Skip to main content

Dalam rangkaian peringatan Milad Imam Hasan as yang diselenggarakan di Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta pada Rabu, 4 Maret 2026, Ustaz Husein Shahab juga menyampaikan bagian khusus ceramahnya untuk mengenang dan mendoakan Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. Pada saat ceramah tersebut berlangsung, jenazah pemimpin besar Iran itu sedang dipersiapkan untuk dimakamkan, sehingga suasana majelis dipenuhi rasa haru sekaligus penghormatan terhadap sosok yang selama puluhan tahun memimpin perjuangan umat.

Dalam penjelasannya, Ustaz Husein Shahab terlebih dahulu menerangkan nasab Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. Beliau menjelaskan bahwa almarhum berasal dari keturunan Imam Husain as. Dalam tradisi nasab keluarga Rasulullah saw, keturunan Imam Hasan as dikenal dengan sebutan al-Hasani, sementara keturunan Imam Husain as dikenal sebagai al-Husaini. Ayatullah Sayyid Ali Khamenei termasuk dari jalur Imam Husain as melalui keturunan Imam Ali Zainal Abidin as, meskipun bukan melalui jalur Imam Muhammad al-Baqir as. Karena itu, beliau dikenal sebagai seorang sayyid al-Husaini.

Ustaz Husein Shahab menggambarkan Ayatullah Sayyid Ali Khamenei sebagai sosok pejuang besar dalam sejarah dunia Syiah. Menurut beliau, sangat mungkin selama ratusan tahun ke depan umat tidak akan mudah menemukan tokoh dengan keluasan ilmu, keberanian, dan keteguhan seperti yang dimiliki oleh almarhum. Karena itu, beliau menyatakan bahwa generasi yang hidup pada masa ini sebenarnya beruntung karena dapat menyaksikan langsung kepemimpinan seorang tokoh besar tersebut.

Salah satu sisi yang sangat ditekankan dalam ceramah itu adalah kezuhudan Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. Ustaz Husein Shahab menyebut bahwa meskipun beliau memegang kekuasaan tertinggi di Iran, kehidupan pribadinya sangat sederhana dan jauh dari kemewahan. Banyak kesaksian yang memperlihatkan bagaimana pakaian yang beliau kenakan telah digunakan puluhan tahun, bahkan tampak usang dan robek di beberapa bagian. Sandal yang beliau pakai pun sering kali terlihat sangat sederhana.

Ustaz Husein Shahab menceritakan sebuah kisah yang menggambarkan kesederhanaan tersebut. Suatu ketika Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menghadiri sebuah majelis. Setelah acara selesai dan para tamu pulang, beliau hendak kembali ke rumah, tetapi tidak menemukan sandal miliknya. Setelah dicari-cari oleh para pengawal, sandal itu tetap tidak ditemukan. Di dekat pintu keluar terdapat sebuah sandal yang sangat sederhana dan sudah rusak. Ayatullah Sayyid Ali Khamenei kemudian berkata bahwa sandal itu miliknya. Para pengawal yang melihat kejadian itu merasa terkejut, karena sosok yang memimpin sebuah negara besar ternyata hidup dengan kesederhanaan yang begitu nyata.

Beliau juga dikenal menolak berbagai tawaran untuk memperbarui rumah pribadinya. Rumah yang beliau tempati tetap dipertahankan dalam keadaan sederhana sebagaimana sebelumnya. Karpet yang digunakan adalah karpet lama, begitu pula tempat tidurnya. Ustaz Husein Shahab menilai bahwa sikap ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh teladan para Imam Ahlul Bait dalam kehidupan beliau, khususnya teladan kezuhudan Al-Imam Ali bin Abi Thalib as.

Dalam ceramah tersebut juga disampaikan sebuah kisah lain yang menggambarkan ketelitian Ayatullah Sayyid Ali Khamenei dalam menjaga amanah harta umat. Pada suatu kesempatan, seorang ulama besar berkunjung ke rumah beliau. Saat makan siang disajikan hidangan bagi tamu tersebut. Anak Ayatullah Sayyid Ali Khamenei kemudian ingin ikut makan bersama tamu. Namun beliau meminta anaknya untuk makan di bagian dalam rumah. Beliau menjelaskan bahwa hidangan yang disajikan kepada tamu tersebut berasal dari baitul mal, sehingga hanya tamu yang berhak memakannya. Jika anaknya ingin makan, maka ia harus makan dari makanan rumah tangga sendiri. Sikap ini, menurut Ustaz Husein Shahab, menunjukkan betapa ketatnya beliau menjaga amanah publik.

