Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta menggelar peringatan 40 hari syahadah Sayyid Ali Khamenei dan syahadah Imam Ja’far ash-Shadiq as pada Minggu, 12 April 2026. Dalam kesempatan tersebut, Ustaz Zahir Yahya menyampaikan ceramah yang menyoroti sejarah perjuangan para imam ahlul bait as serta pelajaran penting yang dapat diambil dari kehidupan dan kesyahidan mereka.
Dalam penjelasannya, Ustaz Zahir Yahya menyampaikan bahwa Imam Ja’far ash-Shadiq as merupakan imam yang memiliki usia paling panjang dibandingkan para imam ahlul bait as lainnya, yaitu sekitar 65 tahun. Beliau menjelaskan bahwa usia tersebut bahkan lebih tinggi dibandingkan sebagian besar imam lainnya, yang rata-rata berusia 55 tahun atau di bawahnya, sementara beberapa imam seperti Imam Muhammad al-Jawad as dan Imam Hasan al-Askari as wafat dalam usia yang jauh lebih muda.
Namun demikian, menurut beliau, usia 65 tahun sejatinya bukanlah usia yang panjang, terlebih jika dibandingkan dengan angka harapan hidup saat ini. Meski demikian, Imam Ja’far ash-Shadiq as memiliki kesempatan yang sangat besar untuk menyebarluaskan ajaran dan ilmu ahlul bait as. Hal ini, sebagaimana disampaikan beliau, disebabkan oleh kondisi zaman yang beliau alami, yakni masa transisi antara dua dinasti besar, Bani Umayyah dan Bani Abbas, yang memberikan ruang relatif lebih kondusif bagi penyebaran ilmu.
Ustaz Zahir Yahya menjelaskan bahwa selama 34 tahun masa kepemimpinan Imam Ja’far ash-Shadiq as, tercatat tidak kurang dari 4.000 ulama dan perawi yang menimba ilmu dari beliau. Hal ini menunjukkan betapa besarnya kontribusi beliau dalam pengembangan ilmu-ilmu keislaman. Namun, beliau menegaskan adanya ironi besar dalam fakta sejarah tersebut.
Menurut penjelasan beliau, meskipun jumlah murid Imam Ja’far ash-Shadiq as mencapai ribuan, jumlah sahabat yang benar-benar setia dan siap membela beliau hingga akhir hayat sangatlah sedikit. Dalam sebuah riwayat yang beliau sampaikan, Imam Ja’far ash-Shadiq as pernah mengisyaratkan bahwa jika beliau memiliki pengikut setia sebanyak jumlah kambing yang sedang digembalakan di suatu tempat, maka beliau akan bangkit melawan penguasa. Setelah dihitung, jumlah kambing tersebut tidak lebih dari 17 ekor. Hal ini, menurut beliau, menggambarkan bahwa jumlah pengikut setia yang sesungguhnya sangat terbatas.
Ustaz Zahir Yahya kemudian mengangkat pertanyaan mendasar mengenai mengapa para imam ahlul bait as sepanjang sejarah cenderung hidup dalam keterasingan dan tidak diikuti secara luas oleh umat, bahkan oleh mereka yang mengaku sebagai pengikutnya. Beliau mencontohkan peristiwa Karbala, di mana Imam Husain as hanya didampingi sekitar 70 orang sahabat, meskipun jumlah umat Islam pada masa itu sangat besar dan jumlah pasukan yang memusuhi beliau mencapai puluhan ribu.
Dalam penjelasannya, beliau menyampaikan bahwa akar persoalan tersebut terletak pada perbedaan mendasar antara apa yang diinginkan oleh para imam ahlul bait as dan apa yang diinginkan oleh kebanyakan manusia. Para imam, menurut beliau, berupaya mengajak manusia menuju puncak kesempurnaan, kedekatan kepada Allah swt, serta keluhuran akhlak. Sementara itu, banyak manusia lebih cenderung terikat pada kepentingan duniawi, seperti keluarga, karier, dan kenyamanan hidup.
Beliau menegaskan bahwa para imam ahlul bait as tidak menjadikan kemakmuran materi sebagai tujuan utama perjuangan mereka. Meski kebutuhan tersebut tetap diperhatikan, namun hal itu bukanlah tujuan utama. Dalam hal ini, beliau mencontohkan kepemimpinan Amirul Mukminin Imam Ali bin Abi Thalib as yang dalam waktu singkat mampu memenuhi kebutuhan dasar masyarakatnya, meskipun di tengah berbagai peperangan.
