Skip to main content

Dalam acara peringatan syahadah Rasulullah saw, Imam Hasan as, dan Imam Ridha as yang diselenggarakan ICC Jakarta pada Kamis, 13 Agustus 2026, Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi menyampaikan pentingnya memperkuat kedekatan kepada Allah swt, kecintaan kepada Rasulullah saw dan para imam maksum, serta keimanan dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Dalam kesempatan tersebut, beliau juga berbicara mengenai berbagai perkembangan yang terjadi di Iran, persoalan perang dan perundingan, serta pentingnya menentukan sikap ketika berhadapan dengan pertentangan antara kebenaran dan kebatilan.

Mengawali penjelasannya, Mohammad Boroujerdi menyampaikan bahwa hari-hari peringatan syahadah Rasulullah saw, Imam Hasan as, dan Imam Ridha as merupakan hari-hari yang penuh dengan nuansa spiritualitas. Hari-hari tersebut menjadi momentum bagi kaum muslimin untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah swt, menghiasi hati dan jiwa dengan kecintaan kepada-Nya, memperkuat keimanan, serta mempertajam risalah yang diemban bersama, yaitu mencintai Rasulullah saw dan para imam maksum.

Rasulullah saw diutus oleh Allah swt dengan sebuah risalah untuk mencetak manusia-manusia yang baik dan menjadi lebih baik. Rasulullah saw sendiri telah menjelaskan salah satu tujuan pengutusan beliau melalui hadis yang sangat terkenal, bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.

Para imam maksum kemudian dipilih untuk melanjutkan tongkat estafet dalam menyampaikan risalah Rasulullah saw kepada umat. Mereka menyampaikan hukum-hukum Allah swt agar umat dapat terbentuk menjadi umat yang lebih baik dan manusia-manusia yang lebih baik. Sebab, apabila manusia telah menjadi baik, ia akan mampu memanfaatkan hukum-hukum yang telah Allah swt turunkan. Sebaliknya, apabila seseorang tidak mampu memperbaiki dirinya, ia tidak akan dapat memanfaatkan hukum dan ajaran yang telah diturunkan Allah swt kepadanya.

Setelah menyampaikan pengantar tersebut, Mohammad Boroujerdi mengatakan bahwa dalam kapasitasnya sebagai Duta Besar Republik Islam Iran, beliau akan berbicara mengenai berbagai peristiwa dan transformasi yang terjadi di Iran, termasuk persoalan perang dan hal-hal yang berkaitan dengannya.

Beliau kemudian menyinggung prosesi pengiringan jenazah Imam Syahid Sayid Ali Khamenei yang, menurut penuturannya, menjadi salah satu peristiwa besar yang terjadi sekitar 40 hari sebelumnya. Prosesi tersebut diikuti oleh jumlah manusia yang sangat besar. Perkiraan yang disampaikan mencapai lebih dari 40 juta orang, sementara media-media pihak lawan juga mengakui jumlah kehadiran yang mencapai lebih dari 30 juta orang.

Jumlah tersebut bukan hanya berasal dari Iran. Ketika jenazah beliau dibawa ke Irak, jutaan orang juga turut mengiringi di Kota Najaf dan Karbala. Mohammad Boroujerdi mengatakan bahwa pihaknya bahkan menerima permintaan dari sejumlah negara tetangga, termasuk Pakistan dan Afghanistan, agar prosesi pengiringan jenazah juga dapat dilakukan di negara-negara tersebut.

Namun, permintaan tersebut tidak dapat seluruhnya dipenuhi karena keterbatasan kemampuan untuk menerima masyarakat dari berbagai negara. Hal serupa juga terjadi terhadap masyarakat Indonesia. Banyak pecinta Iran di Indonesia yang berharap dapat hadir dalam prosesi pengiringan jenazah dan pemakaman Imam Syahid Sayid Ali Khamenei, tetapi kapasitas untuk menerima para tamu dari luar negeri terbatas sehingga tidak semua orang dapat melakukan perjalanan dan mengikuti prosesi tersebut.

