Skip to main content

Khutbah Jumat di Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta pada Jumat, 3 Juli 2026, disampaikan oleh Syaikh Mohammad Sharifani dengan mengangkat tema tentang cara menjauhkan diri dari dosa berdasarkan hadis Rasulullah saw. Mengawali khutbahnya, Syaikh Mohammad Sharifani mengingatkan bahwa pada pertemuan sebelumnya telah dibahas berbagai jenis dosa beserta dampaknya terhadap kehidupan manusia. Pada kesempatan kali ini, beliau melanjutkan pembahasan dengan menjelaskan bagaimana seseorang dapat menjauhkan diri dari dosa. Menurut beliau, Rasulullah saw menyebutkan bahwa sebaik-baik umat memiliki lima sifat utama yang apabila diamalkan akan menjadi benteng bagi seseorang dari berbagai bentuk kemaksiatan.

Sifat pertama yang dijelaskan adalah mencintai dan bergembira dalam melakukan amal saleh. Menurut beliau, orang yang berbahagia ketika mengerjakan ibadah seperti salat, puasa, dan berbagai ketaatan lainnya akan lebih mudah menjaga dirinya dari dosa. Sebaliknya, apabila seseorang merasa berat menjalankan ibadah, seperti enggan melaksanakan salat ketika azan berkumandang atau merasa terbebani menjalankan puasa Ramadan, keadaan tersebut dapat menjadi pintu awal yang memudahkan seseorang terjerumus ke dalam dosa.

Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa orang-orang yang mencintai ibadah akan menyambut datangnya bulan Ramadan dengan penuh kebahagiaan serta bersegera memenuhi panggilan salat. Beliau mencontohkan teladan Amirul Mukminin Imam Ali as yang mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya sebelum waktu salat tiba. Bagi Imam Ali as, salat merupakan amanah yang harus ditunaikan dengan penuh kecintaan dan penghormatan kepada Allah swt.

Sifat kedua yang menjadi benteng dari dosa adalah kesabaran. Beliau menjelaskan bahwa kehidupan manusia tidak pernah lepas dari berbagai ujian, seperti kemiskinan, penyakit, perselisihan, maupun perbedaan pendapat dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam kondisi seperti itu, sebagian orang mudah kehilangan kendali hingga mengucapkan perkataan yang kasar atau melakukan tindakan yang memperbesar konflik.

Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, Rasulullah saw mengajarkan bahwa kesabaran akan melatih seseorang mengendalikan emosi. Orang yang terbiasa bersabar ketika menghadapi kesulitan akan lebih mudah mengendalikan dirinya ketika berhadapan dengan godaan untuk berbuat dosa. Dengan demikian, kemampuan mengendalikan diri dalam menghadapi musibah juga akan memperkuat kemampuan menghindari berbagai bentuk kemaksiatan.

Sifat ketiga adalah bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah swt. Beliau menjelaskan bahwa banyak manusia yang masih merasa kurang meskipun telah memperoleh berbagai nikmat berupa kesehatan, keselamatan, rezeki, maupun kasih sayang keluarga. Tidak sedikit orang yang terus-menerus mengeluh karena merasa penghasilannya kurang atau menganggap nikmat yang telah diterimanya belum mencukupi.

Beliau menegaskan bahwa rasa syukur merupakan pelindung dari dosa. Seseorang yang mampu menerima dan mensyukuri nikmat Allah swt, meskipun menurut ukuran manusia jumlahnya sedikit, akan terhindar dari sifat tamak, keluh kesah, dan berbagai perilaku yang dapat menyeretnya kepada perbuatan yang dilarang.

Sifat keempat adalah berhusnuzan kepada Allah swt. Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa berbagai tekanan hidup sering kali membuat seseorang berprasangka buruk kepada Allah swt. Sebagian orang mempertanyakan mengapa dirinya diberi kemiskinan, penyakit, atau berbagai kesulitan hidup, bahkan ada yang sampai menyalahkan ketentuan Allah swt.

Beliau mengingatkan bahwa seorang mukmin harus selalu berprasangka baik kepada Allah swt. Musibah yang diberikan Allah swt hendaknya dipahami sebagai bentuk kasih sayang dan sarana penghapus dosa. Menurut beliau, apabila seseorang membiasakan diri memandang setiap ujian dengan husnuzan kepada Allah swt, perlahan-lahan ia akan semakin mampu menjauhkan dirinya dari berbagai bentuk dosa.

Sifat kelima adalah membiasakan istigfar dan bertobat. Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa setan senantiasa berusaha menyesatkan manusia dan menjadikan mereka terbiasa melakukan perbuatan buruk. Oleh karena itu, salah satu cara membersihkan hati adalah memperbanyak istigfar.

