Skip to main content

Khutbah Jumat di Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta pada Jumat, 29 Mei 2026, yang disampaikan oleh Syaikh Mohammad Sharifani, kembali menyoroti persoalan dosa sebagai tema lanjutan dari pembahasan pekan sebelumnya. Beliau mengingatkan bahwa Al-Qur’an menegaskan segala musibah yang menimpa manusia tidak lepas dari perbuatan mereka sendiri.

Wa maa ashaabakum min musibatin fabimaa kasabat aydikum wa ya‘fu ‘an kathir

“Musibah apa pun yang menimpamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Dia memaafkan banyak (kesalahan).” (QS. Asy-Syura [42]: 30)

Menurut beliau, ayat ini menjadi peringatan bahwa berbagai persoalan dalam kehidupan sering kali berakar pada dosa dan kesalahan manusia itu sendiri. Karena itu, forum khutbah Jumat, kata beliau, perlu dijadikan media untuk mengingatkan jamaah tentang prinsip-prinsip penting dalam menyikapi dosa.

Syaikh Mohammad Sharifani kemudian menguraikan beberapa kaidah dasar. Pertama, ujung dari perbuatan dosa adalah siksa Allah swt di neraka apabila tidak disertai taubat yang sungguh-sungguh. Kedua, ketika seseorang tergelincir dalam dosa, ia harus menjaga dirinya agar dosa itu tidak berubah menjadi kebiasaan. Ketiga, apabila dihadapkan pada dua pilihan, yakni melakukan kebaikan atau meninggalkan dosa, maka meninggalkan dosa harus lebih diutamakan. Keempat, dosa yang dilakukan tidak boleh sampai mengalahkan dan menutupi kebaikan-kebaikan yang sudah dimiliki seseorang.

Beliau juga menekankan kaidah lain yang sangat penting, yaitu larangan bergembira atas dosa. Dalam penjelasannya, rasa senang terhadap dosa justru lebih buruk daripada dosa itu sendiri. Secara fitrah, manusia biasanya malu ketika melakukan kesalahan dan berusaha menutupinya agar tidak diketahui orang lain. Namun, beliau mengingatkan, ada pula orang yang justru membanggakan dosa yang dilakukan, menceritakannya kepada orang lain, bahkan merasa menang setelah melakukannya. Sikap semacam ini, menurut beliau, telah diperingatkan oleh para maksum as dan tidak boleh terjadi pada diri seorang mukmin.

Beliau juga mengingatkan agar manusia tidak meremehkan dosa sekecil apa pun. Menurut beliau, ada dua alasan utama mengapa dosa tidak boleh dianggap ringan. Pertama, karena yang dilanggar adalah Allah swt, Zat Yang Maha Agung. Sekecil apa pun bentuk pembangkangan terhadap-Nya tetaplah perkara besar. Kedua, karena ada dosa yang pada awalnya tampak kecil, tetapi dampaknya dapat sangat luas dalam kehidupan seseorang. Dalam sebuah riwayat, beliau menyampaikan, Allah swt menyembunyikan murka-Nya ketika seorang hamba bermaksiat kepada-Nya, sehingga manusia tidak boleh menampakkan murka itu dengan meremehkan dosa yang telah dilakukan.

Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa berulang kali melakukan dosa akan menjadikan dosa itu bagian dari jiwa dan kehidupan seseorang. Beliau mengutip peringatan Rasulullah saw kepada Abdullah bin Mas‘ud agar tidak menganggap remeh dosa sekecil apa pun. Beliau juga menyampaikan riwayat bahwa apabila Allah swt menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka dosa-dosanya akan tampak di hadapannya, sehingga ia terdorong untuk terus beristigfar dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Sebaliknya, orang yang terus mengulang dosa akan semakin dekat kepada kebiasaan buruk dan menjauh dari kesadaran untuk kembali kepada Allah swt.

Beliau menegaskan bahwa, menurut Amirul Mukminin Imam Ali as, dosa yang paling besar adalah dosa yang dilakukan berulang-ulang. Dalam pandangan beliau, pembahasan para ulama tentang dosa kecil dan dosa besar juga menunjukkan satu hal penting, yaitu bahwa dosa-dosa yang dianggap ringan tetap tidak boleh diremehkan. Sebagian ahli makrifat bahkan menegaskan bahwa tidak ada dosa kecil, karena yang dilanggar adalah perintah Allah swt sendiri. Karena itu, dosa yang tampak kecil pun tetap harus dipandang sebagai perkara besar agar seseorang tidak terbiasa melakukannya.

Untuk menegaskan bahaya penumpukan dosa kecil, beliau mengutip perumpamaan tentang kayu-kayu kecil yang jika terus dikumpulkan akan menjadi tumpukan besar dan menyalakan api yang besar pula. Begitu juga dalam kehidupan, percikan dosa yang dianggap sepele dapat menimbulkan kerusakan yang besar. Satu percikan api saja dapat membakar bangunan, dan satu dosa kecil yang terus dipelihara dapat merusak hidup seseorang. Karena itu, beliau mengingatkan agar manusia berhati-hati terhadap dosa kecil sebelum dosa itu berkembang menjadi kebiasaan yang membinasakan.

Pada khutbah kedua, Syaikh Mohammad Sharifani kembali mewasiatkan takwa kepada dirinya sendiri dan seluruh kaum mukminin dan mukminat. Beliau menyampaikan apresiasi kepada jemaah yang telah mengikuti pelaksanaan Salat Idul Adha di ICC Jakarta, serta kepada mereka yang menyalurkan rezeki melalui ibadah kurban dengan membagikan dagingnya kepada kaum fuqara. Menurut beliau, tradisi baik ini merupakan sunnah yang indah dan patut dijaga, serta semoga Allah swt menerima amal yang telah dilakukan.

Beliau juga menginformasikan bahwa setelah Salat Jumat akan diselenggarakan seminar di lantai atas gedung ICC Jakarta dengan tema Al-Qur’anul Karim sekaligus peringatan dua tahun syahadah Ayatullah Sayid Ibrahim Raisi. Dalam penjelasannya, beliau menegaskan bahwa salah satu pahala terbesar di sisi Allah swt adalah pahala khidmat atau pengabdian kepada masyarakat. Beliau mengisahkan riwayat tentang tawaf, bahwa satu putaran tawaf diberi pahala besar, tetapi ketika ditanyakan amalan yang lebih besar lagi, jawabannya adalah melayani masyarakat. Karena itu, seminar tersebut digelar sebagai bentuk penghargaan terhadap Al-Qur’an, kedudukan syahid, dan pengabdian seorang tokoh yang mengabdikan hidupnya untuk masyarakat.

Menjelang akhir khutbah, beliau mengingatkan dua peringatan penting yang akan datang, yakni Idul Ghadir dan haul wafat Imam Khomeini. Menurut beliau, Idul Ghadir merupakan hari raya wilayah yang berkaitan dengan sosok agung Amirul Mukminin Imam Ali as, sosok yang tidak tertandingi dalam sejarah umat manusia. Sementara haul Imam Khomeini dipandang sebagai momentum untuk mengenang seorang pemimpin besar revolusi Islam Iran yang melahirkan gerakan kebenaran dan keadilan. Beliau mengajak kaum mukminin dan mukminat untuk menghadiri dan memeriahkan seluruh peringatan tersebut sebagai wujud kecintaan kepada keadilan, kebenaran, dan sosok Amirul Mukminin Imam Ali as.