Selanjutnya, Mohammad Boroujerdi berbicara mengenai pembicaraan dan perundingan tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat. Iran bersedia duduk dan melakukan perundingan bukan karena ingin menyerah, melainkan untuk menghindari pertumpahan darah yang lebih besar dan mencegah semakin banyaknya nyawa orang-orang yang tidak terlibat langsung dalam konflik menjadi korban.

Perundingan juga berkaitan dengan upaya mengurangi ketegangan sekaligus memikirkan masa depan, termasuk membenahi dan melakukan rekonstruksi terhadap negara yang telah mengalami kehancuran akibat mesin-mesin perang pihak lawan.

Namun, sikap Iran tetap tegas terhadap berbagai tindakan yang telah dilakukan terhadap negaranya. Pembunuhan terhadap rakyat sipil yang tidak berdosa, pembunuhan terhadap perwira dan pejabat tinggi Iran, terlebih lagi pembunuhan terhadap pemimpin Iran, merupakan dosa yang tidak dapat diampuni. Pihak lawan, lanjut beliau, mengetahui bahwa mereka harus mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukan.

Dalam konteks tersebut, Mohammad Boroujerdi mengutip firman Allah swt:

Fantaqamnā minalladzīna ajramū wa kāna ḥaqqan ‘alainā naṣrul-mu’minīn.

“Kemudian Kami menghukum orang-orang yang berdosa. Merupakan kewajiban Kami untuk menolong orang-orang mukmin.” (QS. Ar-Rum [30]: 47)

Beliau menjelaskan bahwa pertolongan kepada kaum mukminin merupakan janji Allah swt. Ketika menelaah kata intiqām atau pembalasan dalam Al-Qur’an, setiap kali pembalasan tersebut dinisbatkan kepada Allah swt, Allah sendiri yang akan melaksanakannya.

Manusia mungkin memiliki keinginan untuk melakukan pembalasan, tetapi sering kali tidak mampu melakukannya atau memilih untuk tidak melakukannya karena berbagai pertimbangan. Namun, ketika Allah swt menyatakan bahwa Dia sendiri yang akan melakukan pembalasan, pembalasan tersebut pasti terjadi. Karena itu, tuntutan balas yang hakiki berada di tangan Allah swt.

Mohammad Boroujerdi kemudian menceritakan bahwa sebagai Duta Besar Republik Islam Iran di Indonesia, beliau sering mendapatkan pertanyaan dari pejabat, masyarakat, maupun wartawan Indonesia mengenai keyakinan Iran bahwa negaranya akan memenangkan peperangan. Mereka bertanya apa yang menjadi sandaran Iran sehingga begitu yakin akan memperoleh kemenangan dan mampu melakukan pembalasan. Ada pula yang mempertanyakan apakah Iran mengandalkan sekutu-sekutunya, seperti Rusia.

Beliau menjawab bahwa hal tersebut justru menjadi poin yang paling penting. Apabila Iran hanya mengandalkan manusia, pihak-pihak tertentu, atau negara-negara yang memiliki hubungan baik dengannya, tidak ada jaminan bahwa kemenangan akan diperoleh. Tidak ada pula jaminan bahwa pembalasan dapat dilakukan.

Namun, keadaan menjadi berbeda ketika sandaran itu adalah Allah swt. Apabila Iran menyandarkan dirinya kepada Allah swt, janji Allah pasti terlaksana dan kemenangan pasti akan diperoleh.

Karena itu, beliau mengingatkan kaum muslimin dan kaum mukminin agar memahami dengan benar bahwa bersandar kepada suatu negara, senjata, drone, rudal, atau kekuatan material apa pun tidak dengan sendirinya memberikan jaminan kemenangan. Yang memberikan kemenangan adalah Allah swt.

Beliau kemudian mengutip firman Allah swt:

Wa may yatawakkal ‘alallāhi fa huwa ḥasbuh.

“Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Dia akan mencukupkannya.” (QS. At-Talaq [65]: 3)

Mohammad Boroujerdi menjelaskan bahwa ketika manusia membutuhkan dukungan dan menghadapi musuh, ia memang membutuhkan rakyat yang siap membela negaranya. Namun, yang menggerakkan hati manusia pada hakikatnya adalah Allah swt. Beliau mengaitkan hal tersebut dengan besarnya jumlah masyarakat yang hadir dalam prosesi pemakaman yang telah disampaikan sebelumnya.

