Dalam Talkshow Ali Akbar Day di ICC Jakarta pada Sabtu, 20 Juni 2026, Muhammad Fajri menegaskan bahwa muqawamah bermuara pada pengetahuan dan kemampuan mengidentifikasi bentuk penjajahan yang sedang dihadapi umat. Menurutnya, kesalahan paling mendasar yang kerap terjadi adalah ketika orang hanya memahami penjajahan sebagai agresi militer, padahal penjajahan juga hadir dalam bentuk budaya, propaganda, dan penguasaan cara berpikir. Karena itu, ia menilai langkah pertama dalam muqawamah adalah mengenali lebih dahulu apa itu penjajahan, siapa yang menjajah, dan bagaimana penjajahan itu bekerja dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menjelaskan bahwa Karbala sendiri tidak dimulai semata-mata oleh penjajahan dalam bentuk perang bersenjata. Menurutnya, tragedi Karbala telah didahului oleh proses penjajahan yang lebih dalam, termasuk manipulasi sosial dan propaganda yang membuat masyarakat Kufah meninggalkan Imam Husain as dan Muslim bin Aqil. Dari sini, ia menegaskan bahwa jika umat salah mengidentifikasi bentuk penjajahan, maka langkah perlawanan yang diambil pun akan keliru. Ia mengaitkan hal itu dengan prinsip Imam Ali as bahwa awal agama adalah ma‘rifatullah, yakni pengenalan kepada Allah swt. Karena itu, menurutnya, pengenalan terhadap penjajahan juga harus dimulai dari pengetahuan yang benar agar perlawanan tidak berjalan tanpa arah.
Muhammad Fajri kemudian mengutip percakapan yang dinisbatkan kepada Imam Ali as ketika beliau ditanya apakah mengenal Tuhan melalui Rasulullah saw atau mengenal Rasulullah saw melalui Tuhan. Imam Ali as, menurutnya, menjawab bahwa beliau mengenal Tuhannya melalui Tuhannya sendiri, bukan melalui Rasulullah saw. Setelah itu datanglah Rasulullah saw menjelaskan apa yang dikehendaki Tuhannya. Bagi Muhammad Fajri, jawaban itu menunjukkan bahwa makrifat harus dibangun dengan kesadaran yang benar, bukan sekadar mengikuti tanpa pemahaman. Hal yang sama, katanya, harus diterapkan ketika membaca realitas penjajahan: seorang mukmin harus mengenali sumber masalah terlebih dahulu sebelum memutuskan langkah perjuangan.
Menurutnya, banyak orang kini terfokus pada Palestina dan Lebanon melalui media sosial, tetapi lupa bahwa penjajahan juga hadir di sekitar mereka sendiri. Muhammad Fajri mengingatkan sabda Rasulullah saw bahwa jihad yang paling besar adalah menyampaikan kalimat benar di hadapan pemimpin yang zalim. Namun, kata dia, tidak sedikit orang yang sangat vokal membela Palestina atau Lebanon, tetapi diam terhadap kezaliman di lingkungan terdekat mereka. Karena itu, ia menilai bahwa Islam harus direlevansikan dalam konteks lokal, bukan hanya dalam bentuk solidaritas jauh, melainkan juga keberanian mengidentifikasi ketidakadilan di rumah sendiri, di masyarakat sendiri, dan di ruang hidup sendiri.
Dalam penjelasannya, Muhammad Fajri menegaskan bahwa Islam adalah agama yang lintas wilayah. Ia mengutip sabda Rasulullah saw, Husain minni wa ana min Husain, dan menjelaskan bahwa Rasulullah saw adalah rahmat bagi seluruh alam, bukan untuk satu bangsa atau wilayah tertentu. Karena itu, nilai-nilai Karbala harus terus dihidupkan dalam kehidupan modern, termasuk melalui keberpihakan kepada yang tertindas di sekitar kita. Ia menceritakan pengalaman pribadinya ketika bertemu ibu-ibu penjual nasi uduk di sebuah daerah pegunungan. Menurutnya, orang-orang kecil seperti itu bekerja bukan untuk hidup berbulan-bulan ke depan, melainkan untuk hari itu dan sedikit modal untuk hari esok. Dari pengalaman itu, ia menegaskan bahwa umat kerap kurang memberi perhatian kepada saudara-saudara sendiri yang hidup dalam kesulitan, padahal perhatian kepada yang jauh dan yang dekat seharusnya berjalan bersama.
Muhammad Fajri juga menyoroti bahwa dalam kehidupan sosial, manusia tidak boleh menolak kebenaran hanya karena datang dari orang yang tidak disukai. Ia mengaitkannya dengan pesan Imam Mahdi as bahwa hikmah dapat ditemukan di mana saja, bahkan pada orang yang tidak disukai. Karena itu, jika ada orang yang tidak disukai tetapi menyampaikan kebenaran, maka kebenaran itu tetap harus diterima. Menurutnya, sikap tertutup terhadap kebenaran justru dapat membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk menjadi lebih baik.
