Skip to main content

Kelas Tafsir Maudhu’i ICC Jakarta kembali diselenggarakan pada Kamis, 15 Oktober 2026, dengan menghadirkan Ustaz Zaki Amami sebagai pengajar. Pada pertemuan tersebut, beliau mengajak para peserta mempelajari sejumlah hadis Rasulullah saw yang terdapat dalam kitab Nahjul Fashahah, khususnya mengenai enam kebaikan utama yang memiliki nilai tinggi di sisi Allah swt serta enam perbuatan yang dapat menggugurkan amal kebaikan.

Ustaz Zaki Amami mengawali penjelasannya dengan mengingatkan pentingnya mengetahui kedua kelompok perbuatan tersebut. Menurut beliau, manusia perlu memahami amal-amal yang dapat mendatangkan pahala dan menjaga keimanannya. Namun, setelah mengetahui dan melaksanakan berbagai kebaikan itu, seseorang juga harus berhati-hati agar pahala yang telah diperoleh tidak rusak atau gugur akibat perbuatan yang dilakukannya sendiri.

Sebelum menguraikan kedua hadis tersebut, beliau terlebih dahulu mengutip sebuah hadis Rasulullah saw yang menggambarkan keadaan manusia ketika menghadapi berbagai fitnah dan ujian berat dalam kehidupan.

Satakūnu fitanun yuṣbiḥur-rajulu fīhā mu’minan wa yumsī kāfiran illā man aḥyāhullāhu bil-‘ilm.

Hadis tersebut menerangkan bahwa akan datang berbagai fitnah ketika seseorang pada pagi hari masih berada dalam keadaan beriman, tetapi pada sore hari telah menjadi kafir, kecuali orang yang dihidupkan Allah swt dengan ilmu.

Ustaz Zaki Amami menjelaskan bahwa fitnah dalam hadis tersebut berarti ujian atau keadaan yang sangat sulit dan mencekam. Ketika seseorang menghadapi kesulitan yang berat dan merasa terdesak, terkadang orang tersebut dapat melakukan berbagai tindakan yang tidak lagi sesuai dengan akal sehat ataupun aturan agama.

Beliau menggambarkan betapa cepatnya keadaan keimanan seseorang dapat berubah ketika menghadapi ujian. Seseorang yang pada pagi hari masih beriman, pada sore harinya dapat kehilangan keimanan karena tidak mampu menghadapi keadaan yang menimpanya.

Namun, Rasulullah saw memberikan pengecualian melalui ungkapan illā man aḥyāhullāhu bil-‘ilm, yaitu kecuali orang yang dihidupkan Allah swt dengan ilmu. Menurut Ustaz Zaki Amami, ilmu memiliki peranan penting dalam menjaga manusia agar tidak mudah kehilangan arah ketika menghadapi berbagai ujian.

Beliau kemudian menghubungkan hadis tersebut dengan pembahasan mengenai enam kebaikan utama dan enam perbuatan yang dapat menggugurkan amal. Dengan mengetahui kedua kelompok perbuatan tersebut, manusia diharapkan mampu membangun kebiasaan yang baik sekaligus menghindari perilaku yang dapat merusak keimanannya.

Ustaz Zaki Amami mengawali pembahasan enam kebaikan dengan ungkapan sittu khiṣālin minal-khair, yang berarti enam perkara yang termasuk dalam kebaikan. Menurut beliau, perkara-perkara tersebut merupakan amalan yang perlu diperhatikan karena mempunyai nilai penting dalam kehidupan seorang mukmin.

Kebaikan pertama yang beliau jelaskan adalah jihad di jalan Allah. Dalam hadis yang dibahas, jihad disebutkan melalui gambaran perjuangan menghadapi musuh dengan pedang. Ustaz Zaki Amami menerangkan bahwa pada masa dahulu peperangan dilakukan dengan menggunakan pedang, sedangkan pada masa sekarang persenjataan telah mengalami perubahan.

