Skip to main content

Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta menggelar peringatan 40 hari syahadah Sayyid Ali Khamenei dan syahadah Imam Ja’far ash-Shadiq pada Minggu, 12 April 2026. Dalam kegiatan tersebut, Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menyampaikan pidato yang menyoroti situasi konflik global serta makna perlawanan umat Islam dalam menghadapi rezim Zionis.

Dalam penjelasannya, Mohammad Boroujerdi menyampaikan bahwa Amerika dan rezim Zionis Israel merupakan musuh bagi umat Islam yang telah menyulut perang yang beliau sebut sebagai pertarungan antara kebenaran dan kebatilan. Beliau menjelaskan bahwa serangan dimulai pada 28 Februari lalu, bertepatan dengan bulan Ramadan. Menurut beliau, penyebutan “musuh Islam” digunakan karena memang demikianlah mereka sendiri menyebut dan memposisikan diri mereka dalam berbagai pernyataan resmi.

Beliau mengungkapkan bahwa dalam sebuah rapat kabinet rezim Zionis, seorang menteri menyatakan bahwa mereka telah menantikan puluhan tahun untuk menyerang Iran. Pernyataan tersebut kemudian dikoreksi oleh perdana menteri mereka dengan menyebutkan bahwa penantian itu telah berlangsung lebih dari 1.400 tahun. Dalam pandangan beliau, hal ini menunjukkan bahwa peperangan tersebut bukan sekadar konflik politik, melainkan bagian dari permusuhan panjang terhadap umat Islam secara keseluruhan.

Mohammad Boroujerdi menjelaskan bahwa Iran telah melakukan berbagai upaya untuk mencegah terjadinya perang, karena pada dasarnya tidak ada bangsa yang menginginkan konflik bersenjata. Namun demikian, beliau menegaskan bahwa rezim Zionis memiliki agenda ideologis yang kuat, yaitu keyakinan tentang wilayah yang disebut sebagai “tanah yang dijanjikan” yang membentang dari Sungai Nil hingga Sungai Furat. Sejak berdirinya rezim tersebut lebih dari 70 tahun lalu, ekspansi wilayah terus dilakukan ke negara-negara sekitarnya sebagai bagian dari upaya mewujudkan ambisi tersebut.

Dalam pemaparannya, beliau menekankan pentingnya membedakan antara Zionisme dan agama Yahudi. Menurut beliau, agama Yahudi adalah agama samawi yang berasal dari Allah swt, sedangkan Zionisme merupakan ideologi politik yang dibungkus dengan narasi keagamaan. Salah satu pemikiran yang beliau soroti adalah anggapan bahwa hanya mereka yang dianggap sebagai manusia, sementara bangsa lain dipandang lebih rendah dan harus tunduk kepada mereka.

Beliau menegaskan bahwa apabila ideologi tersebut berhasil menguasai wilayah yang diimpikan, ekspansi tidak akan berhenti sampai di situ, melainkan akan berlanjut hingga seluruh bangsa di dunia tunduk kepada mereka. Oleh karena itu, menurut beliau, perlawanan yang terjadi di Gaza, Palestina, Lebanon, Iran, dan Yaman merupakan perjuangan yang mewakili seluruh umat Islam bahkan seluruh umat manusia.

Dalam penjelasannya, Mohammad Boroujerdi menyampaikan bahwa membela pihak yang berada di garis perlawanan terhadap rezim Zionis merupakan kewajiban, baik secara syar’i maupun rasional. Beliau juga menjelaskan bahwa salah satu target utama serangan pada awal perang adalah Sayyid Ali Khamenei, karena beliau dipandang sebagai benteng kokoh yang menghadang ekspansionisme Zionis.

Beliau kemudian mengaitkan hal tersebut dengan perjuangan Ruhollah Khomeini yang sepanjang hidupnya senantiasa menentang ekspansionisme Zionis. Menurut beliau, semangat tersebut terus dilanjutkan oleh Sayyid Ali Khamenei yang selalu menekankan pentingnya kekuatan umat Islam.

