Skip to main content

Khutbah Jumat di Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta pada Jumat, 24 Juli 2026, diisi oleh Syaikh Mohammad Sharifani yang melanjutkan pembahasan mengenai hakikat dosa dan dampaknya terhadap kehidupan manusia. Pada kesempatan tersebut, beliau mengulas salah satu bagian penting dalam Doa Kumail tentang dosa-dosa yang merobek tabir kemaksuman manusia. Selain itu, pada khutbah kedua beliau mengajak jamaah menyambut Arba’in Imam Husain as sekaligus mengingatkan tragedi kemanusiaan yang menimpa anak-anak Palestina.

Mengawali khutbahnya, Syaikh Mohammad Sharifani mengingatkan bahwa pada beberapa pertemuan sebelumnya telah dibahas mengenai hakikat dosa beserta dampak-dampaknya. Kali ini beliau mengulas doa Kumail yang menyebutkan adanya dosa-dosa yang merusak tabir kemaksuman manusia. Menurut beliau, setiap manusia lahir ke dunia dalam keadaan suci, tidak membawa dosa, bahkan belum memiliki ketertarikan untuk berbuat maksiat. Seiring perjalanan hidup dan interaksi dengan lingkungan, sedikit demi sedikit tabir kesucian itu mulai terkoyak akibat berbagai bentuk kemaksiatan.

Beliau menjelaskan bahwa ketika dilahirkan manusia membawa fitrah yang menyerupai sifat malaikat. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, malaikat tidak pernah mendurhakai Allah swt dan senantiasa melaksanakan seluruh perintah-Nya. Namun setelah menjalani kehidupan dunia, manusia mulai meninggalkan sifat-sifat tersebut dan melakukan berbagai perbuatan yang merobek tabir kemaksumannya.

Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa pada hakikatnya seluruh dosa dapat merusak keterjagaan manusia dari kemaksiatan. Akan tetapi, terdapat lima dosa yang secara khusus disebut memiliki pengaruh besar dalam menghancurkan tabir tersebut.

Dosa pertama adalah meminum minuman keras (syurbul khamr). Beliau mengutip sejumlah riwayat Rasulullah saw yang menyebut khamr sebagai ummul khabaits, ummul fawahisy, bahkan ummul kabair, yakni induk dari berbagai keburukan dan dosa besar. Penekanan keras terhadap larangan minuman keras menunjukkan besarnya kerusakan yang ditimbulkan oleh perbuatan tersebut.

Beliau kemudian menguraikan beberapa dampak buruk minuman keras. Pertama, minuman keras dapat memperpendek usia. Beliau menyebut adanya data dari Eropa yang menunjukkan lebih dari lima puluh ribu orang meninggal setiap tahun akibat konsumsi alkohol. Kedua, minuman keras merusak generasi karena dapat memengaruhi kondisi fisik maupun perkembangan akal anak-anak yang dilahirkan dari para pecandunya. Ketiga, minuman keras menghancurkan akhlak sehingga seseorang kehilangan rasa malu dan mudah melakukan berbagai tindak kejahatan. Keempat, dampaknya juga sangat besar terhadap kehidupan sosial dan ekonomi karena banyak penyakit fisik maupun gangguan kejiwaan yang bersumber dari kebiasaan tersebut. Menurut beliau, apabila produksi dan peredaran minuman keras dihentikan, beban rumah sakit maupun rumah sakit jiwa akan berkurang secara signifikan.

Dosa kedua yang beliau sebutkan adalah judi. Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa pengertian judi dalam Islam tidak terbatas pada permainan untung-untungan sebagaimana dikenal masyarakat. Dalam perspektif agama, segala bentuk aktivitas yang menjauhkan manusia dari Allah swt juga memiliki hakikat yang serupa. Beliau mengajak jamaah merenungkan kehidupan sehari-hari sebagai sebuah perniagaan. Ada manusia yang memperoleh keuntungan karena menggunakan waktunya untuk mendekatkan diri kepada Allah swt, sementara ada pula yang merugi karena larut dalam kesibukan dunia hingga melalaikan kewajibannya kepada Allah swt.

Dosa ketiga ialah membuat orang lain tertawa dengan cara yang tidak benar. Beliau menerangkan bahwa menghadirkan kegembiraan bagi orang lain merupakan amalan yang dianjurkan selama memenuhi dua syarat. Pertama, tidak mengandung penghinaan, pelecehan, atau merendahkan martabat orang lain. Kedua, tidak menggunakan kata-kata batil maupun ucapan yang bertentangan dengan akhlak seorang mukmin. Apabila dua syarat tersebut terpenuhi, maka menghadirkan kebahagiaan kepada sesama merupakan amal yang terpuji. Sebaliknya, apabila dilakukan dengan menghina atau menggunakan ucapan yang tidak pantas, hal itu justru merusak kehormatan orang lain dan menyebarkan perilaku yang tidak beretika di tengah masyarakat.

Dosa keempat adalah sebagaimana disebutkan dalam firman Allah swt:

Wailul likulli humazatil lumazah.

