan Peradaban Islam: Dari Transformasi Personal Menuju Harmoni Sosial dan Persatuan Umat yang diselenggarakan ICC Jakarta pada Selasa, 26 Mei 2026, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan UIN Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung, Abad Badruzaman, memaparkan makna simbolik ibadah haji sebagai sarana pembentukan harmoni sosial dan penguatan persatuan umat Islam. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa haji merupakan puncak ibadah dalam Islam karena menghimpun seluruh dimensi penghambaan manusia kepada Allah swt secara utuh.

Mengawali penjelasannya, Abad Badruzaman menguraikan bahwa ibadah dalam Islam dapat dipahami ke dalam beberapa kategori berdasarkan aspek manusia yang paling dominan terlibat di dalamnya. Menurut beliau, terdapat ibadah jasadiah atau badaniah yang menuntut keterlibatan fisik, seperti salat. Dalam ibadah ini, gerakan tubuh dan ucapan menjadi bagian yang paling tampak dari pelaksanaannya, meskipun unsur hati dan spiritual tetap hadir di dalamnya. Selain itu terdapat ibadah maliah, yakni ibadah yang berkaitan dengan pengorbanan harta, seperti zakat, sedekah, dan berbagai amal kebajikan lainnya.

Beliau juga menjelaskan adanya ibadah ruhiah yang lebih menekankan aspek spiritual dan hubungan batin seorang hamba dengan Allah swt. Dalam pandangan beliau, puasa merupakan salah satu bentuk ibadah ruhiah yang paling nyata karena sifatnya yang sangat personal. Hanya Allah swt dan pelakunya yang benar-benar mengetahui kualitas pelaksanaannya. Karena sifatnya yang sangat privat, puasa menjadi ibadah yang secara khusus mendapat balasan langsung dari Allah swt.

Setelah menjelaskan ketiga kategori tersebut, Abad Badruzaman menegaskan bahwa haji merupakan ibadah yang memadukan seluruh aspek jasadiah, maliah, dan ruhiah secara bersamaan. Karena itu, menurut beliau, haji layak disebut sebagai titik kulminasi ibadah dalam Islam. Seluruh umat Islam, apa pun kondisi ekonominya, pasti menyimpan keinginan untuk menunaikan ibadah haji sebagai bentuk penyempurnaan penghambaan kepada Allah swt, meskipun pelaksanaannya tetap terikat dengan syarat kemampuan atau istitha’ah.

Beliau menjelaskan bahwa dimensi jasadiah dalam haji tampak dari berbagai aktivitas fisik yang harus dilakukan jamaah, mulai dari perjalanan menuju Arafah, bergerak ke Muzdalifah, kemudian ke Mina, hingga melaksanakan tawaf dan sa’i. Semua rangkaian tersebut menuntut kesiapan dan ketahanan fisik yang tidak ringan. Sementara itu, dimensi maliah terlihat dari adanya biaya yang harus dipenuhi untuk melaksanakan ibadah haji. Adapun aspek ruhiah hadir karena haji merupakan perjalanan spiritual yang membahagiakan dan menghadirkan kedekatan batin dengan Allah swt.

Dalam penjelasannya, beliau menyebut haji sebagai rihlah ruhiah atau perjalanan spiritual yang menyenangkan. Menurut beliau, hampir tidak ada seorang Muslim yang tidak merasakan kebahagiaan ketika memperoleh kepastian berangkat ke Tanah Suci. Haji juga menjadi sarana yang menghubungkan seorang Muslim dengan jejak para nabi, khususnya Nabi Ibrahim as, Nabi Ismail as, dan Siti Hajar. Karena itu, pada hakikatnya haji merupakan napak tilas terhadap perjuangan Nabi Ibrahim as yang tetap terpelihara dalam syariat Islam.

Abad Badruzaman kemudian menjelaskan makna simbolik ihram sebagai gerbang awal perjalanan haji. Menurut beliau, ihram diawali dengan niat dan pelepasan berbagai atribut duniawi yang selama ini sering menjadi sumber kebanggaan manusia. Ketika mengenakan pakaian ihram, seluruh jamaah tampil dalam bentuk yang sama tanpa membedakan kedudukan sosial, jabatan, kekayaan, maupun status politik. Presiden, menteri, pejabat, rakyat biasa, atasan, dan bawahan semuanya berdiri setara di hadapan Allah swt.