Setelah syahadah Sayyid Ali Khamenei, kepemimpinan dilanjutkan oleh Mojtaba Khamenei. Dalam pesan pertamanya, beliau juga menegaskan bahwa umat Islam harus kuat dalam menghadapi musuh yang terus berupaya melemahkan dan menghancurkan eksistensi umat Islam.

Mohammad Boroujerdi menegaskan bahwa dunia saat ini tidak diatur oleh keadilan, melainkan oleh kekuatan. Beliau mencontohkan bagaimana Dewan Keamanan PBB tidak mengeluarkan kecaman saat Iran diserang, namun justru mengeluarkan resolusi ketika Iran melakukan pembalasan. Hal ini, menurut beliau, menunjukkan bahwa siapa yang kuat, dialah yang menentukan.

Namun demikian, beliau menekankan bahwa kekuatan yang dimaksud bukan semata-mata kekuatan militer seperti rudal, drone, atau persenjataan lainnya. Kekuatan sejati, menurut beliau, adalah kekuatan iman kepada Allah swt. Dengan iman, seseorang akan memiliki ketabahan dan keberanian untuk menghadapi segala kemungkinan, termasuk risiko kehilangan nyawa.

Selain itu, beliau menyebut kepemimpinan yang kuat sebagai kunci kedua, yaitu pemimpin yang mampu mengarahkan umat kepada kekuatan dan keimanan. Kunci berikutnya adalah persatuan umat. Dalam hal ini, beliau mengingatkan bahwa musuh berupaya memecah belah umat Islam melalui berbagai perbedaan mazhab dan identitas, sehingga umat harus menolak segala bentuk perpecahan dan tetap bersatu sebagai satu umat dengan Tuhan, Nabi, dan kitab suci yang sama.

Beliau juga menekankan pentingnya keterlibatan rakyat dalam perjuangan. Dalam hal ini, Mohammad Boroujerdi mengisahkan pertemuan antara Nelson Mandela dengan Sayyid Ali Khamenei, di mana beliau menjelaskan bahwa kemenangan tidak hanya diraih melalui kekuatan senjata, tetapi melalui keimanan dan keterlibatan rakyat.

Dalam bagian lain, beliau menjelaskan bahwa rencana awal Amerika dan Zionis adalah melumpuhkan Iran dalam waktu singkat dengan menyerang pusat-pusat keamanan, kemudian menggulingkan pemerintahan melalui mobilisasi masyarakat. Namun yang terjadi justru sebaliknya, rakyat Iran turun ke jalan untuk mendukung dan menjaga negaranya.

Beliau menggambarkan bagaimana masyarakat Iran, termasuk keluarga dan anak-anak, turun langsung menjaga keamanan setelah fasilitas keamanan dihancurkan. Bahkan ketika ancaman diarahkan kepada pusat energi, rakyat disebut berkumpul untuk melindungi fasilitas tersebut, menunjukkan kuatnya hubungan antara rakyat dan negara.

Menurut Mohammad Boroujerdi, perlawanan selama 40 hari yang disertai dengan banyaknya korban jiwa, termasuk para pemimpin dan warga sipil, merupakan harga dari sebuah perjuangan. Beliau juga menegaskan bahwa berbagai pelanggaran hukum internasional telah dilakukan oleh pihak Amerika dan Zionis, mulai dari serangan terhadap warga sipil hingga fasilitas publik seperti sekolah, rumah sakit, dan tempat ibadah.

Namun pada akhirnya, beliau menyampaikan bahwa pihak lawan justru mengajukan gencatan senjata dan menerima syarat-syarat dari Iran. Hal ini, menurut beliau, menjadi bukti bahwa kekuatan sejati terletak pada iman, kepemimpinan, persatuan, dan keterlibatan rakyat.

Di akhir pidatonya, Mohammad Boroujerdi menyampaikan rasa syukur bahwa syahadah Sayyid Ali Khamenei tidak menggoyahkan sistem pemerintahan Republik Islam Iran. Beliau juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Indonesia, baik dari kalangan Syiah maupun Ahlussunnah, serta berbagai organisasi yang telah menyampaikan duka cita selama 40 hari terakhir.

Beliau menutup dengan menyampaikan bahwa kemenangan yang diraih Iran dipersembahkan untuk seluruh umat Islam, khususnya umat Islam di Indonesia.