Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta menggelar Khutbah Jumat pada 10 April 2026 yang disampaikan oleh Ustaz Husein Shahab. Dalam khutbah tersebut, beliau mengajak jamaah untuk merenungkan kembali pelajaran perjuangan dari para tokoh besar umat Islam, khususnya dalam momentum 40 hari wafatnya Sayyid Ali Khamenei serta dinamika perjuangan kaum tertindas melawan kekuatan zalim.
Dalam khutbah pertama, Ustaz Husein Shahab menyampaikan bahwa umat Islam tengah berada pada hari-hari penuh makna sejarah, yaitu masa 40 hari kepergian Sayyid Ali Khamenei yang gugur di jalan Allah swt. Beliau menegaskan bahwa mengenang para syuhada dan ulama besar merupakan bagian dari perintah Allah swt, agar umat tidak melupakan jasa dan perjuangan mereka.
Dalam penjelasannya, beliau menyampaikan bahwa Sayyid Ali Khamenei dalam berbagai khutbah dan ceramahnya kerap mengutip ayat-ayat Al-Qur’an untuk membangkitkan semangat juang kaum muslimin. Salah satu ayat yang sering beliau sampaikan adalah firman Allah swt tentang Nabi Musa as:
qâla kallâ, inna ma‘iya rabbî sayahdîn
Dia (Musa) berkata, “Tidak! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku. Dia akan menunjukiku.” (QS. Asy-Syu’ara’ [26]: 62)
Ustaz Husein Shahab menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan keyakinan Nabi Musa as ketika dikejar oleh Fir’aun, di mana dalam kondisi terdesak sekalipun, beliau tetap meyakini bahwa pertolongan Allah swt pasti datang. Menurut beliau, ayat ini menjadi sumber kekuatan spiritual yang juga dipegang oleh Sayyid Ali Khamenei dalam membangkitkan optimisme umat.
Beliau kemudian mengutip ayat lain:
yâ ayyuhalladzîna âmanû in tanshurullâha yanshurkum wa yutsabbit aqdâmakum
“Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad [47]: 7)
Dalam penjelasannya, Ustaz Husein Shahab menegaskan bahwa pertolongan Allah swt merupakan janji yang pasti bagi siapa saja yang berjuang di jalan-Nya. Beliau menambahkan bahwa dalam sejarah perjuangan Nabi Muhammad saw, para sahabat pun pernah merasakan kelelahan dan bertanya kapan pertolongan Allah akan datang, yang menunjukkan sisi manusiawi dalam perjuangan.
Beliau kemudian menyinggung peristiwa terkini yang menunjukkan bagaimana ancaman besar terhadap Iran justru berujung pada penerimaan syarat-syarat dari pihak yang mengancam. Dalam pandangan beliau, hal tersebut merupakan contoh nyata campur tangan Allah swt dalam menolong pihak yang beriman dan melawan kezaliman.
Ustaz Husein Shahab juga menyampaikan ayat yang kerap dikutip oleh Sayyid Ali Khamenei:
wa lâ tahinû wa lâ taḥzanû wa antumul-a‘launa ing kuntum mu’minîn
“Janganlah kamu (merasa) lemah dan jangan (pula) bersedih hati, padahal kamu paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang mukmin.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 139)
Beliau menjelaskan bahwa ayat ini menjadi sumber kekuatan bagi para pejuang di berbagai wilayah, termasuk Iran, Lebanon, dan Yaman. Menurut beliau, keberanian masyarakat yang tetap tenang dan tidak menunjukkan rasa takut di tengah ancaman menunjukkan implementasi nyata dari ayat tersebut dalam kehidupan.
Dalam khutbahnya, beliau juga mengutip firman Allah swt:
wa lâ tahinû fibtighâ’il-qaûm, in takûnû ta’lamûna fa innahum ya’lamûna kamâ ta’lamûn, wa tarjûna minallâhi mâ lâ yarjûn, wa kânallâhu ‘alîman ḥakîmâ
“Janganlah kamu merasa lemah dalam mengejar kaum itu (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, sesungguhnya mereka pun menderita kesakitan sebagaimana yang kamu rasakan. (Bahkan) kamu dapat mengharapkan dari Allah apa yang tidak dapat mereka harapkan. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (QS. An-Nisa’ [4]: 104)
Ustaz Husein Shahab menjelaskan bahwa ayat ini mengajarkan bahwa penderitaan dalam perjuangan adalah hal yang wajar, namun kaum beriman memiliki kelebihan karena mereka memiliki harapan kepada Allah swt. Beliau juga menyinggung bahwa dalam peperangan terdapat etika dan batasan, sehingga perlawanan dilakukan sebagai bentuk mempertahankan diri, bukan untuk melakukan agresi.
Di akhir khutbah pertama, beliau mengajak jamaah untuk terus mempelajari dan mengambil pelajaran dari kehidupan Sayyid Ali Khamenei, yang telah mengabdikan hidupnya selama puluhan tahun untuk perjuangan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan.
Memasuki khutbah kedua, Ustaz Husein Shahab menekankan pentingnya iman, takwa, dan kesetiaan kepada agama serta para pemimpin agama. Beliau mengingatkan bahwa Allah swt telah menjanjikan kemenangan bagi orang-orang beriman.
Dalam hal ini, beliau mengutip firman Allah swt:
wa‘adallâhulladzîna âmanû mingkum wa ‘amilush-shâliḥâti layastakhlifannahum fil-ardli kamastakhlafalladzîna ming qablihim wa layumakkinanna lahum dînahumulladzirtadlâ lahum wa layubaddilannahum mim ba‘di khaufihim amnâ, ya‘budûnanî lâ yusyrikûna bî syai’â
“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang mengerjakan kebajikan bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa; Dia sungguh akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridai; dan Dia sungguh akan mengubah (keadaan) mereka setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun.” (QS. An-Nur [24]: 55)
Beliau menjelaskan bahwa ayat ini menjadi dasar keyakinan bahwa masa depan dunia akan berada di tangan orang-orang beriman. Dalam perspektif ahlul bait as, beliau menyampaikan bahwa puncak dari perjalanan tersebut akan terwujud dalam pemerintahan Imam Mahdi afs yang membawa keadilan bagi seluruh umat manusia.
Ustaz Husein Shahab juga mengingatkan bahwa umat Islam tidak boleh hanya menjadi penonton dalam perjuangan yang terjadi di berbagai belahan dunia. Beliau mengajak jamaah untuk memberikan kontribusi, setidaknya melalui doa dan kehadiran dalam majelis-majelis yang mendukung perjuangan umat.
Beliau menutup khutbahnya dengan harapan agar umat Islam senantiasa diberi semangat untuk tetap setia pada jalan kebenaran serta menjadi bagian dari perjuangan menuju masa depan yang dijanjikan oleh Allah swt.



