Skip to main content

Kelas Tafsir Maudhu’i di Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta pada Kamis, 2 Juli 2026, kembali dilanjutkan oleh Syaikh Mohammad Sharifani dengan pembahasan mengenai konsep harapan dalam Al-Qur’an. Pada pertemuan kali ini, beliau melanjutkan pembahasan pada poin kedua, yaitu berbagai harapan yang muncul pada kehidupan akhirat sebagaimana digambarkan dalam ayat-ayat suci Al-Qur’an. Melalui penjelasan tersebut, beliau mengajak peserta memahami bahwa penyesalan yang muncul di akhirat tidak lagi membawa manfaat sehingga setiap amal saleh harus dipersiapkan sejak kehidupan di dunia.

Dalam penjelasannya, Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan bahwa terdapat dua bentuk harapan yang muncul di akhirat. Pertama adalah harapan untuk memperoleh syafaat dari Allah swt dan Rasulullah saw agar diselamatkan dari azab akibat dosa-dosa yang telah dilakukan. Kedua adalah harapan orang-orang kafir untuk dikembalikan ke dunia agar dapat memperbaiki kehidupan mereka.

Beliau kemudian membacakan firman Allah swt:

Hal yanẓurūna illā ta’wīlah, yauma ya’tī ta’wīluhū yaqūlullażīna nasūhu min qablu qad jā’at rusulu rabbinā bil-ḥaqqi fa hal lanā min syufa’ā’a fa yasyfa’ū lanā au nuraddu fana’mala gaira allażī kunnā na’mal, qad khasirū anfusahum wa ḍalla ‘anhum mā kānū yaftarūn.

“Tidakkah mereka hanya menunggu terlaksananya ancaman Al-Qur’an? Pada hari ketika ancaman itu benar-benar terjadi, orang-orang yang dahulu melupakannya berkata, ‘Sungguh, rasul-rasul Tuhan kami telah datang membawa kebenaran. Maka adakah pemberi syafaat bagi kami sehingga mereka dapat memberi syafaat kepada kami? Atau dapatkah kami dikembalikan ke dunia sehingga kami dapat beramal tidak seperti yang pernah kami kerjakan dahulu?’ Sungguh mereka telah merugikan diri sendiri dan lenyaplah dari mereka apa yang dahulu mereka ada-adakan.” (QS. Al-A’raf [7]: 53)

Menurut beliau, ayat tersebut menggambarkan penyesalan orang-orang yang dahulu mengingkari petunjuk Allah swt. Mereka berharap memperoleh syafaat dan memohon agar dikembalikan ke dunia untuk memperbaiki amal mereka. Namun, harapan itu tidak lagi dapat dikabulkan karena masa untuk beramal telah berakhir.

Syaikh Mohammad Sharifani kemudian menjelaskan harapan berikutnya, yaitu keinginan orang-orang kafir untuk menjadi muslim setelah menyaksikan kenyataan di akhirat.

Beliau membacakan firman Allah swt:

Rubamā yawaddu allażīna kafarū lau kānū muslimīn.

“Pada suatu saat orang-orang kafir akan berharap sekiranya dahulu mereka menjadi orang-orang muslim.” (QS. Al-Hijr [15]: 2)

Beliau menjelaskan bahwa harapan tersebut merupakan pengakuan bahwa Islam adalah agama yang benar. Akan tetapi, pengakuan itu muncul setelah kesempatan beriman telah berakhir sehingga tidak lagi memberikan manfaat bagi mereka.

Selanjutnya, beliau menerangkan harapan orang-orang kafir agar memiliki keimanan yang benar kepada Allah swt ketika mereka telah menyaksikan azab neraka.

Beliau membacakan firman Allah swt:

Wa lau tarā iż wuqifū ‘alan-nāri fa qālū yā laitanā nuraddu wa lā nukażżiba bi āyāti rabbinā wa nakūna minal-mu’minīn.

“Sekiranya engkau melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata, ‘Wahai, sekiranya kami dikembalikan ke dunia, niscaya kami tidak akan mendustakan ayat-ayat Tuhan kami dan tentu kami akan menjadi orang-orang yang beriman.’” (QS. Al-An’am [6]: 27)

Menurut beliau, ayat tersebut memperlihatkan tiga harapan besar orang-orang kafir, yaitu kembali ke dunia, tidak lagi mendustakan ayat-ayat Allah swt, dan menjadi bagian dari orang-orang yang benar-benar beriman.

Pembahasan berikutnya adalah harapan untuk dapat kembali melakukan amal saleh ketika seseorang menghadapi sakaratul maut. Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa saat kematian datang, orang-orang yang dahulu lalai akan memohon agar dikembalikan ke dunia untuk memperbaiki amal mereka.

Beliau kemudian membacakan firman Allah swt:

Ḥattā iżā jā’a aḥadahumul-mautu qāla rabbirji’ūn. La’allī a’malu ṣāliḥan fīmā tarakt. Kallā innahā kalimatun huwa qā’iluhā wa min warā’ihim barzakhun ilā yaumi yub’aṡūn.

