Skip to main content

Syaikh Mohammad Sharifani dalam Khutbah Jumat di ICC Jakarta, Jumat, 14 Agustus 2026, melanjutkan pembahasan mengenai faktor-faktor yang menyebabkan manusia melakukan dosa. Dalam khutbah sebelumnya, beliau telah menjelaskan bahwa dosa merupakan sebuah fenomena yang lahir karena adanya sebab, lahan, pendukung, dan faktor yang mendorong munculnya perbuatan tersebut. Kali ini, Syaikh Mohammad Sharifani melanjutkan pembahasan dengan menguraikan sejumlah faktor lain yang dapat menjerumuskan manusia ke dalam dosa, sebelum pada khutbah kedua menjelaskan keutamaan silaturahim, khususnya pada bulan Rabiulawal.

Pada khutbah sebelumnya, Syaikh Mohammad Sharifani telah membahas dua faktor yang dapat menyebabkan seseorang melakukan dosa. Pertama adalah tabiat alamiah manusia. Manusia memiliki kekuatan syahwat, kekuatan ghadab atau amarah, dan berbagai kekuatan lainnya. Apabila kekuatan-kekuatan tersebut melampaui batas yang semestinya, seseorang dapat terdorong melakukan perbuatan dosa.

Faktor kedua adalah budaya dan kondisi sosial yang berkembang di tengah masyarakat. Salah satunya adalah kebodohan. Kebodohan sering kali membawa seseorang melakukan berbagai hal yang tergolong sebagai dosa. Dua faktor tersebut telah dibahas pada pertemuan Jumat sebelumnya.

Dalam khutbah kali ini, beliau melanjutkan pembahasan mengenai faktor sosial dan budaya, khususnya undang-undang, hukum, serta tradisi yang keliru di tengah masyarakat. Menurut beliau, aturan dan tradisi yang salah dapat menjadi salah satu faktor yang menyebabkan manusia terjerumus ke dalam dosa.

Misalnya, ketika terdapat tradisi di tengah masyarakat yang melegalkan sesuatu yang sebenarnya haram, tradisi tersebut dapat mendorong manusia melakukan dosa. Amirul Mukminin Imam Ali as, dalam salah satu riwayat, menyampaikan bahwa terjadinya fitnah berkaitan dengan hukum-hukum yang dibuat dan hukum tersebut menyalahi aturan Allah swt.

Dalam kehidupan sosial, Syaikh Mohammad Sharifani melihat adanya tradisi-tradisi yang terus dilakukan masyarakat meskipun bertentangan dengan hukum Allah swt. Beliau mencontohkan adanya kebebasan yang bersifat mutlak, kebebasan hubungan antara laki-laki dan perempuan, pergaulan bebas, serta dilegalkannya minuman keras. Bahkan, menurut beliau, persoalan yang lebih dahsyat adalah ketika aturan atau kebiasaan yang menyimpang, seperti LGBT dan yang lainnya, dilegalkan dan dijadikan sebagai sesuatu yang diperbolehkan. Jika hal-hal tersebut dilegalkan dan menjadi aturan, kondisi itu dapat menjadi salah satu faktor munculnya dosa di tengah masyarakat.

Beliau kemudian memberikan contoh lain yang dahulu dibahas dalam kitab-kitab fikih, yaitu larangan menyebarkan buku-buku yang menyesatkan. Dalam istilah fikih, buku-buku tersebut disebut kutub adh-dhalal, yakni buku-buku yang dapat menyesatkan masyarakat.

Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, manifestasi dari hal tersebut kini berkembang jauh lebih luas. Jika dahulu bentuknya adalah buku-buku yang menyesatkan, sekarang manusia memiliki telepon pintar yang dapat digunakan untuk mengunduh berbagai aplikasi dan berselancar di dunia maya. Berbagai hal yang tersedia melalui perangkat tersebut juga dapat menyebabkan seseorang tergelincir dan masuk ke dalam dosa.

Allah swt berfirman:

Fa wailul lilladzīna yaktubūnal-kitāba bi aydīhim tsumma yaqūlūna hādzā min ‘indillāhi liyaștarū bihi tsamanan qalīlā, fa wailul lahum mimmā katabat aidīhim wa wailul lahum mimmā yaksibūn.

