Pada malam pertama Majelis Duka Imam Husain as di ICC Jakarta, Selasa, 16 Juni 2026, Ustaz Umar Shahab menyampaikan bahwa kehadiran para hadirin di majelis aza dan majelis duka mengenang syahadah Imam Husain as dan para syuhada Karbala patut disyukuri. Menurut beliau, peringatan Muharram dari malam pertama hingga malam ke-10, bahkan sebagian hingga malam ke-13, bukan sekadar tradisi yang hidup di kalangan pecinta dan pengikut Ahlul Bait as, melainkan juga madrasah untuk mengambil pelajaran dari nilai-nilai yang dicontohkan para syuhada Karbala, khususnya Abu Abdillah al-Husain asy-Syahid.
Ustaz Umar Shahab kemudian menjelaskan bahwa Al-Qur’an mengingatkan manusia agar mengambil ibrah atau pelajaran dari berbagai peristiwa yang terjadi di alam semesta dan dalam kehidupan umat manusia. Beliau menekankan bahwa Al-Qur’an tidak hanya menceritakan peristiwa-peristiwa besar sejak masa Nabi Adam as hingga masa Rasulullah saw, tetapi juga menegaskan bahwa kisah-kisah itu dimaksudkan sebagai pelajaran bagi orang-orang yang berakal. Dalam pandangannya, kata fa‘tabirū yā ulil albāb menjadi penegasan bahwa pengambilan pelajaran menuntut renungan, pemikiran, dan kajian. Karena itu, malam-malam Muharram seperti ini, menurut beliau, adalah saat yang tepat untuk merenungi peristiwa Karbala secara mendalam.
Beliau lalu mengutip sabda Rasulullah saw tentang Imam Husain as yang menyebut beliau sebagai misbah al-huda dan safinah an-najā. Menurut Ustaz Umar Shahab, dua ungkapan itu sudah cukup untuk menunjukkan betapa Imam Husain as adalah jalan kebenaran. Misbah al-huda berarti pelita hidayah, yakni cahaya yang menerangi jalan manusia dalam kegelapan kehidupan. Sementara safinah an-najā berarti bahtera keselamatan. Beliau menjelaskan bahwa sebagaimana cahaya menerangi ruangan di tengah malam, demikian pula Imam Husain as menerangi kehidupan manusia agar tidak tersesat. Di sisi lain, sebagaimana bahtera Nabi Nuh menyelamatkan orang-orang yang naik ke dalamnya, demikian pula Ahlul Bait as menjadi jalan keselamatan bagi siapa pun yang berpegang teguh kepada mereka.
Dalam penjelasannya, beliau menegaskan bahwa pengorbanan Imam Husain as di Karbala adalah pengorbanan yang luar biasa dan tidak sia-sia. Imam Husain as tidak hanya mengorbankan diri beliau, tetapi juga keluarga terbaik Rasulullah saw, para sahabat beliau, dan orang-orang saleh yang bergabung bersama beliau. Ustaz Umar Shahab menyampaikan bahwa seluruh penduduk langit dan bumi ikut bersedih atas tragedi itu, tetapi pengorbanan tersebut tidak boleh dipahami sebagai sekadar kisah pilu yang dikenang dengan dendam. Menurut beliau, peringatan Karbala bukan untuk membuka luka lama, melainkan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai kebenaran sebagaimana Al-Qur’an mengisahkan secara rinci berbagai peristiwa, seperti kisah Nabi Yusuf as, Habil dan Qabil, serta Qarun, agar umat manusia mengambil pelajaran darinya.
