Skip to main content

Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta menyelenggarakan peringatan Milad Imam Hasan as pada Rabu, 4 Maret 2026, yang bertepatan dengan malam ke-15 Ramadan sekaligus malam Nuzulul Qur’an. Dalam sambutan pembukaannya, Ustaz Zaki Amami mengajak jamaah untuk mengkhidmatkan diri dalam majelis peringatan kelahiran cucu Rasulullah saw, Imam Hasan Ali bin Abi Thalib as. Beliau menjelaskan bahwa peringatan wiladah tahun ini berlangsung dalam suasana yang sedikit berbeda karena bertepatan dengan kabar kesyahidan rahbar umat Islam, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. Karena itu beliau mengajak seluruh jamaah mengikuti rangkaian acara dengan penuh kekhusyukan dan penghormatan.

Ustaz Zaki Amami menjelaskan bahwa Imam Hasan as merupakan sosok agung dari kalangan ahlul bait as. Beliau adalah salah satu anggota Ahlul Kisa serta dikenal dalam hadis Nabi sebagai penghulu para pemuda surga. Menurut beliau, kehadiran kaum muslimin dalam majelis kelahiran para manusia suci dari keluarga Rasulullah saw merupakan bentuk kecintaan kepada ahlul bait sekaligus sarana untuk mendapatkan bimbingan spiritual dari mereka. Beliau juga mengingatkan bahwa malam tersebut bertepatan dengan malam pertengahan Ramadan yang oleh banyak kaum muslimin diperingati sebagai malam Nuzulul Qur’an, malam turunnya Al-Qur’an. Dalam kesempatan itu beliau membacakan firman Allah swt:

syahru ramaḍânalladzî unzila fîhil-qur’ânu hudal lin-nâsi wa bayyinâtim minal-hudâ wal-furqân
“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda antara yang benar dan yang batil.” (QS. Al-Baqarah [2]: 185)

Ustaz Zaki Amami menjelaskan bahwa turunnya Al-Qur’an pada bulan Ramadan menjadikan bulan ini memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam kehidupan kaum muslimin. Karena itu beliau berharap majelis tersebut dapat menjadi sarana untuk semakin menggali ajaran Al-Qur’an melalui bimbingan ahlul bait Rasulullah saw sehingga kecintaan kepada mereka semakin kuat.

Setelah sambutan pembukaan, acara dilanjutkan dengan tilawah Al-Qur’an yang dibacakan oleh Ustaz Sya’rawi dari Thailand. Seusai tilawah, jamaah mengikuti pembacaan tahlil yang dipimpin oleh Ustaz Husein Shahab sebagai doa bagi almarhum Ayatullah Sayyid Ali Khamenei.

Dalam ceramahnya, Ustaz Husein Shahab menjelaskan bahwa pembahasan malam itu beliau bagi menjadi dua bagian. Pertama mengenai Imam Hasan as, dan kedua mengenai almarhum Sayyid Ali Khamenei yang pada saat itu sedang dipersiapkan proses pemakamannya. Pada bagian pertama, beliau menjelaskan bahwa Imam Hasan as merupakan salah satu manusia suci yang kedudukannya ditegaskan dalam Al-Qur’an melalui ayat tentang ahlul bait Nabi. Beliau kemudian membacakan firman Allah swt:

innamâ yurîdullâhu liyudz-hiba ‘ankumur-rijsa ahlal-baiti wa yuṭahhirakum taṭhîrâ
“Sesungguhnya Allah hanya hendak menghilangkan dosa darimu, wahai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab [33]: 33)

Ustaz Husein Shahab menjelaskan bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan lima sosok mulia yang dikenal sebagai Ashabul Kisa, yaitu Rasulullah saw, Fatimah Zahra as, Imam Ali as, Imam Hasan as, dan Imam Husain as. Nabi sendiri yang menyelimuti mereka dengan kain dan menyatakan bahwa merekalah yang dimaksud dengan ahlul bait beliau. Beliau juga mengingatkan bahwa Al-Qur’an memerintahkan umat Islam untuk mencintai keluarga Nabi. Dalam hal ini beliau mengutip ayat:

qul lâ as’alukum ‘alaihi ajran illal-mawaddata fil-qurbâ
“Katakanlah: Aku tidak meminta kepadamu imbalan apa pun atas dakwah ini selain kecintaan kepada keluarga dekatku.” (QS. Asy-Syura [42]: 23)

Menurut beliau, ayat ini menunjukkan bahwa kecintaan kepada keluarga Rasulullah saw merupakan kewajiban bagi umat Islam. Bahkan dalam praktik ibadah sehari-hari, nama ahlul bait selalu disebut dalam salawat. Tanpa menyertakan mereka dalam salawat, salawat tersebut dianggap tidak sempurna.

Ustaz Husein Shahab kemudian menjelaskan bahwa Imam Hasan as lahir pada tanggal 15 Ramadan tahun 3 Hijriah dan merupakan cucu pertama Rasulullah saw. Nabi menunjukkan kasih sayang yang sangat besar kepada beliau, terlebih ketika kemudian lahir pula Imam Husain as yang terpaut usia tidak sampai satu tahun. Rasulullah saw menyebut keduanya sebagai sayyidā syabābi ahlil jannah, yaitu penghulu para pemuda surga.

