Skip to main content

Dalam ceramahnya pada peringatan Maulid Nabi Muhammad saw di ICC Jakarta, Sabtu, 19 September 2026, Syaikh Mohammad Sharifani mengajak jamaah untuk mengambil salah satu pelajaran terpenting dari kehidupan Rasulullah saw, yaitu istiqamah. Menurut beliau, Al-Qur’an berkali-kali memberikan perintah secara khusus kepada Nabi Muhammad saw agar senantiasa bersabar, teguh, konsisten, dan tetap berada di jalan yang telah diperintahkan Allah swt.

Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa di dalam Al-Qur’an terdapat banyak ayat yang secara khusus ditujukan kepada Nabi Muhammad saw dengan redaksi “umirtu”, yang berarti “aku diperintahkan”. Di antaranya adalah perintah untuk membaca Al-Qur’an, menjadi orang pertama yang berserah diri kepada Allah swt, berlaku adil di tengah masyarakat, serta beribadah kepada Allah dengan ketulusan dan keikhlasan.

Selain perintah, Allah swt juga memberikan peringatan kepada Rasulullah saw. Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, di antara perintah penting tersebut adalah agar Nabi Muhammad saw senantiasa bersabar dan istiqamah. Allah swt berfirman, “Wasbir lihukmi rabbika” dan “Wastabir kama umirta”, yang mengandung perintah agar Rasulullah saw bersabar atas ketetapan dan perintah Tuhan-Nya.

Pada saat yang sama, Al-Qur’an juga mengingatkan Rasulullah saw agar tidak melampaui batas. Allah swt memerintahkan Nabi Muhammad saw untuk istiqamah sebagaimana yang telah diperintahkan kepadanya, sekaligus mengingatkan agar tidak berlebihan. Hal ini menunjukkan bahwa istiqamah bukan sekadar keteguhan dalam menjalankan suatu perintah, tetapi juga menuntut kemampuan untuk tetap berada dalam batas-batas yang telah ditetapkan Allah swt.

“Fastaqim kama umirta,” jelas Syaikh Mohammad Sharifani, merupakan perintah agar Rasulullah saw senantiasa istiqamah sebagaimana yang telah diperintahkan kepadanya. Perintah tersebut juga berlaku dalam konteks keteguhan orang-orang yang bersama Rasulullah saw.

Menurut beliau, istiqamah berarti tetap teguh, komitmen, konsisten, dan setia berada di jalan kebenaran yang telah dipilih. Karena itu, istiqamah membutuhkan kesabaran. Tidak mudah bagi seseorang untuk terus bertahan dalam jalan yang benar, tetapi justru keteguhan itulah yang akan menentukan hasil dari perjuangannya.

Syaikh Mohammad Sharifani kemudian mengaitkan pentingnya istiqamah dengan sabda-sabda Amirul Mukminin Imam Ali as yang terdapat dalam Nahjul Balaghah. Beliau menyampaikan bahwa Imam Ali as berulang kali menekankan pentingnya terus bekerja dan menyelesaikan pekerjaan yang telah dimulai.

Di antara ungkapan yang disampaikan adalah “al-‘amal, al-‘amal”, yakni hendaklah kalian terus bekerja, serta “an-nihayah, an-nihayah”, yang mengingatkan agar pekerjaan tidak dilakukan setengah-setengah dan tidak berhenti di tengah jalan. Demikian pula dengan seruan “al-istiqamah, al-istiqamah”, yang menekankan pentingnya konsistensi dalam melakukan sesuatu.

Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, konsistensi menjadi sangat penting karena justru melalui konsistensi Rasulullah saw dalam menjalankan misi kenabiannya, agama Islam dapat sampai kepada umat manusia dan tetap dijalankan hingga sekarang. Seandainya Rasulullah saw tidak konsisten dalam menjalankan perintah Allah swt, tentu hasil yang dirasakan umat Islam hari ini tidak akan seperti yang ada sekarang.

