Pada Kelas Tafsir Maudhu’i yang diselenggarakan di Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta pada Kamis, 4 Juni 2026, Syaikh Mohammad Sharifani melanjutkan pembahasan mengenai tema keinginan (al-amani). Beliau menjelaskan bahwa keinginan manusia secara umum terbagi menjadi dua kategori, yaitu keinginan yang baik dan keinginan yang buruk. Selain itu, beliau juga menguraikan berbagai faktor yang menjadi landasan munculnya keinginan dalam diri manusia sebagaimana dijelaskan dalam ayat-ayat Al-Qur’an.
Pada awal kajian, Syaikh Mohammad Sharifani mengingatkan kembali materi pertemuan sebelumnya yang membahas klasifikasi keinginan. Menurut beliau, keinginan yang baik adalah keinginan yang mengarahkan manusia kepada kebaikan, kedekatan kepada Allah SWT, dan kesempurnaan spiritual.
Beliau mencontohkan keinginan untuk berziarah ke Karbala, melaksanakan salat dengan khusyuk, berbakti kepada kedua orang tua, serta melakukan berbagai amal saleh sebagai bentuk keinginan yang terpuji. Sebaliknya, keinginan yang mengarah kepada kerusakan, kesesatan, atau mencelakakan orang lain termasuk dalam kategori keinginan yang buruk.
Sebagai contoh keinginan buruk dalam Al-Qur’an, Syaikh Mohammad Sharifani mengutip Surah Al-Mumtahanah ayat 2:
In yatsqafukum yakunu lakum a‘daa’an wa yabsuthuu ilaikum aidiyahum wa alsinatahum bis suu’i wa wadduu law takfurun.
“Jika mereka memperoleh kemenangan atas kamu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu, melepaskan tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakiti, dan mereka ingin agar kamu menjadi kafir.”
Beliau menjelaskan bahwa ayat tersebut menggambarkan keinginan buruk sebagian orang yang menghendaki orang lain mengikuti jalan kekafiran dan penyimpangan. Keinginan seperti ini tidak hanya merugikan pelakunya, tetapi juga berusaha menyeret orang lain ke dalam kesesatan.
Contoh lain keinginan yang buruk terdapat dalam Surah Al-Baqarah ayat 111:
Wa qaaluu lan yadkhulal jannata illaa man kaana huudan au nashaaraa tilka amaaniyyuhum qul haatuu burhaanakum in kuntum shaadiqiin.
“Mereka berkata, ‘Tidak akan masuk surga kecuali orang-orang Yahudi atau Nasrani.’ Itulah angan-angan mereka. Katakanlah, ‘Tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu memang benar.’”
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, ayat ini menunjukkan bentuk keinginan yang lahir dari kesombongan dan klaim tanpa dasar. Orang-orang tersebut menganggap hanya kelompok mereka yang berhak memperoleh keselamatan, sementara Al-Qur’an menuntut adanya hujah dan argumentasi yang benar atas klaim tersebut.
Setelah menjelaskan pembagian keinginan, Syaikh Mohammad Sharifani menguraikan berbagai faktor yang menjadi dasar munculnya keinginan dalam diri manusia.
Faktor pertama adalah kecintaan kepada Allah SWT. Beliau mengutip Surah Al-Jumu’ah ayat 6:
Qul ya ayyuhalladziina haaduu in za‘amtum annakum auliyaa’u lillaahi min duunin naasi fatamannawul mauta in kuntum shaadiqiin.
“Katakanlah, ‘Wahai orang-orang Yahudi, jika kamu menganggap bahwa kamu saja kekasih Allah, bukan manusia lainnya, maka harapkanlah kematian jika kamu memang benar.’”
Menurut beliau, ayat ini mengajarkan bahwa keinginan yang benar harus dibangun di atas kecintaan kepada Allah SWT. Ketika seseorang benar-benar mencintai Allah, maka keinginannya tidak lagi didorong oleh kepentingan duniawi semata, tetapi diarahkan kepada keridaan Allah. Beliau mencontohkan keinginan memperoleh kesyahidan sebagai salah satu bentuk kecintaan sejati kepada Allah SWT.
Faktor kedua adalah kecintaan kepada akhirat. Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa seseorang yang memahami kehidupan akhirat sebagai tujuan abadi akan terdorong untuk memperbanyak amal saleh dan menghindari maksiat.
Beliau mengaitkan hal ini dengan Surah Al-Baqarah ayat 94:
Qul in kaanat lakumud daarul aakhiratu ‘indallaahi khaalishatan min duunin naasi fatamannawul mauta in kuntum shaadiqiin.
“Katakanlah, ‘Jika negeri akhirat di sisi Allah khusus untukmu, bukan untuk orang lain, maka harapkanlah kematian jika kamu memang benar.’”
Menurut beliau, orang yang mencintai akhirat akan rela berkorban demi memperoleh kebahagiaan yang kekal dan akan berusaha menjalankan seluruh perintah Allah SWT dengan sebaik-baiknya.