Beliau menyinggung perjuangan yang berlangsung di Yaman sebagai salah satu contoh jihad yang beliau maksudkan. Namun, Ustaz Zaki Amami juga menekankan bahwa bagi masyarakat Indonesia, jihad dapat diwujudkan melalui berbagai bentuk pengorbanan dan pertolongan kepada orang-orang yang sedang mengalami kesulitan.

Menurut beliau, seseorang dapat berjihad dengan menyumbangkan harta, meluangkan waktu, memberikan ilmu, ataupun membantu melalui kemampuan yang dimiliki. Apabila seseorang tidak mempunyai harta atau kemampuan untuk memberikan bantuan secara langsung, masih terdapat jalan lain yang dapat dilakukan, yaitu melalui doa.

Ustaz Zaki Amami mengingatkan permohonan yang dibaca dalam Doa Kumail, ketika seorang hamba menghadap Allah swt dengan segala keterbatasannya. Beliau menekankan bahwa manusia yang tidak mempunyai sesuatu untuk diberikan masih dapat memanjatkan doa bagi orang-orang yang sedang membutuhkan pertolongan.

Beliau mencontohkan doa bagi masyarakat Palestina yang menghadapi penderitaan serta saudara-saudara di Kalimantan yang mengalami kesulitan akibat kabut asap. Menurut beliau, kepedulian melalui doa juga merupakan bagian dari usaha seorang mukmin dalam membantu sesamanya.

Lebih jauh, Ustaz Zaki Amami menjelaskan bahwa jihad tidak hanya berkaitan dengan peperangan ataupun perjuangan yang berlangsung di tempat yang jauh. Dalam kehidupan keluarga, seseorang juga harus berjuang di jalan Allah swt dengan menjalankan tanggung jawabnya sebaik mungkin.

Seorang suami yang membantu istrinya menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, misalnya, juga sedang melakukan suatu bentuk perjuangan dalam kebaikan. Demikian pula seorang ayah yang bekerja untuk mencari nafkah halal bagi anak-anaknya. Menurut beliau, berbagai usaha tersebut merupakan bagian dari jihad yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Ustaz Zaki Amami juga menyinggung pemanfaatan media sosial sebagai sarana memperjuangkan kebenaran. Seseorang yang memiliki akun media sosial dapat menggunakannya untuk menyampaikan hal-hal yang baik, membela kebenaran, dan menyebarkan pesan-pesan yang sesuai dengan nilai agama.

Beliau mengingatkan agar seseorang tidak mudah merasa takut atau ragu dalam menyampaikan kebenaran hanya karena khawatir terhadap penilaian orang lain. Menurut beliau, apabila orang-orang yang mengetahui kebenaran justru enggan menyampaikannya, perjuangan untuk membela nilai-nilai agama akan menghadapi kesulitan.

Dalam kaitan tersebut, beliau mengutip firman Allah swt:

In tanṣurullāha yanṣurkum.

“Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu.” (QS. Muhammad [47]: 7)

Ustaz Zaki Amami menjelaskan bahwa menolong agama Allah swt bukan berarti manusia berada dalam kedudukan yang lebih tinggi daripada Allah atau bahwa Allah membutuhkan pertolongan dari makhluk-Nya. Maksudnya adalah manusia berusaha berada di jalan Ilahi, menghidupkan ajaran agama, dan memperjuangkan kebenaran sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Kebaikan kedua yang beliau uraikan adalah berpuasa ketika cuaca sedang panas, sebagaimana disebutkan dalam ungkapan waṣ-ṣaumu fī yaumiṣ-ṣaif. Beliau menjelaskan bahwa puasa dalam keadaan panas merupakan ibadah yang menuntut kesabaran dan kemampuan seseorang untuk menahan diri.

Ustaz Zaki Amami menghubungkan pembahasan tersebut dengan pengalaman menjalankan puasa pada musim kemarau. Dalam keadaan demikian, seseorang harus menahan lapar dan haus meskipun kondisi cuaca dapat membuat ibadah terasa lebih berat.

Beliau kemudian menjelaskan bahwa puasa juga dapat dipahami sebagai latihan untuk menjaga diri dari berbagai perbuatan yang tidak baik. Ketika berpuasa, seseorang bahkan menahan diri dari hal-hal yang pada dasarnya diperbolehkan, seperti makan dan minum, karena sedang menjalankan perintah Allah swt.

