Kegiatan Kelas Tafsir Maudhu’i yang diselenggarakan di ICC Jakarta pada Kamis, 9 April 2026 bersama Ustaz Zaki Amami diawali dengan refleksi atas 40 hari wafatnya Ayatullah Sayyid Al-Uzma Al Imam Ali Khamenei. Dalam pembukaannya, beliau mengajak jamaah merenungkan makna kesyahidan dengan mengutip firman Allah SWT:
wa lâ taḥsabannalladzîna qutilû fî sabîlillâhi amwâtâ, bal aḥyâ’un ‘inda rabbihim yurzaqûn
“Jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Sebenarnya mereka itu hidup dan dianugerahi rezeki di sisi Tuhannya.”
Ali ‘Imran · Ayat 169.
Menurut Ustaz Zaki Amami, kepergian sosok seperti Imam Ali Khamenei menghadirkan duka yang sangat mendalam bagi umat. Hal ini bukan dalam rangka mengagung-agungkan individu, melainkan karena kehilangan figur yang sulit digambarkan dengan bahasa. Beliau menegaskan bahwa sosok tersebut dikenal melalui ketakwaan, ketawadhuan, keberanian, dan keadilan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai keturunan Rasulullah SAW, beliau menjadi teladan yang hidup bagi umat.
Ustaz Zaki Amami kemudian menjelaskan konsep kemaksuman dengan mengutip pandangan ulama seperti Ayatullah Naser Makarem Shirazi dan Ayatullah Jawadi Amuli. Kemaksuman dijelaskan sebagai kondisi hati yang senantiasa suci dan terjaga dari keburukan. Meskipun kemaksuman sempurna hanya dimiliki oleh para maksumin, manusia tetap dapat meraih bagian dari kemaksuman melalui ikhtiar menjauhi dosa dalam kesehariannya.
Beliau menegaskan bahwa Imam Ali Khamenei bukanlah sosok maksum, namun memiliki kesungguhan untuk selalu berada di jalan Allah. Nilai-nilai perjuangan yang beliau hidupkan bersumber dari peristiwa Karbala dan keteladanan Imam Husain. Dari peristiwa tersebut lahir keberanian untuk melawan kezaliman serta komitmen dalam menegakkan kebenaran.
Dalam penjelasannya, Ustaz Zaki Amami mengutip bahwa keberanian, keadilan, dan kemuliaan dapat diraih apabila umat memahami dan berpegang teguh pada spirit Karbala. Hal ini tidak berhenti pada konsep, tetapi terwujud dalam kehidupan nyata, sebagaimana terlihat dalam kesederhanaan, keberanian, dan konsistensi Imam Ali Khamenei dalam membela kaum mustadhafin, termasuk rakyat Palestina.
Beliau juga menceritakan pengalaman langsung melihat kesederhanaan kehidupan Imam Ali Khamenei. Dalam berbuka puasa, beliau hanya mengonsumsi roti, kurma, dan teh. Kehidupan sehari-harinya jauh dari kemewahan, baik dari pakaian, tempat tinggal, maupun gaya hidup. Rumah beliau sederhana dan dipenuhi dengan buku-buku sebagai sarana mutalaah. Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam yang hakiki benar-benar hidup dalam dirinya.
Menurut Ustaz Zaki Amami, sosok tersebut merupakan manifestasi nyata dari ajaran Ahlul Bait dalam kehidupan modern. Oleh karena itu, umat diajak untuk tidak berhenti pada kekaguman, tetapi melakukan introspeksi diri. Pertanyaan utama adalah apakah kita mampu meneladani nilai-nilai tersebut: keberanian melawan kezaliman, kesederhanaan dalam hidup, keridhaan terhadap ketentuan Allah, serta kedekatan dengan Al-Qur’an.
Beliau mengingatkan pentingnya membangun hubungan yang erat dengan Al-Qur’an. Mengutip pesan gurunya, Syaikh Mohammad Sharifani, beliau menyampaikan anjuran untuk membaca minimal 100 ayat Al-Qur’an setiap hari serta membiasakan membawa mushaf sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Di tengah kajian, jamaah juga diajak untuk menghadiahkan bacaan Surah Al-Fatihah kepada ruh para tokoh mulia sebagai bentuk penyambung spiritual, bukan untuk memuliakan mereka—karena mereka telah mulia—melainkan untuk memperkuat keterhubungan ruhani.
Memasuki pembahasan tafsir, Ustaz Zaki Amami melanjutkan kajian Surah Ali ‘Imran ayat 7:
huwalladzî anzala ‘alaikal-kitâba min-hu âyâtum muḥkamâtun hunna ummul-kitâbi wa ukharu mutasyâbihât, fa ammalladzîna fî qulûbihim zaighun fayattabi‘ûna mâ tasyâbaha min-hubtighâ’al-fitnati wabtighâ’a ta’wîlih, wa mâ ya‘lamu ta’wîlahû illallâh, war-râsikhûna fil-‘ilmi yaqûlûna âmannâ bihî kullum min ‘indi rabbinâ, wa mâ yadzdzakkaru illâ ulul-albâb
“Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad). Di antara (isi)-nya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok Kitab (Al-Qur’an), dan yang lain mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya. Padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, ‘Kami beriman kepadanya, semuanya dari sisi Tuhan kami.’ Dan tidak dapat mengambil pelajaran darinya kecuali orang-orang yang berakal.”
Ali ‘Imran · Ayat 7.
Beliau menjelaskan bahwa ayat muhkamat adalah ayat-ayat yang maknanya jelas dan tidak memerlukan penafsiran lebih lanjut, seperti penegasan tentang keesaan Allah. Sedangkan ayat mutasyabihat adalah ayat-ayat yang memerlukan penjelasan karena tidak dapat dipahami secara literal.
Sebagai contoh, ungkapan seperti “tangan Allah di atas tangan mereka” tidak boleh dimaknai secara fisik, karena bertentangan dengan prinsip tauhid. Hal ini sejalan dengan penegasan dalam Al-Qur’an:
qul huwallâhu aḥad
“Katakanlah (Muhammad), ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa.’
allâhush-shamad
“Allah tempat meminta segala sesuatu.”
lam yalid wa lam yûlad
“Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.”
wa lam yakul lahû kufuwan aḥad
“Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.”
Surah Al-Ikhlas
Menurut Ustaz Zaki Amami, keberadaan ayat mutasyabihat memiliki beberapa hikmah. Pertama, mendorong manusia untuk berpikir, bertadabbur, dan memperdalam ilmu. Kedua, menunjukkan kebutuhan manusia terhadap penjelas yang otoritatif, yaitu Rasulullah dan Ahlul Bait. Ketiga, menjadi ujian agar manusia tidak menafsirkan Al-Qur’an sesuai hawa nafsu atau kepentingan tertentu.
Beliau juga menegaskan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an saling menguatkan. Ayat muhkamat berfungsi sebagai fondasi utama, sementara ayat mutasyabihat melengkapi pemahaman, sebagaimana sebuah bangunan yang terdiri dari struktur utama dan bagian-bagian pendukung yang saling menyempurnakan.
Di akhir kajian, Ustaz Zaki Amami menegaskan bahwa tujuan utama dari memahami Al-Qur’an adalah menjadikannya sebagai pedoman hidup. Dengan membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an, manusia dapat mendekatkan diri kepada Allah serta membentuk pribadi yang beriman, berilmu, dan berakhlak sesuai ajaran Islam dan teladan Ahlul Bait.



