Kamis, 8 Oktober 2026, Syaikh Mohammad Sharifani membahas berbagai hal yang perlu direnungkan manusia dalam Kelas Tafsir Maudhu’i ICC Jakarta. Melanjutkan pembahasan beberapa pekan sebelumnya tentang tafakur dan keutamaannya, beliau mengajak jamaah memahami apa saja yang seharusnya menjadi objek perenungan. Al-Qur’an, menurut penjelasan beliau, telah memberikan petunjuk agar manusia tidak keliru dalam berpikir, melainkan mengarahkan pikirannya kepada berbagai tanda kekuasaan Allah swt yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Hal pertama yang perlu direnungkan adalah penciptaan manusia dan diri manusia itu sendiri. Syaikh Mohammad Sharifani mengutip Surah Al-Ankabut ayat 19–20 yang mengajak manusia memperhatikan bagaimana Allah swt memulai penciptaan, kemudian mengulanginya kembali. Proses penciptaan dan pengembalian makhluk kepada kehidupan setelah kematian bukanlah sesuatu yang sulit bagi Allah swt. Hal itu sangat mudah bagi-Nya.
Beliau membacakan ayat tersebut:
Awalam yaraw kaifa yubdi’ullāhu al-khalqa ṡumma yu‘īduhu, inna żālika ‘alallāhi yasīr. Qul sīrū fil-arḍi fanẓurū kaifa bada’a al-khalqa ṡummallāhu yunsyi’un-nasy’atal-ākhirah, innallāha ‘alā kulli syai’in qadīr.
“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah memulai penciptaan (makhluk), kemudian Dia mengulanginya (kembali). Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah. Katakanlah, ‘Berjalanlah di bumi, maka perhatikanlah bagaimana (Allah) memulai penciptaan (makhluk), kemudian Allah menjadikan kejadian yang akhir.’ Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Ankabut [29]: 19–20)
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa manusia dapat merenungkan proses penciptaan dirinya sejak awal, kemudian menjalani berbagai tahapan kehidupan, mulai dari masa kecil, remaja, dewasa, hingga akhirnya meninggal dunia. Perjalanan hidup tersebut memperlihatkan bagaimana manusia melewati proses demi proses yang seluruhnya berada dalam kekuasaan Allah swt.
Setelah merenungkan penciptaan manusia, beliau mengajak jamaah memperhatikan alam semesta dengan berjalan di muka bumi dan melihat berbagai ciptaan Allah swt. Perintah untuk berjalan dan mengamati bumi bukan sekadar mengajak manusia melihat apa yang ada di sekelilingnya, melainkan juga mengajak mereka memikirkan bagaimana Allah swt memulai penciptaan dan bagaimana Dia akan membangkitkan manusia dalam kehidupan akhirat.
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, seluruh proses tersebut menunjukkan betapa agung kekuasaan Allah swt. Dia memiliki kemampuan dan kekuatan yang tidak tertandingi oleh siapa pun. Karena itu, penciptaan manusia, keberlangsungan kehidupan di dunia, dan kehidupan akhirat merupakan perkara penting yang perlu direnungkan agar manusia semakin memahami kebesaran Allah swt.
Hal kedua yang perlu dan wajib direnungkan adalah kematian dan tidur. Syaikh Mohammad Sharifani mengarahkan perhatian jamaah kepada Surah Az-Zumar ayat 42, yang menerangkan bagaimana Allah swt mengambil nyawa manusia ketika kematian datang dan ketika manusia tidur.
Beliau membacakan ayat tersebut:
Allāhu yatawaffal-anfusa ḥīna mawtihā wallatī lam tamut fī manāmihā, fa-yumsikullatī qaḍā ‘alaihal-mawta wa yursilul-ukhrā ilā ajalin musamman. Inna fī żālika la’āyātil liqaumin yatafakkarūn.
“Allah memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya dan nyawa (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur. Maka Dia tahan nyawa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Az-Zumar [39]: 42)
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa proses kehidupan manusia, termasuk kegiatan bernapas dengan menghirup dan mengembuskan udara, sesungguhnya merupakan proses yang sangat rumit. Hal itu saja sudah layak direnungkan, terlebih lagi proses kematian yang menyimpan rahasia besar tentang kehidupan manusia.
Beliau menjelaskan bahwa setiap malam Allah swt memerintahkan malaikat untuk mengambil nyawa manusia yang sedang tidur. Bagi orang yang telah sampai ajalnya, nyawa tersebut tidak dikembalikan lagi kepada tubuhnya. Namun, bagi mereka yang belum sampai pada waktu kematiannya, nyawa itu dikembalikan sehingga mereka dapat melanjutkan kehidupannya hingga tiba ajal yang telah ditentukan.
