Skip to main content

Talkshow Ali Akbar Day di ICC Jakarta pada Sabtu, 20 Juni 2026 menghadirkan Raihana Al-Hamid dengan pemaparan yang menyoroti makna penjajahan dari sudut yang lebih luas. Ia menjelaskan bahwa penjajahan bukan hanya soal perebutan wilayah, tanah, atau sumber daya alam, melainkan juga upaya pihak asing mengambil pola pikir, cara pandang, dan identitas masyarakat demi kepentingan mereka sendiri. Menurut ia, bentuk penjajahan seperti itu masih terus berlangsung hingga hari ini, karena pertarungan antara kebatilan dan al-haq tidak pernah berhenti sejak Nabi Adam as hingga hari kiamat.

Dalam penjelasannya, Raihana Al-Hamid menegaskan bahwa hal pertama yang perlu disadari umat adalah posisi mereka sendiri: apakah berada di jalur kebenaran atau justru, na‘udzubillah, berada di jalur kebatilan. Karena itu, ia menilai bahwa cara paling dasar untuk melawan penjajahan adalah mengenali musuh, memahami cara kerjanya, dan yang lebih penting lagi, mengenali diri sendiri. Ia mengingatkan bahwa pola penjajahan sesungguhnya berulang dari masa ke masa, hanya bentuk dan mediumnya yang berubah. Jika dahulu penjajahan terjadi secara langsung dalam bentuk penguasaan ekonomi, politik, budaya, moral, dan identitas, maka kini pengaruhnya menjadi jauh lebih luas karena didukung media sosial, sistem global, dan berbagai organisasi yang dibentuk untuk melemahkan umat.

Ia mencontohkan bagaimana pola penjajahan sudah tampak sejak masa Rasulullah saw dan Imam Ali as. Dalam Perang Siffin, misalnya, musuh mengangkat mushaf Al-Qur’an sebagai tipu daya, dan menurut ia, saat itu sebagian umat sudah terjajah secara cara berpikir sehingga mudah terpedaya oleh simbol lahiriah. Begitu pula dalam Perang Khandaq, ketika musuh hendak menghancurkan umat Islam, tidak banyak yang berani menghadapi Amr bin Abd Wudd; hanya Imam Ali as yang tampil karena ia tidak terjajah dalam moral, keberanian, maupun ketaatan kepada Rasulullah saw. Raihana Al-Hamid juga mengaitkan hal itu dengan peristiwa Asyura, ketika Imam Husain as tidak hanya menghadapi penjajahan dalam bentuk agresi militer, tetapi juga melalui nasihat, dialog, dan peneguhan kebenaran sebelum pertempuran benar-benar terjadi.

Menurut ia, perbedaan zaman dahulu dan sekarang terletak pada jangkauan pengaruhnya. Dulu, penjajahan lebih terbatas pada kawasan tertentu seperti wilayah Syam pada masa Bani Umayyah, sedangkan kini dampaknya bisa menjangkau satu dunia melalui media dan sistem informasi yang dibangun untuk melemahkan umat Islam. Karena itu, cara melawannya pun harus disesuaikan dengan kondisi zaman. Raihana Al-Hamid menekankan bahwa pengetahuan adalah senjata pertama dan paling dasar. Ia mengisahkan dialog Imam Husain as dan Ali Akbar dalam perjalanan menuju Karbala, ketika Ali Akbar tidak bertanya tentang keselamatan dirinya, melainkan memastikan apakah mereka berada di jalan kebenaran. Menurut ia, itu menunjukkan bahwa Ali Akbar telah memiliki ma‘rifah sebelum tiba di Karbala, sehingga ia tahu siapa dirinya, di mana kebenaran berada, dan apa yang harus dilakukan ketika saat perjuangan datang.

Dari kisah itu, Raihana Al-Hamid menegaskan bahwa pengetahuan adalah kebutuhan utama, terutama bagi anak-anak muda. Menurut ia, pengetahuan tidak harus terbatas pada ilmu agama. Seseorang yang menguasai bidang IT, berdagang, atau memiliki keahlian lain juga dapat berkontribusi dalam mukawamah atau perlawanan. Di media sosial, kata ia, setiap orang bisa mengambil bagian, baik dengan membuat konten, membagikan ulang informasi yang benar, memberi komentar yang meluruskan, maupun melaporkan akun-akun yang menyebarkan kebohongan. Ia juga menyerukan boikot terhadap produk-produk Zionis dan produk musuh umat, karena menurut ia, itu merupakan langkah kecil yang bisa dilakukan semua kalangan. Selain itu, ia menekankan pentingnya menjaga identitas Muslim, termasuk melalui pakaian dan sikap hidup, sebagai bagian dari perlawanan terhadap standardisasi yang dibuat musuh.

Menutup pemaparannya, Raihana Al-Hamid menegaskan bahwa Ali Akbar as tidak menjadi pahlawan hanya karena gugur di Karbala, tetapi karena ma‘rifah, pengetahuan, dan akhlaknya. Ia melihat bahwa pada titik paling sulit sekalipun, Ali Akbar sudah mengetahui apa yang harus dilakukan untuk membela agama dan imamnya tanpa keraguan. Dari situlah, menurut ia, generasi muda harus belajar bahwa perlawanan terhadap penjajahan dimulai dari kesadaran, pengetahuan, keberanian, dan keteguhan menjaga identitas.