Apabila sebuah bangsa membutuhkan dukungan, belasungkawa, dan rasa kebersamaan dalam menghadapi sebuah musibah, Allah swt dapat menggerakkan hati bangsa-bangsa dan negara-negara lain untuk menyampaikan belasungkawa serta berbagi rasa.

Demikian pula ketika suatu pihak membutuhkan media untuk menyampaikan pesannya, Allah swt yang menggerakkan segala sesuatu. Bahkan, apabila Allah swt menghendaki, roket dan peluru kendali yang memiliki harga jauh lebih rendah dapat mengalahkan roket dan rudal milik negara-negara yang memiliki kemampuan militer lebih besar. Semua itu terjadi atas kehendak Allah swt.

Karena itu, Mohammad Boroujerdi mengajak jemaah memperkuat iman dan kepercayaan kepada Allah swt. Tidak ada sesuatu pun yang dapat memberikan pengaruh secara mutlak di jagat raya ini selain Allah swt. Tidak ada kekuatan yang dapat memberikan jaminan kemenangan kecuali Allah swt.

Apabila Allah swt berkehendak, prajurit yang secara lahiriah terlihat sederhana dan tidak memiliki kemampuan seperti tentara profesional dapat mengalahkan pasukan yang profesional. Jika Allah swt menghendaki, Dia juga dapat menggerakkan hati bangsa-bangsa dan negara-negara lain untuk memberikan pertolongan ketika pertolongan tersebut dibutuhkan.

Dari sini, Mohammad Boroujerdi menekankan bahwa keimanan harus disertai dengan pemutusan ketergantungan kepada selain Allah swt. Ketika seseorang terlibat dalam peperangan yang dimaksudkan untuk membela Allah swt, agama Allah swt, dan ajaran-Nya, ia harus meyakini bahwa Allah swt akan membukakan jalan dan memberikan kemenangan.

Beliau kemudian mengajukan pertanyaan mengenai apa yang harus dilakukan ketika Allah swt telah memberikan kemenangan. Tugas manusia, jawabnya, adalah memupuk kekuatan tersebut, terutama kekuatan iman. Kekuatan lahiriah yang dimiliki manusia harus berjalan bersama dengan peningkatan kekuatan keimanan. Ketika seseorang memiliki kekuatan iman yang kuat, Allah swt akan membantunya dalam berbagai hal.

Memasuki bagian berikutnya, Mohammad Boroujerdi mengatakan bahwa ketika terjadi konfrontasi, tugas kaum muslimin adalah menentukan posisi dan sikap. Sejak zaman Rasulullah saw hingga hari ini, dalam sejarah umat Islam terdapat jenis peperangan yang berbeda. Ada peperangan yang muncul dalam kondisi fitnah, ketika batas antara hak dan batil tidak mudah dibedakan. Ada pula peperangan seperti yang dialami Rasulullah saw, ketika pihak yang berhadapan dengan beliau secara jelas merupakan pihak yang menentang risalah.

Beliau memberikan contoh Perang Siffin dan Perang Nahrawan pada masa Amirul Mukminin Imam Ali as. Dalam situasi seperti itu, seseorang dapat mengalami kebingungan karena kedua pihak yang berhadapan secara lahiriah sama-sama merupakan kelompok Muslim. Demikian pula ketika melihat tragedi Karbala, seseorang yang tidak memahami persoalan secara mendalam mungkin bertanya bagaimana harus memilih ketika kedua pihak sama-sama mengaku sebagai Muslim.

Kondisi semacam itulah yang disebut sebagai fitnah, ketika hak dan batil tidak mudah dijelaskan kepada masyarakat sehingga seseorang dapat memilih untuk tidak memihak.

Namun, Mohammad Boroujerdi membedakannya dengan peperangan yang dialami Rasulullah saw. Pihak-pihak yang berperang melawan Rasulullah saw secara jelas merupakan pihak yang menentang risalah beliau. Karena itu, dalam kondisi tersebut tidak terdapat persoalan fitnah dalam menentukan pihak yang benar dan pihak yang batil.

