Pada Majelis Taklim Akhwat Zainab Al-Kubro di ICC Jakarta, Rabu, 10 Juni 2026, Syaikh Mohammad Sharifani mengajak jamaah mensyukuri nikmat Allah swt, terutama karena hari itu bertepatan dengan Hari Mubahalah, yakni 24 Zulhijah. Beliau menjelaskan bahwa peristiwa Mubahalah merupakan salah satu momen paling penting dalam sejarah Islam karena pada hari itulah Allah swt memerintahkan Nabi Muhammad saw untuk menantang orang-orang Nasrani dari Najran dalam sebuah pembuktian kebenaran yang bersandar langsung kepada Allah swt.
Beliau memaparkan bahwa orang-orang Nasrani datang ke Madinah untuk memprotes penjelasan Al-Qur’an tentang Nabi Isa as. Menurut mereka, Nabi Isa as adalah Tuhan, sedangkan Al-Qur’an menegaskan bahwa beliau adalah seorang rasul dan utusan Allah swt, sebagaimana nabi-nabi lainnya. Mereka berdebat dengan Rasulullah saw, tetapi tidak mampu membuktikan klaim mereka. Bahkan, kata beliau, mereka juga tidak mampu menjawab argumen-argumen yang disampaikan Nabi saw. Karena perdebatan rasional tidak menghasilkan kebenaran yang mereka terima, Rasulullah saw menawarkan jalan mubahalah.
Fa man ḥājjaka fīhi min ba‘di mā jā’aka minal-‘ilmi fa qul ta‘ālaw nad‘u abnā’anā wa abnā’akum wa nisā’anā wa nisā’akum wa anfusanā wa anfusakum ṡumma nabtahil fa naj‘al la‘nata Allāhi ‘alal-kāżibīn.
“Maka siapa yang membantahmu tentang hal itu setelah engkau memperoleh ilmu, maka katakanlah, ‘Marilah kita panggil anak-anak kami dan anak-anak kalian, perempuan-perempuan kami dan perempuan-perempuan kalian, diri kami dan diri kalian, kemudian kita bermubahalah; lalu kita mohon agar laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang berdusta.’” (QS. Ali Imran [3]: 61)
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa mubahalah adalah peristiwa ketika dua pihak sama-sama memohon kepada Allah swt agar Allah membela pihak yang benar dan melaknat pihak yang berdusta. Pada saat yang telah ditetapkan, rombongan Nasrani sudah bersiap menuju tempat mubahalah, yaitu sebuah lokasi dekat Masjid Nabawi yang kemudian dikenal sebagai Masjid Mubahalah atau Masjid Taubah. Rasulullah saw pun datang dengan tenang, membawa Sayidah Fatimah az-Zahra as, Imam Hasan as, Imam Husain as, serta Imam Ali as. Ketika melihat cara kedatangan Rasulullah saw yang tenang dan penuh kewibawaan itu, para pemuka Nasrani menyadari bahwa beliau bukan orang yang berdusta. Mereka lalu membatalkan mubahalah karena khawatir akan langsung ditimpa laknat Allah swt.
Beliau menegaskan bahwa inti dari peristiwa Mubahalah adalah perjumpaan antara front kebenaran dan front kebatilan. Menurut beliau, sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa kebenaran dan kebatilan selalu berhadapan secara langsung. Sebagai contoh, beliau mengingatkan perjuangan Nabi Musa as melawan Firaun dan para penyihir. Ketika Nabi Musa as melemparkan tongkatnya, tongkat itu berubah menjadi ular yang memakan seluruh ular buatan para penyihir, sehingga para penyihir akhirnya beriman kepada Allah swt. Beliau juga menyinggung Perang Khandaq atau Perang Ahzab, ketika Imam Ali as berhasil mengalahkan Amr bin Abdu Wudd, jagoan Quraisy, dan kemenangan itu dipandang Rasulullah saw sebagai kemenangan al-haq atas kebatilan. Bahkan, menurut beliau, dalam konteks masa kini pun umat masih menyaksikan perlawanan front kebenaran, seperti yang beliau sebut antara Iran melawan Amerika, Israel, dan sekutu-sekutunya, dan beliau menegaskan bahwa janji Allah swt tetap sama: kebenaranlah yang akan menang.
