Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta menggelar Kelas Tafsir Tartibi pada Jumat, 17 April 2026, bersama Ustaz Umar Shahab. Dalam kajian yang membahas ayat-ayat tentang Nabi Ibrahim as tersebut, beliau menjelaskan makna Islam sebagai sikap penyerahan diri total kepada Allah swt serta menegaskan bahwa inti seluruh ajaran para nabi adalah ketundukan kepada-Nya.
Di awal kajian, Ustaz Umar Shahab mengingatkan bahwa pada pertemuan sebelumnya jamaah telah membahas pengangkatan Nabi Ibrahim as sebagai imam bagi seluruh manusia. Pada kesempatan kali ini, pembahasan berlanjut pada wasiat Nabi Ibrahim as dan Nabi Yakub as kepada anak-anak mereka sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Baqarah ayat 132–133.
Wa waṣṣā bihā Ibrāhīmu banīhi wa Ya‘qūb, yā baniyya innallāhaṣṭafā lakumud-dīna falā tamūtunna illā wa antum muslimūn. Am kuntum syuhadā’a idz ḥaḍara Ya‘qūbal-mautu idz qāla libanīhi mā ta‘budūna mim ba‘dī, qālū na‘budu ilāhaka wa ilāha ābā’ika Ibrāhīma wa Ismā‘īla wa Isḥāqa ilāhan wāḥidan wa naḥnu lahu muslimūn.
“Dan Ibrahim mewasiatkan (ucapan) itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya‘qub. ‘Wahai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu. Maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.’ Apakah kamu menjadi saksi saat maut akan menjemput Ya‘qub ketika dia berkata kepada anak-anaknya, ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab, ‘Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya berserah diri kepada-Nya.’” (QS. Al-Baqarah [2]: 132–133)
Dalam penjelasannya, Ustaz Umar Shahab menyampaikan bahwa seluruh nabi memberikan wasiat yang sama kepada keturunannya, yaitu agar tidak meninggal kecuali dalam keadaan Islam. Menurut beliau, Al-Qur’an bahkan secara khusus mengingatkan kaum beriman agar menjaga keislamannya hingga akhir hayat.
Yā ayyuhalladzīna āmanuttaqullāha ḥaqqa tuqātihī wa lā tamūtunna illā wa antum muslimūn.
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benarnya takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali Imran [3]: 102)
Beliau kemudian menguraikan pertanyaan mendasar tentang mengapa seluruh nabi menggunakan istilah “Islam”, sementara agama yang secara formal disebut agama Islam baru hadir melalui Nabi Muhammad saw. Menurut beliau, kata Islam secara bahasa berarti pasrah, tunduk, dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah swt.
Ustaz Umar Shahab menjelaskan bahwa sikap penyerahan diri total hanya pantas dilakukan kepada Allah swt, sebab manusia tidak layak menyerahkan dirinya kepada sesama manusia yang memiliki derajat yang sama sebagai makhluk. Karena itu, inti hubungan seorang hamba dengan Tuhannya adalah kepasrahan total kepada kehendak Allah swt.
Beliau kemudian mengutip ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa seluruh makhluk di langit dan bumi tunduk kepada Allah.
Wa aslama lahu man fis-samāwāti wal-arḍ.
“Dan kepada-Nya berserah diri siapa pun yang ada di langit dan di bumi.” (QS. Ali Imran [3]: 83)
Menurut beliau, kata Islam dalam ajaran para nabi bukan sekadar nama agama, melainkan sebuah sikap batin. Adapun agama yang dibawa Nabi Muhammad saw dinamai Islam karena ajaran tersebut merupakan puncak dari seluruh bentuk ketundukan dan penyerahan diri kepada Allah swt.
Beliau juga menjelaskan makna ayat:
Innad-dīna ‘indallāhil-Islām.
“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam.” (QS. Ali Imran [3]: 19)
Ustaz Umar Shahab menegaskan bahwa ayat tersebut tidak semata berbicara tentang nama agama, melainkan tentang sikap keberagamaan yang diterima Allah swt. Menurut beliau, keberagamaan yang benar adalah ketundukan yang tulus kepada Allah, bukan sekadar identitas formal.
Dalam penjelasan selanjutnya, beliau menerangkan bahwa manusia bisa saja tunduk secara fisik tetapi tidak menerima secara hati. Karena itu, Al-Qur’an membedakan ketundukan yang lahir dari kerelaan dengan ketundukan yang muncul karena keterpaksaan.
Beliau mencontohkan kematian sebagai sesuatu yang pasti diterima manusia secara fisik, tetapi belum tentu diterima oleh hati. Oleh sebab itu, inti Islam sesungguhnya terletak pada penerimaan hati terhadap keputusan Allah swt.
Ustaz Umar Shahab kemudian mengutip salah satu zikir yang populer di tengah kaum muslimin:
Allāhumma lā māni‘a limā a‘ṭaita wa lā mu‘ṭiya limā mana‘ta wa lā rādda limā qaḍaita.
“Ya Allah, tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau beri, tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau tahan, dan tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Mu.”
Beliau menjelaskan bahwa manusia pada akhirnya tidak akan mampu menghindar dari kehendak Allah swt. Namun yang membedakan seorang mukmin adalah kesediaan hatinya untuk menerima dengan ikhlas segala ketetapan tersebut.
Dalam kajian itu, Ustaz Umar Shahab juga mengutip penjelasan Syahid Murtadha Muthahhari tentang istilah qalbun salim. Menurut beliau, hati yang selamat adalah hati yang benar-benar tunduk dan menerima Allah swt dengan penuh kerelaan.
Illā man atallāha biqalbin salīm.
“Kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu‘ara [26]: 89)
Beliau menerangkan bahwa tubuh dan lisan bisa saja tunduk karena terpaksa, tetapi hati tidak bisa dipaksa untuk menerima. Karena itu, ketundukan sejati dalam Islam terletak pada kalbu yang rela berserah diri kepada Allah swt.
Di akhir kajian, Ustaz Umar Shahab menjelaskan bahwa makna ketundukan tersebut tercermin dalam salat. Menurut beliau, salat terdiri dari gerakan tubuh, bacaan lisan, dan kehadiran hati. Ketiganya harus menyatu dalam kepasrahan kepada Allah swt agar ibadah memiliki makna yang hakiki.
Beliau menegaskan kembali bahwa pesan seluruh nabi kepada umat manusia adalah menjaga keislaman hingga akhir hayat, yakni menjaga hati agar tetap tunduk dan berserah diri kepada Allah swt dalam seluruh keadaan.