Ia kemudian mengembangkan pembahasan tentang bentuk-bentuk penjajahan modern. Menurutnya, agresi militer hanyalah salah satu bentuk penjajahan, sedangkan bentuk yang lebih halus tetapi sangat berbahaya adalah penjajahan budaya dan propaganda. Ia menyebut bahwa budaya asing, pola pikir asing, dan nilai-nilai luar yang berusaha menggantikan nilai inti masyarakat dapat menjadi alat penjajahan. Dalam konteks itu, ia menyinggung fenomena gaya berpakaian dan budaya populer sebagai contoh penjajahan budaya. Menurutnya, penjajahan terjadi ketika sesuatu dari luar datang untuk menggantikan nilai yang sudah ada dalam masyarakat dengan sesuatu yang bertentangan dengannya.
Muhammad Fajri juga menyoroti reaksi emosional masyarakat terhadap figur-figur populer di media sosial. Ia membandingkan bagaimana sebagian orang begitu larut dalam duka atas kematian seorang artis, sementara mereka justru merasa aneh ketika umat menangisi kesyahidan Abu Abdillah al-Husain as. Menurutnya, hal itu menunjukkan perbedaan cara pandang yang sangat jauh antara budaya yang dibangun di atas nilai ilahi dan budaya yang dibangun di atas keinginan duniawi. Karena itu, ia mengingatkan bahwa Allah swt adalah Tuhan yang senantiasa membuka ruang komunikasi dengan hamba-Nya, dan seorang hamba yang mencintai Allah tidak akan pernah kehabisan ruang untuk berbicara dengan-Nya.
Ia kemudian menyinggung kisah Sayyid Hussein Maki dan penjelasan tentang anak yatim, lalu mengaitkannya dengan perasaan kosong yang kerap dirasakan manusia. Menurutnya, meskipun seseorang memiliki keluarga dan teman yang lengkap, ia tetap sering merasakan kekosongan batin. Dari sini, ia menegaskan bahwa manusia sejatinya selalu mencari sosok tumpuan, dan Ahlulbait as adalah jawaban atas pencarian itu. Ia mengutip penjelasan tentang kemuliaan Ahlulbait yang berasal dari kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah swt, dan menyebut bahwa para pengikut Ahlulbait juga merupakan bagian dari cahaya kemuliaan tersebut. Karena itu, menurutnya, kedekatan kepada Ahlulbait bukan semata-mata soal identitas, tetapi soal rasa keterhubungan dengan garis kenabian dan nilai-nilai keadilan.
Muhammad Fajri kemudian kembali menjelaskan bahwa perang yang sesungguhnya pada masa kini adalah perang propaganda. Ia menegaskan bahwa orang-orang Kufah pada masa Sayidina Muslim bin Aqil awalnya ramai menyambut, tetapi kemudian meninggalkannya karena tekanan opini dan propaganda. Menurutnya, hal yang sama terjadi pada zaman sekarang, ketika orang mudah menyatakan dukungan secara ramai-ramai, tetapi goyah ketika menghadapi tekanan sendiri. Karena itu, ia mengingatkan bahwa pedang yang dimaksud dalam perlawanan hari ini bukan lagi pedang fisik, melainkan telepon genggam, lisan, tulisan, dan keberanian untuk menyampaikan kebenaran di lingkungan masing-masing.
Ia juga menegaskan bahwa setiap orang memiliki medan perjuangan yang berbeda. Ada yang medan perjuangannya adalah media sosial, ada yang di rumah, ada yang dalam keluarga, dan ada yang di lingkungan pertemanan. Karena itu, muqawamah tidak boleh dipahami hanya sebagai aksi besar di ruang publik, melainkan juga sebagai upaya kecil namun konsisten untuk meluruskan kesalahpahaman, menegakkan nilai, dan menjaga nama baik Rasulullah saw serta Ahlulbait as. Muhammad Fajri mengutip pesan Imam Shadiq as dan menjelaskan bahwa seorang pengikut Ahlulbait harus menjadi penghias bagi mereka, bukan justru menjadi beban atau citra buruk bagi mereka. Menurutnya, penghias itu tidak harus selalu dalam bentuk besar; berkhidmat pada majelis, memberi tenaga, memberi uang, atau membantu menyebarkan nilai kebenaran juga termasuk bagian dari menghiasi Ahlulbait as.
Menutup pemaparannya, Muhammad Fajri mengingatkan bahwa kesadaran terhadap muqawamah harus disertai dengan keberanian mengidentifikasi bentuk penjajahan di sekitar kita. Ia menyinggung pula tragedi genosida Hazara di Afghanistan sebagai contoh bahwa banyak bentuk penindasan masih luput dari perhatian publik. Karena itu, ia mengajak jamaah untuk memperluas kepekaan, tidak hanya terhadap penderitaan yang viral di media sosial, tetapi juga terhadap penindasan yang berlangsung lama dan dekat dengan kehidupan umat. Menurutnya, jika umat mampu mengenali bentuk penjajahan dengan benar, maka mereka akan tahu langkah apa yang harus dilakukan dan di mana posisi mereka dalam perjuangan yang lebih besar demi kebenaran.