Peristiwa yang berlangsung setiap malam tersebut bukanlah kejadian remeh yang boleh dilewatkan begitu saja. Syaikh Mohammad Sharifani mengajak jamaah menyadari bahwa mereka berulang kali mengalami peristiwa itu dalam kehidupan sehari-hari. Ada rahasia ilahi yang semestinya direnungkan, sebab manusia tidak pernah mengetahui secara pasti apakah dirinya masih akan menjalani hari esok atau justru malam yang sedang dilaluinya merupakan malam terakhir dalam kehidupan.
Beliau mengajak jamaah memikirkan pertanyaan tersebut secara sungguh-sungguh. Apabila malam ini merupakan malam terakhir seseorang, apa yang akan dilakukannya? Apa yang perlu diperbaiki dari dirinya sebelum ajal tiba? Pertanyaan semacam ini penting agar manusia tidak terus menunda perbaikan diri dan menyadari bahwa kesempatan hidup tidak berlangsung selamanya.
Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa adanya nyawa yang diambil dan tidak dikembalikan, serta adanya nyawa yang dikembalikan hingga waktu tertentu, merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah swt bagi orang-orang yang mau berpikir. Dengan merenungkan tidur dan kematian, manusia diharapkan semakin menyadari keterbatasan dirinya dan pentingnya mempersiapkan kehidupan akhirat.
Hal ketiga yang perlu direnungkan adalah kehidupan dan kesadaran manusia. Beliau menjelaskan bahwa apabila manusia memperhatikan kehidupan dan kesadaran yang dimilikinya saat ini, ia akan menemukan berbagai keajaiban di dalamnya. Kehidupan bukanlah sesuatu yang seharusnya diterima begitu saja tanpa direnungkan, sebab kemampuan untuk hidup dan menyadari keadaan di sekeliling merupakan bagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah swt.
Untuk menjelaskan hal tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani merujuk Surah Al-Baqarah ayat 73, yang berkaitan dengan kisah perintah menyembelih sapi dan memukulkan sebagian tubuh sapi itu kepada seseorang yang telah meninggal. Melalui peristiwa tersebut, Allah swt memperlihatkan bagaimana orang yang telah meninggal dapat dihidupkan kembali.
Beliau membacakan bagian ayat berikut:
Faqulnā iḍribūhu biba‘ḍihā, każālika yuḥyillāhul-mautā wa yurīkum āyātihī la‘allakum ta‘qilūn.
“Lalu Kami berfirman, ‘Pukullah (mayat) itu dengan sebagian anggota sapi itu!’ Demikianlah Allah menghidupkan orang-orang yang telah mati, dan Dia memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan-Nya) agar kamu mengerti.” (QS. Al-Baqarah [2]: 73)
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa dalam kisah tersebut, setelah bagian tubuh sapi dipukulkan kepada orang yang meninggal, Allah swt menghidupkannya kembali sehingga peristiwa yang terjadi dapat diungkapkan. Kejadian itu memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan Allah swt sekaligus menunjukkan bahwa kehidupan setelah kematian bukan sekadar sesuatu yang dibayangkan manusia.
Beliau menekankan bahwa peristiwa tersebut merupakan kejadian yang perlu direnungkan sebagai bagian dari petunjuk Al-Qur’an.
Manusia hendaknya memahami bahwa Allah swt memiliki kekuasaan untuk menghidupkan kembali makhluk yang telah mati. Karena itu, kehidupan, kesadaran, dan kemungkinan kebangkitan setelah kematian merupakan perkara yang patut dipikirkan agar manusia dapat menangkap pelajaran dari tanda-tanda ilahi tersebut.
Hal keempat yang wajib direnungkan adalah proses mendapatkan rezeki. Syaikh Mohammad Sharifani mengutip Surah Ar-Rum ayat 23, yang menyebutkan tidur pada malam dan siang hari serta aktivitas manusia dalam mencari karunia Allah swt sebagai bagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya.
Beliau membacakan ayat tersebut:
Wa min āyātihī manāmukum bil-laili wan-nahāri wabtighā’ukum min faḍlihī, inna fī żālika la’āyātil liqaumin yasma‘ūn.
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah tidurmu pada waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.” (QS. Ar-Rum [30]: 23)
Dalam penjelasannya, Syaikh Mohammad Sharifani menguraikan bahwa manusia pada umumnya bekerja dan beraktivitas pada siang hari, kemudian beristirahat pada malam hari. Pola tersebut merupakan bagian dari keteraturan kehidupan yang memungkinkan manusia menjalankan aktivitas dan memenuhi kebutuhan hidupnya.
