Skip to main content

Allamah Sayyid Muhammad Husain Thabathaba’i secara luas dipandang sebagai salah satu sufi dan filsuf Islam paling berpengaruh serta termasyhur pada era modern — seorang cendekia besar yang sinar intelektual dan spiritualnya menginspirasi banyak generasi sesudahnya.

Banyak kalangan menilainya sebagai salah satu tokoh Muslim terbesar yang lahir dari Iran pada abad ke-20 — sosok yang benar-benar mewujudkan perpaduan antara kebijaksanaan, kedalaman spiritual, dan keluasan ilmu pengetahuan.

Allamah Thabathaba’i lahir pada tahun 1903 di kota Tabriz, Iran barat, dari sebuah keluarga sayyid, yaitu keturunan langsung dari Rasulullah saw. Keluarganya telah melahirkan lebih dari 14 generasi ulama dan pemikir besar dalam bidang teologi dan filsafat Islam.

Sepanjang hidupnya, Allamah Thabathaba’i menulis lebih dari 40 karya ilmiah yang seluruhnya dianggap sebagai mahakarya pemikiran intelektual Islam. Namun karya monumentalnya yang paling dikenal adalah “Tafsir al-Mīzān”, sebuah tafsir Al-Qur’an berbahasa Arab yang terdiri atas dua puluh jilid. Banyak sarjana menggambarkan tafsir ini sebagai karya yang “terilhami secara ilahi”.

“Allamah Thabathaba’i adalah salah satu keajaiban luar biasa di lingkungan hauzah ilmiah kita pada abad lalu. Kombinasi antara ilmu pengetahuan, ketakwaan, akhlak, bakat sastra dan seni, serta ketulusan dan persahabatan, membentuk pribadi agung ini,”
ujar Pemimpin Revolusi Islam, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, dalam Kongres Internasional Mengenang Allamah Thabathaba’i tahun 2023.

Ayatullah Khamenei menyoroti keluasan ilmu dan kebijaksanaan spiritual Allamah Thabathaba’i yang luar biasa, menempatkannya di tingkat yang berbeda dari para ulama sezamannya.

“Beliau adalah seorang ahli dalam ushul fikih, seorang filsuf, dan memiliki pemahaman mendalam tentang irfan nazari (mistisisme teoretis). Beliau juga menguasai ilmu astronomi dan matematika, merupakan ulama besar dalam tafsir dan ilmu-ilmu Al-Qur’an, seorang penyair yang terampil, dan bahkan mendalami ilmu nasab (genealogi).”

Karya-karya ensiklopedis ulama besar Iran ini pada mulanya tidak dikenal oleh pembaca Barat, hingga Henry Corbin, seorang filsuf metafisik dan Iranolog asal Prancis, memperkenalkan sosok dan pemikirannya kepada dunia Barat melalui kajiannya tentang spiritualitas Syiah.

Corbin — yang juga dikenal sebagai tokoh pemikir besar — sangat terpengaruh oleh karya-karya Allamah Thabathaba’i, dan ia sendiri tidak menutupinya. Ia bahkan menjalin hubungan pribadi dengan Allamah Thabathaba’i untuk mendiskusikan aspek-aspek spiritual dalam Islam dan ajaran Syiah.

“Allamah Muhammad Husain Thabathaba’i, guru besar filsafat tradisional, teologi, dan irfan dari Qum, adalah tokoh sentral dalam pertemuan-pertemuan kami,” tulis Corbin dalam karyanya yang monumental En Islam Iranien (Islam di Iran), yang diterbitkan pada tahun 1971.

Allamah Thabathaba’i memimpin halaqah ilmiah dua mingguan di Teheran, yang dihadiri Corbin—saat itu profesor Islam dan Filsafat Islam di Universitas Sorbonne, Paris, sekaligus dosen di Universitas Teheran—beserta sejumlah intelektual Iran terkemuka.

Beberapa tokoh penting yang turut hadir dalam pertemuan-pertemuan tersebut antara lain Ayatullah Murtadha Muthahhari, Ayatullah Naser Makarem Syirazi, Sayyid Hadi Khosrowsyahi, dan Sayyid Husain Nasr, di antara lainnya.

Mereka yang pernah hadir menggambarkan bagaimana Henry Corbin duduk di samping Allamah Thabathaba’i dengan penuh kerendahan hati dan penghormatan.

“Ia seperti seorang murid yang sopan, mengajukan pertanyaan-pertanyaannya kepada Allamah Thabathaba’i,” tulis Sayyid Hadi Khosrowsyahi, seorang ulama dan mantan duta besar Iran untuk Vatikan, dalam bukunya tentang Allamah Thabathaba’i.

Setiap musim gugur, Corbin akan datang ke Iran dengan penuh semangat untuk bertemu kembali dengan Allamah Thabathaba’i. Pembicaraan mereka berfokus pada tema-tema filsafat, teologi, dan mistisisme Islam.

Pada pertemuan-pertemuan awal, mereka membahas dasar-dasar ideologis dan ajaran-ajaran mazhab Syiah. Diskusi-diskusi tersebut kemudian diterbitkan dalam buku Allamah Thabathaba’i berjudul “A Shi‘ite Anthology”.

“Allamah adalah seorang tokoh besar. Dalam bidang filsafat dan tafsir Al-Qur’an, beliau merupakan otoritas terkemuka. Keahliannya sangat tampak dalam dialog-dialog antara beliau dan Corbin,” tulis Prof. Sayyid Husain Nasr, guru besar studi Islam di Universitas George Washington, tentang pertemuan itu.

“Setiap bulan September, Corbin datang ke Iran dan mendiskusikan isu-isu filsafat dan teologi mutakhir. Pertanyaan-pertanyaan itu disampaikan kepada Allamah Thabathaba’i, dan beliau memberikan jawabannya.”