Menurut beliau, kemampuan menahan diri tersebut seharusnya juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang perlu membiasakan diri menghindari hal-hal yang dilarang Allah swt, bahkan menjaga diri dari perbuatan yang tergolong makruh atau sebaiknya ditinggalkan.

Ustaz Zaki Amami mencontohkan kebiasaan makan sambil berjalan sebagai salah satu perbuatan yang menurut penjelasannya sebaiknya dihindari. Meskipun suatu perbuatan tidak selalu termasuk dosa, seseorang tetap dapat melatih dirinya untuk meninggalkan hal-hal yang kurang baik.

Beliau juga mengingatkan bahwa manusia perlu berhati-hati terhadap tindakan yang telah diketahui dapat mendatangkan bahaya. Jangan sampai seseorang tetap melakukan suatu perbuatan hanya karena menganggapnya sebagai hal biasa, padahal telah mengetahui adanya akibat buruk yang mungkin ditimbulkan.

Kebaikan ketiga adalah bersabar dengan baik ketika menghadapi musibah, sebagaimana disebutkan dalam ungkapan wa ḥusnuṣ-ṣabri ‘indal-muṣībah. Ustaz Zaki Amami menjelaskan bahwa musibah dapat datang dalam berbagai bentuk dan tidak terbatas pada satu keadaan tertentu.

Beliau menyebutkan berbagai contoh musibah yang dapat dialami manusia, mulai dari kesulitan ekonomi, bencana alam, peperangan, penyakit, utang, hingga kegagalan dalam mencapai sesuatu yang diharapkan.

Untuk menjelaskan cara menghadapi musibah, Ustaz Zaki Amami mengutip nasihat Ayatullah Makarim Syirazi ketika ditanya oleh salah seorang muridnya mengenai bagaimana seseorang dapat merasa lebih ringan dalam menghadapi berbagai kesulitan hidup.

Menurut penuturan beliau, Ayatullah Makarim Syirazi menjelaskan bahwa manusia perlu memahami hakikat kehidupannya sebagai sebuah ujian. Ketika seseorang menyadari bahwa kehidupan merupakan ujian, ia akan memahami adanya kemungkinan untuk berhasil ataupun gagal dalam menghadapinya.

Ustaz Zaki Amami menekankan bahwa Allah swt telah memberikan petunjuk agar manusia tidak merasa kehilangan harapan ketika menghadapi kesulitan. Salah satunya terdapat dalam firman Allah swt:

Lā yukallifullāhu nafsan illā wus’ahā.

“Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 286)

Beliau menjelaskan bahwa setiap manusia menghadapi ujian sesuai dengan kemampuan dan keadaan masing-masing. Ujian yang diberikan kepada seseorang tidak harus sama dengan ujian yang dihadapi orang lain.

Sebagai contoh, beliau menggambarkan bahwa tanggung jawab dan ujian seorang presiden tentu berbeda dengan ujian yang dihadapi masyarakat pada umumnya. Masing-masing mempunyai keadaan, kemampuan, dan tanggung jawab yang berbeda.

Menurut Ustaz Zaki Amami, pemahaman tersebut membantu manusia menyadari bahwa Allah swt mengetahui kemampuan setiap hamba-Nya. Karena itu, seseorang perlu berusaha menghadapi ujian yang diberikan tanpa kehilangan keyakinan terhadap pertolongan Allah swt.

Beliau juga mengingatkan firman Allah swt:

Inna ma’al-‘usri yusrā.

“Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh [94]: 6)

Ustaz Zaki Amami menjelaskan bahwa ayat tersebut merupakan salah satu pegangan penting ketika manusia menghadapi musibah. Bersama kesulitan terdapat kemudahan yang telah dijanjikan Allah swt, sehingga seseorang tidak seharusnya berputus asa ketika menghadapi masalah.