Beliau mengajak seluruh jemaah membiasakan membaca kalimat Astagfirullāha wa atūbu ilaih serta membawa tasbih agar lisan senantiasa dipenuhi dengan zikir dan permohonan ampun kepada Allah swt. Menurut beliau, kebiasaan beristigfar akan membersihkan hati, menghapus dosa, dan membantu seseorang untuk tidak kembali mengulang kesalahan yang sama.

Menutup khutbah pertama, Syaikh Mohammad Sharifani kembali merangkum lima sifat yang dapat menjauhkan manusia dari dosa, yaitu mencintai ibadah dan bergembira dalam melaksanakannya, bersabar menghadapi berbagai ujian kehidupan, bersyukur atas seluruh nikmat Allah swt, berhusnuzan kepada Allah swt dalam setiap keadaan, serta membiasakan diri beristigfar dan bertobat.

Pada khutbah kedua, Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan bahwa dalam beberapa waktu ke depan umat Islam akan menyaksikan prosesi pemakaman Ayatullah Sayyid Ali Khamenei yang telah mengorbankan jiwa, keluarga, dan kehidupannya demi membela Islam. Beliau mengumumkan bahwa ICC Jakarta juga akan mengadakan peringatan pada malam penguburan beliau yang diisi dengan pembacaan tahlil serta pelaksanaan salat lailat ad-dafn atau salat wahsyah sebagai bentuk penghormatan kepada beliau.

Beliau mengajak seluruh jemaah, khususnya para pecinta ahlul bait as, untuk menghadiri kegiatan tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. Menurut beliau, menghadiri majelis tersebut merupakan wujud kecintaan sekaligus penghormatan kepada beliau.

Syaikh Mohammad Sharifani juga mengingatkan pentingnya mengikuti perkembangan dunia Islam. Beliau menyampaikan bahwa puluhan juta orang diperkirakan akan menghadiri prosesi penghormatan dan pemakaman Ayatullah Sayyid Ali Khamenei di berbagai kota, seperti Najaf, Teheran, dan Karbala. Menurut beliau, besarnya jumlah masyarakat yang hadir menunjukkan bahwa syiar Islam tetap hidup dan semakin kuat.

Beliau kemudian mengutip ucapan Sayidah Zainab as di hadapan Yazid bahwa berbagai upaya untuk memadamkan cahaya ahlul bait as tidak akan pernah berhasil. Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa hingga hari ini berbagai bentuk kezaliman justru semakin memperlihatkan kemuliaan para pejuang di jalan Allah swt. Semakin besar tekanan yang diberikan kepada mereka, semakin luas pula pengaruh dan keteladanan yang mereka tinggalkan bagi umat manusia.

Beliau juga mengingatkan jemaah agar berhati-hati terhadap berbagai informasi yang beredar di media sosial, termasuk pertanyaan mengenai alasan jenazah Ayatullah Sayyid Ali Khamenei baru dimakamkan setelah beberapa waktu. Menurut beliau, persoalan tersebut merupakan bagian dari hukum fikih yang menjadi kewenangan para marja dan ulama yang memiliki keahlian dalam memahami hukum Islam, bukan ranah yang diputuskan berdasarkan opini masyarakat umum.

Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa dalam fikih terdapat keadaan ketika beberapa kewajiban harus dipertimbangkan secara bersamaan. Di satu sisi, mempercepat pemakaman jenazah merupakan kewajiban. Namun di sisi lain, menjaga keamanan masyarakat dan menjaga syiar Islam melalui prosesi pemakaman yang dapat dihadiri secara luas juga merupakan kewajiban yang harus dipertimbangkan.

Beliau menegaskan bahwa penentuan waktu pemakaman dilakukan setelah mempertimbangkan seluruh aspek tersebut. Oleh karena itu, keputusan para marja harus dihormati karena mereka memiliki kewenangan untuk menentukan hukum berdasarkan pertimbangan syariat dan kemaslahatan umat.

Pada akhir khutbahnya, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa dalam ajaran Islam terdapat kaidah mendahulukan perkara yang lebih penting daripada perkara yang penting. Menurut beliau, meskipun mempercepat pemakaman jenazah merupakan kewajiban, menjaga syiar Islam melalui prosesi pemakaman yang dapat disaksikan dan diikuti oleh jutaan kaum muslimin memiliki maslahat yang lebih besar. Karena itu, keputusan yang diambil telah mempertimbangkan keamanan masyarakat sekaligus kemuliaan syiar Islam. Beliau pun mengajak seluruh jemaah agar tidak mudah terpengaruh oleh berbagai propaganda dan keraguan yang disebarkan melalui media sosial serta senantiasa merujuk persoalan agama kepada para ulama yang memiliki otoritas keilmuan.