Skip to main content

Khutbah Jumat di Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta pada Jumat, 5 Juni 2026, yang disampaikan oleh Syaikh Mohammad Sharifani, melanjutkan pembahasan tentang dosa dengan menyoroti dampaknya di dunia, bukan hanya di akhirat. Beliau menjelaskan bahwa dosa dapat menghancurkan ikatan, memunculkan berbagai petaka, dan menghalangi doa seseorang naik kepada Allah swt. Untuk menguatkan penjelasan itu, beliau merujuk pada Doa Kumail yang menyinggung dosa-dosa yang merusak hubungan, mendatangkan bencana, dan menghambat doa.

Beliau kemudian menguraikan tujuh perbuatan yang dapat menghalangi doa. Pertama adalah niat buruk dan prasangka buruk. Menurut beliau, seseorang yang menyimpan pikiran negatif dan niat busuk akan terhalang dari ijabah doa. Karena itu, agama mengajarkan husnuzan, terutama kepada Allah swt, dan juga kepada sesama manusia. Beliau menekankan bahwa manusia pada dasarnya harus dipandang dengan positif, bukan dituduh atau dicurigai tanpa alasan yang kuat.

Kedua, beliau menjelaskan bahwa penyakit hati, seperti dengki, kebencian, kesombongan, dan berbagai sifat buruk lainnya, juga menghambat doa. Hati yang kotor, menurut beliau, ibarat penyakit berat yang sulit disembuhkan. Untuk menggambarkannya, beliau menyamakan hati yang busuk dengan kanker yang telah merusak tubuh. Beliau lalu mengisahkan seorang lelaki pada masa Nabi Musa as yang terus berdoa selama tiga tahun agar dikaruniai seorang anak, tetapi doanya belum juga dikabulkan. Ketika Nabi Musa as bertanya kepada Allah swt, beliau diberi tahu bahwa penyebabnya ada tiga: cara berdoanya tidak sopan, orang itu memiliki prasangka buruk, dan hatinya dipenuhi penyakit. Nabi Musa as lalu menyampaikan hal itu kepadanya, orang tersebut memperbaiki dirinya, dan akhirnya Allah swt mengaruniakannya seorang anak.

Ketiga, Syaikh Mohammad Sharifani menyinggung kemunafikan di antara sesama mukmin. Beliau membedakan antara nifak i‘tiqadi, yakni kemunafikan dalam iman sebagaimana dikenal dalam Al-Qur’an, dan nifak akhlaki, yaitu sikap bermuka dua dalam perilaku. Menurut beliau, nifak akhlaki tampak ketika seseorang manis di depan, tetapi membicarakan keburukan saudaranya di belakang. Sikap seperti ini juga menjadi penghalang ijabah doa.

Keempat, beliau mengingatkan tentang sikap meremehkan salat fardu dan menunda-nundanya tanpa alasan yang benar. Menurut beliau, orang yang menganggap remeh waktu salat berarti sedang menganggap ringan hubungan dirinya dengan Allah swt. Karena itu, begitu waktu salat tiba, seorang mukmin harus segera menunaikannya dengan penuh perhatian.

Kelima, beliau menjelaskan bahwa doa juga terhambat pada orang yang kurang berbuat baik kepada sesama, terutama yang kikir dan enggan bersedekah. Beliau mengaitkan hal ini dengan semangat kurban pada Iduladha, yang menurut beliau menunjukkan betapa tradisi berbagi di negeri ini masih hidup dan patut dijaga. Keenam, beliau menyinggung buruknya lisan yang kasar, mudah membentak, dan gemar berkata tidak baik. Lisan yang tidak terjaga, menurut beliau, juga menjadi sebab terhalangnya doa.

Ketujuh, beliau menegaskan pentingnya yakin bahwa doa pasti didengar dan dikabulkan oleh Allah swt. Seorang hamba harus berhusnuzan kepada Allah swt ketika memohon sesuatu. Untuk menggambarkan hal itu, beliau menceritakan riwayat Nabi saw ketika menjenguk seorang pasien dan mendoakannya agar sembuh. Namun orang itu justru menjawab bahwa penyakitnya tidak mungkin sembuh. Tak lama kemudian, ia meninggal. Menurut beliau, sikap yang tidak yakin kepada ijabah Allah swt justru menutup jalan terkabulnya doa.

Syaikh Mohammad Sharifani memulai khutbah kedua dengan menyampaikan apresiasi kepada para jemaah yang telah mengikuti pelaksanaan Salat Iduladha di ICC Jakarta serta kepada mereka yang berkurban dan membagikan dagingnya kepada kaum fuqara. Menurut beliau, tradisi mulia itu merupakan bukti hidupnya semangat berbagi di tengah masyarakat.

Beliau juga menyampaikan bahwa setelah salat Jumat akan digelar sebuah seminar di lantai atas gedung ICC Jakarta yang bertema Al-Qur’anul Karim sekaligus peringatan dua tahun syahadah Ayatullah Sayid Ibrahim Raisi. Dalam penjelasannya, beliau menegaskan bahwa salah satu pahala terbesar di sisi Allah swt adalah khidmat dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk itu, beliau mengisahkan sebuah riwayat tentang tawaf di Ka’bah, lalu menjelaskan bahwa ada amalan yang pahalanya jauh lebih besar, yaitu melayani masyarakat. Seminar tersebut, menurut beliau, diselenggarakan sebagai bentuk penghargaan terhadap Al-Qur’an, terhadap kedudukan syahid, dan terhadap pengabdian seseorang kepada umat.