Beliau kemudian mengaitkan pembahasan tersebut dengan situasi yang terjadi saat ini, khususnya konflik yang melibatkan Iran dan Palestina di satu sisi serta Israel, Amerika Serikat, dan sebagian negara Eropa di sisi lain. Dalam kondisi tersebut, batas antara hak dan batil, menurut beliau, telah jelas.

Bahkan pihak-pihak yang tidak berada dalam kelompok yang beliau dukung telah mengakui adanya genosida terhadap rakyat Palestina serta berbagai kejahatan yang dilakukan oleh Israel dan Amerika Serikat. Berbagai tindakan tersebut telah diakui sebagai kejahatan perang dan kejahatan internasional terhadap umat manusia berdasarkan tolok ukur yang juga diakui oleh pihak-pihak yang menjadi lawan.

Karena itu, Mohammad Boroujerdi menegaskan bahwa persoalan yang dihadapi saat ini bukan lagi persoalan fitnah. Orang yang berada di pihak Palestina dan Iran mengetahui bahwa mereka berada di pihak yang benar, sedangkan orang yang berada di pihak Amerika Serikat dan Israel mengetahui bahwa mereka berada di pihak yang batil, tetapi tetap memilih untuk bersama dengan kebatilan.

Ketika manusia telah mengetahui mana yang hak dan mana yang batil, tidak seharusnya lagi terdapat keraguan dalam menentukan sikap. Ketika seseorang memilih berada di pihak yang benar, ia harus yakin bahwa Allah swt akan memberikan pertolongan dan bersama dengan orang-orang yang berada di jalan kebenaran.

Mohammad Boroujerdi kemudian menyinggung slogan mengenai kemanusiaan dan hak asasi manusia yang sering dikemukakan oleh pihak-pihak yang menjadi lawan Iran. Slogan-slogan tersebut, kata beliau, kini telah menjadi bahan lelucon karena pihak-pihak yang menyuarakannya justru telah melanggar prinsip-prinsip yang mereka sendiri kemukakan.

Berbagai slogan yang terdengar indah telah mereka langgar sendiri, sementara masyarakat dunia menyaksikan apa yang terjadi. Organisasi dan lembaga internasional juga menyaksikan berbagai kejahatan tersebut, tetapi lembaga-lembaga itu justru sibuk mencari pembenaran terhadap tindakan yang dilakukan oleh pihak yang beliau sebut sebagai kubu arogansi dunia, yaitu Amerika Serikat dan Israel.

Salah satu lembaga yang beliau soroti adalah Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Lembaga yang dibentuk untuk menjaga keamanan dan mewujudkan keamanan dunia tersebut, lanjut beliau, tidak mampu mencegah agresi dan serangan terhadap Iran, tidak mampu mengakhiri peperangan, bahkan tidak mampu mengeluarkan pernyataan yang mengecam tindakan Amerika Serikat.

Beliau kemudian menyampaikan bahwa pada 28 Februari, Amerika Serikat menyerang Iran dalam peperangan yang, menurut penuturannya, menyebabkan Sayid Ali Khamenei, yang disebutnya sebagai pemimpin besar Revolusi Islam, gugur sebagai syahid. Iran telah mengajukan pengaduan kepada Dewan Keamanan PBB berdasarkan Piagam PBB, tetapi tidak memperoleh respons.

Mohammad Boroujerdi juga menyebut bahwa Iran menggunakan Pasal 51 Piagam PBB untuk mengajukan hak melakukan pembelaan diri terhadap agresi yang dilakukan pihak lain. Namun, Dewan Keamanan PBB tidak mengeluarkan resolusi terkait persoalan tersebut. Beliau menyebut satu resolusi yang dikeluarkan pada 11 Maret 2026 justru mengecam Iran, sementara pembunuhan terhadap pemimpin Revolusi Islam tidak dikecam.