Beliau juga menyinggung adanya orang-orang yang menjalani pola sebaliknya, yakni bekerja pada malam hari dan tidur pada siang hari. Pola kehidupan seperti itu, sebagaimana disampaikan beliau, membuat kehidupan seseorang tidak berjalan seperti kebiasaan pada umumnya dan dapat mengurangi kebahagiaannya.
Bagi Syaikh Mohammad Sharifani, pergantian waktu untuk beraktivitas dan beristirahat merupakan sesuatu yang layak direnungkan. Allah swt telah mengatur kehidupan manusia sedemikian rupa sehingga mereka dapat bekerja, berusaha, dan mencari rezeki, sekaligus memiliki waktu untuk beristirahat. Dalam proses aktivitas tersebut terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah swt yang seharusnya diperhatikan oleh orang-orang yang mau mendengarkan dan merenungkan.
Hal kelima yang perlu direnungkan adalah pernikahan. Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa pernikahan merupakan sesuatu yang unik dan luar biasa. Di dalamnya terdapat berbagai pelajaran yang dapat dipahami apabila manusia bersedia merenungkan bagaimana Allah swt menciptakan pasangan bagi manusia dan menumbuhkan ketenangan serta kasih sayang di antara mereka.
Beliau mengutip Surah Ar-Rum ayat 21:
Wa min āyātihī an khalaqa lakum min anfusikum azwājan litaskunū ilaihā wa ja‘ala bainakum mawaddatan wa raḥmah. Inna fī żālika la’āyātil liqaumin yatafakkarūn.
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum [30]: 21)
Syaikh Mohammad Sharifani mengajak jamaah memikirkan bagaimana seseorang dapat memiliki pasangan yang sebelumnya tidak pernah dikenalnya. Pasangan tersebut bisa berasal dari kota lain, pulau lain, bahkan negara lain. Sebelum pertemuan itu terjadi, seseorang tidak mengetahui siapa yang kelak menjadi pendamping hidupnya. Namun, pada suatu saat, keduanya bertemu dan tumbuh rasa cinta di antara mereka.
Beliau menilai munculnya rasa cinta di antara dua orang yang sebelumnya tidak saling mengenal sebagai sesuatu yang menakjubkan. Bagaimana seseorang yang tinggal jauh dari orang lain dapat bertemu dengannya, kemudian tumbuh rasa kasih sayang yang membuat keduanya ingin menjalani kehidupan bersama? Hal tersebut merupakan salah satu perkara yang layak direnungkan.
Keajaiban itu tidak berhenti pada pertemuan dan munculnya cinta. Setelah menikah, pasangan dapat menjadi sumber ketenangan bagi satu sama lain. Kehadiran suami atau istri dapat memberikan kedamaian dalam kehidupan bersama. Bagi Syaikh Mohammad Sharifani, tumbuhnya kasih sayang dan ketenangan di antara pasangan merupakan tanda kekuasaan Allah swt. Karena itu, pernikahan tidak seharusnya dipandang sebagai peristiwa biasa, melainkan juga sebagai sesuatu yang patut direnungkan agar manusia dapat memahami hikmah di baliknya.
Hal keenam yang ditekankan Al-Qur’an untuk direnungkan adalah nikmat-nikmat Allah swt. Syaikh Mohammad Sharifani mengajak jamaah memperhatikan makanan yang mereka konsumsi setiap hari. Beliau merujuk Surah Abasa ayat 24–32, yang memerintahkan manusia memperhatikan makanannya dan menjelaskan proses Allah swt menurunkan air, menumbuhkan berbagai jenis tanaman, serta menyediakan makanan bagi manusia dan hewan ternak.
Beliau membacakan ayat tersebut:
Falyanẓuril-insānu ilā ṭa‘āmihī. Annā ṣababnal-mā’a ṣabbā. Ṡumma syaqaqnal-arḍa syaqqā. Fa-anbatnā fīhā ḥabbā. Wa ‘inaban wa qaḍbā. Wa zaitūnan wa nakhlā. Wa ḥadā’iqa ghulbā. Wa fākihatan wa abbā. Matā‘an lakum wa li-an‘āmikum.
“Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Kamilah yang telah mencurahkan air melimpah (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu di sana Kami tumbuhkan biji-bijian, dan anggur dan sayur-sayuran, dan zaitun dan pohon kurma, dan kebun-kebun (yang) rindang, dan buah-buahan serta rerumputan, (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk hewan-hewan ternakmu.” (QS. Abasa [80]: 24–32)
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa air yang turun dari langit memungkinkan tanah menumbuhkan berbagai tanaman yang menjadi sumber makanan. Dari tanah tersebut tumbuh biji-bijian, anggur, sayur-sayuran, zaitun, pohon kurma, kebun-kebun yang rindang, buah-buahan, dan berbagai tanaman lainnya. Seluruhnya merupakan bagian dari nikmat Allah swt yang dinikmati manusia dalam kehidupannya.
Beliau mengajak jamaah memperhatikan beragam buah yang tersedia di dunia, seperti apel, anggur, nanas, dan durian. Jenis buah-buahan sangat banyak, bahkan apabila dihitung berdasarkan ragam jenisnya, jumlahnya mencapai lebih dari seribu macam. Padahal, berbagai tanaman tersebut tumbuh dari tanah yang sama. Kenyataan ini menjadi salah satu perkara yang perlu direnungkan: bagaimana tanah dapat menumbuhkan bermacam-macam buah dengan karakteristik yang berbeda-beda?
Selain buah-buahan, Allah swt juga memberikan nikmat berupa hewan ternak dan berbagai manfaat yang dapat diperoleh darinya, termasuk makanan yang berasal dari hewan-hewan tersebut. Buah-buahan sendiri memiliki beragam warna, rasa, dan manfaat bagi manusia. Keragaman itu memperlihatkan betapa banyak nikmat yang tersedia dalam kehidupan.
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, manusia seharusnya tidak hanya menikmati berbagai makanan dan hasil alam, tetapi juga merenungkan bagaimana semua itu tersedia. Air yang turun dari langit, tanah yang menumbuhkan tanaman, serta keberagaman buah dan hewan merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah swt. Semua nikmat tersebut perlu dipikirkan setiap hari agar manusia dapat mengambil hikmah dan manfaat darinya, bukan sekadar melewatkannya sebagai bagian dari rutinitas.
Hal berikutnya yang perlu direnungkan adalah sejarah dan peradaban umat terdahulu. Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa Al-Qur’an memberikan perhatian terhadap sejarah sebagai bahan pelajaran bagi manusia. Beliau mengutip Surah Al-An’am ayat 6, yang mengajak manusia memperhatikan generasi-generasi sebelumnya yang telah dibinasakan meskipun mereka pernah memperoleh kekuatan dan berbagai karunia dalam kehidupan.
Beliau membacakan ayat tersebut:
Alam yaraw kam ahlaknā min qablihim min qarnim makkannāhum fil-arḍi mā lam numakkin lakum wa arsalnas-samā’a ‘alaihim midrāran wa ja‘alnal-anhāra tajrī min taḥtihim fa-ahlaknāhum biżunūbihim wa ansya’nā mim ba‘dihim qarnan ākharīn.
“Tidakkah mereka memperhatikan berapa banyak generasi sebelum mereka yang telah Kami binasakan, padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukannya di bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu. Kami curahkan hujan yang lebat untuk mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain.” (QS. Al-An’am [6]: 6)
Syaikh Mohammad Sharifani menerangkan bahwa umat terdahulu pernah mendapatkan berbagai nikmat dan kekuatan. Namun, ketika mereka tidak mensyukuri nikmat tersebut dan tidak menaati perintah Allah swt, mereka justru menjadi sombong. Allah swt kemudian membinasakan mereka karena dosa-dosa yang mereka lakukan.
Beliau menggambarkan bagaimana hujan turun terus-menerus, sungai-sungai meluap, dan banjir terjadi hingga mereka mengalami kehancuran. Peristiwa tersebut menjadi pelajaran tentang bagaimana suatu kaum yang sebelumnya memperoleh kekuatan dan berbagai karunia dapat kehilangan semuanya ketika tidak menggunakan nikmat itu sebagaimana mestinya.
Setelah suatu generasi dibinasakan, Allah swt menghadirkan generasi lain yang menggantikannya. Pergantian antargenerasi tersebut juga merupakan bagian dari sejarah yang perlu dipahami dan direnungkan. Syaikh Mohammad Sharifani mengajak jamaah mengambil pelajaran dari nasib umat terdahulu agar tidak mengulangi kesalahan yang sama, terutama sikap sombong ketika memperoleh kekuatan, kedudukan, dan berbagai kenikmatan dalam kehidupan.
