Kelas Tafsir Tartibi yang diselenggarakan di Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta pada Jumat, 27 Februari 2026, menghadirkan Syaikh Mohammad Sharifani dengan pembahasan Surah Al-Baqarah ayat 124 dan seterusnya. Dalam kajian tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan pembahasan tentang pengangkatan Nabi Ibrahim AS sebagai imam atau pemimpin bagi seluruh umat manusia serta doa-doa beliau yang diabadikan dalam Al-Qur’an.
Dalam penjelasannya, Syaikh Mohammad Sharifani menerangkan bahwa ayat 124 diawali dengan kata idz yang bermakna peringatan atau ajakan untuk mengingat. Allah swt mengingatkan tentang ujian-ujian yang diberikan kepada Nabi Ibrahim AS sebelum beliau diangkat sebagai imam. Allah swt berfirman:
wa idzibtalâ ibrâhîma rabbuhû bikalimâtin fa atammahunna, qâla innî jâ‘iluka lin-nâsi imâmâ, qâla wa min dzurriyyatî, qâla lâ yanâlu ‘ahdizh-zhâlimîn
“(Ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat lalu dia melaksanakannya dengan sempurna. Dia (Allah) berfirman, ‘Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi seluruh manusia.’ Dia (Ibrahim) berkata, ‘(Aku mohon juga) dari sebagian keturunanku.’ Allah berfirman, ‘Janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang zalim.’” (QS. Al-Baqarah [2]: 124)
Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan bahwa kata kalimat dalam ayat tersebut tidak harus dimaknai sebagai kata atau ucapan semata, tetapi dapat merujuk kepada berbagai bentuk ujian, baik berupa peristiwa maupun manusia. Hal ini sebagaimana penggunaan kata kalimat dalam ayat lain:
annallâha yubasysyiruka biyaḥyâ muṣaddiqam bikalimatin minallâh
“Sesungguhnya Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran) Yahya yang membenarkan kalimat dari Allah.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 39)
Beliau kemudian menyebutkan beberapa ujian yang dihadapi Nabi Ibrahim AS, di antaranya perintah untuk menyembelih Nabi Ismail AS, membawa keluarga ke lembah tandus di Makkah, menghadapi Namrud dan menghancurkan berhala, serta menjalani hijrah dari Babilonia ke Palestina. Tentang peristiwa membawa keluarga ke Makkah, Allah swt berfirman:
rabbanâ innî askantu min dzurriyyatî biwâdin ghairi dzî zar‘in ‘inda baitikal-muḥarram
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman di dekat rumah-Mu yang dihormati.” (QS. Ibrahim [14]: 37)
Dalam penjelasannya, Syaikh Mohammad Sharifani menekankan bahwa setelah Nabi Ibrahim AS berhasil melewati ujian-ujian tersebut, barulah Allah swt mengangkat beliau sebagai imam. Hal ini menunjukkan bahwa kedudukan yang tinggi selalu didahului oleh ujian yang berat. Ketika Nabi Ibrahim AS memohon agar kedudukan itu juga diberikan kepada keturunannya, Allah swt menegaskan bahwa janji tersebut tidak akan mencapai orang-orang zalim.
Syaikh Mohammad Sharifani juga menyampaikan bahwa tugas utama seorang imam adalah memberi petunjuk kepada umat manusia. Hal ini sebagaimana firman Allah swt:
wa ja‘alnâ minhum a’immatay yahdûna bi amrinâ lammâ ṣabarû wa kânû bi âyâtinâ yûqinûn
“Kami menjadikan di antara mereka pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka bersabar dan mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As-Sajdah [32]: 24)
Beliau menjelaskan bahwa jabatan imamah merupakan kedudukan yang sangat mulia dan berkaitan bukan hanya dengan alam fisik, tetapi juga dengan alam malakut. Nabi Ibrahim AS sendiri mencapai derajat keyakinan yang tinggi sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah swt:
wa kadzâlika nurî ibrâhîma malakûtas-samâwâti wal-ardli wa liyakûna minal-mûqinîn
“Demikianlah Kami memperlihatkan kepada Ibrahim kekuasaan (Kami) di langit dan di bumi agar dia termasuk orang-orang yang yakin.” (QS. Al-An‘am [6]: 75)
Pembahasan kemudian berlanjut pada ayat 125 tentang Ka’bah. Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan bahwa Allah swt menyebut Ka’bah dengan istilah al-bait dan baiti, yang menunjukkan keagungan Ka’bah sebagai rumah Allah. Allah swt berfirman:
wa idz ja‘alnal-baita matsâbatal lin-nâsi wa amnâ wattakhidzû mim maqâmi ibrâhîma muṣallâ, wa ‘ahidnâ ilâ ibrâhîma wa ismâ‘îla an ṭahhirâ baitiya lith-thâifîna wal-‘âkifîna war-rukka‘is-sujûd
“(Ingatlah) ketika Kami menjadikan rumah itu (Ka‘bah) tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia. Jadikanlah sebagian Maqam Ibrahim sebagai tempat salat. Dan Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, ‘Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang iktikaf, serta yang rukuk dan sujud.’” (QS. Al-Baqarah [2]: 125)
Menurut beliau, Ka’bah disebut sebagai matsâbatal lin-nâs, yaitu tempat kembali bagi manusia kepada fitrah dan nilai-nilai ketauhidan. Ka’bah juga merupakan tempat yang aman, baik secara ruhani maupun secara hukum.
