Mohammad Hosein Safakhah, Dekan Fakultas Teologi dan Studi Islam Universitas Tehran, Iran, menyampaikan pemaparan dalam Peringatan Idul Ghadir dan haul Imam Khomeini yang digelar di ICC Jakarta pada Rabu, 3 Maret 2026. Beliau menempatkan Surah Al-Ma’idah ayat 67 sebagai pusat pembahasan untuk menjelaskan peristiwa Ghadir Khum, kesinambungan risalah Nabi Muhammad saw, dan penegasan kedudukan Imam Ali bin Abi Thalib as sebagai penerus kepemimpinan umat.
Yā ayyuhar-rasūlu balligh mā unzila ilaika mir rabbik, wa illam taf‘al famā ballaghta risālatah, wallāhu ya‘shimuka minan-nās, innallāha lā yahdil-qaumal-kāfirīn.
“Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika engkau tidak melakukan apa yang diperintahkan itu, berarti engkau tidak menyampaikan risalah-Nya. Allah menjaga engkau dari gangguan manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 67)
Mohammad Hosein Safakhah menjelaskan bahwa ayat ini membuka jalan untuk memahami peristiwa Al-Ghadir sebagai peristiwa besar yang tidak hanya menentukan arah sejarah Islam setelah wafat Rasulullah saw, tetapi juga menjadi pegangan hingga hari kebangkitan. Selain itu, Ghadir Khum juga menyimpan banyak pelajaran penting yang harus digali umat, karena pada peristiwa itulah Rasulullah saw menyampaikan perintah Allah swt secara tegas mengenai kepemimpinan sesudah beliau.
Beliau menegaskan bahwa peristiwa Al-Ghadir merupakan fakta sejarah yang diakui para sejarawan Muslim dan dicatat dalam kitab-kitab mereka. Dalam pandangannya, Rasulullah saw tidak hanya menyampaikan apa yang diperintahkan Allah swt tentang pengangkatan Imam Ali bin Abi Thalib as, tetapi juga mewajibkan setiap orang yang hadir pada saat itu untuk menyampaikan peristiwa tersebut kepada orang yang tidak hadir. Dari sini, menurut beliau, lahir tanggung jawab sejarah bagi setiap generasi Muslim untuk menjaga pesan Ghadir dan meneruskannya kepada generasi berikutnya.
Mohammad Hosein Safakhah menjelaskan bahwa peristiwa itu terjadi sesudah Nabi Muhammad saw menunaikan ibadah haji bersama jumlah jamaah yang sangat besar. Sebagian ahli sejarah, katanya, menyebut jumlah jamaah haji saat itu mencapai sekitar 90 ribu, ada yang menyebut 100 ribu, bahkan ada yang menyebut 120 ribu orang. Ketika rombongan hendak meninggalkan Makkah, sebagian orang telah berjalan lebih dahulu, sedangkan yang lain masih tertinggal di belakang. Nabi saw kemudian memerintahkan rombongan yang telah maju untuk kembali dan memerintahkan yang belum datang agar menunggu, hingga seluruh jamaah berkumpul di Ghadir Khum sebelum berpisah ke daerah masing-masing.
Di tempat itulah, menurut beliau, Rasulullah saw menyampaikan khutbah Ghadir sebagai pelaksanaan perintah agung yang dibawa oleh Malaikat Jibril as. Mohammad Hosein Safakhah menekankan bahwa ayat tabligh membawa ancaman yang sangat berat: apabila Nabi saw tidak menyampaikan perintah itu, maka risalah beliau seakan-akan tidak tersampaikan sama sekali. Bagi beliau, hal ini menunjukkan betapa besar dan menentukan pesan yang dibawa dalam peristiwa Ghadir.
Beliau lalu menjelaskan bahwa panggilan “Yā ayyuhar-rasūl” mengandung penegasan ilahi terhadap kedudukan Nabi Muhammad saw sebagai utusan Allah swt. Dengan panggilan itu, Allah swt hendak memperlihatkan kepada seluruh umat manusia bahwa yang berbicara kepada mereka adalah Rasul Allah, bukan sekadar seorang manusia biasa. Karena itu, pesan yang disampaikan Nabi saw harus diterima dengan perhatian penuh dan ketaatan total.
Mohammad Hosein Safakhah juga menyoroti bagian “balligh mā unzila ilaika mir rabbik” sebagai penegasan bahwa seluruh isi khutbah Ghadir berasal dari wahyu Allah swt. Menurut beliau, sebetulnya semua yang disampaikan Rasulullah saw adalah wahyu dan perintah Allah swt, tetapi pada ayat ini penegasannya dibuat sangat khusus agar tidak tersisa sedikit pun keraguan bahwa pengangkatan Imam Ali as bukan keputusan pribadi Nabi saw, melainkan amanah langsung dari Allah swt.
