Skip to main content

Kajian Tafsir Surah Al-Fath yang diselenggarakan di Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta pada hari Selasa, 24 Februari 2026, menghadirkan Syaikh Mohammad Sharifani untuk melanjutkan pembahasan yang sebelumnya telah mengulas sebelas pengaruh Perjanjian Hudaibiyah. Dalam sesi ini, Syaikh Mohammad Sharifani memberikan penekanan khusus pada konstelasi politik dan sosial saat Perjanjian Hudaibiyah terjadi di tahun 6 Hijriah. Beliau menjelaskan bahwa di Makkah saat itu terdapat dua golongan penentang utama, yakni kelompok kafir pengikut Abu Sufyan dan kelompok munafikin. Kelompok munafikin ini dinilai jauh lebih berbahaya karena mereka menampakkan diri seolah berada di barisan Rasulullah saw, namun pada hakikatnya selalu mencari celah dan kesempatan untuk melawan beliau dari dalam.

Karakteristik utama kaum munafikin ini dibedah oleh Syaikh Mohammad Sharifani melalui ayat keenam, wa yu‘adzdzibal-munâfiqîna wal-munâfiqâti wal-musyrikîna wal-musyrikâtidh-dhânnîna billâhi dhannas-saû’, ‘alaihim dâ’iratus-saû’, wa ghadliballâhu ‘alaihim wa la‘anahum wa a‘adda lahum jahannam, wa sâ’at mashîrâ, yang berarti “(Juga agar) Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan serta orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (azab) yang buruk. Allah pun murka kepada mereka, melaknat mereka, dan menyediakan (neraka) Jahanam bagi mereka. Itulah seburuk-buruk tempat kembali.” Beliau menegaskan bahwa ciri khas yang paling menonjol dari kaum munafik adalah suudzon atau berprasangka buruk kepada Allah SWT. Hal ini terbukti secara historis ketika Rasulullah saw memutuskan untuk melakukan ritual haji di Hudaibiyah dengan menyembelih unta dan mencukur rambut lalu kembali ke Madinah tanpa masuk ke Makkah. Kaum munafik dengan sinis beranggapan bahwa Rasulullah saw dan kaum mukminin tidak akan pernah kembali lagi kepada keluarga mereka, sebuah prasangka buruk yang juga diabadikan dalam ayat ke-12, bal dhanantum al lay yangqalibar-rasûlu wal-mu’minûna ilâ ahlîhim abadaw, yang bermakna “Bahkan, (semula) kamu menyangka bahwa Rasul dan orang-orang mukmin sama sekali tidak akan kembali lagi kepada keluarga mereka selama-lamanya.”

Lebih jauh, Syaikh Mohammad Sharifani menarik relevansi sejarah tersebut dengan fenomena kontemporer yang terjadi di Iran. Beliau mengamati adanya kelompok-kelompok serupa di masa kini yang terus menyebarkan berita buruk dan menghitung detik demi detik demi kehancuran pemerintahan Islam. Mereka melakukan tindakan destruktif seperti pembakaran masjid, perusakan Husainiah-Husainiah, serta penghancuran fasilitas umum dengan harapan Republik Islam akan segera musnah. Terhadap pola pikir destruktif ini, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan lima jawaban tegas Allah SWT yang terkandung dalam ayat keenam. Pertama, ‘alaihim dâ’iratus-saû’, yang berarti segala keburukan dan musibah yang mereka harapkan menimpa kaum mukmin sebenarnya akan berbalik mengenai diri mereka sendiri. Kedua, wa ghadliballâhu ‘alaihim, di mana Allah menyatakan kemurkaan-Nya atas mereka. Ketiga, wa la‘anahum, yakni Allah melaknat mereka dengan menjauhkan mereka dari rahmat dan ampunan-Nya. Keempat, wa a‘adda lahum jahannam, yaitu penyediaan neraka Jahanam sebagai balasan. Kelima, wa sâ’at mashîrâ, sebagai penegasan bahwa Jahanam adalah seburuk-buruknya tempat kembali.

Sebagai penutup kajian, Syaikh Mohammad Sharifani membedah jawaban keenam Allah SWT melalui ayat ketujuh, wa lillâhi junûdus-samâwâti wal-ardl, wa kânallâhu ‘azîzan ḫakîmâ, yang berarti “Milik Allahlah bala tentara langit dan bumi. Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” Beliau menekankan bahwa segala bentuk konspirasi dan prasangka buruk kaum munafik akan menemui kegagalan karena laskar langit dan seluruh kekuatan di bumi adalah milik Allah yang senantiasa memihak kepada kebenaran. Beliau mengingatkan bahwa Allah adalah Zat yang tak terkalahkan  dan setiap keputusan Ilahi, termasuk kerumitan di balik Perjanjian Hudaibiyah, mengandung hikmah yang tidak mampu dijangkau oleh akal picik kaum munafikin. Kemenangan sejati pada akhirnya akan selalu menjadi milik kaum muslimin yang bersandar pada kekuatan Ilahi tersebut.