Menurut beliau, kedua ayat tersebut memberikan pemahaman bahwa setiap ujian perlu dihadapi dengan kesabaran dan usaha. Ketika seseorang menghadapi persoalan, ia perlu meyakini bahwa terdapat jalan untuk mengatasinya dan bahwa Allah swt tidak meninggalkan hamba-Nya dalam kesulitan.

Kebaikan keempat yang ditekankan Ustaz Zaki Amami dalam penjelasannya adalah meninggalkan sifat riya. Beliau merujuk pembahasan dalam kitab 40 Hadis karya Imam Khomeini mengenai penyakit hati yang berkaitan dengan keinginan manusia untuk memperoleh pujian dan membanggakan dirinya sendiri.

Menurut beliau, riya merupakan salah satu penyakit hati yang harus diwaspadai karena dapat muncul tanpa selalu disadari. Seseorang mungkin merasa dirinya lebih hebat, lebih baik, atau lebih istimewa daripada orang lain, meskipun perasaan tersebut hanya tersimpan dalam hati.

Ustaz Zaki Amami menjelaskan bahwa membanggakan diri secara berlebihan bukanlah sikap yang semestinya dimiliki manusia. Beliau mengingatkan bahwa keagungan dan kebesaran yang sesungguhnya merupakan milik Allah swt.

Dalam kehidupan sekarang, menurut beliau, keinginan memperoleh pengakuan dari orang lain juga dapat berkembang menjadi kebiasaan memamerkan harta, kemampuan, atau kedudukan. Beliau menyinggung fenomena flexing sebagai salah satu contoh perilaku seseorang yang ingin memperlihatkan apa yang dimilikinya kepada orang lain.

Karena itu, Ustaz Zaki Amami mengingatkan agar manusia tidak membiarkan keinginan untuk dipuji berkembang menjadi kesombongan. Perbuatan baik seharusnya dilakukan karena Allah swt, bukan untuk memperoleh pengakuan ataupun menunjukkan kehebatan diri.

Kebaikan kelima yang beliau sampaikan adalah berinfak secara sembunyi-sembunyi, sebagaimana disebutkan dalam ungkapan wal-infāqu fil-khafā’. Menurut beliau, memberikan infak tanpa diketahui orang lain dapat membantu seseorang menjaga ketulusan niatnya.

Ustaz Zaki Amami menjelaskan bahwa berinfak secara terang-terangan pada dasarnya diperbolehkan. Namun, seseorang harus berhati-hati terhadap keadaan hatinya agar pemberian tersebut tidak berubah menjadi sarana untuk mencari pujian.

Beliau mencontohkan seseorang yang memberikan sumbangan kepada masjid, kemudian merasa perlu mengumumkan jumlah uang yang telah disumbangkannya. Menurut beliau, kebiasaan seperti itu perlu diwaspadai karena dapat membuka jalan bagi munculnya kesombongan dan keinginan memperlihatkan kebaikan diri.

Karena itu, beliau menganjurkan agar seseorang membiasakan diri memberikan bantuan dengan niat yang tulus dan tidak selalu merasa perlu memperlihatkannya kepada orang lain.

Kebaikan keenam adalah saling mencintai karena Allah swt atau wal-maḥabbatu fillāh. Ustaz Zaki Amami menjelaskan bahwa cinta karena Allah mempunyai makna yang luas dan tidak hanya berkaitan dengan hubungan antara laki-laki dan perempuan.

Menurut beliau, manusia dapat mencintai sahabat, teman, keluarga, dan berbagai makhluk ciptaan Allah swt. Bahkan, kecintaan terhadap tanaman, bunga, dan keindahan alam juga dapat menjadi bagian dari rasa cinta yang berhubungan dengan Allah swt.

Beliau mencontohkan seseorang yang menanam bunga kemudian merawat dan menikmati keindahannya. Kecintaan tersebut tidak seharusnya berhenti pada keindahan benda yang dilihat, tetapi juga mengantarkan manusia untuk mengingat Allah swt sebagai Pencipta segala keindahan.

