Dalam Majelis Tahlil untuk syahadah Ayatullah Ali Khamenei yang diselenggarakan di Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta pada Minggu, 1 Maret 2026, Ustaz Muhsin Labib menyampaikan pidato yang menekankan makna kehilangan sosok pemimpin umat sekaligus pentingnya melanjutkan jalan perjuangan wilayah ahlul bait as.
Mengawali pidatonya, Ustaz Muhsin Labib atas nama komunitas ahlul bait di Indonesia menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada rakyat Republik Islam Iran serta para pemimpinnya. Beliau menyampaikan takziah kepada Direktur ICC Syaikh Mohammad Sharifani, Duta Besar Republik Islam Iran Mohammad Boroujerdi, serta para ulama dan tokoh yang hadir dalam majelis tersebut. Beliau membuka sambutannya dengan ucapan istirja’ sebagai ungkapan duka atas kepergian Ayatullah Ali Khamenei.
Menurut Ustaz Muhsin Labib, kepergian Ayatullah Ali Khamenei merupakan kehilangan yang sangat berat bagi kaum muslimin. Beliau menyampaikan bahwa sosok Ayatullah Ali Khamenei adalah figur yang mulia dan sakral di mata para pengikutnya sehingga kepergian beliau sulit untuk diterima. Namun demikian, beliau menegaskan bahwa kesyahidan merupakan kemuliaan tertinggi yang memang diharapkan oleh seorang pejuang di jalan Allah swt. Kesyahidan, menurut beliau, adalah kemuliaan bagi Ayatullah Ali Khamenei, sekaligus kehilangan besar bagi umat yang ditinggalkan.
Dalam penjelasannya, Ustaz Muhsin Labib menyampaikan bahwa kebesaran Ayatullah Ali Khamenei tidak semata-mata terletak pada pribadi beliau sebagai individu, melainkan pada otoritas, tanggung jawab, dan fungsi kepemimpinan yang diembannya. Menurut beliau, justru karena otoritas tersebutlah Ayatullah Ali Khamenei hidup dalam hati kaum muslimin dan tetap akan dikenang sepanjang masa. Kesyahidan yang diraih oleh beliau, menurutnya, merupakan puncak kemuliaan sebagaimana dijanjikan oleh Allah swt kepada para pejuang di jalan-Nya.
Beliau juga menegaskan bahwa jalan perjuangan yang ditempuh oleh para pemimpin Islam merupakan jalan yang terjal dan penuh risiko. Karena itu, setiap orang yang menempuh jalan tersebut akan diuji dengan berbagai kesulitan dan pengorbanan. Menurut beliau, kesyahidan Ayatullah Ali Khamenei menunjukkan bahwa perjuangan di jalan kebenaran selalu menuntut pengorbanan yang besar.
Ustaz Muhsin Labib kemudian menyinggung anggapan bahwa wafatnya seorang pemimpin akan melemahkan perjuangan umat. Beliau menegaskan bahwa pemahaman seperti itu keliru, karena perjuangan tidak bergantung pada individu semata. Beliau mencontohkan bahwa Rasulullah saw juga merupakan seorang individu, namun risalah yang dibawanya tetap hidup dan berlanjut setelah wafatnya beliau. Demikian pula, menurutnya, kepemimpinan Ayatullah Ali Khamenei akan tetap hidup melalui nilai-nilai dan otoritas yang diwakilinya.
Dalam pandangan Ustaz Muhsin Labib, Ayatullah Ali Khamenei bukan hanya pemimpin sebuah negara, melainkan juga pemimpin umat yang mewakili keberanian Islam di hadapan kekuatan dunia. Beliau menyampaikan bahwa sosok Ayatullah Ali Khamenei menjadi bukti bahwa agama Islam tetap hidup dan janji Allah swt tentang kemenangan kebenaran adalah sesuatu yang nyata.
Beliau menegaskan bahwa kehadiran kaum muslimin dalam majelis tersebut bukan semata-mata untuk meratapi kehilangan, tetapi untuk memperbarui ikrar dan komitmen dalam melanjutkan perjuangan. Menurut beliau, kepergian Ayatullah Ali Khamenei merupakan bagian dari proses panjang perjuangan, dan setiap pengikut ahlul bait as dipanggil untuk menjadi bagian dari perjuangan tersebut.
Dalam penjelasannya, Ustaz Muhsin Labib menggambarkan kesedihan atas kepergian Ayatullah Ali Khamenei sebagai kesedihan yang mendalam. Namun beliau menegaskan bahwa kesedihan tersebut bukan sekadar emosional atau personal, melainkan berakar pada kesadaran ideologis tentang pentingnya perjuangan melawan kezaliman. Menurut beliau, perlawanan terhadap kezaliman tidak akan berakhir dengan wafatnya seorang pemimpin, karena perjuangan tersebut merupakan bagian dari garis perjuangan yang terus berlanjut.
Beliau juga menjelaskan bahwa Ayatullah Ali Khamenei memiliki kedudukan keagamaan sebagai marja yang mewakili otoritas keagamaan yang bersambung kepada Allah swt, Rasulullah saw, dan ahlul bait as. Selain itu, beliau juga menyebut kedudukan Ayatullah Ali Khamenei sebagai wali faqih dan pemimpin kaum muslimin yang memiliki otoritas dalam kepemimpinan umat.
Ustaz Muhsin Labib kemudian mengajak kaum muslimin untuk tidak lagi memandang ajaran ahlul bait as hanya sebagai bagian dari sejarah masa lalu. Menurut beliau, ajaran tersebut perlu dihidupkan kembali dari sekadar pengetahuan menjadi keyakinan, dan dari keyakinan menjadi ideologi yang diwujudkan dalam kehidupan nyata. Beliau menegaskan bahwa tidak ada lagi jalan untuk mundur dari komitmen tersebut.
Beliau juga menyampaikan bahwa perjuangan yang diwakili oleh Republik Islam Iran tidak semata-mata berkaitan dengan sebuah negara, melainkan merupakan bagian dari perjuangan global melawan kezaliman. Menurut beliau, tekanan dan sanksi yang dialami oleh Iran menunjukkan besarnya pengorbanan yang dilakukan dalam mempertahankan prinsip-prinsip kebenaran.
Dalam bagian akhir pidatonya, Ustaz Muhsin Labib mengajak kaum muslimin untuk menerima peristiwa tersebut dengan kesabaran dan kerendahan hati. Beliau menegaskan pentingnya setiap individu menjadi bagian dari perjuangan wilayah ahlul bait as dan memperbarui semangat dalam melanjutkan jalan yang telah ditunjukkan oleh para pemimpin umat. Beliau berharap agar para hadirin meninggalkan majelis tersebut dengan semangat baru untuk melanjutkan perjuangan di jalan kebenaran.