Bagian ayat “wallāhu ya‘shimuka minan-nās” menurut beliau merupakan titik yang sangat penting dan jarang dianalisis secara mendalam oleh para mufasir. Mohammad Hosein Safakhah menjelaskan bahwa jaminan perlindungan Allah swt kepada Nabi saw ini menunjukkan adanya potensi gangguan besar dari manusia dalam penyampaian pesan Ghadir. Beliau mengaitkan hal tersebut dengan beberapa peristiwa dalam sejarah dakwah Rasulullah saw, mulai dari awal dakwah kepada keluarga dekat Nabi saw hingga momen ketika hanya Imam Ali as yang menyatakan kesiapan membela risalah beliau.
Beliau menghubungkan ayat itu dengan peristiwa awal dakwah Rasulullah saw ketika beliau mengumpulkan kerabatnya dan meminta siapa yang bersedia membantunya mengemban risalah. Pada saat itu, menurut Mohammad Hosein Safakhah, hanya Imam Ali bin Abi Thalib as yang tampil pertama kali menyatakan kesediaannya. Karena itu, beliau menilai kemungkinan adanya kesinambungan makna antara ayat tabligh dan awal dakwah Nabi saw sangatlah kuat.
Mohammad Hosein Safakhah juga mengaitkan ayat tersebut dengan Hadis Tsaqalain yang berkali-kali disampaikan Rasulullah saw, yakni pesan agar umat berpegang teguh kepada dua pusaka agar tidak tersesat. Namun, pada peristiwa Ghadir, Nabi saw tidak lagi menyampaikan secara umum, melainkan menegaskan secara konkret siapa yang dimaksud dengan pusaka itu melalui pengangkatan Imam Ali as sebagai penerus kepemimpinan umat. Menurut beliau, penegasan seperti ini menimbulkan dampak besar dan mungkin saja memicu reaksi dari pihak-pihak yang tidak menghendaki terwujudnya pesan tersebut.
Mohammad Hosein Safakhah kemudian memaparkan bahwa dalam khutbah Ghadir, Rasulullah saw tidak hanya mengumumkan pengangkatan Imam Ali as, tetapi juga meminta para hadirin untuk menyaksikan keutamaan-keutamaan beliau. Di antara keutamaan yang disebutkan Rasulullah saw adalah bahwa Imam Ali as merupakan orang pertama yang beriman kepada dakwah Nabi saw, orang pertama yang menyembah Allah swt dan tidak pernah menyembah selain-Nya, orang yang selalu bersama Rasulullah saw dalam semua keadaan, serta pembela utama beliau dalam seluruh perjuangan dan peperangan.
Beliau menegaskan bahwa semua keutamaan itu bukan kebetulan, melainkan bagian dari pengenalan ilahi terhadap sosok Imam Ali as. Karena itu, khutbah Ghadir menurut Mohammad Hosein Safakhah menjadi momen penegasan atas kepemimpinan setelah wafat Rasulullah saw, sekaligus deklarasi bahwa tidak ada satu pun manusia yang memiliki kumpulan keutamaan seperti yang dimiliki Imam Ali bin Abi Thalib as.
Dalam penjelasannya, Mohammad Hosein Safakhah juga menyebut bahwa Rasulullah saw berulang kali menegaskan beberapa ungkapan penting dalam khutbah Ghadir, termasuk bahwa Imam Ali as adalah saudara beliau, wasi beliau, dan penerus beliau. Menurut beliau, pengulangan itu dilakukan untuk memberi penekanan luar biasa terhadap kedudukan Imam Ali as sebagai imam yang diangkat Allah swt bagi umat. Di sini, beliau menekankan bahwa pengangkatan tersebut bukan berasal dari manusia dan bukan pula hasil keputusan Rasulullah saw semata, melainkan ketentuan Allah swt.
Mohammad Hosein Safakhah kemudian membaca dan menafsirkan ayat penyempurnaan agama sebagai penegasan atas peristiwa Ghadir.
Al-yawma akmaltu lakum dīnakum wa atmamtu ‘alaikum ni‘matī wa raḍītu lakumul-islāma dīnā.
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku atasmu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 3)
Menurut beliau, ayat ini menegaskan bahwa agama menjadi sempurna, nikmat menjadi paripurna, dan ridha Allah swt atas Islam sebagai agama umat manusia hadir melalui penetapan kepemimpinan Imam Ali as. Karena itu, penyempurnaan agama bukan berasal dari Rasulullah saw sebagai pribadi, tetapi dari Allah swt sebagai pemberi wahyu.
