Skip to main content

Khutbah Idul Fitri disampaikan di ICC Jakarta pada Sabtu, 22 Maret 2026 oleh Syaikh Mohamamad Sharifani di hadapan jamaah yang hadir dalam suasana hari raya. Dalam khutbahnya, beliau mengawali dengan menyinggung kondisi umat Islam yang sedang menghadapi situasi memprihatinkan akibat serangan yang dilakukan oleh kekuatan mustakbirin terhadap Iran yang menyebabkan gugurnya para syuhada, termasuk para pemimpin negara yang dimuliakan. Namun demikian, beliau menegaskan bahwa di tengah kondisi tersebut, umat tetap menunjukkan ketaatan kepada Allah swt dengan menyelesaikan ibadah Ramadan dan memasuki hari Idul Fitri sebagai bagian dari jamuan Ilahi. Beliau pun menyampaikan ucapan selamat Idul Fitri kepada seluruh jamaah, seraya berharap agar Allah swt senantiasa memberikan taufik, hidayah, dan inayah kepada kaum muslimin.

Memasuki khutbah pertama, Syaikh Mohamamad Sharifani menyampaikan bahwa Idul Fitri merupakan hari yang sangat istimewa dan penuh makna. Dalam hadis disebutkan bahwa ketika datang hari pertama bulan Syawal, ada seruan kepada orang-orang beriman bahwa hari tersebut adalah hari pembagian hadiah. Oleh karena itu, setiap mukmin diminta untuk mengambil hadiah yang telah disiapkan berupa rahmat, ampunan, kasih sayang Allah, dan surga. Dengan demikian, Idul Fitri menjadi momentum bagi mereka yang telah mengisi Ramadan dengan baik untuk menerima ganjaran Ilahi.

Beliau menjelaskan bahwa perjalanan menuju pelaksanaan salat Idul Fitri mengandung makna spiritual yang mendalam. Ketika seseorang keluar dari rumah menuju tempat salat, sesungguhnya ia sedang menuju rumah Allah swt. Ketika ia sampai di tempat salat, ia berada di hadapan Allah swt dan merasakan kehadiran-Nya. Kemudian ketika ia kembali ke rumah, ia kembali dari rumah Allah swt dengan harapan menuju surga. Namun demikian, beliau mengingatkan bahwa kepulangan tersebut memiliki dua kemungkinan, yaitu menuju keselamatan atau sebaliknya, tergantung pada bagaimana kualitas amal yang telah dilakukan.

Dalam penjelasannya, beliau mengingatkan bahwa selama bulan Ramadan banyak umat Islam yang meningkatkan ibadah, seperti bersedekah, membaca Al-Qur’an, memberi makan, dan melaksanakan salat-salat khusus. Namun menurut beliau, yang paling penting bukanlah kuantitas ibadah, melainkan kualitasnya, yaitu sejauh mana amal tersebut diterima oleh Allah swt. Beliau menegaskan bahwa banyak orang yang secara lahiriah melakukan ibadah dalam jumlah besar, bahkan berulang kali menunaikan haji, tetapi belum tentu amal tersebut diterima.

Alladzî khalaqal-mauta wal-ḥayāta liyabluwakum ayyukum aḥsanu ‘amalâ
“(Dialah) yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al-Mulk [67]: 2)

Melalui ayat tersebut, Syaikh Mohamamad Sharifani menegaskan bahwa ukuran utama dalam beribadah adalah kualitas amal. Untuk itu, beliau menjelaskan beberapa syarat utama agar ibadah diterima oleh Allah swt. Syarat pertama adalah Islam, bahwa amal hanya diterima dari seorang muslim. Syarat kedua adalah iman, yaitu keyakinan yang mendorong seseorang untuk melaksanakan perintah Allah swt dengan sungguh-sungguh, terutama salat sebagai kunci diterimanya amal. Beliau juga mengingatkan bahwa sebagaimana tempat salat Idul Fitri dipenuhi jamaah, diharapkan salat-salat lainnya, termasuk salat Jumat, juga dipenuhi dengan semangat yang sama.

Syarat berikutnya adalah menjaga makanan yang halal. Beliau menekankan bahwa makanan yang dikonsumsi seseorang memiliki pengaruh besar terhadap diterimanya amal ibadah. Oleh karena itu, setiap muslim harus memastikan bahwa apa yang dimakan berasal dari sumber yang halal. Selain itu, syarat lainnya adalah menjaga akhlak mulia. Akhlak yang baik harus tumbuh dari ketakwaan, sehingga seseorang terhindar dari sifat dendam, iri hati, dan perbuatan tercela lainnya.

Innamâ yataqabbalullâhu minal-muttaqîn
“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 27)

Memasuki khutbah kedua, Syaikh Mohamamad Sharifani menjelaskan bahwa dalam sejarah, para pengikut ahlul bait as sering kali mengalami ketidakadilan dan kezaliman di berbagai belahan dunia. Namun demikian, umat Islam meyakini janji Allah swt yang akan memberikan pertolongan dan kemenangan kepada mereka yang dizalimi.

Huwalladzî arsala rasûlahû bil-hudâ wa dînil-ḥaqqi liyuzhirahû ‘alad-dîni kullihî walau karihal-musyrikûn
“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan (membawa) petunjuk dan agama yang benar agar Dia mengunggulkannya atas semua agama walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (QS. At-Taubah [9]: 33)

Melalui ayat tersebut, beliau menegaskan keyakinan bahwa Allah swt akan memberikan kemenangan kepada Islam atas berbagai ideologi dan kekuatan yang ada. Beliau menyampaikan keyakinannya bahwa dalam waktu dekat umat akan menyaksikan kemenangan kebenaran atas kebatilan.

Dalam penjelasannya, beliau juga menyinggung kondisi Iran yang saat ini menghadapi tekanan dan serangan dari berbagai pihak. Meskipun secara lahir tampak hanya menghadapi beberapa negara, namun menurut beliau sesungguhnya terdapat banyak kekuatan yang berupaya melemahkannya. Dalam kondisi tersebut, Iran tetap bertahan dan bahkan mampu memberikan perlawanan yang kuat. Beliau mempertanyakan sumber kekuatan tersebut dan menegaskan keyakinannya bahwa di balik semua itu terdapat pertolongan Ilahi.

Beliau kemudian mengaitkan hal tersebut dengan keyakinan terhadap Imam Zaman AFS sebagai sosok yang memimpin dan memberikan dukungan spiritual. Oleh karena itu, beliau mengajak jamaah untuk senantiasa berharap agar Allah swt memberikan perhatian, inayah, dan kasih sayang-Nya, serta tidak memalingkan rahmat-Nya dari umat manusia.

Menutup khutbahnya, Syaikh Mohamamad Sharifani mengajak jamaah untuk tetap menjaga keimanan, meningkatkan kualitas ibadah, serta memperkuat keyakinan akan janji Allah swt yang pasti akan memberikan kemenangan kepada kebenaran.