Ustaz Zaki Amami menjelaskan bahwa kecintaan seperti itu perlu dilatih dan dibiasakan. Demikian pula kecintaan terhadap ibadah dan berbagai ajaran agama. Cinta yang sesungguhnya tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus tercermin dalam tindakan.

Beliau kemudian memberikan contoh mengenai kecintaan kepada ahlul bait as. Menurut beliau, seseorang tidak cukup hanya mengaku mencintai ahlul bait as apabila pengakuan tersebut tidak disertai dengan kesediaan untuk menjalankan kewajiban agama dan menghadiri kegiatan yang berkaitan dengan mereka.

Ustaz Zaki Amami menyinggung kegiatan peringatan syahadah dan wiladah ahlul bait as sebagai salah satu bentuk kesempatan untuk memperlihatkan kecintaan tersebut. Beliau juga mencontohkan pelaksanaan kewajiban berhijab sebagai bagian dari pengamalan ajaran agama yang perlu dijalankan.

Menurut beliau, apabila seseorang mengaku mencintai ahlul bait as tetapi tidak bersedia menjalankan kewajiban yang telah diperintahkan, kecintaan tersebut masih terbatas pada ucapan dan belum diwujudkan melalui perbuatan.

Untuk memperjelas makna cinta yang disertai tindakan, Ustaz Zaki Amami mengajak peserta memperhatikan hubungan orang tua dengan anak-anaknya. Seorang ayah atau ibu tidak cukup hanya mengatakan bahwa mereka mencintai anak-anaknya, tetapi harus memperlihatkan kecintaan itu melalui tanggung jawab dan perhatian.

Orang tua perlu memberikan makanan, pendidikan, nasihat, serta bimbingan kepada anak-anaknya. Mereka juga tidak seharusnya membiarkan anak menggunakan media sosial tanpa pengawasan dan arahan yang baik.

Menurut beliau, membiarkan anak melakukan apa saja tanpa bimbingan bukanlah bentuk cinta yang benar. Cinta justru menuntut seseorang untuk mengarahkan, menjaga, dan memberikan hal-hal yang baik kepada orang yang dicintainya.

Demikian pula kecintaan kepada ahlul bait as. Ustaz Zaki Amami mengingatkan bahwa kecintaan tersebut merupakan bagian dari ajaran yang disampaikan Rasulullah saw dan perlu diwujudkan dalam kehidupan, termasuk dengan mengenalkan serta menanamkannya kepada anggota keluarga.

Setelah menguraikan enam kebaikan tersebut, Ustaz Zaki Amami mengingatkan bahwa manusia juga perlu memahami berbagai perbuatan yang dapat merusak amal yang telah dilakukannya. Seseorang mungkin telah berjuang di jalan Allah, berpuasa, bersabar menghadapi musibah, berusaha menjauhi riya, berinfak, dan mencintai sesama karena Allah swt. Namun, seluruh usaha itu tetap harus dijaga agar tidak rusak akibat perilaku buruk.

Beliau kemudian mengutip hadis yang diawali dengan ungkapan sittatu asy-yā’in tuḥbiṭul-a’māl, yang berarti enam perkara yang dapat menggugurkan amal.

Perbuatan pertama yang beliau jelaskan adalah al-isytigālu bi’uyūbil-khalq, yaitu menyibukkan diri dengan mencari dan membicarakan aib orang lain.

Ustaz Zaki Amami mengingatkan bahwa manusia sering kali lebih mudah melihat kesalahan orang lain daripada memperhatikan kekurangan dirinya sendiri. Dalam kehidupan keluarga, misalnya, seorang suami dapat terus-menerus menyalahkan istrinya, sementara seorang istri juga sibuk mencari kesalahan suaminya.

Keadaan serupa dapat terjadi dalam hubungan antara saudara. Seorang kakak menyalahkan adiknya, sedangkan adik terus memperhatikan kesalahan kakaknya. Menurut beliau, kebiasaan tersebut justru dapat membuat seseorang melupakan kewajibannya untuk memperbaiki diri.

