Skip to main content

Kelas Tafsir Maudhu’i ICC Jakarta pada Kamis, 20 Agustus 2026, bersama Syaikh Mohammad Sharifani membahas sikap tadarru‘, yaitu merendahkan hati dan diri di hadapan Allah swt. Dalam kajian tersebut, beliau menjelaskan bahwa tadarru‘ merupakan salah satu amal mulia yang diajarkan Al-Qur’an sekaligus menunjukkan kesadaran manusia sebagai makhluk yang diciptakan oleh Allah swt. Namun, tidak semua orang mampu memiliki sikap tersebut. Setelah pada pertemuan sebelumnya membahas pengaruh atau efek dari orang yang mampu merendahkan diri di hadapan Allah swt., kali ini Syaikh Mohammad Sharifani menguraikan hal-hal yang dapat menghalangi seseorang untuk memiliki sikap tersebut.

Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa salah satu penghalang pertama adalah ghaflah, yakni kelalaian, khususnya kelalaian terhadap kiamat dan hari akhir. Orang yang tidak meyakini adanya hari kiamat dan penghakiman atas perbuatannya akan merasa tidak memiliki pertanggungjawaban atas berbagai keburukan yang dilakukannya. Karena itu, kesadaran terhadap Allah swt dan hari akhir menjadi sesuatu yang penting agar manusia tidak hidup dalam kelalaian.

Beliau kemudian mengutip firman Allah swt yang memerintahkan manusia untuk mengingat-Nya dengan penuh kerendahan hati dan tidak dengan suara yang berlebihan:

Wadzkur rabbaka fī nafsika taḍarru‘aw wa khīfatan wa dūnal-jahri minal-qauli bil-ghuduwwi wal-āṣāl, wa lā takum minal-ghāfilīn.

“Dan ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, serta dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A‘raf [7]: 205)

Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, ayat tersebut mengajarkan agar manusia mengingat Allah swt dengan sikap rendah hati, bukan dengan berteriak-teriak atau mengeraskan suara. Mengingat Allah swt pada pagi dan petang dengan suara yang rendah merupakan salah satu cara agar manusia tidak termasuk golongan orang-orang yang lalai.

Penghalang kedua, menurut beliau, adalah kekayaan dan kemudahan dalam kehidupan. Manusia terkadang diuji dengan kekayaan yang melimpah dan berbagai kemudahan. Ketika segala sesuatu tersedia dan kehidupan berjalan dengan lapang, seseorang dapat merasa bahwa apa yang dimilikinya merupakan hasil dari usaha dirinya sendiri. Perasaan semacam ini dapat membuat manusia melupakan Allah swt dan tidak lagi merendahkan diri di hadapan-Nya.

Karena itu, Allah swt terkadang menguji manusia dengan kefakiran, kehilangan, kesulitan, atau berbagai keadaan yang membuat seseorang menyadari bahwa dirinya tidak memiliki apa-apa. Melalui keadaan tersebut, manusia diharapkan kembali kepada Allah swt dan menyadari ketergantungannya kepada-Nya.

Syaikh Mohammad Sharifani kemudian merujuk pada Surah Al-An‘am ayat 42–44 yang menceritakan umat-umat terdahulu. Allah swt telah mengutus para nabi dan rasul kepada umat-umat tersebut, tetapi ketika mereka tidak patuh dan tidak mengikuti para rasul, Allah memberikan berbagai kesulitan dan ujian kepada mereka agar mereka merendahkan diri.

Allah swt berfirman:

Wa laqad arsalnā ilā umamim min qablika fa akhadznāhum bil-ba’sā’i waḍ-ḍarrā’i la‘allahum yataḍarra‘ūn.

“Sungguh, Kami telah mengutus (para rasul) kepada umat-umat sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kemelaratan dan kesengsaraan agar mereka memohon (kepada Allah) dengan kerendahan hati.” (QS. Al-An‘am [6]: 42)

Namun, ketika kesulitan, peperangan, dan berbagai ujian datang, mereka tetap tidak kembali kepada Allah swt. Hati mereka justru semakin keras.

Falawlā idz jā’ahum ba’sunā taḍarra‘ū walākin qasat qulūbuhum wa zayyana lahumusy-syaiṭānu mā kānū ya‘malūn.

