ICC Jakarta menyelenggarakan pemutaran film dokumenter La raíz del olivo pada Sabtu, 13 Juni 2026. Kegiatan tersebut dihadiri Duta Besar Kuba untuk Indonesia Dagmar Gonzalez Grau, Duta Besar Palestina untuk Indonesia Abdulfattah A.K. Al-Sattiri, serta sejumlah aktivis dan peserta dari berbagai organisasi solidaritas Palestina. Film dokumenter tersebut mengangkat kisah hubungan solidaritas antara Kuba dan Palestina, khususnya pengalaman rakyat Palestina yang tinggal dan menempuh pendidikan di Kuba di tengah situasi penjajahan, pengungsian, dan perjuangan panjang melawan pendudukan Zionis. Film ini menampilkan kesaksian emosional para warga Palestina tentang kehidupan di Gaza, Tepi Barat, serta hubungan kemanusiaan yang terjalin antara kedua bangsa.
Dalam sambutannya, Duta Besar Kuba untuk Indonesia Dagmar Gonzalez Grau menyampaikan bahwa La raíz del olivo merupakan film yang sangat emosional dan mampu menyentuh hati penontonnya. Menurut beliau, film tersebut memperlihatkan secara mendalam situasi rakyat Palestina, baik yang berada di Palestina maupun yang hidup di Kuba, serta penderitaan yang mereka alami akibat penjajahan dan penindasan. Dagmar Gonzalez Grau juga menyayangkan masih banyak masyarakat di berbagai negara yang tidak memiliki simpati terhadap Palestina dan justru mendukung Israel. Beliau bersyukur bahwa di Indonesia solidaritas terhadap Palestina masih sangat kuat. Menurut beliau, pemutaran film ini penting untuk menunjukkan kepada masyarakat luas betapa kejam penindasan yang dilakukan oleh Zionis terhadap rakyat Palestina.
Sementara itu, Duta Besar Palestina untuk Indonesia Abdulfattah A.K. Al-Sattiri menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan acara dan dukungan yang terus diberikan kepada rakyat Palestina, khususnya warga Gaza. Beliau juga menyampaikan penghargaan kepada Kuba yang selama bertahun-tahun memberikan beasiswa kepada rakyat Palestina untuk menempuh pendidikan, terutama di bidang kedokteran. Dalam penuturannya, Abdulfattah Al-Sattiri mengatakan bahwa rakyat Kuba merupakan bangsa yang memiliki nilai kemanusiaan yang tinggi dan selalu berusaha membantu bangsa-bangsa lain.
Beliau mengaku sangat tersentuh saat menyaksikan film tersebut, terlebih karena dirinya berasal dari Gaza dan baru pertama kali menonton dokumenter itu. Abdulfattah Al-Sattiri mengatakan bahwa beberapa tokoh yang tampil dalam film berasal dari Gaza dan kesaksian mereka sangat menyentuh hati. Menurut beliau, jika ingin mengetahui kenyataan yang sebenarnya tentang penderitaan rakyat Palestina di Gaza dan Tepi Barat, maka masyarakat harus melihat langsung kisah-kisah seperti yang ditampilkan dalam dokumenter tersebut.
Dalam pemaparannya, Abdulfattah Al-Sattiri juga mengenang pengalaman masa kecilnya ketika masih berusia 16 tahun. Beliau menceritakan bagaimana dirinya bersama teman-temannya membawa batu di dalam tas sekolah untuk dilemparkan kepada tentara Israel yang melintas di dekat sekolah mereka. Akibat tindakan itu, beliau bersama teman-temannya ditangkap dan dipenjara selama sekitar sembilan bulan, padahal saat itu mereka masih anak-anak. Menurut beliau, perjuangan rakyat Palestina diwariskan dari generasi ke generasi. Kakek mengajarkan sejarah Palestina kepada ayah mereka, lalu ayah mengajarkannya kepada anak-anak mereka. Karena itulah, perjuangan rakyat Palestina tidak akan pernah berhenti sampai Palestina benar-benar merdeka.