Beliau menegaskan bahwa ihram merupakan manifestasi nyata dari prinsip kesetaraan manusia. Pakaian putih sederhana yang dikenakan jamaah juga mengingatkan bahwa pada akhirnya setiap manusia akan kembali kepada Allah swt hanya dengan dibalut kain kafan. Oleh karena itu, ihram menjadi simbol kembalinya manusia kepada kesucian fitrah serta pelepasan berbagai kesombongan yang melekat selama kehidupan dunia.

Memasuki pembahasan mengenai Ka’bah, Abad Badruzaman menjelaskan bahwa bangunan suci tersebut merupakan simbol tauhid dan persatuan. Secara fisik, menurut beliau, Ka’bah bukanlah bangunan yang megah dari sisi arsitektur. Jika dibandingkan dengan berbagai bangunan monumental di dunia, Ka’bah tampak sangat sederhana. Namun justru dalam kesederhanaan itulah terkandung pesan yang sangat mendalam.

Beliau menerangkan bahwa bagian dalam Ka’bah tidak berisi benda-benda yang dapat menjadi pusat pemujaan manusia. Kekosongan tersebut mengandung makna bahwa tidak ada penghalang antara seorang hamba dan Tuhannya. Ka’bah mengajarkan kesederhanaan, kemurnian tauhid, dan kemudahan ajaran Islam yang tidak berbelit-belit dalam memperkenalkan manusia kepada Allah swt.

Menurut beliau, seorang Muslim yang mencium atau melambaikan tangan ke arah Hajar Aswad tidak sedang mengagungkan batu secara fisik. Yang dihormati adalah makna-makna simbolik yang terkandung di dalamnya, seperti persaudaraan kemanusiaan dan kesatuan umat manusia. Karena itu, Ka’bah menjadi lambang persatuan universal yang melampaui batas bangsa, bahasa, dan latar belakang sosial.

Dalam pembahasan mengenai tawaf, Abad Badruzaman menjelaskan bahwa ritual tersebut menggambarkan hati manusia yang berputar mengelilingi kesucian ilahi. Beliau mengutip pemikiran Ali Syariati yang menggambarkan Ka’bah sebagai pusat orbit kehidupan manusia, sebagaimana matahari menjadi pusat tata surya. Ka’bah melambangkan keabadian dan ketetapan Allah swt, sedangkan manusia yang mengelilinginya melambangkan dinamika kehidupan makhluk yang terus bergerak.

Beliau menjelaskan bahwa ketika bertawaf, seseorang tidak dapat berjalan sendiri atau berhenti sesuka hati. Setiap jamaah harus melebur ke dalam arus besar manusia yang bergerak menuju arah yang sama. Dari situ, menurut beliau, umat Islam diajarkan pentingnya kesatuan tujuan dan orientasi. Tawaf menjadi simbol bahwa umat Islam seharusnya bergerak dalam satu komando, satu arah, dan satu tujuan perjuangan.

Abad Badruzaman menegaskan bahwa perbedaan mazhab, pendekatan keagamaan, maupun latar belakang sosial semestinya tidak menjadi penghalang bagi persatuan umat. Umat Islam memiliki kiblat yang sama, Tuhan yang sama, Nabi yang sama, kitab suci yang sama, serta manasik haji yang sama. Karena itu, tawaf mengajarkan pentingnya mengutamakan titik temu dan tujuan bersama dibandingkan mempertajam perbedaan yang ada.

Menjelang akhir pemaparannya, beliau mengingatkan bahwa seluruh rangkaian haji sarat dengan makna simbolik yang mendalam. Haji bukan sekadar ritual individual, melainkan juga perwujudan harmoni sosial dan persatuan umat. Beliau mengutip pandangan bahwa haji merupakan muktamar terbesar di dunia karena menghimpun jutaan manusia dari berbagai bangsa dalam satu tujuan yang sama, yakni beribadah kepada Allah swt.

Menurut beliau, kesamaan pakaian ihram, kesatuan gerak dalam tawaf, serta kebersamaan seluruh jamaah dalam berbagai rangkaian manasik menunjukkan bahwa persatuan umat Islam bukan sekadar konsep yang diucapkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an, melainkan realitas yang dapat dirasakan secara langsung. Oleh karena itu, pesan utama haji adalah membangun harmoni sosial, memperkuat persaudaraan, dan meneguhkan kesatuan umat Islam dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.