Beliau kemudian menegaskan bahwa Imam Syahid Sayid Ali Khamenei bukan hanya pemimpin negara, tetapi juga pemimpin agama. Karena itu, pembunuhan terhadap seorang pemimpin agama semestinya mendapatkan kecaman. Beliau juga menyinggung serangan terhadap sebuah sekolah yang, menurut penuturannya, menyebabkan 168 anak-anak gugur, serta pembunuhan terhadap perwira-perwira Iran ketika mereka berada di rumah bersama keluarga dan tidak mengenakan pakaian militer.

Mohammad Boroujerdi menjelaskan bahwa apabila seorang komandan militer berada di medan perang dan mengenakan pakaian militer, kematiannya dalam peperangan merupakan sesuatu yang dapat terjadi dalam sebuah konflik bersenjata. Namun, apabila seseorang berada di rumah, mengenakan pakaian biasa, bersama keluarganya, dan tidak berada di medan pertempuran kemudian dibunuh, pada saat itu ia tergolong sebagai warga sipil.

Beliau juga menyinggung serangan terhadap kapal Dena yang menurut penuturannya membawa puluhan anak muda yang sedang melakukan kerja sama dengan India. Kapal tersebut menjadi sasaran peluru kendali Amerika Serikat ketika dalam perjalanan pulang. Mohammad Boroujerdi juga menyebut pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai serangan tersebut yang, dalam penuturannya, dikaitkan dengan hiburan, sementara akibat serangan itu terdapat anak-anak muda yang tidak bersenjata yang gugur.

Selain itu, beliau menyinggung serangan terhadap infrastruktur, rumah, rumah sakit, sekolah, dan tempat-tempat sipil serta bersejarah yang tidak mendapatkan kecaman dari PBB. Sebaliknya, ketika Iran melakukan pembelaan diri dengan menyerang pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat di sejumlah negara di kawasan Timur Tengah, Iran justru mendapatkan kecaman dari Dewan Keamanan PBB.

Dari berbagai peristiwa tersebut, Mohammad Boroujerdi kembali pada pesan utama yang disampaikannya sejak awal, yakni bahwa kaum muslimin tidak boleh menggantungkan harapan sepenuhnya kepada kekuatan manusia. Jangan berharap kepada Timur, Barat, hukum internasional, ataupun lembaga-lembaga internasional karena semua itu tidak akan mampu memberikan pertolongan secara mutlak. Pertolongan yang hakiki hanya datang dari Allah swt.

Beliau kemudian mengajak jemaah memahami bahwa dalam kehidupan terdapat hak dan batil sehingga setiap manusia harus menentukan ke mana ia berpihak. Apabila memilih hak dan kebenaran, manusia harus bertawakal kepada Allah swt.

Sikap tersebut juga penting ketika manusia membayangkan perjumpaannya dengan Allah swt pada hari kiamat. Agar tidak tertunduk dan merasa malu di hadapan Allah swt pada hari penghisaban, seseorang harus mampu menjelaskan posisinya: apakah berada di pihak kebenaran atau berada di pihak kebatilan.

Mohammad Boroujerdi menegaskan bahwa ketika orang zalim melakukan kezaliman terhadap pihak yang tertindas dan menjadi korban, tidak ada lagi ruang untuk mengatakan bahwa seseorang berada dalam posisi netral. Memilih netral dalam keadaan seperti itu, kata beliau, berarti memberikan dukungan kepada kezaliman yang dilakukan pihak zalim terhadap pihak yang tertindas.

Karena itu, beliau menyatakan bahwa kaum muslimin harus tetap berada di kubu kebenaran dan mempersiapkan kemampuan yang dimiliki untuk menghadapi kubu kebatilan. Allah memerintahkan agar manusia mempersiapkan segala kekuatan yang dapat digunakan untuk menghadapi kekuatan-kekuatan kezaliman. Dengan keyakinan tersebut, kemenangan diyakini akan bersama dengan pihak yang berada di jalan kebenaran.

Menutup ceramahnya, Mohammad Boroujerdi mengingatkan kehendak Allah swt untuk menjadikan orang-orang yang tertindas sebagai pemimpin di muka bumi. Beliau menyampaikan harapan bahwa kemenangan akan bersama dengan orang-orang yang tertindas dan mereka yang berada di jalan kebenaran.