Skip to main content

Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta menyelenggarakan ibadah salat Jumat pada 27 Maret 2026 dengan menghadirkan Ustaz Umar Shahab sebagai penceramah. Dalam khutbahnya, Ustaz Umar Shahab mengawali dengan ajakan untuk senantiasa menanamkan ketakwaan kepada Allah SWT, di mana salah satu maknanya adalah keyakinan penuh bahwa Allah memiliki cara sendiri untuk menyelesaikan setiap masalah dan Maha Menepati janji-Nya. Beliau menjelaskan bahwa takwa juga berarti bersikap tawakal, yakin, serta pasrah kepada Allah SWT sebagaimana diingatkan dalam Al-Qur’an agar umat manusia memercayakan segala urusan kepada-Nya jika benar-benar beriman.

Memasuki minggu kelima situasi yang dihadapi Republik Islam Iran, Ustaz Umar Shahab memberikan sorotan pada ketahanan negara tersebut dalam mengimbangi kekuatan Amerika dan Israel. Beliau menyampaikan bahwa meskipun pihak lawan bersikap pongah dan sombong dengan mengklaim dapat menaklukkan Iran dalam hitungan hari, kenyataannya Iran mampu mengungguli kekuatan persenjataan dan teknologi maju lawan. Menurut beliau, hal ini memicu kekaguman dunia, namun yang terpenting adalah hati masyarakat dunia, khususnya kaum muslimin, saat ini berada bersama Republik Islam Iran.

Ustaz Umar Shahab kemudian menguraikan landasan filosofis dan etika berperang dalam Islam yang membedakan kaum muslimin dengan musuh-musuh mereka. Beliau menegaskan bahwa perang dalam Islam bukan sekadar perebutan materi atau kekuasaan fisik, melainkan didasarkan pada prinsip yang kuat. Beliau mengutip Surah An-Nisa ayat 104: wa lâ tahinû fibtighâ’il-qaûm, in takûnû ta’lamûna fa innahum ya’lamûna kamâ ta’lamûn, wa tarjûna minallâhi mâ lâ yarjûn, yang artinya janganlah kamu merasa lemah dalam mengejar kaum itu (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, sesungguhnya mereka pun menderita kesakitan sebagaimana yang kamu rasakan. (Bahkan) kamu dapat mengharapkan dari Allah apa yang tidak dapat mereka harapkan. Beliau menjelaskan bahwa Amerika didorong oleh ketamakan untuk menguasai minyak dan kekayaan negara lain, sementara kaum muslimin berperang dengan mengharapkan sesuatu dari Allah yang tidak dimiliki oleh lawan.

Dalam menghadapi tekanan musuh, Ustaz Umar Shahab mengingatkan janji Allah mengenai datangnya pertolongan melalui kutipan Surah Al-Baqarah ayat 214: ḫattâ yaqûlar-rasûlu walladzîna âmanû ma‘ahû matâ nashrullâh, alâ inna nashrallâhi qarîb, yang bermakna sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat. Beliau menekankan bahwa selain memohon pertolongan, kaum muslimin wajib mempersiapkan kekuatan secara optimal sebagaimana perintah dalam Surah Al-Anfal ayat 60: wa a‘iddû lahum mastatha‘tum ming quwwatiw, yang berarti persiapkanlah untuk (menghadapi) mereka apa yang kamu mampu. Beliau mencontohkan Perang Badar, di mana pasukan muslim yang berjumlah 300 orang mampu mengalahkan 1000 orang musyrikin atas izin Allah, sebuah pola yang kini ditunjukkan oleh Iran melalui penguasaan teknologi rudal mandiri untuk mengimbangi kekuatan lawan.

Lebih lanjut, Ustaz Umar Shahab menyatakan bahwa Al-Qur’an melarang umat Islam untuk bersikap rendah diri di hadapan kezaliman dan kekafiran. Beliau merujuk pada Surah At-Taubah ayat 36: wa qâtilul-musyrikîna kâffatang kamâ yuqâtilûnakum kâffah, yang artinya dan perangilah orang-orang musyrik semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Beliau juga mengutip Surah Al-Baqarah ayat 194: fa mani‘tadâ ‘alaikum fa‘tadû ‘alaihi bimitsli ma‘tadâ ‘alaikum, yang berarti oleh sebab itu, siapa yang menyerang kamu, seranglah setimpal dengan serangannya terhadapmu. Menurut beliau, akhir dari perjuangan Islam hanya memiliki dua kemungkinan kebaikan, yaitu kemenangan fisik atau gugur sebagai syuhada yang merupakan kemuliaan tertinggi. Beliau menilai musuh salah perhitungan jika menganggap pembunuhan tokoh-tokoh seperti Sayyid Ali Khamenei akan melemahkan perjuangan, karena kesyahidan justru menjadi suntikan semangat bagi orang beriman.

Keteguhan iman tersebut digambarkan beliau melalui Surah Ali ‘Imran ayat 173: alladzîna qâla lahumun-nâsu innan-nâsa qad jama‘û lakum fakhsyauhum fa zâdahum îmânaw wa qâlû ḫasbunallâhu wa ni‘mal-wakîl, yang artinya (yaitu) mereka yang (ketika ada) orang-orang mengatakan kepadanya, “Sesungguhnya orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan (pasukan) untuk (menyerang) kamu. Oleh karena itu, takutlah kepada mereka,” ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) iman mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.” Ustaz Umar Shahab menyamakan situasi saat ini dengan Perang Ahzab atau Perang Khandaq, di mana banyak golongan bergabung untuk menghancurkan muslimin dan melakukan perang urat saraf, namun para pejuang di Iran, Lebanon, dan Irak justru semakin kokoh keyakinannya. Beliau meyakini bahwa Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya yang bersabar dan tabah di medan perang ditaklukkan oleh musuh.

Pada bagian khutbah kedua, Ustaz Umar Shahab mengimbau masyarakat di Indonesia agar memposisikan diri dalam kategori al-mujahidin (orang yang berjuang) dan bukan al-qaidin (orang yang duduk berleha-leha). Beliau mengutip Surah An-Nisa ayat 95: fadldlalallâhul-mujâhidîna ‘alal-qâ‘idîna, yang artinya Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang-orang yang duduk. Beliau menjelaskan bahwa jihad yang dapat dilakukan di Indonesia adalah melalui harta dan penjelasan atau tabyin, sesuai Surah At-Taubah ayat 41: wa jâhidû bi’amwâlikum wa anfusikum, yang artinya dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu.

Menutup ceramahnya, Ustaz Umar Shahab menyampaikan bahwa perang ini membawa hikmah besar berupa terangkatnya kembali eksistensi dan martabat Islam setelah sekian lama direndahkan oleh kekuatan adidaya. Beliau mengajak jemaah untuk terus mendoakan kemenangan Iran, Hizbullah, dan seluruh pejuang melalui doa yang diajarkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 286: fanshurnâ ‘alal-qaumil-kâfirîn, yang bermakna maka, tolonglah kami dalam menghadapi kaum kafir. Beliau menekankan bahwa doa, bantuan harta, dan penjelasan mengenai kebenaran merupakan bentuk solidaritas nyata agar umat tidak tergolong sebagai orang-orang yang berleha-leha dalam perjuangan.