Skip to main content

ICC Jakarta menyelenggarakan Majlis Doa, Solidaritas, dan Kesetiaan pada Para Pejuang Perlawanan pada Minggu, 14 Juni 2026. Dalam kesempatan tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan sambutan mengenai makna muqawamah atau perlawanan dalam perspektif Al-Qur’an dan perjuangan Islam, sekaligus menyinggung pentingnya keteguhan menghadapi musuh dan mempertahankan prinsip perjuangan.

Di awal sambutannya, beliau menyampaikan penghormatan kepada seluruh peserta yang hadir dan menjelaskan bahwa dirinya hanya akan menyampaikan beberapa poin singkat karena masih ada pembicara lain yang akan memberikan presentasi. Dalam penjelasannya, Syaikh Mohammad Sharifani mengatakan bahwa kata muqawamah atau resistance memiliki akar kata yang digunakan Al-Qur’an untuk berbagai perkara besar dan penting dalam agama.

Beliau menjelaskan bahwa akar kata muqawamah berasal dari kata aqāma yuqīmu atau aqim yang juga digunakan Al-Qur’an dalam perintah mendirikan salat. Menurut beliau, penggunaan akar kata tersebut menunjukkan bahwa muqawamah bukan sekadar konsep politik atau sosial, melainkan memiliki dimensi spiritual yang sangat mendalam. Selain itu, Allah swt juga menggunakan akar kata yang sama ketika memerintahkan Rasulullah saw untuk tetap kokoh dan istiqamah dalam menjalankan tugas dakwah.

Fastaqim kamā umirta
“Maka tetaplah engkau (di jalan yang benar) sebagaimana diperintahkan kepadamu.” (QS. Hud [11]: 112)

Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, akar kata yang sama juga digunakan Al-Qur’an dalam konteks jihad, perjuangan, dan menjaga agama. Karena itu, beliau menegaskan bahwa seluruh perkara tersebut bukanlah hal yang mudah. Imam Husain as, menurut beliau, memperjuangkan agama ini sampai harus mengorbankan darah sucinya demi mempertahankan kebenaran.

Beliau kemudian mengutip sebuah hadis yang menyebutkan bahwa Rasulullah saw pernah mengatakan Surah Hud telah membuat beliau cepat tua, khususnya karena kandungan perintah untuk tetap teguh dan istiqamah. Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, istiqamah, konsistensi, dan keteguhan dalam jalan perjuangan merupakan inti dari muqawamah itu sendiri.

Dalam kesempatan itu, beliau juga menyinggung pentingnya konsistensi dalam ibadah sebagai bagian dari perjuangan spiritual. Syaikh Mohammad Sharifani mengutip pernyataan Ayatullah Behjat yang mengatakan bahwa apabila seseorang mampu menjaga salat awal waktu secara konsisten selama 70 tahun, maka orang tersebut pasti termasuk kekasih Allah swt. Menurut beliau, menjaga salat secara konsisten bukanlah perkara yang ringan dan membutuhkan perjuangan besar dalam melawan hawa nafsu serta kelalaian diri.

Syaikh Mohammad Sharifani kemudian menjelaskan sejumlah prinsip muqawamah yang selama puluhan tahun disampaikan Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. Menurut beliau, salah satu syarat penting bagi seorang pejuang perlawanan adalah memiliki al-bashirah atau kecerdasan dan ketajaman pandangan. Seorang pejuang harus memahami kapan harus bergerak, kapan harus diam, kapan harus melangkah, dan kapan harus bertahan di tempat.

Selain itu, beliau menyampaikan bahwa seseorang yang berada di garis perjuangan tidak boleh menyerahkan dirinya kepada musuh melalui berbagai bentuk ketergantungan dan loyalitas yang melemahkan posisi perjuangan. Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, musuh telah berkali-kali terbukti tidak memegang komitmen terhadap janji dan kesepakatan yang mereka buat. Karena itu, beliau menilai bahwa sikap terlalu percaya kepada musuh hanya akan membawa kerugian dan kehinaan.

Beliau juga menegaskan bahwa seorang pejuang muqawamah tidak boleh tunduk secara hina kepada musuh. Dalam konteks ini, Syaikh Mohammad Sharifani mengutip sikap Imam Husain as yang menolak berbaiat kepada Yazid demi menjaga kehormatan dan prinsip kebenaran.

Mitsli lā yubāyi‘u mitslah
“Orang sepertiku tidak akan pernah berbaiat kepada orang seperti dia.”

Menurut beliau, semangat itulah yang harus menjadi fondasi perjuangan umat Islam dalam menghadapi penindasan dan ketidakadilan.

Dalam penjelasan berikutnya, Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan bahwa para pejuang perlawanan harus meyakini bahwa darah para syuhada pada akhirnya akan mengalahkan senjata musuh. Beliau mengatakan bahwa sejarah telah membuktikan bagaimana darah Imam Husain as mampu mengalahkan pedang-pedang yang dahulu membunuh beliau. Setelah lebih dari 1.400 tahun berlalu, nama Imam Husain as tetap hidup dan perjuangannya terus menginspirasi manusia di berbagai penjuru dunia.

Menurut beliau, muqawamah merupakan satu-satunya jalan untuk memenangkan agama dan perjuangan melawan musuh. Syaikh Mohammad Sharifani juga menegaskan bahwa musuh sering kali menggambarkan dirinya sangat besar dan kuat, padahal kenyataannya tidak demikian. Karena itu, tugas para pejuang adalah membuka topeng musuh dan menunjukkan kepada masyarakat bahwa kekuatan umat jauh lebih besar daripada propaganda yang dibangun pihak lawan.

Beliau kembali menekankan bahwa Imam Husain as telah mengajarkan jalan muqawamah bukan hanya melalui pidato atau ajaran lisan, tetapi melalui pengorbanan nyata. Imam Husain as tidak hanya mengorbankan dirinya sendiri, tetapi juga anggota keluarganya demi mempertahankan agama Allah swt.

Di akhir sambutannya, Syaikh Mohammad Sharifani menyebut bahwa Ayatullah Sayyid Ali Khamenei juga telah memberikan teladan pengorbanan dalam jalan perjuangan, bukan hanya melalui pidato dan nasihat, tetapi juga melalui pengorbanan anggota keluarganya sendiri di jalan perjuangan. Beliau menutup sambutannya dengan doa agar Allah swt meninggikan derajat para syuhada bersama Imam Husain as dan seluruh pejuang yang gugur di jalan kebenaran.