Ustaz Zahir Yahya kemudian mengutip ayat Al-Qur’an:
wa mâ hâdzihil-ḥayâtud-dun-yâ illâ lahwuw wa la‘ib
“Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah permainan dan senda gurau.” (QS. Al-‘Ankabut [29]: 64)
Beliau menjelaskan bahwa ayat tersebut menggambarkan hakikat dunia sebagai sesuatu yang sementara dan tidak sepatutnya menjadi fokus utama manusia. Dunia, menurut beliau, diibaratkan sebagai tempat persinggahan, bukan tujuan akhir.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa tujuan utama para imam ahlul bait as adalah mengarahkan manusia kepada nilai yang lebih tinggi, yaitu keselamatan akhirat. Dalam hal ini, beliau menyampaikan bahwa nilai sejati manusia tidak dapat ditukar dengan apapun kecuali surga, sebagaimana diajarkan oleh Imam Ali bin Abi Thalib as.
Ustaz Zahir Yahya kemudian mengaitkan hal tersebut dengan sosok Sayyid Ali Khamenei, yang menurut beliau merupakan contoh nyata dari manusia yang memilih untuk “bertransaksi” dengan Allah swt dengan mengorbankan jiwa dan hartanya demi meraih surga. Beliau menyampaikan bahwa Sayyid Ali Khamenei sepanjang hidupnya menunjukkan kerinduan untuk mencapai kesyahidan sebagai puncak kebaikan.
Dalam penjelasannya, beliau juga mengutip ayat Al-Qur’an:
innallâhasytarâ minal-mu’minîna anfusahum wa amwâlahum bi’anna lahumul-jannah
“Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan (memberikan) surga untuk mereka.” (QS. At-Taubah [9]: 111)
Beliau menjelaskan bahwa ayat tersebut menggambarkan sebuah transaksi agung antara Allah swt dan hamba-Nya, di mana seorang mukmin menyerahkan seluruh dirinya demi memperoleh balasan surga.
Lebih lanjut, Ustaz Zahir Yahya menegaskan bahwa salah satu pelajaran terbesar dari Sayyid Ali Khamenei adalah pentingnya sikap perlawanan terhadap segala bentuk ketidakadilan. Menurut beliau, sikap melawan bukan hanya ajaran agama, tetapi juga bagian dari fitrah manusia yang secara naluriah akan membela diri dari ancaman.
Beliau menjelaskan bahwa Al-Qur’an menggunakan berbagai istilah untuk menggambarkan konsep perlawanan, seperti kesabaran, ketangguhan, dan jihad. Semua istilah tersebut, menurut beliau, mengarah pada satu pesan yang sama, yaitu pentingnya mempertahankan martabat dan kemerdekaan.
Dalam hal ini, beliau mengutip firman Allah swt:
alladzîna yattakhidzûnal-kâfirîna auliyâ’a min dûnil-mu’minîn, a yabtaghûna ‘indahumul-‘izzata fa innal-‘izzata lillâhi jamî‘â
“(Yaitu) orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai pelindung dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kemuliaan di sisi mereka? Maka sesungguhnya kemuliaan itu seluruhnya milik Allah.” (QS. An-Nisa’ [4]: 139)
Beliau menegaskan bahwa kemuliaan tidak dapat diraih melalui ketundukan kepada kekuatan yang zalim, melainkan hanya melalui kedekatan kepada Allah swt.
Selain itu, Ustaz Zahir Yahya juga menyoroti pentingnya kerja-kerja kelembagaan sebagai pelajaran lain dari kepemimpinan Sayyid Ali Khamenei. Beliau menjelaskan bahwa kepemimpinan dalam Islam tidak hanya bergantung pada kualitas individu, tetapi juga pada sistem dan institusi yang dibangun secara kokoh.
Dalam penjelasannya, beliau menguraikan bagaimana Imam Khomeini membangun struktur pemerintahan Republik Islam Iran dengan membagi kewenangan ke dalam berbagai institusi, meskipun beliau memiliki otoritas penuh. Hal ini kemudian dilanjutkan oleh Sayyid Ali Khamenei, yang menjaga keseimbangan antara kepemimpinan individu dan kekuatan sistem.
Di akhir ceramahnya, Ustaz Zahir Yahya menegaskan bahwa wafatnya Sayyid Ali Khamenei merupakan kehilangan besar bagi umat Islam. Namun demikian, beliau mengingatkan bahwa tanggung jawab untuk melanjutkan perjuangan tidak berhenti. Umat Islam, khususnya para pengikut ahlul bait as, dituntut untuk melanjutkan jalan perjuangan tersebut hingga tercapainya cita-cita besar yang diperjuangkan oleh para imam.