Karena itu, Ustaz Zaki Amami mengajak peserta untuk lebih banyak melakukan introspeksi daripada menyibukkan diri dengan kekurangan orang lain. Beliau mengingatkan ungkapan ḥāsibū qabla an tuḥāsabū, yaitu perintah untuk menghisab diri sebelum kelak dihisab.

Menurut beliau, setiap orang perlu membiasakan diri mengevaluasi perbuatannya, termasuk ketika hendak beristirahat pada malam hari. Sebelum tidur, seseorang dapat mengingat kembali apa saja yang telah dilakukan sepanjang hari dan memperhatikan kemungkinan adanya kesalahan.

Apabila kesalahan tersebut berkaitan dengan hubungan kepada Allah swt, hendaknya segera beristigfar dan bertobat. Namun, apabila kesalahan dilakukan terhadap orang lain, seseorang perlu berusaha meminta maaf kepada pihak yang telah disakiti.

Ustaz Zaki Amami menjelaskan bahwa meminta maaf dapat dilakukan melalui berbagai cara. Seseorang dapat datang secara langsung, menghubungi melalui pesan WhatsApp, atau menggunakan sarana komunikasi lain untuk menyampaikan penyesalan dan memohon agar kesalahannya dimaafkan.

Beliau juga mencontohkan pentingnya mengakui kesalahan dan berjabat tangan dengan orang yang pernah disakiti. Menurut beliau, mengakui kesalahan bukanlah tanda kekalahan. Sebaliknya, seseorang perlu memiliki keberanian untuk mengakui perbuatannya agar hubungan dengan orang lain dapat diperbaiki.

Perbuatan kedua yang dapat menggugurkan amal adalah qaswatul-qalb, yaitu kerasnya hati. Ustaz Zaki Amami menggambarkan keadaan tersebut sebagai sikap keras kepala ketika seseorang tidak mau menerima nasihat ataupun mengakui kesalahan.

Menurut beliau, seseorang yang berhati keras dapat tetap mempertahankan perbuatannya meskipun orang lain telah memberikan penjelasan bahwa tindakan tersebut keliru atau berbahaya.

Ustaz Zaki Amami mengingatkan bahwa penyakit hati seperti ini dapat menjangkiti siapa saja, termasuk orang-orang yang memiliki jabatan, pangkat, atau kedudukan tertentu. Ketika seseorang merasa mempunyai kekuasaan, terkadang muncul keengganan untuk mendengarkan nasihat dari orang lain.

Beliau mencontohkan keadaan ketika seseorang telah diperingatkan agar tidak membakar, merusak, atau melakukan tindakan yang dapat mendatangkan bahaya, tetapi tetap tidak mau mendengarkan karena memiliki kepentingan tertentu.

Menurut beliau, keinginan duniawi terkadang menyebabkan seseorang menolak nasihat meskipun telah mengetahui akibat buruk yang mungkin ditimbulkan. Karena itu, manusia perlu menjaga hatinya agar tetap terbuka terhadap kebenaran dan bersedia memperbaiki kesalahan.

Perbuatan ketiga adalah ḥubbud-dunyā, yaitu kecintaan berlebihan terhadap dunia. Ustaz Zaki Amami menyampaikan bahwa persoalan cinta dunia sebenarnya merupakan pembahasan yang sangat luas dan dapat dijelaskan secara panjang.

Namun, beliau memberikan gambaran bahwa orang yang terlalu mencintai dunia cenderung menganggap dunia sebagai miliknya dan menjadikan kehidupan dunia sebagai tujuan utama.

Menurut beliau, ketika seseorang telah terlalu melekat pada kehidupan dunia, rasa takut terhadap kematian juga dapat semakin besar. Orang tersebut enggan berpisah dari berbagai hal yang telah dimiliki dan dinikmatinya.

Karena itu, Ustaz Zaki Amami mengingatkan agar manusia tidak menjadikan dunia sebagai satu-satunya tujuan hidup hingga melupakan kehidupan akhirat.

Perbuatan keempat adalah qillatul-ḥayā’, yaitu sedikitnya rasa malu. Beliau menjelaskan bahwa rasa malu sebenarnya mempunyai peranan penting dalam menjaga perilaku manusia.