Beliau lalu mengingatkan bahwa agama Islam adalah agama yang dicintai dan dijaga, sehingga ketika agama ini terancam, setiap orang yang sadar berkewajiban membelanya, bahkan jika perlu berkorban demi kejayaan, eksistensi, dan kemurniannya. Untuk menjelaskan mengapa Imam Husain as harus berkorban sedemikian rupa, Ustaz Umar Shahab mengajak hadirin menengok latar sejarah sebelum Imam Husain as bergerak menentang Yazid. Menurut beliau, tidak lazim seseorang berperang atau memberontak sambil membawa bayi dan anak-anak kecil. Namun Imam Husain as justru membawa keluarga beliau, termasuk bayi Ali al-Asghar. Beliau menceritakan bagaimana Imam Husain as mengangkat bayi itu di tengah medan perang dan memohon kepada kaum yang hadir agar memberi setetes air kepada sang bayi yang kehausan, sementara sejak pagi rombongan Ahlul Bait as memang telah dicegah dari air oleh tentara Yazid. Akan tetapi, bukannya mendapat belas kasihan, bayi itu justru dipanah dan gugur sebagai syahid. Bagi Ustaz Umar Shahab, peristiwa itu menunjukkan bahwa Imam Husain as bukan datang untuk berperang demi kuasa, melainkan untuk menyuarakan kebenaran dan keadilan.
Dari sini beliau menegaskan bahwa peristiwa Karbala pada dasarnya adalah tragedi, bukan sekadar perang. Memang benar ada unsur pertempuran dan keberanian para syuhada Karbala, tetapi yang terjadi adalah pembantaian terhadap keluarga Rasulullah saw. Ustaz Umar Shahab kemudian menjelaskan bahwa keselamatan Imam Ali Zainal Abidin as dari pembantaian itu adalah bagian dari rencana Allah swt untuk melanjutkan garis imamah. Dalam pandangannya, Imam Zainal Abidin as yang sakit keras pada hari Asyura seharusnya juga gugur bila mengikuti logika situasi perang saat itu, tetapi Allah swt menghendaki beliau selamat. Ketika beliau hendak bangkit dari sakitnya untuk bergabung ke medan laga, Sayidah Zainab menahan beliau dan mengingatkan bahwa keluarga Rasulullah saw masih membutuhkan keberadaan beliau. Keselamatan Imam Zainal Abidin as, menurut beliau, merupakan rencana Ilahi agar garis imamah terus berlanjut hingga para Imam Dua Belas, dari Imam Ali bin Abi Thalib as sampai Imam Muhammad al-Mahdi ajjalallahu ta‘ala farajahusyarif.
Ustaz Umar Shahab juga menyinggung bahwa keberadaan Dua Belas Imam sudah dinyatakan oleh Rasulullah saw, tidak hanya dalam riwayat-riwayat Syiah, tetapi juga dalam sejumlah riwayat yang terdapat dalam kitab-kitab hadis Ahlusunah, termasuk Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim. Beliau menjelaskan bahwa nama-nama para Imam, dalam sebagian riwayat, bahkan telah disebutkan oleh Rasulullah saw sebelum kelahiran mereka. Ini menunjukkan bahwa semua itu adalah ketetapan Allah swt dan bagian dari rencana-Nya sejak awal, sebagaimana Nabi Muhammad saw juga telah ditetapkan sebagai khatam al-anbiya, nabi terakhir, bahkan sebelum Nabi Adam as diturunkan ke bumi.
Pada bagian akhir pemaparannya, beliau mengisahkan riwayat Nabi Adam as yang memohon ampun kepada Allah swt dalam waktu yang panjang sebelum akhirnya bertawasul kepada Nabi Muhammad saw dan Ahlul Bait as. Dalam riwayat yang beliau sampaikan, Nabi Adam as berdoa dengan menyebut nama Muhammad, Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain as, karena melihat nama-nama mereka tercantum di ‘Arasy Allah swt. Allah swt kemudian mengutus malaikat untuk memberitahukan bahwa doa itu diterima dan Nabi Adam as diampuni. Beliau juga menghubungkan kisah itu dengan jawaban Imam Ali Zainal Abidin as ketika ditanya siapa yang menang dalam tragedi Karbala. Menurut beliau, Imam Zainal Abidin as menjawab bahwa orang yang ingin mengetahui pemenang sejati harus menunggu azan berkumandang. Artinya, kemenangan sesungguhnya ada pada tetap terjaganya salat, puasa, dan ibadah kepada Allah swt berkat pengorbanan Imam Husain as. Ustaz Umar Shahab menutup dengan penegasan bahwa umat berhutang budi kepada pengorbanan Imam Husain as dan seluruh keluarga Rasulullah saw, sebab melalui mereka kaum Muslimin masih dapat salat, berpuasa, dan menyembah Allah swt dengan bebas.