Syaikh Mohammad Sharifani kemudian menyinggung peringatan Idul Ghadir dan haul Imam Khomeini yang baru saja diperingati beberapa hari sebelumnya. Beliau menyebut Imam Khomeini sebagai sosok luar biasa yang sukar ditemukan tandingannya dalam ratusan tahun, karena memiliki keberanian yang tinggi, dicintai jutaan orang, hidup dengan kezuhudan, dan tampil sebagai manusia ilahi yang seluruh hidupnya berada di bawah bimbingan Allah swt. Untuk menegaskan sifat keberanian itu, beliau mengisahkan bahwa banyak manusia, termasuk sebagian ulama, tetap memiliki rasa takut terhadap kematian. Namun Imam Khomeini, menurut beliau, justru memandang kematian sebagai sesuatu yang dirindukan, sebagaimana seorang anak merindukan pelukan ibunya.

Beliau juga menyebut bahwa keberanian dan keteguhan itu diwarisi dari Amirul Mukminin Imam Ali bin Abi Thalib as. Menurut beliau, Imam Khomeini dan Imam Ali Khamenei juga menunjukkan ciri lain berupa kecintaan luar biasa dari masyarakat. Beliau menuturkan bahwa ketika Imam Khomeini kembali dari pengasingan, jutaan orang menyambutnya, dan ketika beliau wafat, jutaan orang pula mengantarkan jenazahnya. Hal serupa, menurut beliau, tampak pada Imam Ali Khamenei yang mendapatkan kecintaan sangat besar dari masyarakat. Bagi beliau, kecintaan itu adalah bagian dari karunia Allah swt.

Poin berikutnya yang beliau tekankan adalah kezuhudan. Menurut beliau, Imam Khomeini dan Imam Ali Khamenei sama-sama hidup sangat sederhana walaupun memegang kekuasaan yang besar. Imam Khomeini, kata beliau, memimpin selama sepuluh tahun namun tetap hidup di rumah yang sederhana, dengan perabot dan rak buku yang sederhana pula. Imam Ali Khamenei juga digambarkan menjalani kehidupan yang jauh dari kemewahan. Semua itu, menurut beliau, adalah buah dari keteladanan Imam Ali as yang memandang dunia tidak lebih berharga daripada sesuatu yang sangat kecil dan fana.

Beliau kemudian mengaitkan hal itu dengan pertolongan Allah swt kepada orang-orang beriman. Untuk itu, beliau menyebut firman Allah swt:

Wa maa ramaita idz ramaita walakinnallaha rama.

“Bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allahlah yang melempar.” (QS. Al-Anfal [8]: 17)

Innallaha yudafi‘u ‘anilladzina amanu.

“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Hajj [22]: 38)

Beliau menjelaskan bahwa kemenangan kaum beriman tidak bisa dipahami hanya dari perbandingan jumlah atau persenjataan. Pada masa Rasulullah saw, kaum Muslimin yang jumlahnya sedikit dan persenjataannya terbatas tetap memperoleh kemenangan karena Allah swt berada di belakang mereka. Menurut beliau, hal serupa juga tampak pada Iran dewasa ini yang, meski menghadapi kekuatan besar dan banyak sekutu lawan, tetap mampu bertahan dan menunjukkan keunggulan. Beliau menegaskan bahwa semua itu adalah pertolongan Allah swt.

Menjelang akhir khutbah, Syaikh Mohammad Sharifani mengingatkan bahwa bulan Muharram sudah dekat, dan umat Islam, khususnya pecinta Ahlul Bait as, perlu menghidupkannya dengan menghadiri majelis-majelis duka untuk Imam Husain as. Beliau menyebut bahwa ICC akan menyelenggarakan program Muharram dari malam pertama hingga malam kesepuluh, bahkan hingga malam kesebelas. Beliau mengajak jamaah untuk hadir dan meramaikan majelis-majelis tersebut di mana pun mereka berada.

Beliau juga menyinggung tradisi jamuan Imam Husain atau sufrah Imam Husain yang dikenal membawa keberkahan besar. Menurut beliau, masyarakat Syiah di Iran, Irak, dan berbagai tempat meyakini bahwa siapa pun yang memberi jamuan atas nama Imam Husain as akan memperoleh keberkahan dan ijabah doa. Beliau bahkan mengisahkan anekdot tentang seseorang yang heran melihat suasana berbeda antara Ramadan dan Muharram, lalu mendengar penjelasan bahwa di bulan Muharram justru banyak jamuan dibentangkan untuk Imam Husain as. Dari situ, beliau mengajak jamaah untuk ikut berpartisipasi dalam jamuan tersebut, karena apa pun yang diberikan untuk Imam Husain as akan kembali membawa keberkahan bagi keluarga dan kehidupan mereka.