Pada ayat 126, Syaikh Mohammad Sharifani menguraikan doa Nabi Ibrahim AS yang memohon keamanan dan rezeki bagi penduduk Makkah:
rabbi-j‘al hâdzâ baladan âminaw warzuq ahlahû minats-tsamarâti man âmana minhum billâhi wal-yaumil-âkhir
“Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya yang beriman kepada Allah dan hari akhir.” (QS. Al-Baqarah [2]: 126)
Allah swt kemudian menjawab:
wa man kafara fa umatti‘uhû qalîlan tsumma adltharruhû ilâ ‘adzâbin-nâr wa bi’sal-maṣîr
“Siapa yang kufur akan Aku beri kesenangan sementara, kemudian akan Aku paksa dia ke dalam azab neraka. Itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. Al-Baqarah [2]: 126)
Dalam penjelasannya, beliau menyampaikan bahwa keamanan yang dimaksud mencakup keamanan batin dan keamanan hukum. Hal ini juga ditegaskan dalam ayat lain:
wa âmanahum min khauf
“Dan mengamankan mereka dari rasa takut.” (QS. Quraisy [106]: 4)
a wa lam yarau annâ ja‘alnâ ḥaraman âminan
“Tidakkah mereka memperhatikan bahwa Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman.” (QS. Al-‘Ankabut [29]: 67)
Pada ayat 127 disebutkan pembangunan Ka’bah oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS:
wa idz yarfa‘u ibrâhîmul-qawâ‘ida minal-baiti wa ismâ‘îlu rabbanâ taqabbal minnâ innaka antas-samî‘ul-‘alîm
“(Ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), ‘Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’” (QS. Al-Baqarah [2]: 127)
Syaikh Mohammad Sharifani menekankan bahwa doa tersebut menunjukkan pentingnya diterimanya amal oleh Allah swt, karena amal yang tidak diterima akan menjadi sia-sia.
Pembahasan berlanjut pada ayat 128:
rabbanâ waj‘alnâ muslimaini laka wa min dzurriyyatinâ ummatam muslimatal laka wa arinâ manâsikanâ wa tub ‘alainâ innaka antat-tawwâbur-raḥîm
“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang berserah diri kepada-Mu, dan jadikanlah dari keturunan kami umat yang berserah diri kepada-Mu. Tunjukkanlah kepada kami tata cara ibadah kami dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah [2]: 128)
Beliau menyampaikan bahwa ayat ini menunjukkan maqam taslim, yaitu derajat kepasrahan total kepada Allah swt. Hal ini tercermin dalam peristiwa penyembelihan Nabi Ismail AS sebagaimana firman Allah swt:
fa lammâ aslamâ wa tallahû lil-jabîn
“Ketika keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya.” (QS. Ash-Shaffat [37]: 103)
Selain itu, permohonan wa arinâ manâsikanâ menunjukkan maqam rukyat, yaitu derajat ketika seorang hamba diperlihatkan langsung oleh Allah swt tata cara ibadah dan tanda-tanda kebesaran-Nya. Hal ini sebagaimana firman Allah swt:
wa kadzâlika nurî ibrâhîma malakûtas-samâwâti wal-ardli
“Demikianlah Kami memperlihatkan kepada Ibrahim kekuasaan (Kami) di langit dan di bumi.” (QS. Al-An‘am [6]: 75)
Kajian ditutup dengan pembahasan ayat 129 yang berisi doa Nabi Ibrahim AS agar Allah swt mengutus seorang rasul:
rabbanâ wab‘ats fîhim rasûlam minhum yatlû ‘alaihim âyâtika wa yu‘allimuhumul-kitâba wal-ḥikmata wa yuzakkîhim innaka antal-‘azîzul-ḥakîm
“Ya Tuhan kami, utuslah di antara mereka seorang rasul dari kalangan mereka yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah, serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. Al-Baqarah [2]: 129)
Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan bahwa ayat ini menunjukkan empat tugas utama seorang rasul, yaitu membacakan ayat-ayat Allah, mengajarkan Al-Kitab, mengajarkan hikmah, dan menyucikan manusia. Tentang pentingnya penyucian jiwa, Allah swt berfirman:
khudz min amwâlihim ṣadaqatan tuṭahhiruhum wa tuzakkîhim bihâ
“Ambillah zakat dari harta mereka untuk menyucikan dan membersihkan mereka.” (QS. At-Taubah [9]: 103)
Melalui pembahasan ayat-ayat tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa pengangkatan Nabi Ibrahim AS sebagai imam menunjukkan pentingnya ujian, kesabaran, dan kesucian dalam mencapai kedudukan spiritual yang tinggi, serta pentingnya kepasrahan dan penyucian jiwa dalam perjalanan seorang hamba menuju Allah swt.



