Kegiatan Kelas Tafsir Maudhu’i diselenggarakan di ICC Jakarta pada Kamis, 2 April 2026 bersama Ustaz Zaki Amami. Dalam kajian tersebut, beliau menyampaikan tafsir Surah Ali Imran dengan merujuk pada Tafsir Nur karya Syekh Muhsin Qiraati, sekaligus menegaskan bahwa Al-Qur’an merupakan hudan lil muttaqin, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.
Dalam penjelasannya, Ustaz Zaki Amami memulai dengan membacakan ayat-ayat awal Surah Ali Imran:
alif lām mīm
Allāhu lā ilāha illā huwal-ḥayyul-qayyūm
nazzala ‘alaikal-kitāba bil-ḥaqqi muṣaddiqal limā baina yadaihi wa anzalat-taurāta wal-injīl
ming qablu hudal lin-nāsi wa anzalal-furqān, innalladzīna kafarū bi āyātillāhi lahum ‘adzābun syadīd, wallāhu ‘azīzun dzuntiqām
“Alif Lām Mīm. Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahahidup lagi Maha Mengurus (makhluk-Nya) secara terus-menerus. Dia menurunkan kepadamu (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) dengan hak, membenarkan (kitab-kitab) sebelumnya, serta telah menurunkan Taurat dan Injil. Sebelum (turunnya Al-Qur’an) sebagai petunjuk bagi manusia, dan menurunkan Al-Furqan (pembeda yang hak dan yang batil). Sesungguhnya orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Allah, bagi mereka azab yang sangat keras. Allah Mahaperkasa lagi mempunyai balasan (siksa).” (QS. Ali ‘Imran [3]: 1–4)
Beliau menjelaskan bahwa huruf muqatta’ah seperti “alif lām mīm” merupakan rahasia antara Allah swt, Rasulullah saw, dan para maksumin. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa huruf-huruf tersebut adalah رمز (rumus) Ilahi yang makna hakikinya hanya diketahui oleh mereka yang diberi pengetahuan khusus. Selain itu, huruf muqatta’ah juga merupakan bentuk mukjizat Al-Qur’an, karena Allah swt menggunakan huruf-huruf yang biasa dipakai manusia sehari-hari, namun menghasilkan susunan yang tidak mampu ditandingi oleh siapa pun.
Ustaz Zaki Amami kemudian menjelaskan pola kemunculan huruf muqatta’ah dalam beberapa surah, seperti “alif lām mīm” yang terdapat dalam enam surah, “alif lām rā” dalam enam surah, dan “ḥā mīm” juga dalam enam surah. Menurut beliau, hal ini menunjukkan adanya sistem dan rahasia Ilahi yang tidak bersifat acak.
Memasuki ayat kedua, beliau menekankan makna tauhid dalam kalimat “Allāhu lā ilāha illā huwal-ḥayyul-qayyūm”. Menurut beliau, hanya Allah swt yang memiliki kehidupan sejati dan berdiri sendiri, sementara seluruh makhluk bergantung kepada-Nya. Allah swt menciptakan dan mendidik alam semesta menuju kesempurnaan, sebagaimana manusia secara fitrah ingin mendidik anaknya dengan baik.
Dalam penjelasan ini, beliau juga mengingatkan bahwa penyembahan kepada selain Allah swt tidak hanya terjadi dalam bentuk patung seperti pada masa Nabi Ibrahim as, tetapi juga dalam bentuk modern seperti menyembah hawa nafsu, harta, dan kedudukan. Dalam hal ini, beliau mengutip pandangan Imam Khomeini yang menyebut bahwa hal-hal tersebut merupakan tabir yang menghalangi manusia dari jalan kesempurnaan.
Beliau juga menyampaikan pandangan para arif seperti Ayatullah Behjat dan Ayatullah Murtadha Muthahhari yang menegaskan bahwa hakikat kehidupan hanya milik Allah swt, sedangkan manusia pada hakikatnya fana. Dari sini, manusia harus menyadari dirinya sebagai hamba yang seluruh keberadaannya bergantung kepada Allah swt, sehingga tujuan hidupnya adalah menjadi hamba Ilahi, bukan hamba hawa nafsu.
Pada ayat ketiga, Ustaz Zaki Amami menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan sebagai kitab yang benar dan membenarkan kitab-kitab sebelumnya, yaitu Taurat dan Injil. Kitab-kitab tersebut merupakan bukti kenabian para nabi dan berfungsi sebagai petunjuk bagi manusia agar tidak terjerumus dalam penyimpangan. Penyimpangan terjadi ketika manusia menjauh dari ajaran wahyu, sebagaimana kisah Samiri yang menyembah patung sapi setelah menyimpang dari ajaran Nabi Musa as.
Beliau juga menjelaskan makna Taurat sebagai syariat dan hukum, serta Injil sebagai nasihat dan kabar gembira. Namun Injil yang ada saat ini, menurut beliau, merupakan catatan yang ditulis setelah Nabi Isa as, bukan kitab asli yang diturunkan kepada beliau.
Memasuki ayat keempat, beliau menjelaskan bahwa Allah swt menurunkan Al-Furqan sebagai pembeda antara yang hak dan yang batil. Dalam sejarah Islam, sosok Imam Ali bin Abi Thalib as disebut sebagai Al-Furqan, di mana kecintaan atau permusuhan terhadap beliau menjadi ukuran kebenaran seseorang.
Dalam konteks masa kini, Ustaz Zaki Amami mengajak jamaah untuk memahami bahwa konsep Al-Furqan juga hadir dalam realitas sosial. Beliau menyinggung sosok Ali Khamenei sebagai figur yang menunjukkan keberanian, keadilan, kesederhanaan, serta pembelaan terhadap kaum mustadhafin. Menurut beliau, tanpa bermaksud berlebihan, sosok tersebut dapat dilihat sebagai representasi nilai-nilai kebenaran yang dapat dikenali melalui sikap dan perjuangannya.
Beliau mencontohkan bagaimana Rahbar bersikap ketika menghadapi orang-orang yang menghina dan mencaci dirinya. Dalam sebuah pidato, beliau justru memaafkan mereka dan mendoakan agar mendapatkan hidayah. Sikap ini, menurut Ustaz Zaki Amami, menunjukkan akhlak yang tinggi dan menjadi pelajaran bagi umat agar tidak mudah terbawa emosi.
Mengakhiri kajian, beliau kembali menegaskan bagian akhir ayat:
innalladzīna kafarū bi āyātillāhi lahum ‘adzābun syadīd, wallāhu ‘azīzun dzuntiqām
“Sesungguhnya orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Allah, bagi mereka azab yang sangat keras. Allah Mahaperkasa lagi mempunyai balasan (siksa).” (QS. Ali ‘Imran [3]: 4)
Melalui ayat tersebut, Ustaz Zaki Amami mengingatkan bahwa manusia harus berhati-hati dalam menyikapi kebenaran. Penolakan terhadap ayat-ayat Allah swt memiliki konsekuensi yang berat. Karena itu, beliau mengajak jamaah untuk memperkuat kecintaan kepada Al-Qur’an, menjadikannya sebagai pedoman hidup, serta mendidik diri dan keluarga dengan nilai-nilainya agar dapat berjalan di jalan yang lurus.



