Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta menyelenggarakan ibadah salat Jumat pada 3 April 2026 yang dipimpin oleh Ustaz Abdullah Beik sebagai penceramah. Dalam suasana hari-hari awal bulan Syawal pasca-Ramadan, beliau mengawali khutbah dengan ucapan selamat kepada jemaah yang telah meraih kemenangan setelah berpuasa sebulan penuh. Kemenangan ini dikhususkan bagi mereka yang memanfaatkan Ramadan dengan baik, mengisi waktu dengan ibadah, memperbanyak munajat dan taubat, khususnya di malam-malam suci dan malam Lailatul Qadar. Ustaz Abdullah Beik menekankan bahwa upaya tersebut adalah jalan mutlak untuk meraih tangga-tangga kesempurnaan menuju ketakwaan. Mengingat Ramadan telah berlalu, beliau mengajak jemaah untuk memikirkan langkah nyata apa yang harus dilakukan pasca-Idul Fitri.
Sebagai panduan utama, Ustaz Abdullah Beik merujuk pada firman Allah SWT dalam Surah Al-A’raf ayat 56 yang berbunyi wa lâ tufsidû fil-ardli ba‘da ishlâḫihâ wad‘ûhu khaufaw wa thama‘â, inna raḫmatallâhi qarîbum minal-muḫsinîn. Ayat ini melarang secara tegas perbuatan merusak bumi setelah diatur dengan baik, serta memerintahkan manusia untuk berdoa dengan rasa takut dan penuh harap karena rahmat Allah sangat dekat bagi orang-orang yang berbuat baik. Beliau menjelaskan bahwa para mufasir dari kalangan ahlus sunnah maupun pengikut Ahlulbait sepakat bahwa ayat ini mencakup dimensi yang sangat luas. Secara personal, jiwa yang telah dibersihkan dari dosa, maksiat, dan sifat buruk selama Ramadan sama sekali tidak boleh dikotori kembali. Hal ini menuntut konsistensi dalam melaksanakan amal baik, mulai dari menjaga kewajiban salat hingga berbuat baik kepada lingkungan terdekat, termasuk keluarga, anak, dan istri. Konsistensi ini juga harus mencakup rutinitas membaca Al-Qur’an, sebagaimana beliau mengutip pesan Imam Musa al-Kadzim yang menyatakan bahwa seseorang tidak berhak mengaku sebagai pengikut sejati Ahlulbait jika tidak membaca minimal empat puluh ayat Al-Qur’an di setiap harinya.
Selain dimensi personal, larangan berbuat kerusakan ini sangat erat kaitannya dengan dimensi pemikiran dan interaksi sosial. Ustaz Abdullah Beik mengingatkan bahwa pemahaman dan keimanan kepada Allah, Nabi, Imam, keadilan Allah SWT, serta hari akhir dan kebangkitan kelak tidak boleh dirusak atau dicemari. Di tengah derasnya informasi dan kemudahan akses gawai di tangan kita maupun anak-anak kita, beliau menegaskan bahwa keyakinan fundamental tersebut harus ditanamkan dan diperkuat secara ekstra. Pada ranah sosial, beliau mengingatkan bahwa setiap individu hidup secara komunal di tengah masyarakat dan negara. Oleh karena itu, apa pun profesi seseorang—baik sebagai pebisnis, pegawai negeri, karyawan swasta, hingga pendidik dan mubalig—tugas dan kewajibannya tidak boleh diabaikan hingga berdampak buruk bagi sekitarnya. Jika setiap orang mampu menjaga ketaatan personal dan sosial ini, derajat kesempurnaannya di sisi Allah akan meningkat dan ia akan terhindar dari tuntutan masyarakat pada pengadilan akhirat kelak.
Memasuki khutbah kedua, Ustaz Abdullah Beik kembali mengajak jemaah untuk menjaga iman dan takwa dengan menunaikan seluruh kewajiban fisik dan harta, yang secara spesifik mencakup salat harian, zakat, khumus, serta infak. Beliau kemudian menyoroti bahwa pada tanggal 25 Syawal, umat akan memperingati hari syahadah Imam Jafar ash-Shadiq. Beliau memaparkan tafsir dari Imam Jafar ash-Shadiq terkait Surah Al-A’raf ayat 56, di mana bentuk kerusakan terburuk di bumi dimaknai sebagai tindakan meninggalkan atau mengabaikan pemimpin yang telah ditetapkan oleh Allah. Menurut beliau, Allah telah melengkapi bumi dengan berbagai fasilitas perbaikan (ishlah), seperti mengutus para nabi dan imam suci, menurunkan Al-Qur’an serta kitab-kitab suci sebelumnya, hingga memberikan akal sehat dan hati sanubari atau fitrah kepada setiap manusia. Sesuai keyakinan pengikut Ahlulbait, Ustaz Abdullah Beik menjelaskan bahwa Rasulullah sebelum wafatnya telah menyampaikan secara jelas mata rantai kepemimpinan ini, dimulai dari Imam Ali bin Abi Thalib hingga imam kedua belas, Imam Mahdi al-Muntadhar. Mengabaikan panduan ini berarti membawa diri ke dalam jurang kebingungan dan kesesatan.
Terkait dengan kondisi geopolitik dunia saat ini, khususnya peperangan antara Republik Islam Iran melawan Zionisme Israel dan Amerika Serikat, Ustaz Abdullah Beik menegaskan betapa pentingnya berpegang teguh pada ajaran Al-Qur’an dan Ahlulbait agar umat memiliki arah yang jelas. Bagi para pengikut yang meyakini imam kedua belas sedang dalam masa gaib, keberadaan seorang wali faqih atau mujtahid alim yang memenuhi syarat sebagai wakil beliau menjadi sangat krusial. Ustaz Abdullah Beik menyatakan bahwa tanpa adanya pemimpin penuntun ini, tidak bisa dibayangkan bagaimana nasib Islam dan kaum muslimin dalam menghadapi kekuatan agresor dunia. Saat ini, semakin banyak pihak di luar pengikut Ahlulbait yang mulai melihat fakta bahwa Republik Islam Iran berdiri mewakili seluruh dunia Islam untuk mengangkat derajat kaum muslimin. Perjuangan dan keteguhan ini semakin nyata terlihat melalui kesediaan mengorbankan jiwa pemimpin agung mereka, termasuk kesyahidan Imam Ali Khamenei demi mempertahankan kemuliaan agama.
Menutup khutbahnya, Ustaz Abdullah Beik menyampaikan rasa prihatinnya terhadap pihak-pihak yang masih menutup logika dan terus berprasangka buruk terhadap para pemimpin perlawanan. Beliau menegaskan bahwa kejahatan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel bukanlah kejahatan yang ditargetkan untuk mazhab tertentu saja, melainkan kejahatan terhadap seluruh umat manusia dan menyasar berbagai negara. Beliau mengajak seluruh kaum muslimin untuk bersatu dalam satu barisan tanpa terpecah belah oleh perbedaan bangsa atau aliran. Pada akhir pesannya, beliau mendoakan agar Allah SWT senantiasa memberikan bimbingan dan membukakan hati umat di berbagai belahan dunia, khususnya di Indonesia, agar mampu memberikan dukungan penuh dan nyata terhadap perlawanan yang dilakukan oleh kaum muslimin di Republik Islam Iran, Lebanon, Irak, dan Yaman.