Dalam kaitan itu, beliau menyampaikan sejumlah riwayat mengenai keutamaan istiqamah. Nabi Muhammad saw disebut bersabda, “Afdhalus sa‘adah al-istiqamah fid-din”, yang berarti bahwa sebaik-baik kebahagiaan adalah istiqamah dalam agama. Nabi Muhammad saw juga mengingatkan bahwa keselamatan berkaitan erat dengan istiqamah. Siapa yang mengharapkan keselamatan di dunia dan akhirat, hendaknya senantiasa menjaga istiqamah dalam perbuatan-perbuatan baiknya.

Syaikh Mohammad Sharifani juga menyampaikan nasihat Imam Ali Khamenei kepada kaum Muslimin di Iran mengenai pentingnya menjaga konsistensi. Menurut beliau, ketika seseorang mampu bersabar, konsisten, dan tidak bersikap reaksioner, harga yang harus dibayar untuk mencapai suatu hasil akan jauh lebih kecil dibandingkan jika seseorang terus merespons keadaan secara reaktif. Meskipun sikap konsisten membutuhkan waktu, jalan tersebut akan lebih memungkinkan seseorang mencapai hasil yang diharapkan.

Karena itu, Syaikh Mohammad Sharifani kembali menekankan pentingnya istiqamah di jalan yang benar. Beliau juga menyampaikan sebuah riwayat yang menyebutkan, “Al-istiqamatu tukdirukal karamah”, bahwa dengan istiqamah seseorang akan memperoleh kemuliaan dan nilai yang lebih tinggi.

Menurut beliau, hal tersebut dapat dilihat dalam kehidupan orang-orang yang dekat dengan Rasulullah saw dan para imam. Salman al-Farisi, Abu Dzar, Hujr bin Adi, serta para sahabat Imam Husain as merupakan contoh orang-orang yang memiliki harga diri, kemuliaan, dan kebesaran. Mereka mampu mencapai kedudukan tersebut karena istiqamah dalam keyakinan dan perjuangan mereka.

Syaikh Mohammad Sharifani kemudian mengingatkan bahwa istiqamah bukanlah sesuatu yang mudah. Konsistensi membutuhkan kesabaran dan keteguhan. Namun, apabila seseorang mampu mempertahankannya, Allah swt telah menjanjikan hasil yang besar.

Beliau merujuk pada firman Allah swt yang menjelaskan tentang orang-orang yang istiqamah di jalan-Nya. Dalam penjelasannya, Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan bahwa Allah swt menjanjikan curahan air yang melimpah bagi mereka yang istiqamah. Air tersebut menjadi gambaran kenikmatan dan kehidupan, karena Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa dari air Allah swt menciptakan segala sesuatu yang hidup.

Dengan demikian, menurut Syaikh Mohammad Sharifani, istiqamah menjadi jalan yang mengantarkan seseorang kepada berbagai kebaikan yang diharapkan dalam kehidupan dunia dan akhirat. Namun, istiqamah menuntut seseorang untuk tidak mudah berubah arah, tidak berjalan setengah-setengah, dan tidak mengubah prinsip setiap kali menghadapi kesulitan.

Syaikh Mohammad Sharifani kemudian mengutip firman Allah swt tentang orang-orang yang mengatakan bahwa Tuhan mereka adalah Allah, lalu mereka tetap istiqamah. Allah swt berfirman:

“Innalladzina qalu rabbunallahu tsumma istaqamu.”

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka…” (QS. Fussilat [41]: 30)

Menurut beliau, tidak cukup bagi seseorang hanya mengatakan bahwa Allah adalah Tuhan dan bahwa Allah akan menjamin serta menolongnya. Keyakinan tersebut harus dibuktikan dengan istiqamah dalam apa yang diyakini dan dijalankan.

Allah swt kemudian menjelaskan bahwa orang-orang yang istiqamah akan mendapatkan pertolongan para malaikat. Para malaikat turun kepada mereka dan menyampaikan kabar gembira agar mereka tidak takut dan tidak bersedih.