Faktor ketiga adalah rasa takut. Beliau menjelaskan bahwa rasa takut tertentu dapat melahirkan keinginan yang kuat dalam diri manusia.
Sebagai contoh, beliau mengutip kisah Sayidah Maryam as dalam Surah Maryam ayat 23 ketika menghadapi ujian kehamilan Nabi Isa as:
Yaa laitanii mittu qabla haadzaa wa kuntu nasyyan mansiyyaa.
“Wahai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini dan menjadi sesuatu yang tidak berarti lagi, dilupakan.”
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa keinginan tersebut muncul karena rasa takut kehilangan kehormatan dan menghadapi tuduhan masyarakat, meskipun Sayidah Maryam as sama sekali tidak melakukan perbuatan yang tercela.
Faktor keempat adalah kecintaan kepada dunia. Beliau mengutip kisah Qarun dalam Surah Al-Qashash ayat 79:
Fa kharaja ‘alaa qaumihii fii ziinatih.
“Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dengan kemegahan dan perhiasannya.”
Menurut beliau, ketika masyarakat melihat kemewahan dan kekayaan Qarun, muncul keinginan dalam diri mereka untuk memiliki kekayaan yang sama. Fenomena serupa masih banyak terjadi pada masa kini ketika manusia menjadikan kekayaan materi sebagai ukuran keberhasilan hidup.
Faktor kelima adalah keinginan memperoleh kekayaan dan kedudukan. Beliau mengutip Surah An-Nisa ayat 72–73 yang menggambarkan sebagian orang yang menyesal tidak ikut berjihad ketika melihat orang lain memperoleh kemenangan dan kemuliaan.
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa sebagian manusia memiliki keinginan bukan karena nilai perjuangannya, tetapi karena berharap memperoleh keuntungan, jabatan, atau kekayaan yang muncul setelah keberhasilan tersebut.
Faktor keenam adalah kesadaran bahwa amal akan tampak nyata di akhirat. Beliau mengutip Surah Ali Imran ayat 30:
Yauma tajidu kullu nafsin maa ‘amilat min khairin muhdharan wa maa ‘amilat min suu’in tawaddu lau anna bainahaa wa bainahu amadan ba‘iida.
“Pada hari ketika setiap orang mendapati segala kebajikan yang telah dikerjakannya dihadapkan kepadanya, begitu pula kejahatan yang telah dilakukannya. Ia ingin sekiranya antara dirinya dan kejahatan itu ada jarak yang sangat jauh.”
Menurut beliau, pemahaman bahwa seluruh amal akan hadir kembali di hadapan manusia akan mendorong seseorang memiliki keinginan untuk memperbanyak amal saleh dan menjauhi dosa.
Faktor ketujuh adalah melihat kedudukan mulia di akhirat. Beliau mengutip kisah seorang mukmin yang membela para rasul dalam Surah Yasin ayat 26–27.
Setelah memperoleh kemuliaan di sisi Allah, orang tersebut berkata:
Yaa laita qaumii ya‘lamuun. Bimaa ghafara lii rabbii wa ja‘alanii minal mukramiin.
“Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui apa yang menyebabkan Tuhanku mengampuniku dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan.”
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa kesadaran terhadap kemuliaan yang menanti di akhirat dapat melahirkan keinginan kuat untuk menempuh jalan kebaikan selama hidup di dunia.
Faktor kedelapan adalah keinginan memperoleh hakikat dan kebenaran. Menurut beliau, fitrah manusia pada dasarnya selalu ingin mendekat kepada kebenaran dan menjauh dari pengaruh setan. Keinginan untuk menemukan hakikat kehidupan dan kebahagiaan sejati merupakan dorongan yang Allah tanamkan dalam diri setiap manusia.
Faktor kesembilan adalah keinginan untuk selamat dari azab akhirat. Beliau mengutip Surah Al-Furqan ayat 27:
Wa yauma ya‘adhdhuzh zhaalimu ‘alaa yadaihi yaquulu yaa laitanii ittakhadztu ma‘ar rasuuli sabiilaa.
“Pada hari ketika orang zalim menggigit kedua tangannya seraya berkata, ‘Alangkah baiknya dahulu aku mengambil jalan bersama Rasul.’”
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, ayat ini menunjukkan bahwa kesadaran akan dahsyatnya azab akhirat dapat melahirkan keinginan untuk hidup bersama orang-orang saleh, mengikuti petunjuk Rasulullah SAW, dan menjauhi segala bentuk penyimpangan.
Menutup kajiannya, Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa keinginan merupakan bagian penting dari kehidupan manusia. Namun keinginan tersebut harus dibangun di atas landasan yang benar, yaitu cinta kepada Allah SWT, cinta kepada akhirat, kesadaran terhadap amal, pencarian hakikat, serta keinginan untuk memperoleh keselamatan dan kebahagiaan abadi di sisi Allah SWT. Dengan demikian, keinginan tidak menjadi sumber kesesatan, melainkan menjadi sarana yang mengantarkan manusia menuju kesempurnaan spiritual dan keselamatan akhirat.