“Sehingga apabila kematian datang kepada salah seorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Tuhanku, kembalikanlah aku ke dunia agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak! Sungguh itu hanyalah kata-kata yang diucapkannya saja. Di hadapan mereka ada alam barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun [23]: 99–100)

Beliau menegaskan bahwa Al-Qur’an memberikan jawaban yang tegas bahwa tidak ada seorang pun yang akan dikembalikan ke dunia setelah kematian. Karena itu, kesempatan memperbanyak amal saleh hanya ada selama manusia masih hidup.

Syaikh Mohammad Sharifani juga menjelaskan bahwa orang-orang yang menyaksikan azab di akhirat berharap dapat kembali ke dunia agar menjadi bagian dari orang-orang yang berbuat ihsan.

Beliau membacakan firman Allah swt:

Au taqūla ḥīna taral-‘ażāba lau anna lī karratan fa akūna minal-muḥsinīn.

“Atau agar dia tidak mengatakan ketika melihat azab, ‘Sekiranya aku dapat kembali sekali lagi ke dunia, niscaya aku termasuk orang-orang yang berbuat baik.’” (QS. Az-Zumar [39]: 58)

Menurut beliau, harapan tersebut kembali menunjukkan bahwa seluruh kesempatan untuk memperbaiki amal hanya tersedia di kehidupan dunia.

Pembahasan kemudian berlanjut pada keutamaan sedekah. Beliau menjelaskan bahwa salah satu penyesalan terbesar manusia ketika ajal tiba adalah belum memperbanyak sedekah.

Syaikh Mohammad Sharifani membacakan firman Allah swt:

Wa anfiqū mimmā razaqnākum min qabli ay ya’tiya aḥadakumul-mautu fa yaqūla rabbi lau lā akhkhartanī ilā ajalin qarīb fa aṣṣaddaqa wa akun minaṣ-ṣāliḥīn.

“Infakkanlah sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, lalu dia berkata, ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda kematianku sedikit waktu lagi, niscaya aku akan bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.’” (QS. Al-Munafiqun [63]: 10)

Beliau menekankan bahwa ayat tersebut menunjukkan betapa agung kedudukan sedekah. Bahkan ketika seseorang telah berada di ambang kematian, salah satu amal yang paling ingin ia lakukan adalah bersedekah. Oleh karena itu, umat Islam hendaknya memanfaatkan kesempatan hidup untuk memperbanyak infak dan sedekah.

Pada kesempatan tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani juga mengingatkan pentingnya memilih teman yang saleh. Beliau menjelaskan bahwa di akhirat nanti ada orang-orang yang menyesali persahabatan mereka karena teman yang buruk telah menjerumuskan mereka kepada kesesatan.

Beliau membacakan firman Allah swt:

Yā wailatā laitani lam attakhiż fulānan khalīlā.

“Celakalah aku, sekiranya dahulu aku tidak menjadikan si fulan itu sebagai teman akrabku.” (QS. Al-Furqan [25]: 28)

Beliau menjelaskan bahwa penyesalan tersebut menjadi pelajaran agar setiap muslim berhati-hati dalam memilih lingkungan pergaulan, karena teman memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan dan keselamatan seseorang di akhirat.

Selanjutnya, beliau menerangkan bahwa ketika orang-orang kafir menyaksikan dahsyatnya hari pembalasan dan seluruh amal mereka diperlihatkan, mereka berharap seandainya dahulu menjadi tanah sehingga tidak perlu menghadapi hisab dan azab.

Beliau kemudian membacakan firman Allah swt:

Wa yaqūlul-kāfiru yā laitanī kuntu turābā.

“Dan orang kafir berkata, ‘Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku menjadi tanah.’” (QS. An-Naba’ [78]: 40)

Menurut beliau, harapan tersebut menunjukkan besarnya penyesalan orang-orang yang mengingkari Allah swt setelah menyaksikan kenyataan hari kiamat.

Syaikh Mohammad Sharifani juga menjelaskan bahwa penghuni neraka berharap dapat keluar dari azab yang mereka rasakan. Mereka memohon agar diberi kesempatan kembali ke dunia atau memperoleh jalan keluar dari siksa yang sedang mereka hadapi. Namun, seluruh permohonan tersebut tidak lagi dapat dikabulkan karena masa ujian telah berakhir.

Pada bagian akhir kajian, beliau menjelaskan bahwa besarnya azab di akhirat membuat orang-orang kafir rela menukar anak-anak yang paling mereka cintai agar dapat terbebas dari neraka. Harapan itu menunjukkan bahwa seluruh kenikmatan dunia dan kecintaan kepada keluarga tidak lagi mampu menyelamatkan seseorang apabila ia datang menghadap Allah swt tanpa keimanan dan amal saleh. Oleh karena itu, beliau mengajak seluruh peserta memanfaatkan kesempatan hidup yang masih diberikan Allah swt dengan memperbanyak iman, amal saleh, sedekah, serta memilih lingkungan pergaulan yang baik sebelum datang hari ketika penyesalan tidak lagi bermanfaat.