Skip to main content

Pada Sabtu, 20 Juni 2026, dalam Majelis Aza Ali Akbar di ICC Jakarta, Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan sambutan yang menekankan pentingnya sosok teladan dalam kehidupan manusia. Dalam penjelasannya, beliau mengatakan bahwa manusia membutuhkan teladan yang menjadi dasar bagi dirinya dalam menyusun seluruh kehidupan. Karena itu, beliau mengajukan pertanyaan mendasar tentang apakah ada sosok yang lebih baik dijadikan teladan daripada Ali Akbar as. Menurut beliau, Ali Akbar as adalah pribadi yang sangat agung, sedemikian tinggi kedudukannya sehingga apabila beliau tidak syahid, maka beliau layak menjadi seorang imam. Bagi beliau, Ali Akbar as merupakan manifestasi dari kenabian, karena akhlak, penampilan lahiriah, dan ucapan beliau sangat mirip dengan Rasulullah saw. Karena kemiripan itulah, ketika Imam Husain as merindukan Rasulullah saw, beliau memandang Ali Akbar as sebagai cerminan dari Nabi saw itu sendiri. Syaikh Mohammad Sharifani mewasiatkan kepada para pemuda agar menjadikan Ali Akbar as sebagai teladan, sebab beliau adalah gambaran Rasulullah saw dan merupakan contoh terbaik bagi generasi muda.

Beliau kemudian menjelaskan bahwa kematian adalah sesuatu yang secara umum ditakuti oleh semua orang, tetapi sikap Ali Akbar as terhadap kematian sangat berbeda. Ketika Imam Husain as berangkat menuju Karbala dan mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, Ali Akbar as bertanya kepada ayahnya mengapa ucapan itu disampaikan, padahal mereka berada di pihak kebenaran. Imam Husain as menjawab bahwa memang mereka berada di kubu kebenaran. Setelah itu, Imam Husain as bertanya kepada Ali Akbar as tentang pandangannya terhadap kematian, dan Ali Akbar as menjawab bahwa mereka tidak takut pada kematian. Dari sini, beliau menegaskan bahwa Ali Akbar as, meskipun usianya belum sampai 30 tahun, memiliki pengetahuan, pola pikir, dan karakter yang berbeda dari pemuda pada umumnya. Selain itu, beliau juga memiliki adab dan etika yang sangat tinggi, terlihat dari sikapnya pada hari Asyura ketika beliau ingin maju ke medan perang dan terlebih dahulu meminta izin kepada ayahnya.

Di akhir sambutannya, Syaikh Mohammad Sharifani menyinggung kesedihan Imam Husain as saat kehilangan Ali Akbar as. Beliau mengatakan bahwa duka itu begitu berat hingga Imam Husain as menyebut “anakku Ali” sampai tujuh kali. Beliau menutup sambutannya dengan doa agar Allah swt memberikan taufik kepada para pemuda yang hadir agar mampu meneladani perilaku Ali Akbar as dalam kehidupan sehari-hari.