Kajian Tafsir Surah Al-Fath yang diselenggarakan di Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta pada hari Rabu, 25 Februari 2026, menghadirkan Syaikh Mohammad Sharifani untuk melanjutkan pembahasan mengenai pengaruh Perjanjian Hudaibiyah yang pada pertemuan-pertemuan sebelumnya telah dijelaskan memiliki banyak dampak penting bagi kaum muslimin. Dalam kesempatan ini, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa salah satu dampak dari perjanjian tersebut adalah kehendak Allah swt untuk mengazab kaum musyrikin dan kaum munafikin sekaligus menunjukkan bahwa kaum muslimin berada di pihak yang benar.
Dalam penjelasannya, Syaikh Mohammad Sharifani menguraikan salah satu karakter utama kaum musyrikin dan kaum munafikin yang disebutkan dalam Surah Al-Fath, yaitu kebiasaan mereka berprasangka buruk kepada Allah swt dan Rasulullah saw. Hal ini ditegaskan dalam ayat keenam Surah Al-Fath, wa yu‘adzdzibal-munâfiqîna wal-munâfiqâti wal-musyrikîna wal-musyrikâtidh-dhânnîna billâhi dhannas-saû’, ‘alaihim dâ’iratus-saû’, wa ghadliballâhu ‘alaihim wa la‘anahum wa a‘adda lahum jahannam, wa sâ’at mashîrâ, yang berarti “(Juga agar) Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan serta orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (azab) yang buruk. Allah pun murka kepada mereka, melaknat mereka, dan menyediakan (neraka) Jahanam bagi mereka. Itulah seburuk-buruk tempat kembali.” Beliau menjelaskan bahwa kaum musyrikin dan kaum munafikin ketika itu berprasangka bahwa Rasulullah saw dan para sahabat tidak akan selamat setelah kembali dari Hudaibiyah tanpa melaksanakan umrah. Mereka menyangka kaum muslimin akan binasa di tengah jalan dan Rasulullah saw tidak akan kembali untuk melanjutkan dakwahnya, namun kenyataannya prasangka tersebut tidak pernah terjadi.
Lebih jauh, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa prasangka buruk merupakan salah satu penyakit batin yang banyak menghinggapi manusia. Beliau kemudian membagi prasangka buruk menjadi tiga bentuk yang sering muncul dalam kehidupan manusia. Pertama adalah prasangka buruk terhadap diri sendiri. Menurut beliau, prasangka seperti ini dalam batas tertentu justru bernilai positif karena dapat mendorong seseorang untuk memperbaiki diri dan menjauhkannya dari kesombongan. Seseorang yang merasa ibadahnya masih kurang atau salatnya belum khusyuk akan terdorong untuk terus meningkatkan kualitas dirinya. Dalam sebuah riwayat dari Amirul Mukminin Imam Ali as disebutkan bahwa orang-orang beriman selalu memandang dirinya dengan penuh kewaspadaan dan tidak merasa suci. Hal ini juga sejalan dengan firman Allah swt, fa lâ tuzakkû anfusakum, yang berarti “Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci.” (QS. An-Najm [53]: 32). Beliau menegaskan bahwa larangan menyucikan diri ini merupakan peringatan agar manusia tidak terjatuh dalam kesombongan.
Bentuk kedua adalah prasangka buruk kepada orang lain. Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa prasangka buruk semacam ini merupakan perbuatan yang dilarang karena dapat merusak hubungan sosial di tengah masyarakat. Allah swt berfirman, inna ba‘dladh-dhanni itsmun, yang berarti “Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.” (QS. Al-Hujurat [49]: 12). Beliau mencontohkan bahwa seseorang terkadang menilai orang lain hanya dari penampilan lahiriah atau kesan sepintas, lalu menyimpulkan sesuatu yang buruk tanpa bukti yang jelas. Menurut beliau, prasangka seperti ini merupakan keburukan yang harus dijauhi karena dapat menimbulkan kesalahpahaman dan permusuhan di tengah masyarakat.
Bentuk ketiga adalah prasangka buruk kepada Allah swt, yang menurut Syaikh Mohammad Sharifani merupakan bentuk prasangka yang paling berbahaya. Prasangka buruk kepada Allah swt muncul ketika seseorang tidak menerima ketetapan Ilahi, misalnya ketika ia telah berdoa namun kemudian justru menghadapi kesulitan atau musibah. Dalam keadaan seperti itu, seseorang terkadang beranggapan bahwa Allah swt tidak mendengar atau tidak mengabulkan doanya. Menurut beliau, sikap semacam ini menunjukkan ketidakridhaan terhadap ketentuan Allah swt dan termasuk dalam prasangka buruk yang tercela.
Beliau menjelaskan bahwa sikap ini merupakan ciri khas masyarakat jahiliah sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, yadhunnûna billâhi ghairal-haqqi dhannal-jâhiliyyah, yang berarti “Mereka berprasangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 154). Menurut beliau, masyarakat jahiliah terbiasa berprasangka buruk kepada Allah swt karena sejak awal mereka tidak percaya kepada ketentuan Ilahi. Karena itu, seorang mukmin diperintahkan untuk selalu berprasangka baik kepada Allah swt dalam setiap keadaan. Dalam sebuah hadis qudsi disebutkan bahwa Allah swt bertindak sesuai dengan prasangka hamba-Nya yang mukmin, sehingga apabila seorang mukmin berprasangka baik kepada Allah swt maka kebaikan pula yang akan ia peroleh.
Sebagai penjelasan lebih lanjut, Syaikh Mohammad Sharifani mengangkat kisah Nabi Yusuf as ketika berhadapan dengan Zulaikha. Nabi Yusuf as memohon agar penjara lebih ia sukai daripada harus terjerumus dalam perbuatan dosa. Menurut riwayat yang disampaikan oleh Imam Ridha as, peristiwa Nabi Yusuf as yang kemudian dipenjarakan menunjukkan pentingnya berprasangka baik kepada Allah swt. Seandainya Nabi Yusuf as memohon agar diselamatkan dengan cara terbaik menurut kehendak Allah swt, maka Allah swt mampu membebaskannya tanpa harus melalui penjara.
Beliau juga menyampaikan kisah tentang seseorang yang lama berdoa agar dikaruniai anak. Orang tersebut berdoa agar diberikan anak dalam keadaan apa pun, bahkan jika harus lahir dengan kekurangan fisik. Doa tersebut akhirnya dikabulkan dengan kelahiran seorang anak laki-laki yang buta dan seorang anak perempuan yang lumpuh. Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, kisah ini menjadi pelajaran bahwa manusia tidak seharusnya berprasangka buruk kepada Allah swt seolah-olah Allah tidak mampu memberikan yang terbaik. Seorang mukmin seharusnya memohon kebaikan yang sempurna dan meyakini bahwa Allah swt Maha Kuasa untuk memberikannya.
Melalui penjelasan tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa prasangka buruk kepada Allah swt merupakan sifat kaum musyrikin dan kaum munafikin yang disebutkan dalam Surah Al-Fath. Karena itu, seorang mukmin harus senantiasa menjaga prasangka baik kepada Allah swt dan menerima setiap ketentuan Ilahi dengan penuh keyakinan.