Abdulfattah Al-Sattiri juga menyinggung kondisi Gaza pasca 7 Oktober yang menurut beliau jauh lebih buruk daripada yang terlihat di televisi. Beliau menceritakan pengalamannya berbicara dengan keluarga yang masih berada di Gaza. Salah satu anggota keluarganya harus berjalan lebih dari dua atau tiga kilometer hanya untuk mendapatkan air, lalu mengantre bersama ribuan orang hingga malam hari demi mengisi satu galon untuk keluarganya. Dalam kondisi yang sangat sulit itu, beliau mengaku merasa terharu ketika keluarganya mengatakan bahwa mereka memperoleh bantuan beras dari Indonesia. Menurut beliau, dukungan dunia internasional membuat rakyat Palestina merasa tidak sendirian.
Beliau juga menyampaikan bahwa semakin banyak negara mulai mengakui Palestina karena dunia mulai menyadari besarnya kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Israel. Abdulfattah Al-Sattiri menegaskan bahwa tidak ada manusia yang dapat menerima pembunuhan terhadap anak-anak, perempuan, ibu hamil, dan ribuan keluarga Palestina yang dimusnahkan seluruh anggota keluarganya. Meski demikian, beliau menegaskan bahwa rakyat Palestina tetap memiliki keyakinan kuat untuk terus berjuang sampai Palestina merdeka. Dalam penutup pemaparannya, beliau kembali menegaskan keyakinan rakyat Palestina akan kebebasan tanah mereka dari sungai hingga Palestina merdeka.
Pada kesempatan yang sama, Staff Pimpinan Pusat Front Mahasiswa Nasional (FMN), Divar Akbar Erlangga, menyampaikan bahwa film tersebut menunjukkan hubungan Kuba dan Palestina sebagai hubungan antarbangsa tertindas yang tidak dapat dipisahkan. Menurut beliau, solidaritas kedua bangsa itu memperlihatkan bagaimana perjuangan melawan penjajahan selalu melahirkan perlawanan. Divar Akbar Erlangga mengatakan bahwa di mana pun ada bangsa yang tertindas, akan selalu lahir perlawanan-perlawanan baru.
Beliau juga menyoroti bagaimana rakyat Palestina yang tinggal di Kuba tetap berusaha menjaga hubungan dengan keluarga mereka di Gaza dan Tepi Barat. Menurut Divar Akbar Erlangga, hubungan itu bukan sekadar komunikasi keluarga, melainkan juga bentuk upaya untuk terus membantu perjuangan rakyat Palestina dari mana pun mereka berada. Beliau mengaku sangat terkesan dengan konsistensi dan militansi rakyat Palestina yang tetap bertahan dan melawan di tengah genosida dan pembantaian yang terus berlangsung.
Selain itu, Divar Akbar Erlangga menilai rakyat Palestina memberikan teladan penting tentang arti pendidikan dan keberlanjutan bangsa. Menurut beliau, di tengah situasi perang sekalipun, rakyat Palestina tetap memikirkan masa depan anak-anak mereka dan memastikan generasi mudanya memperoleh pendidikan terbaik. Beliau menyebut bahwa persentase pemuda Palestina yang menempuh pendidikan tinggi bahkan jauh lebih besar dibandingkan Indonesia. Karena itu, menurut beliau, Palestina dapat menjadi contoh bagi bangsa Indonesia tentang pentingnya pendidikan, solidaritas internasional, dan perjuangan kolektif demi menciptakan dunia yang lebih adil.
Di akhir pemaparannya, Divar Akbar Erlangga menyampaikan terima kasih kepada Duta Besar Kuba, Duta Besar Palestina, dan ICC Jakarta atas penyelenggaraan acara tersebut. Menurut beliau, film La raíz del olivo sangat menginspirasi, khususnya bagi kalangan pemuda dan mahasiswa Indonesia. Beliau menegaskan bahwa tugas generasi muda adalah menciptakan perubahan, memperjuangkan kemerdekaan bangsanya, dan membangun solidaritas bersama pemuda dari berbagai negara demi mencapai pembebasan yang sejati.