“Maka celakalah orang-orang yang menulis kitab dengan tangan mereka sendiri, kemudian berkata, ‘Ini dari Allah,’ dengan maksud untuk memperoleh keuntungan yang sedikit. Maka celakalah mereka karena tulisan tangan mereka dan celakalah mereka karena apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 79)

Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa ayat tersebut merupakan satu-satunya ayat dalam Al-Qur’an yang di dalamnya terdapat tiga ungkapan wail, yang berarti celaka. Ayat tersebut memberikan peringatan kepada orang-orang yang menulis sesuatu kemudian mengatasnamakannya sebagai sesuatu yang diturunkan dari Allah swt demi mendapatkan keuntungan.

Menurut beliau, apa yang dahulu terjadi melalui tulisan dan buku kini dapat mengambil bentuk yang lebih luas melalui telepon pintar, aplikasi, dan berbagai hal yang tersebar di tengah masyarakat. Jika berbagai sarana tersebut digunakan untuk menyimpangkan manusia dan mengakibatkan terjadinya dosa, hal itu dapat menjadi salah satu manifestasi dari kutub adh-dhalal yang dikenal dalam pembahasan fikih.

Faktor berikutnya yang dapat menyebabkan manusia terjerumus ke dalam dosa adalah mengikuti seseorang secara membabi buta. Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa di dunia ini, selain 14 manusia maksum, tidak ada satu pun figur yang dapat diikuti secara mutlak dalam segala hal. Karena itu, mengikuti sekelompok orang secara mutlak dan bertaklid secara membabi buta dapat membawa seseorang kepada kesalahan dan dosa.

Al-Qur’an juga merekam fenomena tersebut ketika berbicara tentang orang-orang yang menjadikan para pendeta dan pemuka agama mereka sebagai Tuhan selain Allah swt.

Ittakhadzū aḥbārahum wa ruhbānahum arbāban min dūnillāh.

“Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah.” (QS. At-Taubah [9]: 31)

Menurut beliau, ketika Rasulullah saw. dan para rasul lainnya datang kepada umat manusia untuk mengajak mereka kepada tauhid, sebagian mereka menolak mengikuti nabi dan mengatakan bahwa mereka hanya akan mengikuti apa yang telah mereka dapati dari nenek moyang mereka.

Qālū ḥasbunā mā wajadnā ‘alaihi ābā’anā.

“Mereka menjawab, ‘Cukuplah bagi kami apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.’” (QS. Al-Ma’idah [5]: 104)

Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa sikap semacam ini merupakan bentuk taklid yang membabi buta dan dapat mengakibatkan seseorang terjerumus ke dalam dosa. Al-Qur’an hanya mengarahkan manusia untuk mengikuti orang-orang tertentu yang disebut sebagai uswah atau teladan.

Hal ini penting karena model yang dijadikan teladan di tengah kehidupan manusia tidak selalu benar. Terkadang seseorang menjadikan figur yang keliru sebagai model sehingga apa yang diikutinya juga keliru. Bahkan jika model tersebut tidak keliru, belum tentu ia merupakan model yang ideal untuk ditiru.

Rasulullah saw. adalah salah satu teladan yang secara jelas disebutkan oleh Allah swt agar diikuti dan dicontoh.

Laqad kāna lakum fī rasūlillāhi uswatun ḥasanah.

“Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21)

Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, manusia-manusia agung dan suci seperti Rasulullah saw. merupakan sosok yang layak menjadi teladan bagi manusia. Karena itu, apabila seseorang mengikuti secara membabi buta manusia yang tidak maksum dan tidak suci, hal tersebut dapat menjadi salah satu faktor yang menyebabkan dirinya tergelincir ke dalam dosa.

Salah satu cara untuk melepaskan diri dari sikap tersebut adalah kembali kepada sunah nabawi, yaitu mengikuti apa yang telah diwariskan dan diajarkan oleh Rasulullah saw.