Menurut beliau, rasa malu dapat berfungsi sebagai pengendali yang mencegah seseorang melakukan perbuatan buruk. Ketika seseorang masih memiliki rasa malu yang baik, dirinya akan lebih berhati-hati untuk tidak melakukan tindakan yang melanggar nilai agama dan akhlak.

Namun, Ustaz Zaki Amami mengingatkan bahwa rasa malu harus ditempatkan secara tepat. Manusia seharusnya merasa malu ketika hendak melakukan keburukan, bukan justru merasa malu ketika mendapat kesempatan melakukan kebaikan.

Beliau mencontohkan seseorang yang diajak membantu membersihkan masjid, tetapi menolak karena malu dilihat orang lain. Orang tersebut mungkin khawatir dianggap tidak mempunyai pekerjaan atau merasa gengsi ketika harus membersihkan tempat ibadah.

Menurut beliau, rasa malu seperti itu tidak seharusnya menghalangi manusia untuk melakukan amal kebaikan.

Ustaz Zaki Amami juga mencontohkan ajakan untuk menyemarakkan peringatan syahadah Sayidah Fatimah az-Zahra sa. Ketika seseorang diminta membantu kegiatan atau tampil mengambil bagian dalam acara tersebut, jangan sampai rasa malu menjadi alasan untuk menghindari kesempatan berbuat baik.

Beliau menjelaskan bahwa menyampaikan syiar agama terkadang membutuhkan keberanian untuk tampil di hadapan orang lain. Seseorang yang ingin menyampaikan kebaikan perlu bersedia menjadi contoh atau uswah bagi masyarakat.

Akan tetapi, Ustaz Zaki Amami menekankan bahwa keberanian tampil untuk melakukan kebaikan harus dibedakan dari keinginan memperoleh pujian. Menurut beliau, batas antara menjadi teladan dan terjerumus ke dalam riya terkadang sangat tipis.

Seseorang mungkin awalnya hanya ingin membantu kegiatan keagamaan atau memberikan contoh yang baik. Namun, apabila setelah memperoleh perhatian dari orang lain muncul perasaan bahwa dirinya hebat, keadaan tersebut perlu diwaspadai.

Untuk menghindarinya, beliau menganjurkan agar seseorang terus beristigfar dan memohon kepada Allah swt supaya dijauhkan dari sifat riya. Setiap amal hendaknya dilaksanakan secara wajar dan tidak dibuat-buat hanya karena ingin memperoleh perhatian.

Ustaz Zaki Amami memberikan contoh ketika seseorang diminta memimpin salat berjemaah sebagai imam. Menurut beliau, orang tersebut tidak perlu mengubah cara salatnya secara berlebihan, misalnya sengaja memanjangkan bacaan hanya karena sedang berada di hadapan jemaah.

Beliau mengingatkan agar ibadah dilaksanakan sebagaimana mestinya, dengan menjaga ketulusan dan tidak menjadikan perhatian orang lain sebagai tujuan.

Perbuatan kelima adalah ṭūlul-amal, yaitu panjang angan-angan. Ustaz Zaki Amami menjelaskan bahwa keadaan tersebut berkaitan dengan seseorang yang mempunyai keinginan dan harapan sangat besar, tetapi tidak disertai usaha nyata untuk mewujudkannya.

Beliau mencontohkan orang yang berangan-angan ingin memiliki kekayaan sangat besar, gunung emas, pesawat pribadi, atau penghasilan miliaran rupiah, tetapi hanya menghabiskan waktunya dengan tidur tanpa bekerja dan berusaha.

Menurut beliau, angan-angan seperti itu tidak memberikan manfaat apabila seseorang tidak melakukan sesuatu sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.

Ustaz Zaki Amami mengingatkan agar manusia tidak hanya membayangkan hal-hal besar yang ingin dicapai, tetapi mulai melaksanakan kebaikan yang dapat dilakukan saat ini.

Beliau memberikan contoh seseorang yang mempunyai keinginan membangun masjid. Keinginan tersebut merupakan niat yang baik, tetapi tidak harus menunggu hingga orang tersebut mempunyai kemampuan untuk membangun sebuah masjid secara keseluruhan.