“Alla takhafu wa la tahzanu,” demikian beliau menyampaikan pesan ayat tersebut. Orang-orang yang istiqamah tidak akan dikuasai rasa takut dan kegelisahan. Allah swt juga menegaskan bahwa bagi mereka tidak ada rasa takut dan mereka tidak bersedih.

Karena itu, Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa kesempurnaan terdapat dalam istiqamah. Dengan istiqamah, seseorang dapat meraih kebahagiaan, kesempurnaan, surga, kesejahteraan, dan berbagai hal yang telah dijanjikan Allah swt dan disampaikan oleh para maksum. Beliau juga menyampaikan sebuah sabda Nabi Muhammad saw, “Idza istaqamta tuflih”, bahwa apabila seseorang istiqamah, ia akan memperoleh keberhasilan dan kesejahteraan.

Menjelang akhir ceramah, Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan dua pelajaran penting. Pertama, amanah terbesar yang diberikan Allah swt kepada umat manusia adalah agama. Menurut beliau, pesan, pelajaran, nasihat, dan jalan yang Allah swt berikan kepada manusia dalam kehidupan dunia ini adalah agama. Karena itu, agama merupakan sesuatu yang pokok dan sangat penting bagi kehidupan manusia.

Sejak zaman Rasulullah saw hingga sekarang, kata beliau, selalu ada orang-orang yang dengan tulus dan ikhlas mengorbankan diri mereka untuk menjaga agama agar tetap eksis dan dapat dijalankan oleh umat manusia. Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa banyak nabi bersama orang-orang saleh yang berjuang di jalan Allah. Mereka menghadapi peperangan, bahkan sebagian di antara mereka gugur, tetapi mereka tidak menjadi lemah dan tidak kehilangan keteguhan.

Pelajaran kedua, menurut Syaikh Mohammad Sharifani, adalah pentingnya mengambil keteladanan dari kehidupan Rasulullah saw, khususnya dalam hal istiqamah. Nabi Muhammad saw adalah sosok yang konsisten, sabar, dan tegar dalam menghadapi berbagai kesulitan.

Beliau menyampaikan bahwa Rasulullah saw pernah menjelaskan bahwa tidak ada nabi yang diutus Allah swt yang mendapatkan gangguan dari umatnya sebagaimana gangguan yang diterima oleh Rasulullah saw. Nabi Muhammad saw menghadapi berbagai bentuk tekanan selama menjalankan dakwahnya.

Rasulullah saw dan kaum Muslimin pernah menghadapi blokade ekonomi. Mereka juga menghadapi tekanan militer serta berbagai bentuk tekanan lainnya dari orang-orang musyrik, orang-orang kafir, dan pihak-pihak yang memusuhi dakwah Rasulullah saw.

Tidak hanya tekanan secara fisik dan ekonomi, Rasulullah saw juga menghadapi serangan secara mental. Beliau dituduh sebagai orang gila, penyair, pengkhayal, pendusta, dan berbagai tuduhan lainnya. Namun, seluruh tekanan tersebut tidak membuat Rasulullah saw meninggalkan jalan yang telah diperintahkan Allah swt.

Rasulullah saw tetap teguh menjalankan tugasnya dan akhirnya membuktikan bahwa ajaran yang beliau bawa adalah kebenaran. Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari istiqamah Rasulullah saw dalam memenuhi perintah Allah swt.

Karena itu, beliau kembali menegaskan pesan Al-Qur’an kepada Rasulullah saw, “Fastaqim kama umirta.” Tetaplah istiqamah sebagaimana engkau telah diperintahkan.

Pesan tersebut, menurut Syaikh Mohammad Sharifani, menjadi salah satu pelajaran penting dari kehidupan Rasulullah saw bagi umat Islam: tetap teguh, sabar, dan konsisten dalam menjalankan agama, sekalipun menghadapi berbagai tekanan dan kesulitan.