Pelajaran kedua yang beliau tarik dari Mubahalah ialah pembuktian kebenaran kenabian dan keimaman. Melalui Mubahalah, Nabi Muhammad saw menegaskan bahwa beliau benar-benar utusan Allah swt, bukan pendusta. Orang-orang Nasrani yang semula menentang akhirnya tidak mampu menjawab dan mundur dari tantangan tersebut. Menurut beliau, peristiwa Khandaq juga membuktikan keimaman Imam Ali as, karena keberhasilan beliau menghadapi jagoan Arab pada masa itu memperlihatkan kedudukan ilahiah yang dimiliki Imam Ali as. Dari sini, beliau menegaskan bahwa kenabian dan keimaman bukan hasil klaim manusia, melainkan penunjukan Allah swt.
Beliau kemudian menyampaikan bahwa orang-orang yang berada di pihak kebenaran tidak pernah takut berkorban. Bagi mereka, kematian bukanlah sesuatu yang ditakuti, melainkan sesuatu yang dihadapi dengan senang hati dan keikhlasan bila memang itu adalah jalan Allah swt. Karena itu, dalam peristiwa Mubahalah, yang tampil adalah manusia-manusia terbaik: Rasulullah saw, Sayidah Fatimah as, Imam Ali as, Imam Hasan as, dan Imam Husain as. Menurut beliau, para tokoh agung itu siap berkorban sepenuhnya demi kebenaran. Beliau mencontohkan keberanian Imam Husain as yang tidak gentar menghadapi musuh dalam pembelaan terhadap kebenaran, serta menyinggung semangat para pemimpin dan umat yang siap berkorban di jalan Allah swt. Sebaliknya, orang-orang yang berada di pihak batil, kata beliau, justru takut menghadapi risiko dan cenderung menyelamatkan diri serta keluarga mereka sendiri.
Syaikh Mohammad Sharifani juga menekankan bahwa orang-orang yang berada dalam front kebenaran akan tampil tenang, tidak gugup, dan tidak gentar menghadapi ancaman. Beliau mencontohkan Imam Ali as yang tetap tenang ketika hendak menghadapi kematian, Imam Husain as yang menghadapi malam menjelang hari kesyahidannya dengan ibadah dan keteguhan, serta para pemimpin yang, menurut beliau, menyambut kematian atau ancaman dengan penuh ketenangan karena keyakinan mereka kepada Allah swt. Dari situ beliau menyimpulkan bahwa orang yang berada di jalan kebenaran memiliki keyakinan yang kuat, tidak mudah goyah, dan tidak panik saat menghadapi ujian.
Menurut beliau, hari 24 Zulhijah tidak hanya terkait dengan Mubahalah, tetapi juga dengan turunnya ayat-ayat penting tentang wilayah dan Ahlulbait as. Beliau menyebut ayat wilayah yang turun mengenai kedudukan Imam Ali bin Abi Thalib as:
Innamā waliyyukumullāhu wa rasūluhu wallażīna āmanū allażīna yuqīmūnaṣ-ṣalāta wa yu’tūna az-zakāta wa hum rāki‘ūn.
“Sesungguhnya pemimpinmu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang mendirikan salat dan menunaikan zakat dalam keadaan rukuk.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 55)
Beliau juga menyinggung hadis kisa dan ayat tathhir yang turun pada peristiwa yang sama:
Innamā yurīdullāhu liyudzhiba ‘ankumur-rijsa ahlal-bayti wa yuṭahhirakum taṭhīrā.
“Sesungguhnya Allah hanya hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai Ahlulbait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab [33]: 33)
Beliau menjelaskan bahwa kebersamaan turunnya ayat-ayat tersebut menunjukkan keberkahan dan kemuliaan hari itu. Karena itu, beliau menyebut beberapa amalan yang dianjurkan pada Hari Mubahalah, seperti mandi, berpuasa, dan menunaikan salat dua rakaat menjelang zuhur. Salat itu, kata beliau, memiliki keutamaan yang sangat besar, bahkan disebut setara dengan pahala seribu haji dan seratus ribu umrah. Beliau juga menjelaskan tata cara amalan itu, antara lain membaca Surah Al-Ikhlas dan Ayat Kursi berulang kali, serta membaca Surah Al-Qadr, sebagai bentuk pengagungan terhadap hari yang penuh keberkahan ini.
Menutup pemaparannya, Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa Hari Mubahalah adalah simbol kemenangan al-haq atas kebatilan, simbol keberanian para nabi dan para imam, serta pengingat bahwa kebenaran selalu akan memiliki tempat di sisi Allah swt. Karena itu, menurut beliau, peringatan Hari Mubahalah tidak cukup dipahami sebagai peristiwa sejarah semata, tetapi harus dihidupkan sebagai teladan keberanian, keteguhan, dan kesetiaan kepada Ahlulbait as dalam seluruh aspek kehidupan.



