Skip to main content

Dalam Majelis Tahlil untuk syahadah Ayatullah Ali Khamenei yang diselenggarakan di Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta pada Minggu, 1 Maret 2026, Direktur ICC Jakarta, Syaikh Mohammad Sharifani, menyampaikan pidato yang menekankan makna kehilangan seorang alim serta kedudukan syahadah dalam ajaran Islam Ahlulbait. Ia memulai dengan menyampaikan belasungkawa kepada Sahibul Asri waz Zaman, para maraji, dan seluruh kaum muslimin, khususnya para pecinta jalan kebenaran.

Syaikh Mohammad Sharifani mengawali pidatonya dengan mengingatkan bahwa wafatnya seorang alim merupakan kehilangan besar bagi umat Islam. Ia menyebut bahwa dalam riwayat disebutkan bahwa wafatnya seorang alim meninggalkan kekosongan dalam Islam yang tidak mudah tergantikan. Karena itu, syahadah Ayatullah Ali Khamenei dipandang sebagai peristiwa yang sangat menyedihkan bagi umat Islam di berbagai belahan dunia.

Ia juga menekankan bahwa hari-hari tersebut merupakan masa yang berat, khususnya bagi rakyat Iran. Menurutnya, situasi yang dihadapi oleh Revolusi Islam Iran merupakan salah satu masa paling sulit dalam perjalanannya. Peristiwa yang menimpa Ayatullah Ali Khamenei, menurutnya, telah membuat jutaan manusia berduka dan memanjatkan doa kepada Allah SWT.

Peristiwa tersebut terjadi di bulan suci Ramadan, yang menurut Syaikh Mohammad Sharifani menjadi momentum bagi kaum mukminin untuk mengangkat tangan dan memohon pertolongan kepada Allah SWT. Ia mengingatkan sebuah doa yang biasa dibaca setelah salat Magrib dan Isya di bulan Ramadan, yang berisi keluhan kepada Allah atas ketiadaan Nabi, kegaiban pemimpin, banyaknya musuh, dan sedikitnya jumlah kaum mukminin. Dalam doa tersebut, kaum mukminin memohon agar Allah SWT segera membuka jalan kemenangan dan menurunkan rahmat-Nya.

Menurutnya, meskipun syahadah Ayatullah Ali Khamenei merupakan peristiwa yang menyedihkan, dalam ajaran Ahlulbait syahadah bukanlah sesuatu yang menakutkan. Sebaliknya, syahadah merupakan sebuah kebanggaan dan bagian dari tradisi perjuangan para imam. Ia menyebut Ayatullah Ali Khamenei sebagai sosok yang mewakili barisan kebenaran dalam menghadapi barisan kebatilan.

Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa sepanjang sejarah umat manusia selalu ada dua kelompok yang saling berhadapan, yaitu kelompok yang berada di pihak kebenaran dan kelompok yang berada di pihak kebatilan. Ia mencontohkan pertentangan tersebut dalam berbagai peristiwa sejarah para nabi dan tokoh Islam, mulai dari Habil dan Qabil, Nabi Musa dan Firaun, Nabi Ibrahim dan Namrud, hingga Nabi Muhammad dan Abu Sufyan. Ia juga menyebut pertentangan antara Amirul Mukminin dan Muawiyah serta antara Imam Husain dan Yazid sebagai bagian dari rangkaian panjang perjuangan antara kebenaran dan kebatilan.

Menurutnya, orang-orang yang gugur dalam perjuangan berada di pihak yang mendapatkan cahaya dari Allah SWT. Ia mengutip firman Allah SWT:

Allâhu waliyyulladzîna âmanû yukhrijuhum minaẓ-ẓulumâti ilan-nûr
Allah adalah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya.
(QS. Al-Baqarah [2]: 257)

Ayat tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa para syuhada adalah orang-orang yang telah mendapatkan cahaya dari Allah SWT. Dalam ajaran Ahlulbait, syahadah merupakan bagian dari kehidupan para imam. Ia mencontohkan kehidupan Amirul Mukminin dan Imam Husain yang keduanya berakhir dengan kesyahidan.

Syaikh Mohammad Sharifani kemudian mengutip ungkapan Amirul Mukminin ketika ditikam, di mana beliau berkata:

Fuztu wa Rabbil Ka‘bah
Demi Tuhan Ka‘bah, sungguh aku telah beruntung.

Ungkapan tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa syahadah dipandang sebagai kemenangan dan keberuntungan. Ia juga menyinggung riwayat yang menyatakan bahwa bagi seorang mukmin sejati, kematian di jalan Allah lebih menyenangkan daripada kenikmatan dunia.

Dalam pidatonya, ia menekankan bahwa syahadah merupakan cita-cita yang senantiasa dipanjatkan oleh para pejuang di jalan Allah. Ia menyebut bahwa Ayatullah Ali Khamenei selama bertahun-tahun memohon kepada Allah SWT agar dianugerahi kesyahidan, dan bahwa syahadah tersebut merupakan pengabulan doa yang telah lama dipanjatkan.

Ia juga menggambarkan kehidupan sederhana Ayatullah Ali Khamenei selama puluhan tahun memimpin Iran. Menurutnya, meskipun berada di posisi tertinggi negara, beliau dan keluarganya tetap hidup dalam kesederhanaan dan tidak meninggalkan catatan buruk. Karena itu, menurutnya, kesyahidan merupakan akhir yang paling pantas bagi seorang pejuang seperti beliau.

Dalam bagian akhir pidatonya, Syaikh Mohammad Sharifani mengaitkan syahadah Ayatullah Ali Khamenei dengan peristiwa Perjanjian Hudaibiyah pada masa Rasulullah SAW, yang pada awalnya tampak sebagai kesulitan namun kemudian menjadi jalan menuju kemenangan besar. Ia mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Fath:

Innâ fataḥnâ laka fatḥam mubînâ
Sesungguhnya Kami telah menganugerahkan kepadamu kemenangan yang nyata.
(QS. Al-Fath [48]: 1)

Menurutnya, syahadah Ayatullah Ali Khamenei dapat menjadi fath mubin, kemenangan nyata yang akan membuka jalan bagi kemajuan Islam di masa depan, sebagaimana Perjanjian Hudaibiyah menjadi jalan menuju pembebasan Makkah.

Ia juga menekankan bahwa syahadah Ayatullah Ali Khamenei di bulan Ramadan merupakan kemuliaan tersendiri. Selain memperoleh derajat syahid, wafatnya di bulan suci tersebut menambah keutamaan di sisi Allah SWT. Ia menyinggung riwayat yang menyatakan bahwa orang yang berjuang di jalan Allah akan langsung mendapatkan balasan dari Allah SWT, sebagaimana orang yang berpuasa yang ganjarannya diberikan langsung oleh Allah.

Pidato Syaikh Mohammad Sharifani tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian Majelis Tahlil di ICC Jakarta. Melalui pidatonya, ia mengajak para hadirin untuk memandang syahadah Ayatullah Ali Khamenei bukan hanya sebagai peristiwa duka, tetapi juga sebagai bagian dari perjalanan panjang perjuangan Islam menuju kemenangan.