Syaikh Mohammad Sharifani kemudian menghubungkan pembahasan tersebut dengan berbagai dosa sosial yang telah disampaikan dalam khutbah Jumat sebelumnya maupun khutbah kali ini. Di tengah kehidupan manusia terdapat dosa-dosa sosial seperti gibah, tuduhan, menggunjing, menghina orang lain, memberikan laqab atau julukan yang dapat menjatuhkan harga diri seseorang, berburuk sangka kepada orang lain, serta berbagai bentuk dosa sosial lainnya.

Menurut beliau, jika dosa-dosa tersebut diperhatikan, akar dan faktor penyebabnya berkaitan dengan hal-hal yang telah dibahas dalam khutbah sebelumnya maupun khutbah kali ini. Karena itu, beliau mengajak untuk memohon kepada Allah swt agar dijauhkan dari segala sesuatu yang dapat menjerumuskan manusia ke dalam dosa.

Memasuki khutbah kedua, Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan selamat atas tibanya bulan Rabiulawal, bulan kelahiran Nabi Muhammad saw. dan bulan kelahiran Imam Ja’far Shadiq as. Beliau menyebut Rabiulawal sebagai bulan kegembiraan bagi ahlul bait as dan memohon kepada Allah swt agar senantiasa memberikan keceriaan kepada kaum Muslimin, kepada bangsa Iran yang tertindas, serta kepada seluruh kaum Muslimin di Indonesia.

Beliau juga menyampaikan ucapan selamat dalam menyongsong hari kemerdekaan Republik Indonesia. Dalam kesempatan tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani memberikan perhatian khusus kepada salah satu tradisi yang menurut beliau sangat indah di tengah masyarakat Indonesia, yaitu silaturahim. Tradisi saling mengunjungi dan bertemu dengan orang lain dengan niat menjaga silaturahim merupakan tradisi yang sangat baik.

Karena itu, beliau ingin menjelaskan sisi syariat dan agama dari tradisi silaturahim tersebut sekaligus berpesan agar tradisi silaturahim diperkuat, khususnya pada bulan Rabiulawal. Menurut beliau, bulan tersebut merupakan musim semi bagi orang untuk berbuat baik dan melanjutkan silaturahim.

Allah swt berfirman:

Wa ātidhil-qurbā ḥaqqahū.

“Berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya.” (QS. Al-Isra [17]: 26)

Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, salah satu hak keluarga adalah saling mengunjungi, menanyakan keadaan, saling bertemu, dan memberikan perhatian kepada sesama anggota keluarga.

Dalam ayat yang lain, Allah swt juga menjelaskan mengenai hak orang tua dan keluarga dekat terhadap harta yang ditinggalkan seseorang setelah meninggal dunia. Hal tersebut menunjukkan bahwa orang-orang yang memiliki hubungan dekat dengan kita memiliki hak, dan memberikan hak tersebut merupakan perintah Allah swt.

Silaturahim di tengah masyarakat, menurut beliau, terkadang tidak hanya berkaitan dengan hubungan rahim dalam pengertian hubungan kekerabatan karena darah atau pernikahan. Manusia juga memiliki saudara dan kerabat dalam hubungan keimanan dan agama. Seseorang dapat mendatangi orang lain dengan niat bersilaturahim meskipun orang tersebut bukan keluarga sedarah, melainkan sahabat, teman, guru, atau orang yang dihormati.

Karena itu, hubungan kekerabatan tidak hanya didasarkan pada hubungan darah. Ada pula hubungan yang lahir dari kepercayaan, agama, persahabatan, dan hubungan antarmanusia yang perlu diperhatikan.

Allah swt juga berfirman:

Alladzīna yaṣilūna mā amarallāhu bihi an yūṣala.

“(Yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 20)

Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa orang-orang yang menyambung apa yang diperintahkan Allah swt untuk disambung akan mendapatkan kebaikan. Sebaliknya, dalam Surah Al-Baqarah, Allah swt menyebut orang-orang yang memutus apa yang diperintahkan-Nya untuk disambung sebagai orang-orang yang merugi.

Alladzīna yanquḍūna ‘ahdallāhi min ba‘di mītsāqihī wa yaqṭa‘ūna mā amarallāhu bihi an yūṣala wa yufsidūna fil-arḍ, ulā’ika humul-khāsirūn.