“Celakalah setiap pengumpat lagi pencela.” (QS. Al-Humazah [104]: 1)

Beliau menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan hamz dan lamz ialah kebiasaan mencari-cari aib orang lain, kemudian menyebarkan dan membicarakannya. Menurut beliau, setiap manusia memiliki dosa dan kekurangan sehingga tidak seorang pun menghendaki aibnya diketahui apalagi disebarluaskan kepada orang lain. Oleh sebab itu, seorang mukmin tidak boleh melakukan hal yang sama terhadap saudaranya.

Syaikh Mohammad Sharifani mengutip sebuah riwayat yang menyatakan bahwa beruntunglah orang yang sibuk memperbaiki aib dirinya sendiri daripada mencari-cari kesalahan orang lain. Beliau juga menyampaikan nasihat Amirul Mukminin Imam Ali as agar seseorang tidak menghina pelaku dosa, sebab bisa jadi Allah swt telah menerima tobatnya. Sebaliknya, jangan pula merasa aman dengan dosa sendiri karena boleh jadi dosa yang dianggap kecil itulah yang menyebabkan seseorang memperoleh azab Allah swt. Beliau juga mengutip riwayat Imam Shadiq as yang menyebutkan bahwa orang yang gemar mencari-cari aib orang lain sesungguhnya sedang menjadi sasaran makar Allah swt dan dijauhkan dari rahmat-Nya.

Dosa kelima ialah bergaul dengan orang-orang yang gemar menebarkan keraguan, mengikuti hawa nafsu, dan tidak memiliki pendirian yang kokoh. Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa Rasulullah saw telah memperingatkan agar kaum mukmin menunjukkan sikap berlepas diri dari para penyebar bidah dan kesesatan. Beliau juga mengutip riwayat yang menyatakan bahwa orang yang terbiasa duduk bersama para pengikut hawa nafsu akan semakin jauh dari keimanan dan semakin dekat kepada setan.

Beliau kemudian menyampaikan pesan Amirul Mukminin Imam Ali as bahwa siapa pun yang bergaul dengan orang-orang bodoh harus bersiap mendengar ucapan yang tidak bermanfaat serta menghadapi berbagai tuduhan yang tidak berdasar. Menurut beliau, terdapat majelis-majelis yang dipenuhi ilmu, pembahasan agama, dan manfaat bagi kehidupan dunia maupun akhirat. Sebaliknya, ada pula pertemuan yang hanya berisi pembicaraan sia-sia dan menjauhkan manusia dari Allah swt. Kebiasaan menghadiri majelis seperti itulah yang secara perlahan merobek tabir kemaksuman seorang mukmin.

Pada khutbah kedua, Syaikh Mohammad Sharifani mengajak jamaah mempersiapkan diri menyambut Arba’in Imam Husain as. Beliau mengingatkan bahwa jutaan manusia dari berbagai penjuru dunia sedang berjalan menuju Karbala dalam sebuah peristiwa yang menurut beliau tidak memiliki tandingan dalam sejarah maupun tradisi bangsa mana pun.

Beliau menerangkan bahwa ziarah Arba’in merupakan madrasah pendidikan jiwa. Di sana manusia belajar tentang pengorbanan, keikhlasan, pelayanan kepada sesama, dan cinta sejati kepada Imam Husain as. Menurut beliau, siapa pun yang ingin mendidik dirinya hendaknya memperhatikan fenomena agung tersebut karena di dalamnya terdapat pelajaran yang sangat besar bagi kehidupan seorang mukmin.

Syaikh Mohammad Sharifani menyadari bahwa sebagian besar jamaah tidak memiliki kesempatan mengikuti ziarah Arba’in secara langsung. Namun beliau mengingatkan agar keadaan tersebut tidak menjadi alasan untuk mengabaikan syiar Ahlul Bait as. Beliau mengajak jamaah memanfaatkan berbagai tayangan digital yang memperlihatkan perjalanan para peziarah sehingga hati tetap terhubung dengan Karbala dan larut dalam lautan cinta kepada Imam Husain as selama hari-hari menjelang Arba’in.

Pada bagian akhir khutbah, beliau mengajak jamaah merenungkan penderitaan anak-anak Palestina yang menjadi korban serangan Zionis dan Amerika. Beliau menyebut sekitar 160 anak di Madrasah Minab gugur akibat kebiadaban mesin-mesin perang tersebut. Padahal Rasulullah saw sangat menekankan pentingnya mencintai dan menghormati anak-anak.

Beliau kemudian mengisahkan seorang sahabat yang mengaku tidak pernah mencium anaknya. Mendengar hal itu, Rasulullah saw bersabda agar orang tersebut menjauh karena beliau khawatir kemurkaan Allah swt yang menimpanya turut mengenai orang lain. Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, hadis tersebut menunjukkan betapa besar perhatian Islam terhadap kasih sayang kepada anak-anak.

Beliau menegaskan bahwa gugurnya anak-anak Palestina merupakan noda besar bagi kubu arogansi dunia yang tidak akan pernah dilupakan sejarah. Sebagai penutup khutbah, Syaikh Mohammad Sharifani mengajak seluruh jamaah untuk membawa anak-anak mereka menghadiri salat Jumat di ICC Jakarta pada kesempatan berikutnya agar dapat disiapkan kegiatan-kegiatan yang mendidik sekaligus menanamkan kecintaan kepada agama sejak usia dini.