Dr. Ghulam Husain Ibrahim Dinani, profesor emeritus Universitas Teheran dan murid Allamah Thabathaba’i yang kerap mendampinginya dari Qum ke Teheran, menuturkan bahwa pertemuan-pertemuan tersebut menjadi sarana bagi Corbin untuk berdialog mengenai kemungkinan spiritualitas manusia.

“Keputusan untuk bertemu Allamah Thabathaba’i merupakan pilihan pribadi Corbin. Ia meyakini bahwa filsafat-filsafat materialistis di Barat serta kecenderungan rasionalisme keras telah membuat kehidupan manusia terasing dari akar spiritualnya,” ujar Dr. Karim Mujtahidi, seorang filsuf Iran, dalam sebuah wawancara.

“Corbin sedang mencari jalan menuju Timur, dan pencariannya berakhir setelah bertemu Allamah Thabathaba’i, karena ulama Iran ini merepresentasikan sosok spiritual yang autentik.”

Bagi Corbin, pertemuannya dengan Allamah Thabathaba’i menegaskan keyakinannya bahwa “Iran adalah negeri para filsuf dan arif terbesar dalam sejarah Islam.”

“Pertemuan Corbin dengan Allamah Thabathaba’i menunjukkan bahwa filsafat Islam Iran tidak berhenti pada masa Ibn Rusyd. Secara spiritual dan mistis, Islam memiliki kebudayaan yang sangat hidup, dan Iran merupakan contoh paling jelas darinya,” tambah Mujtahidi.

Menurut Corbin, pribadi dan kedudukan Allamah Thabathaba’i tak dapat dipisahkan dari seluruh tradisi spiritual Iran. Ia memandang Allamah sebagai perwujudan hidup dari spiritualitas Timur.

Bagi Corbin, spiritualitas yang diajarkan Allamah Thabathaba’i merupakan inti dari ruh manusia, yang melampaui batas Timur dan Barat, serta memiliki kekuatan untuk menghadirkan kebahagiaan spiritual yang sejati.

Dalam pandangan Dr. Mujtahidi, Corbin tengah mencari jawaban atas takdir manusia: sebuah filsafat yang dapat membantu manusia mengenal potensi kesempurnaan dirinya dan mengembangkan spiritualitasnya secara bertahap. Pencarian itu, ujarnya, berakhir setelah Corbin bertemu Allamah Thabathaba’i.

Pertemuan-pertemuan dengan ulama besar Iran itu mendorong Corbin menulis karya-karya yang membuka jalan bagi dunia Barat untuk mengenal tradisi intelektual dan spiritual “Islam Iran”.

Dalam bukunya L’Islam en Terre d’Iran: Perspectives Philosophiques et Mystiques, Corbin menulis bahwa perkembangan Syiah — berakar pada hikmah kenabian yang diwariskan turun-temurun — melahirkan para pemikir orisinal dan cemerlang di berbagai bidang ilmu.

Setelah meneliti dan menulis sepanjang hidupnya tentang filsafat dan irfan dalam Islam Syiah, Corbin menyimpulkan bahwa “dunia Persia diselimuti makna simbolik.”

“Persia adalah tanah Zarathustra, Suhrawardi, Ruzbihan, dan Hafez — sebuah dunia yang bersifat antara dan perantara, bukan sekadar sebuah bangsa atau kekaisaran, melainkan seluruh semesta spiritual, arena bagi sejarah agama-agama,” tulisnya.

Dr. Dinani menambahkan bahwa Corbin memandang dunia modern berada di tepi kemerosotan material dan kehilangan spiritualitas. Karena itu, ia memulai perjalanan mencari cahaya spiritual.

Dalam karyanya En Islam Iranien, Corbin menulis:
“Iran adalah negeri par excellence bagi para filsuf dan arif terbesar Islam.”

Melalui dialognya dengan Allamah Thabathaba’i, Corbin menjadi orientalis pertama yang secara serius menelaah tradisi ‘irfān Syiah.

Ia meyakini bahwa “dalam terminologi eskatologis, Persia adalah tanah penantian — tempat di mana, selama masa gaybah kubrā (keghaiban besar), Imam yang tersembunyi bersiap untuk saat kemunculannya kembali.”

Mengenang sebuah peristiwa, Sayyid Abdul Baqi Thabathaba’i, putra Allamah, menuturkan:
“Suatu hari ayah berkata kepada kami dengan kegembiraan yang khas, ‘Profesor (Henry Corbin) ini telah menjadi seorang Muslim, tetapi kondisi tidak memungkinkannya untuk menyatakannya secara resmi dan terbuka.’”

Banyak pakar studi Islam berpendapat bahwa percakapan mendalam Corbin dengan Allamah Thabathaba’i telah membuatnya memahami ajaran dan spiritualitas Islam, yang kemudian menimbulkan transformasi rohaniah dalam dirinya.

“Ia memiliki keterikatan pribadi yang sangat mendalam kepada Imam Kedua Belas dan para Imam Syiah lainnya. Cintanya kepada para Imam Syiah luar biasa — tampak bahwa ia seorang Syiah yang sangat saleh,” tulis Prof. Sayyid Husain Nasr mengenai Corbin.

Sayyid Murtadha Hafizi, peneliti di Pusat Studi Ilmiah dan Strategis Timur Tengah, menyimpulkan:
“Dialog yang dijalin Allamah Thabathaba’i dengan Corbin membuktikan sekali lagi bahwa potensi batiniah Syiah memiliki rencana hidup yang komprehensif dan sempurna bagi manusia modern — mencakup jalan menuju kesempurnaan alami kehidupan.”

Sumber artikel: Press TV

Leave a Reply