“Maka mengapa ketika siksaan Kami datang kepada mereka, mereka tidak memohon dengan kerendahan hati? Bahkan hati mereka telah menjadi keras dan setan pun menjadikan terasa indah bagi mereka apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Al-An‘am [6]: 43)

Menurut beliau, kondisi tersebut menunjukkan persoalan yang lebih dalam. Hati mereka telah keras, sementara setan membuat perbuatan-perbuatan buruk yang mereka lakukan tampak indah. Akibatnya, mereka tidak lagi menyadari bahwa penyimpangan yang dilakukan sebenarnya merupakan keburukan.

Allah swt kemudian berfirman:

Falammā nasū mā dzukkirū bihī fataḥnā ‘alaihim abwāba kulli syai’in ḥattā idzā fariḥū bimā ūtū akhadznāhum baghtatan fa idzā hum mublisūn.

“Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa.” (QS. Al-An‘am [6]: 44)

Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa ayat tersebut memperlihatkan bagaimana Allah swt membukakan pintu-pintu kenyamanan dan kenikmatan kepada mereka. Mereka kemudian merasa senang dengan apa yang diperoleh dan semakin lupa kepada Allah swt. Ketika mereka telah berada dalam keadaan tersebut, datanglah ujian secara tiba-tiba sehingga mereka kehilangan harapan.

Beliau mengingatkan bahwa keadaan tersebut menjadi pelajaran penting. Kenikmatan yang diperoleh seseorang tidak selalu berarti bahwa Allah swt sedang meridai dirinya. Seseorang bisa saja mendapatkan banyak kenikmatan, tetapi justru semakin jauh dari Allah swt, semakin sombong, dan semakin lalai. Ketika hari akhir tiba, orang yang hidup dalam keadaan seperti itu tidak lagi memiliki harapan untuk menyelamatkan dirinya.

Penghalang ketiga yang beliau jelaskan adalah setan. Setan membuat amal-amal buruk manusia tampak indah di hadapan mereka. Dengan demikian, seseorang tidak hanya melakukan keburukan, tetapi bahkan tidak menyadari bahwa apa yang dilakukannya adalah buruk. Ia justru melihat penyimpangannya sebagai sesuatu yang baik.

Syaikh Mohammad Sharifani kembali mengingatkan firman Allah swt:

Falawlā idz jā’ahum ba’sunā taḍarra‘ū walākin qasat qulūbuhum wa zayyana lahumusy-syaiṭānu mā kānū ya‘malūn.

“Maka mengapa ketika siksaan Kami datang kepada mereka, mereka tidak memohon dengan kerendahan hati? Bahkan hati mereka telah menjadi keras dan setan pun menjadikan terasa indah bagi mereka apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Al-An‘am [6]: 43)

Menurut beliau, kondisi ketika seseorang tidak menyadari keburukan dirinya sendiri merupakan kondisi yang sangat buruk. Hati yang keras membuat manusia tidak lagi mampu melihat kesalahannya sebagai kesalahan. Inilah salah satu bentuk kerasnya hati yang membuat manusia semakin jauh dari sikap merendahkan diri di hadapan Allah swt.

Syaikh Mohammad Sharifani kemudian menjelaskan bahwa terdapat hubungan antara kebiasaan melakukan dosa dan kerasnya hati. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa orang yang terbiasa melakukan dosa akan semakin sulit menangis atas dosa-dosa yang dilakukannya. Air mata yang mengering menjadi salah satu tanda bahwa hati seseorang mulai mengeras.

Pada awalnya, seseorang mungkin melakukan dosa dan masih dapat menangis serta menyesali perbuatannya. Namun, apabila dosa dilakukan berulang kali, kepekaan hati perlahan-lahan dapat hilang. Pada tahap tertentu, seseorang tidak lagi mampu menangis di hadapan Allah swt dan mengakui dosa-dosanya. Menurut beliau, kondisi tersebut menunjukkan bahwa hati telah mengalami kekerasan.

Setelah menjelaskan empat hal yang berkaitan dengan jauhnya manusia dari sifat tadarru‘, yaitu kelalaian terhadap hari akhir, kekayaan dan kemudahan hidup, pengaruh setan yang memperindah keburukan, serta kerasnya hati akibat kebiasaan melakukan dosa, Syaikh Mohammad Sharifani beralih membahas dampak ketika seseorang telah jauh dari sikap merendahkan diri di hadapan Allah swt.