Menurut beliau, seseorang dapat memulai dengan memberikan sedekah sesuai kemampuannya. Meskipun jumlahnya belum besar, tindakan tersebut merupakan langkah nyata menuju kebaikan yang diharapkan.

Karena itu, Ustaz Zaki Amami menekankan pentingnya menyesuaikan keinginan dengan kemampuan dan tidak membiarkan angan-angan menghalangi seseorang untuk melakukan sesuatu yang sudah dapat dikerjakan.

Perbuatan keenam yang dapat menggugurkan amal adalah kezaliman yang dilakukan secara terus-menerus tanpa berhenti. Beliau menyebutnya melalui ungkapan ẓālimun lā yantahī, yaitu orang yang terus melakukan kezaliman dan tidak menghentikan perbuatannya.

Ustaz Zaki Amami menjelaskan bahwa kezaliman dapat dilakukan terhadap manusia maupun makhluk Allah swt lainnya. Perbuatan tersebut dapat muncul dalam berbagai bentuk, termasuk menyakiti anggota keluarga atau memperlakukan orang lain secara tidak adil.

Beliau secara khusus mengingatkan bahaya kekerasan dalam rumah tangga. Menurut beliau, seseorang tidak seharusnya menyakiti pasangan yang telah Allah swt anugerahkan kepadanya.

Ustaz Zaki Amami mengingatkan agar manusia tidak membiarkan dirinya terus melakukan tindakan yang menyakiti orang lain. Apabila telah melakukan kesalahan, seseorang perlu segera menghentikan perbuatannya dan berusaha memperoleh maaf dari pihak yang disakiti.

Beliau mengajak peserta memikirkan apa yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Menurut beliau, meminta maaf tidak cukup hanya menjadi ucapan apabila seseorang tetap melanjutkan tindakan yang sama. Perbuatan yang menyakitkan harus dihentikan agar kezaliman tidak terus berlangsung.

Selain terhadap manusia, Ustaz Zaki Amami mengingatkan bahwa kezaliman juga dapat dilakukan terhadap hewan dan makhluk hidup lainnya.

Beliau mencontohkan seseorang yang dengan sengaja menyakiti hewan kecil, seperti semut, tanpa alasan yang dibenarkan. Menurut beliau, tindakan menyakiti makhluk Allah swt hanya untuk melampiaskan keinginan atau tanpa keperluan merupakan perbuatan yang dilarang.

Ustaz Zaki Amami membedakan tindakan tersebut dari upaya mengendalikan hama yang merusak tanaman atau mengganggu kehidupan manusia. Beliau mencontohkan penyemprotan hama di sawah sebagai tindakan yang memiliki tujuan tertentu.

Namun, beliau kembali menekankan bahwa manusia tidak dibenarkan dengan sengaja menyiksa atau menyakiti hewan tanpa alasan. Setiap makhluk merupakan ciptaan Allah swt sehingga manusia perlu memperhatikan cara memperlakukannya.

Melalui penjelasan tersebut, Ustaz Zaki Amami mengingatkan bahwa perbuatan zalim yang terus dilakukan dapat merusak amal kebaikan seseorang. Karena itu, manusia harus berusaha menghentikan kezaliman, memperbaiki hubungan dengan orang-orang yang pernah disakiti, dan menjaga sikap terhadap seluruh makhluk Allah swt.

Beliau menegaskan pentingnya menjaga amal yang telah dilakukan agar tidak rusak oleh kebiasaan mencari aib orang lain, keras hati, cinta dunia yang berlebihan, hilangnya rasa malu, panjang angan-angan, ataupun kezaliman yang tidak dihentikan. Berbagai kebaikan yang telah diusahakan, mulai dari jihad dalam pengertian pengorbanan di jalan Allah, puasa, kesabaran, menjaga ketulusan, berinfak, hingga mencintai karena Allah swt, perlu disertai dengan usaha terus-menerus untuk memperbaiki akhlak dan menjauhi perbuatan yang dapat menggugurkan amal.