Beliau juga menyebut bahwa banyak hadis Nabi yang menjelaskan keutamaan Imam Hasan as dan Imam Husain as. Sebagian di antaranya tercatat dalam berbagai kitab hadis, termasuk karya ulama Ahlusunah seperti kitab Yanabi‘ al-Mawaddah karya al-Qanduzi al-Hanafi, serta kitab-kitab lain seperti Kanz al-‘Ummal dan Musnad Ahmad bin Hanbal. Dalam tradisi riwayat ahlul bait as sendiri juga terdapat banyak karya yang membahas keutamaan mereka, salah satunya kitab Faḍā’il al-Khamsah min al-Ṣiḥāḥ al-Sittah yang menghimpun hadis-hadis tentang lima tokoh utama ahlul bait.

Ustaz Husein Shahab menjelaskan bahwa pujian Nabi kepada Imam Hasan as dan Imam Husain as bukan semata-mata karena hubungan kekerabatan, tetapi karena keduanya merupakan teladan bagi umat. Kehidupan mereka menjadi contoh bagaimana ajaran Islam dijalankan secara sempurna. Beliau kemudian menguraikan secara singkat perjalanan hidup Imam Hasan as. Imam Hasan as wafat pada tahun 49 Hijriah. Setelah kesyahidan Imam Ali as pada tahun 40 Hijriah, kaum muslimin membaiat Imam Hasan as sebagai khalifah. Namun kekhalifahan beliau hanya berlangsung sekitar enam bulan karena tekanan politik dari Muawiyah yang ketika itu menguasai wilayah Syam.

Menurut Ustaz Husein Shahab, sering kali terdapat kesalahpahaman dalam memahami sikap Imam Hasan as yang memilih berdamai dengan Muawiyah. Sebagian orang menganggap keputusan tersebut bertentangan dengan perjuangan Imam Husain as yang kemudian bangkit melawan Yazid di Karbala. Padahal menurut beliau, kedua Imam tersebut memiliki tujuan yang sama tetapi menghadapi kondisi yang berbeda.

Ustaz Husein Shahab menjelaskan bahwa Muawiyah telah berkuasa di wilayah Syam sejak masa khalifah sebelumnya dan memiliki pengaruh yang sangat kuat di sana. Sementara pada masa pemerintahan Imam Ali as terjadi berbagai konflik internal di kalangan kaum muslimin, seperti Perang Jamal, Perang Shiffin, dan Perang Nahrawan, yang menimbulkan korban sangat besar serta melemahkan stabilitas politik umat Islam. Ketika Imam Hasan as diangkat sebagai khalifah, masyarakat dalam keadaan sangat letih akibat konflik yang berkepanjangan. Dalam situasi tersebut Muawiyah terus mengancam dan memprovokasi konflik baru. Imam Hasan as akhirnya memutuskan untuk melakukan perdamaian demi menjaga keselamatan umat Islam, terutama para pengikut setia ahlul bait Rasulullah saw.

Dalam perjanjian tersebut disebutkan bahwa Muawiyah boleh memegang kekuasaan sementara, tetapi setelah wafatnya kekuasaan harus dikembalikan kepada kaum muslimin melalui musyawarah. Selain itu Muawiyah juga diwajibkan menjaga keselamatan para pengikut Imam Ali as serta menghormati keluarga Rasulullah saw. Namun menurut Ustaz Husein Shahab, setelah memperoleh kekuasaan Muawiyah justru melanggar isi perjanjian tersebut. Ia menolak menjalankan klausul yang telah disepakati dan mulai menindas para pengikut Imam Ali as. Situasi itu membuat kondisi politik semakin penuh dengan fitnah.

Imam Hasan as kemudian kembali ke Madinah dan menjalani kehidupan di sana hingga akhirnya syahid. Meskipun tidak memimpin pemerintahan secara langsung, kedudukan beliau sebagai Imam tetap diakui dalam ajaran Islam. Rasulullah saw sendiri pernah bersabda bahwa Hasan dan Husain adalah dua Imam, baik ketika mereka memegang kekuasaan maupun ketika tidak memegang kekuasaan.

Di akhir penjelasannya mengenai Imam Hasan as, Ustaz Husein Shahab menegaskan bahwa kehidupan beliau menunjukkan kesetiaan yang mendalam kepada keluarga Rasulullah saw. Hal itu terlihat pula dari keturunan beliau yang tetap setia membela ahlul bait. Sebagian besar putra Imam Hasan as bahkan ikut bersama Imam Husain as dalam peristiwa Karbala dan banyak di antara mereka gugur sebagai syuhada. Dari keturunan yang tersisa kemudian lahir generasi-generasi penerus keluarga Rasulullah saw melalui jalur Imam Hasan as.

Acara kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Syaikh Mohammad Sharifani.