Dampak pertama adalah seseorang akan dijauhkan dari cinta Ilahi. Beliau kembali mengutip firman Allah swt:

Ud‘ū rabbakum taḍarru‘aw wa khufyatan innahū lā yuḥibbul-mu‘tadīn.

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-A‘raf [7]: 55)

Menurut beliau, Allah swt tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Sikap berlebihan dalam kehidupan, termasuk berlebihan dalam bersenang-senang hingga mengabaikan perintah dan batas-batas Ilahi, dapat menjauhkan manusia dari cinta Allah swt.

Orang yang dijauhkan dari cinta Ilahi tidak akan memperoleh kebahagiaan hakiki dalam hatinya. Ia juga tidak akan merasakan kesempatan untuk berserah diri kepada Allah swt dan menikmati keindahan ibadah. Ketika cinta Allah swt telah jauh dari seseorang, keindahan beribadah kepada-Nya pun tidak lagi dirasakan.

Dampak kedua adalah seseorang menjadi mudah melanggar aturan Allah swt atau melakukan tajawuz, yaitu melampaui batas. Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa orang yang menyadari dirinya berada di hadapan Allah swt akan memiliki kekhusyukan dan ketaatan. Ia melaksanakan perintah Allah tanpa merasa berat. Sebaliknya, orang yang terbiasa melanggar perintah Allah akan semakin mudah melakukan pelanggaran.

Menurut beliau, orang yang terus-menerus melanggar aturan pada akhirnya dapat menjadi manusia yang zalim, mengambil hak orang lain, merampas sesuatu yang bukan miliknya, dan melakukan berbagai keburukan. Ia menjelaskan prinsip hubungan antara sifat dan akibat dengan memberikan contoh bahwa seseorang dihormati karena memiliki ilmu. Orang yang alim dihormati karena sifat berilmunya. Demikian pula, sikap tadarru‘ kepada Allah swt menjadi sebab seseorang terjaga dari pelanggaran.

Ketika seseorang tidak memiliki sifat merendahkan diri di hadapan Allah swt, ia akan lebih mudah melanggar aturan. Pelanggaran terhadap aturan yang kecil pun, jika dibiasakan, dapat menyeret seseorang kepada dosa yang lebih besar.

Dampak berikutnya adalah azab Ilahi. Syaikh Mohammad Sharifani kembali merujuk pada Surah Al-An‘am ayat 44 mengenai orang-orang yang melupakan peringatan Allah swt. Menurut beliau, ayat tersebut sekaligus menjawab pertanyaan mengapa orang-orang yang berbuat zalim, merampas hak, bersikap sombong, dan melakukan kerusakan justru terkadang tampak mendapatkan berbagai kenikmatan.

Allah swt berfirman:

Falammā nasū mā dzukkirū bihī fataḥnā ‘alaihim abwāba kulli syai’in ḥattā idzā fariḥū bimā ūtū akhadznāhum baghtatan fa idzā hum mublisūn.

“Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa.” (QS. Al-An‘am [6]: 44)

Menurut beliau, dibukanya pintu-pintu kenikmatan tersebut bukan berarti Allah swt senang terhadap mereka. Sebaliknya, kenikmatan itu justru dapat membuat mereka semakin lupa, semakin jauh dari Allah swt, dan semakin sombong. Ketika musibah dan kesulitan akhirnya datang, mereka tidak lagi memiliki harapan.

Dampak terakhir yang dijelaskan Syaikh Mohammad Sharifani adalah kehancuran. Beliau kembali melanjutkan pembahasan Surah Al-An‘am mengenai orang-orang yang hatinya telah keras dan perbuatan buruknya diperindah oleh setan. Mereka terus berada dalam kelalaian hingga akhirnya Allah swt mengambil kenikmatan yang telah diberikan kepada mereka.

Beliau mengutip bagian ayat:

Fa quṭi‘a dābirul-qaumil-ladzīna ẓalamū.

“Maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya.” (QS. Al-An‘am [6]: 45)

Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, orang-orang yang terus-menerus berada dalam keadaan tersebut pada akhirnya mengalami kehancuran akibat kezaliman mereka sendiri. Mereka menghadapi berbagai kesulitan dan persoalan pada hari kiamat serta tidak lagi memiliki harapan untuk memperoleh ampunan Allah swt. Semua itu menjadi akibat ketika manusia tidak mau merendahkan diri di hadapan Allah swt dan justru memilih hidup dalam kelalaian, kesombongan, pelanggaran, serta keburukan yang telah diperindah oleh setan.