Beliau juga menyinggung bahwa dalam khutbah Ghadir disebutkan para imam dari keturunan Imam Ali as, para imam suci Ahlulbait as, serta kesinambungan garis kepemimpinan setelah Rasulullah saw. Mohammad Hosein Safakhah menjelaskan bahwa para imam itu merupakan bagian dari ketetapan ilahi yang juga telah tersirat dalam Al-Qur’an. Karena itu, beliau melihat khutbah Ghadir sebagai penjelasan yang berjalan seiring dengan wahyu, bukan sesuatu yang berdiri di luar wahyu.
Di bagian lain, Mohammad Hosein Safakhah menegaskan bahwa baiat kepada Imam Ali as pada hakikatnya adalah baiat kepada Allah swt. Untuk memperkuat makna itu, beliau mengaitkannya dengan ayat baiat dalam Al-Qur’an yang menegaskan bahwa orang-orang yang berbaiat kepada Nabi saw sesungguhnya berbaiat kepada Allah swt.
Innal-ladzīna yubāyi‘ūnaka innamā yubāyi‘ūnallāh, yadullāhi fawqa aydīhim.
“Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Muhammad), mereka sebenarnya berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka.” (QS. Al-Fath [48]: 10)
Menurut beliau, makna ayat ini selaras dengan baiat kepada Imam Ali as pada peristiwa Ghadir, karena baiat tersebut bukan semata-mata kesepakatan politik, melainkan ikatan keimanan kepada perintah Allah swt. Mohammad Hosein Safakhah menambahkan bahwa Sayidah Fatimah az-Zahra as juga menguatkan pesan ini melalui Khutbah Fadakiyah yang disampaikan setelah wafat Rasulullah saw. Dalam khutbah tersebut, menurut beliau, Sayidah Fatimah as menegaskan kembali apa yang dilakukan ayahnya di Ghadir Khum dan mengingatkan umat tentang pengangkatan Imam Ali as.
Beliau lalu mengakhiri pemaparannya dengan menghubungkan ayat “wallāhu ya‘shimuka minan-nās” dengan sejumlah peristiwa yang menunjukkan adanya ancaman terhadap keselamatan Rasulullah saw dan Imam Ali as. Di antaranya, Mohammad Hosein Safakhah menyinggung peristiwa-peristiwa yang mengiringi pengangkatan Imam Ali as, termasuk suasana ketidaksenangan sebagian pihak terhadap kedudukan yang diberikan Allah swt kepada beliau. Menurut Mohammad Hosein Safakhah, perlindungan Allah swt kepada Nabi saw menjadi jaminan bahwa perintah besar itu akan sampai kepada umat, meski ada ancaman dan penolakan dari manusia.
Mohammad Hosein Safakhah juga menyebut sejumlah riwayat sejarah yang dinisbatkan kepada kitab-kitab sejarah seperti Tarikh ath-Thabari dan Tarikh Ibnu Ishaq, yang mengisahkan adanya kelompok-kelompok tertentu yang diduga telah merencanakan tindakan yang dapat membahayakan Rasulullah saw dan Imam Ali as menjelang atau sesudah peristiwa Ghadir. Menurut beliau, riwayat-riwayat tersebut menjadi salah satu kemungkinan penjelasan mengapa Allah swt memberikan jaminan perlindungan secara khusus kepada Rasulullah saw dalam ayat tabligh. Beliau menambahkan bahwa sejumlah sahabat dekat Rasulullah saw juga disebut berupaya menjaga keselamatan beliau agar tidak terjadi sesuatu yang membahayakan ketika pesan Ghadir disampaikan kepada umat.
Menutup penjelasannya, Mohammad Hosein Safakhah menyinggung haul wafat Imam Khomeini sebagai momentum mengenang seorang pembaharu yang menghidupkan semangat Islam dan melawan kezaliman. Beliau menyebut Imam Khomeini sebagai tokoh yang berjuang meninggikan nama Islam sehingga memperoleh perhatian luas di dunia. Mohammad Hosein Safakhah juga mengajak jamaah untuk mendoakan para syuhada, para pemimpin yang mengabdikan hidupnya bagi agama, serta masyarakat Muslim yang sedang menghadapi berbagai kesulitan dan konflik. Beliau secara khusus mengajak hadirin memohon kepada Allah swt agar memberikan perlindungan, pertolongan, dan kemuliaan bagi kaum Muslimin serta menempatkan para syuhada dan para pejuang Islam pada kedudukan yang tinggi di sisi-Nya.



