Syaikh Mohammad Sharifani mengajak umat Islam memaknai Idul Adha sebagai momentum memutus ketergantungan hati kepada dunia dan memperkuat penghambaan kepada Allah swt dalam Khutbah Idul Adha yang disampaikan di Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta, Rabu, 27 Mei 2026. Pada kesempatan tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani juga menyampaikan apresiasi kepada para jemaah yang hadir serta kepada mereka yang telah berbagi rezeki melalui pelaksanaan ibadah kurban untuk membantu kaum fuqara.
Beliau menjelaskan bahwa pesan penting yang terkandung dalam Idul Adha adalah keberanian manusia untuk memotong berbagai bentuk ketergantungan kepada dunia. Menurut beliau, kehidupan manusia pada hakikatnya dipenuhi oleh beragam ketergantungan yang sering kali mengikat hati dan menghalangi seseorang mencapai kedekatan yang sempurna dengan Allah swt.
Syaikh Mohammad Sharifani kemudian mengutip pandangan para ahli irfan dan ahli makrifat yang menyebut adanya masa riyadhah atau latihan spiritual selama empat puluh hari yang dimulai sejak 1 Zulkaidah dan berakhir pada 10 Zulhijah. Masa tersebut dipandang sebagai periode untuk melatih diri menjauh dari berbagai keterikatan duniawi. Mereka yang berhasil melewati proses itu akan memperoleh anugerah dari Allah swt, dan hari raya mereka adalah Idul Adha.
Untuk menjelaskan bentuk-bentuk ketergantungan manusia, beliau mengutip firman Allah swt:
Zuyyina linnāsi ḥubbusy syahawāti minan nisā’i wal banīna wal qanāṭīril muqanṭarati minadz dzahabi wal fiḍḍati wal khailil musawwamati wal an‘āmi wal ḥarth
“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia kecintaan kepada apa yang diingini, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang.” (QS. Ali Imran [3]: 14)
Menurut beliau, ayat tersebut menunjukkan bahwa secara umum manusia memiliki tiga bentuk ketergantungan besar. Pertama, ketergantungan yang bersumber dari dorongan biologis dan syahwat. Kedua, ketergantungan emosional yang tercermin dalam kecintaan kepada anak dan keluarga. Ketiga, ketergantungan terhadap harta benda dan berbagai simbol kemewahan duniawi.
Beliau menerangkan bahwa sebagian orang sangat terikat dengan kekayaan berupa emas dan perak, sebagian lainnya menjadikan kendaraan dan fasilitas hidup sebagai sumber kebanggaan, sementara ada pula yang menggantungkan kebahagiaannya pada kepemilikan tanah, kebun, atau aset-aset duniawi lainnya. Tidak sedikit manusia yang menghabiskan hidupnya hanya berkisar pada ketiga jenis ketergantungan tersebut.
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, kehidupan yang sejati tidak berhenti pada hal-hal itu. Nabi Ibrahim as hadir sebagai teladan yang menunjukkan bagaimana seorang hamba mampu melepaskan berbagai ikatan dunia demi mencapai kedekatan yang hakiki dengan Allah swt.
Beliau mengingatkan bahwa Nabi Ibrahim as berkali-kali diuji oleh Allah swt untuk membuktikan ketulusan penghambaan beliau. Salah satu ujian tersebut adalah ketika beliau diperintahkan meninggalkan kampung halamannya. Padahal, setiap manusia pada dasarnya memiliki keterikatan yang kuat dengan tanah kelahirannya. Namun Nabi Ibrahim as mampu meninggalkan semuanya demi memenuhi perintah Allah swt.
Syaikh Mohammad Sharifani juga mengisahkan sebuah riwayat yang menggambarkan bagaimana Nabi Ibrahim as memutus ketergantungannya terhadap harta. Diceritakan bahwa ketika menggembalakan kambing-kambingnya di padang pasir, beliau mendengar suara yang mengagungkan Allah swt dengan kalimat:
Subbūḥun quddūsun rabbunā wa rabbul malāikati war rūḥ
“Maha Suci dan Maha Kudus Tuhan kami dan Tuhan para malaikat serta Ruh.”
Menurut riwayat tersebut, Nabi Ibrahim as begitu terpesona mendengar nama Allah swt disebut hingga bersedia menyerahkan separuh kambing miliknya agar kalimat itu diucapkan kembali. Ketika kalimat tersebut diulang, beliau bahkan rela memberikan seluruh hartanya. Setelah tidak lagi memiliki apa-apa untuk diberikan, Nabi Ibrahim as masih menyatakan kesediaannya menjadi penggembala bagi pemilik suara tersebut. Kisah itu, menurut beliau, menunjukkan keberhasilan Nabi Ibrahim as melepaskan keterikatan hatinya terhadap harta dunia.
Setelah berhasil melewati ujian tersebut, Allah swt kembali menguji Nabi Ibrahim as melalui kecintaannya kepada putra tercinta, Nabi Ismail as. Syaikh Mohammad Sharifani mengingatkan dialog yang diabadikan Al-Qur’an ketika Nabi Ibrahim as menyampaikan mimpinya kepada sang putra:
Yā bunayya innī arā fil manāmi annī adzbaḥuka fanẓur mādzā tarā
“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.” (QS. Ash-Shaffat [37]: 102)
Beliau menjelaskan bahwa jawaban Nabi Ismail as menunjukkan puncak kepasrahan kepada Allah swt. Ujian tersebut menjadi bukti bahwa Nabi Ibrahim as berhasil memutus keterikatan emosional yang paling dalam, yaitu kecintaan kepada anak yang selama ini menjadi dambaan hidupnya.
Keberhasilan Nabi Ibrahim as melewati berbagai ujian itulah yang membuat Allah swt memberikan kedudukan yang sangat tinggi kepada beliau. Karena itu, Idul Adha dan ibadah kurban menjadi simbol perjuangan manusia untuk melepaskan ketergantungan hati kepada berbagai hal yang bersifat duniawi.
Beliau menegaskan bahwa pengorbanan Nabi Ibrahim as tidak hanya terbatas pada harta, keluarga, dan kampung halaman. Bahkan ketika beliau akan dilemparkan ke dalam api oleh Namrud, Nabi Ibrahim as menunjukkan puncak ketergantungan hanya kepada Allah swt. Dalam riwayat yang beliau sampaikan, ketika Malaikat Jibril menawarkan bantuan untuk menyelamatkannya, Nabi Ibrahim as menolak karena meyakini bahwa Allah swt mengetahui keadaannya dan akan memberikan yang terbaik baginya.
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, sikap tersebut menunjukkan tingkat penghambaan yang sangat tinggi, yaitu ketika seorang hamba sepenuhnya menyerahkan dirinya kepada Allah swt tanpa lagi bergantung kepada selain-Nya. Inilah puncak ketulusan dan kecintaan yang dicapai oleh Nabi Ibrahim as.
Menutup khutbahnya, beliau mengajak seluruh jemaah menjadikan Idul Adha sebagai momentum meneladani perjalanan spiritual Nabi Ibrahim as. Syaikh Mohammad Sharifani berharap Allah swt menganugerahkan kepada kaum Muslimin sebagian dari kemuliaan yang diberikan kepada Nabi Ibrahim as sehingga mereka mampu menjadi hamba-hamba yang semakin tenggelam dalam penghambaan, kecintaan, dan ketergantungan yang sempurna hanya kepada Allah swt.

