Kajian Tafsir Surah Al-Fath yang diselenggarakan ICC Jakarta pada hari Sabtu, 21 Februari 2026, menghadirkan Syaikh Mohammad Sharifani untuk mengupas tuntas ayat keempat dari surah tersebut. Syaikh Mohammad Sharifani mengawali penjelasannya dengan membacakan firman Allah SWT, huwalladzî anzalas-sakînata fî qulûbil-mu’minîna liyazdâdû îmânam ma‘a îmânihim, wa lillâhi junûdus-samâwâti wal-ardl, wa kânallâhu ‘alîman ḫakîmâ, yang berarti “Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). Milik Allahlah bala tentara langit dan bumi dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana” (Al-Fath: 4). Beliau menegaskan bahwasanya ketenangan itu adalah hal yang sangat penting untuk kita dapatkan dalam kehidupan kita, sehingga kita bisa beribadah kepada Allah dengan sempurna.
Pentingnya pencapaian ketenangan hati ini juga beliau hubungkan dengan apa yang terdapat di dalam Surah Al-Baqarah ayat 260, yaitu ketika Nabi Ibrahim as memohon kepada Tuhan: wa idz qâla ibrâhîmu rabbi arinî kaifa tuḫyil-mautâ, qâla a wa lam tu’min, qâla balâ wa lâkil liyathma’inna qalbî, qâla fakhudz arba‘atam minath-thairi fa shur-hunna ilaika tsummaj‘al ‘alâ kulli jabalim min-hunna juz’an tsummad‘uhunna ya’tînaka sa‘yâ, wa‘lam annallâha ‘azîzun ḫakîm yang memiliki arti “(Ingatlah) ketika Ibrahim berkata, ‘Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.’ Dia (Allah) berfirman, ‘Belum percayakah engkau?’ Dia (Ibrahim) menjawab, ‘Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang.’ Dia (Allah) berfirman, ‘Kalau begitu, ambillah empat ekor burung, lalu dekatkanlah kepadamu (potong-potonglah). Kemudian, letakkanlah di atas setiap bukit satu bagian dari tiap-tiap burung. Selanjutnya, panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.’ Ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”
Hal menarik yang ditekankan oleh Syaikh Mohammad Sharifani adalah penggalan ayat liyazdâdû îmânam ma‘a îmânihim yang artinya adalah Allah menambah ketenangan atau keimanan atas keimanan mereka. Beliau menjelaskan bagaimana hal ini bisa terjadi dengan merujuk pada sebuah riwayat bahwasanya setelah peristiwa Perjanjian Hudaibiyah, Nabi Muhammad saw bermimpi. Dalam mimpi tersebut diperlihatkan bahwa dua tahun setelah peristiwa Perjanjian Hudaibiyah, Allah memberikan kemenangan untuk Masjidil Haram, di mana Masjidil Haram dimenangkan oleh Rasulullah atas bantuan Allah SWT. Setelah peristiwa mimpi itu, maka ketenangan atau keimanan Nabi bertambah sehingga beliau merasa lebih siap dalam menghadapi berbagai problema serta lebih siap dalam melangkah ke depan untuk menyampaikan Islam.
Selanjutnya, Syaikh Mohammad Sharifani menjawab pertanyaan mengenai bagaimana cara kita mendapatkan ketenangan itu dalam hidup ini dengan memaparkan tiga hal yang bisa dilakukan. Pertama adalah jangan melakukan dosa, baik itu dosa kecil maupun dosa yang besar, karena dosa-dosa itu akan menyebabkan pikiran kita tidak tenang dan jiwa kita merasa gundah sehingga kita tidak mampu menguasai diri kita sendiri; oleh karena itu, kita harus berupaya keras menjauhi dosa. Kedua adalah kesadaran bahwa Allah itu memiliki pasukan. Beliau mengilustrasikan bahwa saat kita duduk di majelis kajian tersebut, di belakang kita terdapat banyak malaikat. Jika kita memahami itu, maka kita akan sadar bahwa Allah SWT tidak mungkin membiarkan umat atau siapa pun yang membantu Allah itu sendirian; akan selalu ada pasukan-pasukan Ilahi dan para malaikat yang membantu orang-orang yang baik.
Ketiga adalah kita harus memahami hikmah dari setiap perintah Ilahi. Beliau mencontohkan ketika Rasulullah saw disuruh melakukan Perjanjian Hudaibiyah, banyak sekali sahabat yang menganggap itu salah atau keliru, padahal setiap apa yang terjadi di alam ini tidak lepas dari aturan Ilahi. Fakta membuktikan bahwa dua tahun setelah Hudaibiyah, Allah memberikan kemenangan Fathu Makkah; andai saja umat muslim saat itu mengetahui mereka akan menang dua tahun lagi, mereka pasti akan semakin percaya pada Allah. Namun karena ketidaktahuan, sebagian kaum muslimin sempat tidak setuju pada keputusan Rasulullah. Intinya, setiap hal yang terjadi di dunia tidak lepas dari ilmu dan hikmah Ilahi.
Sebagai penutup, Syaikh Mohammad Sharifani merangkum efek dari Perjanjian Hudaibiyah yang telah dibahas, di antaranya adalah Allah memberikan keimanan dan ketenangan di hati kaum mukmin serta keberadaan banyak pasukan atau malaikat yang membantu Rasulullah. Beliau menegaskan pentingnya mengetahui hikmah atau rahasia Ilahi di balik setiap kejadian, meskipun manusia sering kali tidak mengetahuinya. Kita harus tahu bahwasanya Allah memiliki tentara-tentara langit yang berada di sekitar kita dan selalu membantu orang-orang yang beriman. Kajian ini akan dilanjutkan pada pertemuan berikutnya untuk kembali menjelaskan pengaruh dari Perjanjian Hudaibiyah kepada kaum mukminin.