Ustaz Husein Shahab kemudian menggambarkan kedudukan Ayatullah Sayyid Ali Khamenei di mata masyarakat Iran. Ketika beliau berada di Iran, banyak orang menyampaikan bahwa negeri itu dijaga oleh tiga sosok mulia: Al-Imam Ali bin Musa al-Ridha as yang makamnya berada di Masyhad, Sayyidah Fatimah al-Ma‘shumah as yang dimakamkan di Qom, serta Ayatullah Sayyid Ali Khamenei sebagai pemimpin yang menjaga arah perjuangan bangsa tersebut. Bagi masyarakat Iran, penghormatan kepada beliau bukanlah sesuatu yang dibuat-buat, tetapi lahir dari keyakinan terhadap kualitas pribadi dan integritasnya.

Dalam bagian lain ceramahnya, Ustaz Husein Shahab juga menyinggung keberanian Ayatullah Sayyid Ali Khamenei dalam menghadapi berbagai tekanan politik dan ancaman. Menurut beliau, sikap keberanian tersebut mencerminkan makna firman Allah swt:

alâ inna auliyâ’allâhi lâ khaufun ‘alaihim wa lâ hum yaḥzanûn
“Ingatlah, sesungguhnya para wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Yunus [10]: 62)

Menurut Ustaz Husein Shahab, ayat tersebut menggambarkan keadaan para kekasih Allah yang hidup dengan keteguhan iman dan keberanian menghadapi berbagai cobaan. Beliau menilai bahwa karakter seperti itulah yang terlihat dalam kepemimpinan Ayatullah Sayyid Ali Khamenei.

Ketika kabar wafatnya beliau tersebar, banyak pengikut dan pecinta beliau di berbagai negara merasa sangat terkejut. Namun Ustaz Husein Shahab mengingatkan bahwa dalam sejarah Islam, banyak tokoh besar yang justru menghidupkan perjuangan umat melalui syahadah mereka. Para Imam dari Ahlul Bait as juga mengalami hal serupa. Al-Imam Ali as syahid, demikian pula Al-Imam Hasan as dan Al-Imam Husain as. Syahadah dalam jalan Allah sering kali menjadi titik yang membangkitkan kembali semangat perjuangan umat.

Ustaz Husein Shahab juga menyampaikan bahwa Ayatullah Sayyid Ali Khamenei sejak lama memiliki kerinduan untuk memperoleh karunia syahid di jalan Allah. Ketika melihat para pejuang yang gugur di medan perjuangan, beliau sering kali meneteskan air mata dan berdoa agar suatu saat dianugerahi kemuliaan yang sama.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa wafatnya Ayatullah Sayyid Ali Khamenei justru memunculkan gelombang solidaritas besar di Iran. Banyak masyarakat turun ke jalan untuk berkabung dan menyatakan kesetiaan mereka terhadap cita-cita perjuangan yang selama ini beliau perjuangkan. Prosesi pemakaman direncanakan berlangsung di kota Masyhad, tempat makam Al-Imam Ali bin Musa al-Ridha as berada, karena Ayatullah Sayyid Ali Khamenei sendiri berasal dari kota tersebut.

Menurut Ustaz Husein Shahab, syahadah Ayatullah Sayyid Ali Khamenei telah menyalakan kembali semangat perlawanan terhadap kezaliman di berbagai penjuru dunia Islam. Perjuangan yang beliau rintis diyakini akan terus berlanjut melalui generasi-generasi berikutnya.

Menutup penjelasannya, Ustaz Husein Shahab mengajak jamaah untuk tidak melupakan doa bagi kaum Muslimin yang sedang menghadapi berbagai ujian dan konflik. Beliau mengingatkan agar setiap selesai salat umat Islam senantiasa memohon kepada Allah swt agar memberikan kekuatan, kemenangan, dan keadilan bagi kaum Muslimin di seluruh dunia. Menurut beliau, doa adalah bagian penting dari dukungan spiritual yang dapat diberikan oleh umat kepada mereka yang sedang berjuang di jalan Allah.