“(Yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah setelah (perjanjian) itu diteguhkan, memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan, dan berbuat kerusakan di bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Baqarah [2]: 27)

Dalam riwayat juga disebutkan tiga sifat yang berkaitan dengan akibat buruk bagi pemiliknya. Pertama adalah sifat kikir, kedua adalah orang yang suka bersumpah dengan sumpah yang bohong atau dusta, dan ketiga adalah orang yang memutus hubungan rahim atau kekerabatan.

Riwayat lain menyebutkan bahwa silaturahim merupakan salah satu ketaatan yang paling cepat memberikan hasil. Orang yang melakukan silaturahim akan mendapatkan hasil dari perbuatannya dengan cepat.

Syaikh Mohammad Sharifani juga menyampaikan riwayat mengenai sekelompok orang yang sebenarnya merupakan orang-orang yang tidak baik dan memiliki dosa. Namun, mereka memiliki kebiasaan membagikan kebaikan kepada orang lain dan menjaga hubungan baik dengan sesama. Karena perbuatan tersebut, Allah swt memberikan keberkahan sehingga harta mereka berkembang dengan cepat.

Untuk mengakhiri khutbah, Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan sebuah kisah tentang Qarun. Beliau mengingatkan bahwa musuh Nabi Musa as yang dikenal dalam riwayat di antaranya adalah Firaun, Samiri, dan Qarun.

Al-Qur’an menceritakan bahwa Qarun ditelan oleh bumi bersama seluruh kekayaan dan rumah yang dimilikinya. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa sebagai salah satu bentuk siksaan terhadap Qarun, setiap hari bumi memuntahkan tubuhnya, kemudian menelannya kembali.

Pada kisah lain disebutkan Nabi Yunus as berada di dalam perut ikan. Ikan tersebut membawa Nabi Yunus as dari satu tempat ke tempat lain berkeliling di lautan hingga suatu ketika mendekati tempat Qarun disiksa.

Saat itu, tubuh Qarun dikeluarkan oleh bumi dan kemudian ditelan kembali. Nabi Yunus as yang berada di dalam perut ikan senantiasa bermunajat kepada Allah swt dengan mengucapkan:

Lā ilāha illā anta subḥānaka innī kuntu minazh-zhālimīn.

“Tidak ada tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya [21]: 87)

Qarun mendengar suara munajat Nabi Yunus as ketika ikan tersebut mendekati tempat ia disiksa. Mendengar munajat yang indah itu, Qarun yang saat itu dikeluarkan oleh bumi bertanya kepada pemilik suara tersebut.

Nabi Yunus as menjawab bahwa dirinya adalah Yunus. Qarun kemudian bertanya tentang keadaan Nabi Musa as. Nabi Yunus as menjawab bahwa Nabi Musa as telah meninggal. Qarun kembali bertanya tentang saudara Nabi Musa as, yaitu Nabi Harun as, dan mendapat jawaban bahwa Nabi Harun as juga telah meninggal. Qarun kemudian bertanya tentang ibu Nabi Musa as dan kembali mendapat jawaban bahwa ibu Nabi Musa as juga telah meninggal.

Mendengar jawaban tersebut, muncul kesedihan di hati Qarun. Karena kesedihan dan kepeduliannya terhadap orang-orang yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengannya, Allah swt memberikan keringanan kepadanya. Bumi diperintahkan untuk tidak lagi menyiksanya setiap hari dengan mengeluarkan tubuhnya kemudian menelannya kembali.

Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, kisah tersebut menunjukkan adanya keberkahan dari rasa memiliki dan kepedulian terhadap orang yang masih memiliki hubungan kekerabatan. Karena itu, beliau kembali menegaskan kepada jamaah bahwa tradisi silaturahim yang dimiliki masyarakat Indonesia merupakan tradisi yang sangat indah. Beliau bahkan menyebut masyarakat Indonesia beruntung karena memiliki tradisi tersebut.

Menutup khutbahnya, Syaikh Mohammad Sharifani kembali menyampaikan selamat atas tibanya bulan Rabiulawal dan mengajak jamaah bergembira menyambut bulan tersebut. Beliau juga berpesan bahwa ketika jamaah mengadakan silaturahim dan menjamu orang-orang dalam rangka menjaga hubungan baik.