Setelah membahas penciptaan manusia, kematian, kehidupan, rezeki, pernikahan, nikmat-nikmat Allah swt, serta sejarah umat terdahulu, Syaikh Mohammad Sharifani beralih kepada hewan-hewan yang juga menjadi objek perenungan dalam Al-Qur’an. Beliau mencontohkan burung yang dapat terbang di angkasa sebagai salah satu tanda kekuasaan Allah swt yang perlu diperhatikan manusia.
Beliau mengutip ayat yang menjelaskan keadaan burung-burung yang terbang di langit:
Alam yaraw ilaṭ-ṭairi musakhkharātin fī jawwis-samā’i, mā yumsikuhunna illallāh. Inna fī żālika la’āyātil liqaumin yu’minūn.
“Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dapat terbang di angkasa dengan mudah? Tidak ada yang menahannya selain Allah. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nahl [16]: 79)
Syaikh Mohammad Sharifani mengajak jamaah memperhatikan bagaimana burung dapat bertahan di udara tanpa terjatuh ke bumi. Burung-burung tersebut mampu terbang dan bergerak di angkasa, seolah-olah ada sesuatu yang menahannya. Dalam penjelasan beliau, keadaan itu dapat dipahami sebagai salah satu tanda kekuasaan Allah swt, yang memungkinkan burung-burung tersebut tetap berada di udara.
Beliau menegaskan bahwa ketika manusia benar-benar memperhatikan dan merenungkan kemampuan burung untuk terbang, perenungan itu dapat menambah keimanan. Burung yang tampak biasa dijumpai dalam kehidupan sehari-hari ternyata menyimpan tanda-tanda kebesaran Allah swt bagi orang-orang yang bersedia memikirkannya.
Hewan berikutnya yang menjadi objek perenungan adalah lebah madu. Syaikh Mohammad Sharifani mengutip Surah An-Nahl ayat 68–69, yang menjelaskan bagaimana Allah swt memberikan petunjuk kepada lebah untuk membuat sarang, mencari makanan, dan menghasilkan madu yang memiliki beragam warna serta manfaat bagi manusia.
Beliau membacakan ayat tersebut:
Wa awḥā rabbuka ilan-naḥli anittakhiżī minal-jibāli buyūtan wa minasy-syajari wa mimmā ya‘risyūn. Ṡumma kulī min kulliṡ-ṡamarāti faslukī subula rabbiki żululā. Yakhruju mim buṭūnihā syarābum mukhtalifun alwānuhū, fīhi syifā’ul linnās. Inna fī żālika la’āyatal liqaumin yatafakkarūn.
“Dan Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah, ‘Buatlah sarang di gunung-gunung, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah dari segala (macam) buah-buahan lalu tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu).’ Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir.” (QS. An-Nahl [16]: 68–69)
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa lebah memperoleh petunjuk untuk membangun sarang di berbagai tempat, antara lain di gunung-gunung dan pepohonan. Lebah juga menjalani kehidupannya dengan mengikuti petunjuk yang diberikan Allah swt, mencari bahan makanan dari satu tempat ke tempat lain, hingga menghasilkan madu.
Beliau mengajak jamaah memperhatikan madu yang keluar dari tubuh lebah dengan warna yang beragam. Madu dapat berwarna keemasan, kuning, bahkan hitam. Selain memiliki warna yang berbeda-beda, madu juga mengandung manfaat bagi manusia, sebagaimana disebutkan dalam ayat yang dibacakan beliau.
Keberadaan lebah, proses pembentukan sarangnya, cara memperoleh makanan, dan madu yang dihasilkannya merupakan rangkaian peristiwa yang patut direnungkan. Bagi Syaikh Mohammad Sharifani, semua itu tidak terlepas dari kehendak dan kekuasaan Allah swt. Di dalam kehidupan lebah madu terdapat tanda-tanda kebesaran-Nya bagi orang-orang yang mau berpikir dan mengambil manfaat dari apa yang mereka amati.
Melalui rangkaian penjelasan tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani menguraikan berbagai objek tafakur yang ditunjukkan Al-Qur’an, mulai dari penciptaan manusia hingga kehidupan hewan. Perenungan terhadap kematian dan tidur, kehidupan dan kesadaran, proses mencari rezeki, pernikahan, nikmat-nikmat Allah swt, sejarah umat terdahulu, serta kehidupan burung dan lebah mengajak manusia memperhatikan berbagai peristiwa yang hadir di sekelilingnya. Semua itu merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah swt yang perlu direnungkan agar manusia dapat memahami kebesaran-Nya dan memperoleh manfaat dari pelajaran yang terkandung di dalamnya.



